Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Ragu


__ADS_3

"Bismillah! Kamu coba angkat pake bismillah biar hati kamu tidak panik gitu!" Saran Raisya. pada Ratna yang mudah sekali panik.


"Bismillahirrahmanirrahim."


"Klik!"


"Halo pak Nathan." Ratna menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan agar mengurangi rasa kecemasannya. Dia mengatur intonasi bicaranya.


"Halo. Kamu mengambil cuti Ratna?" Nathan memulai bicara pada Ratna.


"Iya pak!" Suaranya agak sedikit tercekat begitu Nathan menanyakan cutinya.


"Kamu berapa lama mengambil cuti?"


"Mmh.. seminggu pak." Ratna semu ragu mengatakan lamanya cuti yang diambilnya.


"Kapan kamu balik ke Jakarta?" Sebenarnya Nathan bukan hanya bertanya pada Ratna tetapi ada hal dibalik itu. Dia ingin mendengar kabar Raisya.


"Kayanya sih besok pak. Tapi masih cuti pak." Ratna menekankan kata terakhir 'cuti' takut Nathan salah paham. Takut dikira ke Jakarta malah masuk ke kantor.


"Oh. Kamu sehat kan?" Basa-basi yang terlalu kentara. Nathan bingung harus bertanya apalagi sedangkan rasa gengsinya terlalu tinggi.


"Kalau jasad sehat pak. Yang gak sehat hati saya pak!" Entah darimana datangnya keberanian Ratna untuk mengatakan unek-uneknya pada Nathan. Ada perasaan kesal bercampur tidak sabar yang dirasakan Ratna. Dia menilai ini adalah kesempatan untuk mengatakan pada Nathan atas kekecewaan dan kemarahan Ratna atas apa yang terjadi pada Raisya.


"Oh. Iya istrahatlah jika kamu mau mengambil cuti! Nanti biar saya pesankan makanan buat kamu sama teman kamu melalui online ya!" Nathan mendadak baik ingin memesankan makanan untuk Ratna dan Raisya. Padahal seumur hidupnya belum pernah Nathan memesankan sesuatu untuk wanita walaupun itu pada Sherly sekali pun.


"Oh iya terimakasih kasih pak! Tapi teman saya belum bisa makan pak. Lambungnya rusak dan empedunya baru saja dioperasi karena seseorang telah menganiayanya sampai parah. Jadi bapak tidak usah repot mengirimkan makanan untuk kami." Ratna agak sinis ketika menyampaikan informasi tentang Raisya. Dia berharap Nathan tahu akibat perbuatannya bisa mengakibatkan Raisya sakit parah.


"Oh begitu ya? Kata dokter apa yang bisa teman kamu makan?" Nathan berusaha menahan diri dari sikap sinis Ratna.


"Teman saya namanya Raisya pak staf keuangan. Yang dulu menggantikan kesalahan saya yang telah menabrak mobil bapak dengan mengasuh anak bapak di sela-sela kerjanya. Tapi sekarang seseorang yang tidak tahu diri malah menyiksanya tanpa punya perasaan. Kok beraninya sama perempuan. Saya berdoa semoga yang menyiksa teman saya dikutuk seumur hidupnya." Emosi Ratna sudah sampai ubun-ubun dan langsung menyembur begitu mendapatkan celah.


"Oh iya. Saya tutup dulu ya teleponnya. Saya harap kamu bisa menerima pemberian saya. Kamu istirahat saja dulu sebelum masa cuti kamu habis! Selamat menikmati liburannya ya!"


"Iya terimakasih pak!" Ratna tahu, sepertinya telinga Nathan jengah mendengar sindiran Ratna yang cukup pedas. Membuat Nathan tak bisa bicara lagi.


Bibir Ratna bergerak ke sana kemari seperti sedang mencibir mengolok-olok perkataan Nathan.


"Sebel! Selamat menikmati! Apa yang mau dinikmati? Cuti gue gara-gara elu tau!" Ratna marah-marah sendiri merutuk pembicaraan Nathan.


'Hei kenapa?" Raisya hanya mendengar suara Ratna tanpa bisa melihat wajahnya. Karena dia dilarang bergerak untuk memulihkan retak tulangnya bekas tendangan yang dilayangkan Nathan pada tubuh Raisya.


"Dasar psikopat... " Ratna berteriak mengeluarkan unek-uneknya.

__ADS_1


"Hei.. kenapa? Bilang dong! Gue jadi khawatir!" Raisya hanya bicara saja seperti robot dengan tubuh terbujur kaku karena ditahan oleh alat, supaya badannya tidak bergerak. Dia hanya terbaring saja tanpa bisa bergerak dulu agar pemulihannya bisa lebih cepat.


"Lu gak usah khawatirin orang kaya dia Sya! Gue sebel banget. Bisanya mukul orang lemah. Baru tau rasa kalau disunat lagi!" Ratna marah-marah.


"He kalau disunat habis dong!" Raisya meringis menahan tawanya yang baru saja lepas menyebabkan bengkaknya tertarik.


"Biarin sekalian dikebiri aja! Karma gak bisa kawin!" Mulut Ratna maju mundur manyun dan terus saja mengoceh.


"Sudah! Mending elu nonton darkor lagi deh sambil nyemil! Biar kuping gue gak rombeng denger elu marah-marah."


"Iya gue mau nyemil lagi." Ratna melangkahkan kakinya mendekati kulkas, membawa beberapa cemilan dan minuman ringan untuk menemaninya nonton lagi.


"Mmh... anak kicik lucunya kamu!" Raisya merasa lucu melihat tingkah laku Ratna yang ke kanak-kanakan.


"Sembarangan bilangin gue anak kicik! Bilangin sama emak gue baru nyaho lu!" Matanya fokus melihat layar handphone yang sudah memutar drama kesukaannya.


"Permisi!" Seseorang mengucapkan izin masuk di luar pintu kamar ruangan inap Raisya.


"Ratna. Kaya ada tamu." Raisya memberi tahu Ratna sepertinya ada tamu di depan pintu ruangan.


"Ih baru juga mulai sudah ada yang ganggu." Ratna mengeluh acara nontonnya jadi terganggu. Walaupun sambil merutuk Ratna turun juga membuka pintu.


"Ini benar kamarnya Ratna?" Seorang delivery yang masih lengkap dengan atributnya, menanyakan penghuni ruangan.


"Ini ada pesanan untuk anda. Bisa dimasukkan?"


"Dari siapa? Saya rasa saya tidak memesan apapun?"


"Ini atas nama Nathan pemesannya."


"Heh.. bajingan itu!"


"Apa?"


"Bukan pada anda, maaf! Ya sudah masukan saja!" Ratna malas sekali menerimanya.


Tling


Tling


Tling


Sebuah notifikasi masuk.

__ADS_1


Ratna membuka layar handphonenya.


"Pesanannya sudah sampai?"


Ratna memfotokan semua makanan yang baru saja datang. Lalu mengirimkannya.


"Aku takut memakannya. Bisa saja anda meracuni kami agar menutupi kejahatanmu." Pesan itu terkirim dengan cepat langsung terlihat centang biru.


Seseorang mengirimkan pesan balasan.


"Aku tidak meracuninya. Aman!"


Ratna mendengus kesal. Dia hanya membiarkan saja.


"Siapa Rat yang telah mengirimkan makanan itu?"


"Si pengecut, psikopat."


Mereka terdiam. Tak ada berbicara lagi.


"Assalamu'alaikum."


Jacky masuk ke dalam ruangan tanpa diduga.


"Jacky.. elu dateng?" Ratna heran melihat kedatangan Jacky yang lebih cepat dari perkiraannya.


"Iya gue bawa supir. Aku sudah izin ke bu Mia tadi setelah rapat. Gue kasihan liat elu sendirian."


Jacky langsung membuka makanan yang ada di meja yang wanginya menusuk hidung. Dia langsung tanpa izin memasukan makanan itu ke dalam mulutnya dengan lahap.


"Ya ampun Jacky.." Ratna langsung berteriak.


"Kenapa?"


"Gue takut beracun."


"Lah.. parno banget. Kalau beracun biar gue yang coba dulu. Biar kalian aman." Jacky dengan tenang memasukan makanan itu dengan lahapnya.


Ratna hanya melongo melihat Jacky dengan rakusnya menelan semua makanan yang ada di meja.


"Elu kesurupan apa doyan sih?" Ratna heran melihat cara makan Jacky seperti itu.


"Elu coba dulu! Ini makanan favorit aku. Aman kok. Lihat aku gak kenapa-kenapa kan?" Jacky memperlihatkan badannya yang masih segar bugar.

__ADS_1


"Emang ini kiriman siapa sih Rat?" Jacky mengunyah makanan itu.


__ADS_2