
"Tante sudah selesai syutingnya?" Michel melihat Raisya inten
Raisya berjongkok menyamakan tinggi dengan Michel.
"Sudah anak manis." Raisya mengelus rambut Michel.
"Kemana aunty Sarah?" Michel tak melihat Sarah bersama Raisya.
"Dia sedang ada urusan. Kamu mau temenin tante makan?" Raisya yang sedang menuju resort mengajak Michel.
"Tante mau makan dimana?" Michel begitu detail bertanya. Itu yang biasa dilakukannya jika bertemu orang asing atau yang baru saja kenal. Mengingat Michel dituntut bisa menjaga dirinya setelah Nathan mengalami perawatan.
"Di resort tempat tante menginap. Disana pemandangannya bagus lho! Bisa langsung melihat laut." Terang Raisya yang merasa nyaman untuk makan di resort daripada di hotel karena suasana lebih tenang dan tidak banyak mengundang perhatian.
"Sebentar saya kasih kabar daddy dulu." Michel tak ingin ayahnya khawatir lalu dia menelpon ayahnya.
"Daddy.. "
"Michel.. kamu dimana? Daddy kira kamu tadi mengikuti daddy jalan-jalan." Nathan terdengar cemas. Dia baru menyadari bahwa telepon Michel masuk. Dan keberadaannya tidak lagi bersamanya.
"Aku.. bersama tante Raisya dad.. " Lirih Michel mengabarkan dirinya.
"Coba berikan teleponnya pada dia. Ayah mau berbicara sebentar."
"Iya baik." Jawab Michel
"Tante.. daddy mau bicara sama tante." Michel menyodorkan handphonenya pada Raisya.
"Iya.. ada apa?" Jawab Raisya ketus.
"Maaf.. anak saya apakah bersama anda nona?" Nada bicara Nathan mendadak formal. Entah apa yang sedang dialami Nathan sekarang debaran jantungnya tidak beraturan begitu handphone Michel dialihkan pada Raisya.
Raisya lalu memandang benda pipih lalu mengalihkan mode call ke VC.
"Kamu sudah melihatnya bukan?" Raisya merapatkan kepalanya pada Michel dan menunjukkan keduanya dalam kamera. Michel melambaikan tangannya dengan manis begitu wajah tampan ayahnya muncul di layar handphone
__ADS_1
Nathan diam mematung dengan perasaan berdebar ketika melihat wajah Raisya dengan jelas terpampang di layar. Dan alat itu lagi-lagi menyala mendeteksi emosi yang sedang dialami Nathan saat ini.
"Hei.. malah melamun! Apakah kamu selalu begitu ketika melihat wajah perempuan cantik?" Raisya menatap aneh wajah Nathan yang seperti kena hipnotis.
"Eh.. iy iya. Michel.. daddy akan menyusul ke sana sekarang. Michel tunggu disitu ya! Jangan ke mana-mana!" Ucap Nathan yang merasa bersalah telah meninggalkan Michel di belakang.
"Mmm.. daddy bolehkah aku ingin ikut dengan tante Raisya ke resort. Dia akan mengajakku ke sana. Kan ada aunty Sarah juga di sana." Pinta Michel pada Nathan. Karena akan sangat membosankan jika Michel akan menjadi kambing conge atau menjadi nyamuk jika keberadaannya bersama Arneta.
"Mmm.. gimana ya?" Nathan mau melarang tapi sungkan. Takut Michel akan kecewa dan Arneta pun nampaknya lebih senang jika keberadaan penjajakannya dengan Nathan tidak terganggu dengan keberadaan Michel. Sebelumya Arneta pernah mengajukan keberatan pada Nathan untuk liburan ke Bali yang ditemani Michel.
"Please deh dad.. Aku kangen pengen ngobrol sama aunty." Michel merajuk.
"Iya. Tapi Michel jangan nakal ya! Daddy sebentar lagi akan menyusul. Daddy harap batre handphonenya cukup. Dan jangan lupa sherlock ya! Biar daddy tidak susah mencari." Nathan tetap merasa khawatir karena selama ini belum pernah menitipkan Michel pada orang asing kecuali pada pengasuj dan satu nama yang tak mungkin bisa lagi diminta bantuannya 'Raisya'
"Iya dad.. thanks. Aku janji tidak akan nakal. Nanti aku akan sherlock kalau sudah sampai di resort." Michel nampak senang telah diizinkan ayahnya untuk bisa ikut dengan Raisya.
"Iya.. daddy mau bicara lagi sama tante Raisya." Michel mengarahkan kamera handphonenya pada Raisya.
"Maaf nona, saya... mohon maaf jika Michel merepotkanmu." Ucap Nathan tak enak kalau Michel akan merepotkan Raisya.
"Tidak.. aku malah senang bisa berkenalan dengan anakmu." Jawab Raisya dengan raut kurang ramah mengingat kejadian sewaktu di apartemen.
"Mmm."
"Dadah daddy.. udah dulu ya!" Michel tidak enak membuat Raisya harus menunggu.
"Iya ati-ati sayang!" Nathan tersenyum melihat wajah Michel yang terlihat ceria berbeda ketika dia sedang berada dengan Arneta.
Telepon pun ditutup.
"Ayuu tante." Michel langsung menggenggam tangan Raisya tanpa sungkan. Entahlah dirinya tiba-tiba merasa nyaman ketika berada di dekat Raisya. Seolah dia telah mengenal perempuan itu sudah lama.
Raisya pun tanpa canggung memegang erat tangan yang ukurannya lebih kecil darinya dan berjalan ke arah resort sambil dikawal dua orang bodyguard.
"Kamu mau makan apa anak manis?" Raisya yang duduk di halaman resort yang view nya mengarah ke pantai menawari Michel menu makanan yang diinginkan.
__ADS_1
"Tante Raisya mau makan apa? Apakah boleh sama seperti tante pilih?" Kali ini Michel ingin menu yang dipilih Raisya.
"Hei.. kamu kan tak suka pedas. Nanti daddy mu akan marah jika aku meracuni anaknya yang manis ini dengan makanan kesukaan ku." Protes Raisya tak ingin nantinya Michel nantinya akan kewalahan jika memilih menu yang sama dengannya.
"Mmm.. emang tante mau pilih menu apa?" Michel penasaran dengan menu yang akan dipilih Raisya.
"Aku akan memilih ayam rica-rica. Itu banyak sekali rawitnya Michel. Kamu bakal kewalahan makannya." Terang Raisya.
"Tapi aku ingin mencobanya tante." Michel memelas manja.
"Ih.. " Raisya gemas sekali melihat Michel dan mencubit hidung mancungnya.
"Aku pesanan saja beberap menu ya! Kalau kamu suka kamu boleh mencobanya." Usul Raisya.
Michel mengangguk senang.
Tak lama kemudian pelayan resort membawakan menu ayam betutu, ayam rica-rica, ayam tepung juga sate lilit dan tumis capacay dan dua buah jus apel dan jus alpukat juga kerupuk emping kesukaan Raisya.
"Wah.. kayanya enak banget. Aku mau mencoba semua tante." Hampir saja air liurnya menetes begitu Michel begitu melihat semua menu di atas meja.
"Silakan anak manis. Kalau kurang tinggal pesan lagi sayang." Raisya tersenyum melihat ekspresi Michel yang lucu. Anak itu langsung mencoba sate lilit, lalu beralih ke ayam betutu dan mencoba menu ayam rica-rica."
"Ah.. Panas.. panas.. " Michel menjulurkan lidahnya dan matanya mulai berair tatkala menu ayam rica-rica dicobanya.
"Coba makan ayam tepung biar rasa pedasnya bisa menyerap di tepung. Jangan minum air dulu! Tenggorokan kamu bisa kebakaran." Ucap Raisya yang merasa kasihan melihat Michel kewalahan.
"Bagaimana mendingan?" Raisya mengelap sudut bibir Michel yang blepotan.
Michel mengangguk.
"Sini.. Tante suapin saja makannya! Biar tangan kamu tidak kena cabai lagi!"
Michel mengangguk senang. Setelah sekian lama Michel tak menerima suapan kali ini Raisya mau menyuapinya tanpa diminta.
Sedang asik-asiknya menyuapi Michel. Seseorang memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Ra... "
Jantung Raisya hampir saja melompat ketika suara halus itu mendesis di telinganya.