Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Sadar


__ADS_3

Dokter dan perawat segera datang ke ruangan setelah panggilan darurat diterimanya.


Anwar dan Aisyah berharap-harap cemas di belakang dokter dan perawat. Lantunkan doa dan harap sedang dipanjatkan oleh sepasang suami istri itu tanpa henti. Agar orang yang sedang ditangani kembali pulih dan sadar kembali.


Setelah memberikan suntikan penenang perlahan Raisya melemah dan tenang kembali. Nafas teratur juga detak jantungnya terlihat kembali normal. Dokter dan perawat ikut bernafas lega melihat pasiennya kembali tertidur dengan tenang.


"Bagaiamana dok?" Anwar tidak sabar mendengar kabar dari dokter mengenai kondisi Raisya.


"Dia terkena serangan jantung. Mungkin dia sedang bermimpi yang menakutkan. Jadi mempengaruhi sistem kerja jantung juga syarafnya yang menegang." Ucap dokter sedikit memberitahu kondisi pasien.


"Tapi bagaimana sekarang dok?" Anwar kembali bertanya, sambil melihat ke arah Raisya.


"Sudah tenang. Mudah-mudahan tidak kejang lagi." Dokter yang juga manusia hanya bisa memprediksi secara medis tidak bisa memastikan kondisi Raisya secara pasti.


"Alhamdulillah." Ucap keduanya kompak.


"Kami pergi dulu. Semoga pasien segera sadar dan kembali pulih." Ucap dokter menyemangati.


"Aamiin." Keduanya mengucap aamiin bersamaan untuk mengamini doa yang diucapkan dokter.


Ruangan kembali tenang. Aisyah dan Anwar duduk berdampingan di samping ranjang yang ditempati Raisya.


"Mbak.. " Aisyah mengusap lembut punggung tangan Raisya. Tak diduga ujung-ujung jari bergerak memberikan respon.


"Mas.. " Aisyah melebarkan matanya begitu melihat jari-jari lentik itu bergerak. meski lemah.


"Mbak.. mbak Raisya." Aisyah memangil-manggil nama Raisya dengan lemah lembut. Tak lupa dia menggenggam erat tangan Raisya memberi kekuatan pada tubuh yang sudah sebulan tertidur pulas di atas blangkar.


Tangan Aisyah mendapatkan balasan meski dia memegang dengan lemah. Mata Aisyah juga Anwar seperti tersihir melihat keajaiban dari tubuh Raisya yang merespon baik.


"Mas.. mbak Raisya." Airmata Aisyah hampir saja luruh. Dia melihat mata Raisya bergerak-gerak meski belum bisa membuka.


"Laahaula walaa quwwata illa billah.. " Tanpa sadar Anwar mengulang-ngulang kalimat berserah diri melihat reaksi Raisya yang sepertinya kesusahan untuk bangun.

__ADS_1


Aisyah semakin menggenggam kuat tangan Raisya. dia mengelus-ngelus lembut pipi Raisya, dia yakin bahwa Raisya akan sadar.


Perlahan-lahan mata Raisya mengerjap. Cahaya ruangan begitu menusuk retina matanya. Dia belum mampu menahan sinar yang menyilaukannya karena sudah tertidur lama dalam koma.


Bayangan demi bayangan perlahan terlihat jelas. dimata Raisya. Dia melihat wajah perempuan bercadar yang sedang menggenggam erat telapak tangannya.


Aisyah mendekatkan wajahnya pada Raisya agar Raisya bisa mengenalinya.


"Mbak.. " Panggil Aisyah begitu lirih. Netranya beradu saling memindai.


"Aisyah.. " Ucap Raisya pelan. Akhirnya Raisya bisa mengenali Aisyah.


"Alhamdulillah... " Dengan nada haru matanya pun mengembun. Aisyah tak kuasa menahan bahagia juga haru melihat Raisya terbangun dan sadar kembali.


"Alhamdulillah.. " Anwar yang berada di samping Aisyah pun ikut mengucapkan hamdalah dan mengusap wajahnya, lalu dia bersujud sebagai tanda syukur bahwa yang dinantikan kini sudah sadar.


Anwar berdiri kembali.


"Mas mau panggilkan dokter ya!" Ucapnya untuk memanggik kembali dokter agar Raisya bisa diperiksa.


"Mbak.. alhamdulillah. Mbak sudah sadar." Aisyah mengelus rambut Raisya yang terurai di banyak setelah satu bulan lamanya.


Raisya tersenyum dan mengangguk lemah.


Tak lama kemudian dokter dan perawat pun datang dengan tergopoh-gopoh.


"Maaf.. kita periksa dulu ya bu Raisya nya." Dokter dengan halus meminta Aisyah agar memberi ruang agara dokter dan perawat bisa memeriksa keadaan Raisya paska sadar kembali.


Beberapa pemeriksaan dilakukan sesuai prosedur yang berlaku. Terlihat wajah-wajah senang di raut muka dokter juga perawat ketika respon yang dihasilkan pasien positif. Meski begitu, pasien harus tenang dulu tak boleh berpikir keras. Biarkan kinerja pikirannya bekerja perlahan-lahan agar tidak menimbulkan syok juga kaget yang bisa menyebabkan pasien mengalami trauma.


"Alhamdulillah.. bu Raisya sudah sadar. Semuanya baik-baik saja. Tapi tetap bu Raisya harus relaks. dulu jangan diganggu oleh masalah berat agar pikirannya bisa pulih dengan baik." Ucap dokter pada Aisyah juga Anwar sebagai orang yang ada di sana, mewakili keluarga nya.


"Baik dok." Jawab Anwar tersenyum senang melihat kesembuhan Raisya. Aisyah juga Anwar adalah orang yang pertama merasakan kebahagiaan di saat Raisya bangun dari komanya. Setelah perjuangannya menunggu satu bulan akhirnya penantiannya berhasil juga.

__ADS_1


Dokter memberikan arahan juga anjuran pada Aisyah juga Anwar untuk merawat Raisya paska koma. Mereka begitu semangat mendengarkan saran dokter.


Setelah selesai, dokter dan para perawat pun meninggalkan ruangan. Tinggallah mereka bertiga yang ada di ruangan itu.


"Mbak.. mau minum?" Tanya Aisyah menawarkan Raisya minum. Sesuai anjuran dokter, pasien terlebih dahulu harus diberi minum dengan bertahap tidak boleh langsung banyak.


Raisya mengangguk. Tenggorokannya terasa kering sekali. Begitu sadar yang diinginkannya adalah meneguk air dingin yang bisa meredakan kekeringan di tenggorokannya.


"Baik. Saya bantu dengan sendok ya! Tadi kata dokter minimnya sedikit-sedikit dulu, agar tidak tersedak." Aisyah membawa air putih dan sendok untuk membantu Raisya minum perlahan-lahan.


Raisya mengangguk patuh. Meski haus sekali, Raisya harus bisa bersabar meneguk. sedikit demi sedikit air yang diberikan Aisyah.


Di lain tempat Ratna dan Irwan tengah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit begitu mendapatkan kabar baik dari Anwar mengenai sadar nya Raisya.


"Ayo cepetan beb!" Irwan yang sudah siap di bagian kemudi, masih menunggu Ratna memasukan barang-barang bawaannya ke dalam mobil. Tadi sudah dibantu Irwan membawa perbekalan, tapi Ratna masuk lagi ke dalam rumah, katanya masih ada yang tertinggal di dalam. Maklum perempuan bawaannya selalu perfeksionis, jadi penuhlah bagian kursi belakang dengan beberapa perbekalan.


"Iya sebentar yang. Tadi aku lupa, buburnya belum dimasukin! Malam-malam begini agak susah ngorder bubur. Jadi tadi aku buatkan sedikit agar Raisya bisa makan nanti di sana." Ratna langsung pergi ke dapur setelah tadi terlebih dahulu menanyakan apa saja yang harus dibawanya ke. rumah sakit pada Aisyah dan Anwar.


Setelah menitipkan anak kembarnya pada kedua


orang tuanya, Ratna dan Irwan pun pamitan untuk pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Raisya.


Disepanjang jalan pasangan suami istri ini begitu tidak tenang. Rasanya ingin buru-buru sampai di rumah sakit agar bisa melihat keadaan sahabatnya itu.


Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Ratna dan Irwan pun sampai. Keduanya segera menurunkan perbekalan dan menentangnya menuju ruangan dimana Raisya dirawat.


Langkah keduanya dipercepat. Ini kali kedua bagi Ratna dan Irwan menantikan kesadaran Raisya setelah Raisya mengalami dua kali koma.


Srettt


Terdengar pintu digeser. Ketiga orang yang ada di ruangan pun sejenak melihat ke arah pintu.


Deg

__ADS_1


Jantung Raisya seolah terasa nyeri melihat orang yang menyembul dari balik pintu.


__ADS_2