
Semua hening. Meja makan yang sedang mereka kelilingi mirip sebuah pusara yang sedang dikerubungi para peziarah. Tak ada satupun yang mempunyai gurat senang. Malah semua terlihat tegang. Kaya peserta ujian matematika menghadapi soal.
Baru kali ini, anggota keluarga Albert berkumpul lengkap satu meja. Tepat nya, Tuan Robert, Nancy, Adam, Nathan dan Michel yang terakhir adalah Jacky. Mereka duduk satu meja untuk mencoba satu kebiasaan baru makan bersama dan berkumpul bersama satu meja. Itu penting untuk dicatat, kalau bisa sekalian dicatat di buku sejarah kebudayaan para leluhur keluarga Alberto.
Buat Nathan ini adalah suatu kehormatan, karena ini adalah kali pertama dia diundang dan diakui sebagai keluarga Alberto. Sekian lama dinanti akhirnya itu pun terjadi.
Ada beberapa mata saling mencuri pandang dan ada pula yang memilih menurunkan pandangannya ke bawah seperti Nathan dan Michel. Keduanya merasa canggung dan belum terbiasa menjalin hubungan dekat apalagi duduk satu meja.
Nathan yang diundang untuk makan bersama, tentu dilain sisi hatinya sangat senang tapi di lain sisi dia tidak merasa percaya diri. Hatinya diliputi malu dan canggung.
Ya saat ini keluarga Albert Alberto sedang berkumpul satu meja. Meraka duduk dengan jantung beirama deg deg dug dug layaknya sedang menghadapi ujian Nasional.
Keheningan pun terpecahkan, ketika tuan Alberto berbicara.
"Kalian adalah saudara. Aku bangga mempunyai anak tiga laki-laki selain tampan juga kalian adalah keturunan Alberto yang mempunyai kepintaran dalam mengelola bisnis. Mulai sekarang tak ada yang boleh bertengkar dan berselisih. Kalian harus saling mendukung satu sama lain. Kesampingkan ketidaknyamanan dalam hati! Mari berdamai dan bersatu. Apalagi kamu Nathan dan Jacky. Kalian akan dipersatukan oleh wanita yang sama keturunan yang sama yang akan mengikat keluarga kalian sampai kapanpun. Aku harap kalian bisa menerima kenyataan hidup, kenyataan takdir dan kenyataan bahwa kita tidak bisa bercerai-berai." Itulah kata-kata bijak yang diucapkan tuan Albert Alberto sebagai ayah dari tiga putranya yang sekarang sudah mempunyai satu cucu perempuan bernama Michel. Hati kecilnya dia merasa bangga, bahwa dia mempunyai tiga putra yang bisa dipercaya untuk mengurus perusahaan. Itu memang bukan tugas yang mudah. Sekian tahun mereka selalu berseteru dan saling menjatuhkan. Dia harus mengalami banyak kejadian untuk bisa mempersatukan ketiga putranya dalam satu meja seperti saat ini.
"Sekarang mari kita makan, aku harap kalian bisa lebih akrab setelah ini. Lebih baik menjadi saudara daripada menjadi musuh. Itu akan menghancurkan diri kalian sendiri. Aku tak mau kalian hancur.
Dari gestur tubuhnya mereka seperti sepakat. Entahlah apa yang ada di hatinya masing-masing.
"Michel.. ayo makan. Biar grandpa ambilkan, kamu mau sama apa?" Tuan Robert mendekatkan wajahnya melihat Michel dari dekat. Ini pertama kalinya dia bisa mengakrabkan diri dengan cucunya, setelah tujuh tahun dia menahan diri untuk bercengkrama dengan cucunya.
"Ayam." Jawab Michel malu-malu.
"Baik.. mau ayam ya.. " Tuan Robert mengambilnya dan menaruhnya di piring Michel dengan perasaan senang. Senyum sumringah terlihat di wajah tuan Robert dia bisa memberikan makanan itu untuk cucu pertamanya. Mereka pun masing-masing mengambil menu sesuai dengan pilihan dan selera masing-masing. Acara makan pun berlalu dengan tenang tapi masih terasa kaku.
__ADS_1
Setelah acara makan tuan Robert bermain dengan Michel di belakang mansion nya, walau Nancy masih menunjukkan rasa ketidaksukaannya tapi sekarang levelnya sudah menurun. Dia hanya melihat dari kejauhan saja interaksi antara tuan Robert dan Michel. Dari tadi dia hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.
Nathan yang masih canggung, berusaha mengakrabkan diri. Dia menghampiri Adam dan Jacky yang sedang berbincang serius. Wajah Adam nampak gusar sepanjang dia berbincang dengan Jacky.
Nathan duduk di samping Adam, kini anak tertua itu berada di tengah-tengah dua adiknya. Keduanya berhenti berbincang. Entah apakah mereka tak ingin pembicaraannya terdengar oleh Nathan sehingga mereka mendadak bisu.
"Aku ucapkan selamat ya!" Nathan memulai bicara dan dia melihat ke arah Jacky. Lalu Nathan kembali menatap ke depan melihat anaknya bermain dengan tuan Robert.
"Terima kasih!" Ucap Jacky pelan. Ada setitik rasa yang enggan dia ucapkan namun itu harus. Jacky mengusap wajahnya lalu menutup mulutnya.
"Bagaimana persiapan pernikahan kalian?" Adam menoleh ke arah Jacky. Dan dia mengerti, pasti ini akan terasa berat dirasakan Jacky mengingat calon istrinya adalah ibu dari Michel hasil perbuatan di luar nikah bersama Nathan.
"Baik." Jacky, meski dia sangat membenci Nathan, tapi kali ini dia harus malu ketika mendapatkan pertanyaan seputar persiapan pernikahannya.
"Kak Adam... " Nathan memangil Adam. Adam pun melihat Nathan.
"Kakak.. sudah tahu kalau kak Sarah ada di Jakarta?" Tanya Nathan pada Adam. Dia ingin tahu apakah kakaknya Adam sudah tahu keberadaan Sarah. Karena selama ini Adam kehilangan kontak dengan Sarah. Dan Adam pun pernah mengungkapkan isi hatinya, berniat ingin rujuk kembali dengan Sarah.
"Kamu tahu?" Mata Adam melihat serius pada Nathan. Jacky hanya memperhatikan kedua kakaknya berbicara.
"Berarti kakak. sudah tahu?" Nathan malah balik bertanya.
"Hhmm. Barusan Jacky yang bicara." Jawab Adam pelan.
"Ohh. Berarti kakak belum menghubunginya?" Nathan kembali bertanya.
__ADS_1
Adam menggelengkan kepala.
"Aku kemarin mampir ke apartemennya." Nathan berkata datar.
"Apa??" Adam dan Jacky langsung terhenyak. Hampir saja jantungnya melonjak.
"Iya, kami bertemu di bandara dan aku mengikuti Kak Sarah sampai ke apartemennya." Jawab Nathan jujur.
"Benarkah? Jadi kamu sekarang tahu dimana Sarah tinggal?" Adam begitu senang. Dan dia penasaran dengan kelanjutan berita dari Nathan.
"Iya. Kami malah sempat makan bersama." Jawab Nathan menginformasikan pada Adam apa yang kemarin dia lakukan bersama Sarah.
"Apa?? Kamu makan bersama? Berdua?" Adam rasanya tak percaya kalau Nathan bisa seakrab itu dengan Sarah.
"Tidak. Kami berenam." Nathan menjawab, menepis sangkaan buruk Adam yang sudah mulai agak cemburu.
"Berenam?" Lagi-lagi Adam mengerutkan dahi.
"Aku datang bersama Reza juga Michel. Tapi di apartemen kak Sarah rupanya ada orang. Aku tak sempat bertanya pada kak Sarah. Apakah mereka keluarga atau temannya." Jawab Nathan menjawab seadanya. Karena memang begitulah keadaannya.
Jacky ikut mengerutkan dahi. Memikirkan sesuatu.
"Dam, apa. Sarah mempunyai saudara?" Jacky seolah ingin mencocokkan berita yang kemarin sempat dibicarakan dengan Ratna. Pastinya Adam tahu betul siapa Sarah.
"Ada, tapi laki-laki. Itupun saudara tiri, anak dari ibu sambungnya.
__ADS_1
"Jadi mereka tidak mempunyai adik perempuan?" Jacky ingin memastikan pada Adam apakah Sarah mempunyai saudara perempuan.
Nathan ikut mendengarkan pembicaraan antara Adam dan Jacky serius.