
Alam mernyimpan sejuta kenangan. Entah manis ataupun pahit.
Jacky termenung sambil bersandar di papan ranjang. Membayangkan masa- masa indahnya bersama Raisya yang belum sempat mereguk manis madunya. Dia baru mencicipi bagian luarnya saja dan itu pun membuat otaknya seperti dipenuhi bayangan tentang perempuan itu. Tapi semua seperti mimpi, yang tadinya manis berubah jadi penuh sayatan luka. Apalagi kalau bukan karena talak dirinya pada Raisya. Kini penyesalan tak bisa mengubah keadaan. Bahkan setelah itu dia pun harus berakhir dengan menikahi perempuan yang ada di sampingnya.
Entahlah apakah takdir akan berpihak? Menyatukan mereka kembali dalam satu ikatan pernikahan atau mungkin dia harus merelakan Raisya menjadi milik orang lain.
"Jack.. belum tidur?" Tanya Sherly nyang sedari memperhatikan suaminya.
"Belum ngantuk. Tidurlah duluan!" Jacky menoleh pada perempuan cinta pertamanya yang sudah resmi menjadi istrinya. Ditatapnya wajah lemah dengan rambut sudah mulai rontok itu dengan sendu. Tiap kali melihatnya Jacky merasa tidak tega dan iba.
Sherly menggeserkan badannya dan melabuhkan tubuhnya di dada suaminya. Rasa kehangatan juga kedamaian selalu terasa jika berdekatan dengan laki-laki yang sedari dulu dicintainya.
"Kamu mikirin apa Jack?" Tanya Sherly sambil memainkan jari telunjuknya di dada bidang Jacky. Tiap malam Sherly tak mau kehilangan tubuh yang sudah menjadi candunya meski dia tahu Jacky tidak terlalu mencintainya seperti dulu. Tapi Sherly tak mau memikirkan itu. Yang penting saat ini, laki-laki yang dicintainya itu masih bisa ada di sampingnya, itu sudah dia syukuri.
"Tidak.. cuman belum ngantuk saja." Jawab Jacky memeluk tubuh yang kini sudah ringkih karena penyakit yang dideritanya. Penyakit itu lambat laun menggerogoti tubuh Sherly. Ditambah selera makannya pun kini menurun. Kalau bukan karena dibantu pengobatan alternatif, mungkin saat ini Sherly harus dirawat di rumah sakit.
"Aku ingin tidur di pelukanmu Jack." Sherly meminta izin agar Jacky memeluk dirinya agar bisa tertidur.
__ADS_1
"Baiklah. Sini!" Jacky mengubah tumpukan bantal agar bisa dipakai untuk mengganjal tubuhnya dan nyaman untuk berbaring sambil memeluk Sherly. Dia tak bisa menolak permintaan Sherly sekarang ini.
"Jack.. tadi aku bertemu dengan dokter Ferdy. Dia menanyakan mantan istrimu. Tapi aku tidak menjawab apapun karena aku tidak tahu tentang keberadaan mantan istrimu itu. Apa keduanya punya hubungan?" Tanya Sherly agak penasaran dengan hubungan keduanya.
"Ya.. mereka masih bersaudara meski bukan kandung. Ayahnya dokter Jacky menikah dengan ibunya mantan istriku. Lain kali kamu jangan terlalu dekat dengannya. Lebih baik menghindar. " Ucap Jacky sambil mengelus tangan Sherly.
"Iya. Aku juga tidak terlalu ingin tahu. Tadi dia tiba-tiba menanyakan hal itu. Aku jawab apa adanya karena aku benar-benar tidak tahu." Ungkap Sherly yang memang tidak ingin banyak masalah. Dia hanya kenal dengan dokter Ferdy karena melakukan pengobatan.
Sherly membenamkan wajahnya di tubuh Jacky. Ada rasa nyaman dirasakan Sherly begitu Jacky memeluknya. Rasa kantuk pun datang, Sherly pun terlelap dipelukan Jacky.
Sementara itu di lain tempat.
Tapi hatinya yang sejak awal jatuh cinta dengan Raisya membuat hati dokter Ferdy seperti tertutup untuk menerima kehadiran perempuan yang di jodohkan nya. Dia sudah mencari ke sana kemari mencari keberadaan Raisya bahkan telah menyewa agen swasta agar bisa menemukan Raisya. Tapi sampai saat ini keberadaan Raisya belum juga diketahuinya.
"Kamu dimana Raisya? Aku sangat memikirkan mu. Hatiku selalu terpaut sama kamu. Aku belum bisa lepas dari bayang-bayang dirimu. Apakah kamu sekarang sedang mengandung anakku? Dimana kamu sekarang?" Dokter Ferdy berbicara sendiri. Dia berharap bertemu dengan Raisya dan bisa membawanya pada kakeknya untuk dinikahi karena setahu dokter Ferdy Raisya sedang mengandung.
Dokter Ferdy bertekad ingin menemukan Raisya dan menanyakan tentang bayi yang sedang di kandungannya. Karena hanya dia yang tahu apakah bayi itu adalah benihnya atau benih dari mantan suaminya. Dokter Ferdy tahu dari Sherly bahwa Raisya telah bercerai dari Jacky meski Sherly tidak mengatakan kenapa mereka sampai bercerai dalam waktu cepat.
__ADS_1
Dokter Ferdy merasa tenang mendengar Raisya telah bercerai dari Jacky tanpa tahu bahwa sebenarnya Raisya sudah mengalami keguguran. Dokter Ferdy berharap dia bisa menemukan Raisya secepatnya dan bisa menikahinya. Kini itu tekadnya.
********
Sementara itu setelah mendonorkan darah untuk anaknya Baron, Raisya tidak lantas pergi. Anaknya Baron terus menahannya pulang. Dia terus-menerus memanggil Raisya dengan panggilan 'mama'
Raisya tidak tega melihat anak itu menangis, akhirnya dia memutuskan untuk menginap di rumah sakit. Baron juga keluarganya begitu bahagia melihat Nuri kembali mendapatkan pendonor. Sejak kedatangan Raisya mereka begitu baik memperlakukan Raisya. Apalagi cucu mereka seperti menginginkan Raisya sebagai pengganti menjadi ibu mereka.
"Bar.. mama lihat dia sepertinya perempuan baik. Melihat memperlakukan Nuri juga Imelda begitu ramah dan mau berkorban menginap disini." Bisik ibunya Baron pada Baron di ruang tamu yang ada di ruang VVIP.
Baron hanya menoleh dan melihat ke arah Raisya yang sedang duduk di samping Nuri sambil bercerita.
Baron kembali menarik pandangannya dari Raisya dan menunduk. Dia tidak mampu menjawab atau berkomentar dengan pembicaraan ibunya. Satu-satunya perempuan yang dia cintai hanyalah istrinya. Dia sudah berjanji akan sehidup semati. Meski dalam hati kecilnya Baron mengakui kebaikan dari diri Raisya yang tulus. Tapi dia belum mampu membuka hatinya untuk perempuan baru.
"Kamu malah diam saja. Mau sampai kapan kamu mau jadi single parent? Anak-anak butuh kasih sayang Bar.. kamu tidak boleh egois. Sepuluh tahun itu waktu yang cukup lama untuk kamu menyendiri." Ibunya kembali berbicara.
"Ma.. Bisa.ole kan tidak membicarakan hal ini sekarang?" Baron rupanya tidak nyaman kalau ibunya membicarakan hal yang satu ini
__ADS_1
Hatinya masih belum baik-baik saja sampai sekarang. Baron seperti dihukum oleh perasaan bersalah pada mendiang istrinya. Dia takut jika dia menikah lagi, dia akan menyakiti istrinya seperti dulu. Sejak lama Baron memutuskan untuk memilih sendiri daripada harus kembali menyakiti seorang perempuan.
"Baik. Maafkan mama. Tapi mama harap kamu bisa membuka diri. Jangan terus berlarut-larut dalam perasaan bersalah kamu. Kamu juga harus lihat anak-anak. Mama sudah tua dan tak mungkin terus menerus menjaga mereka." Ibunya Baron berdiri meninggalkan Baron yang masih tertunduk. Dia hendak bergabung dengan cucunya dan juga Raisya yang sedang asik bercerita.