
"Mbak jadi pergi?" Aisyah membantu Raisya berkemas.
"InsyaAllah." Jawab Raisya sambil melipat beberapa pakaian untuk perbekalan dirinya ke luar kota untuk mengaudit perusahaan Baron.
"Berapa lama?" Tanya Aisyah yang ikut mengkhawatirkan kepergian Raisya yang kali ini akan pergi jauh.
"Ya.. sampai selesai pekerjaan saja. Mbak belum tahu pastinya akan berapa lama." Jawab Raisya yang dirinya sendiri tidak tahu pasti berapa lama. dia akan pergi.
"Kenapa? Kamu kok kaya cemas gitu? Kaya ditinggalkan emaknya saja!" Sambil melipat baju Raisya bertanya pada Aisyah.
"Mbak... " Rengek Aisyah manja. Baru kali ini Aisyah terlihat seperti ke kanak-kanakan. Entah apa yang sedang dirasakannya. Aisyah memeluk Raisya erat sambil menjatuhkan kepalanya di bahu Raisya. Ada perasaan berat harus ditinggal pergi oleh Raisya. Ini kali pertama Raisya pergi dari rumahnya untuk waktu yang tidak pasti.
"Eh.. kok adik bak melow begini? Ngalahin Arsel sama Michel aja!" Raisya mengelus lembut kepala Aisyah.
"Gak tahu mbak.. kok rasanya sedih." Aisyah menitikkan air mata. Perasaan Aisyah yang susah dekat lalu sekarang akan ditinggalkan pergi okeh Raisya seperti anak ayam ditinggalkan induknya.
"Jangan sedih.. ntar tiap hari kita masih teleponan kok! Lagian masih di Indonesia, bukan di Arab." Jawab Raisya membujuk Aisyah yang tiba-tiba saja manja seperti itu.
"Hik. Hik. Hik." Aisyah malah menangis.
"Loh.. kok malah menangis?" Aisyah menarik badan Aisyah dan mendekapnya di badannya. Dia mengelus-ngelus lembut punggung perempuan yang sudah membersamai nya selama ini.
"Kamu mau ikut?" Tanya Raisya tidak serius sambil tersenyum menggoda Aisyah.
Aisyah hanya menggelengkan kepala.
"Doain mbak ya! Mudah-mudahan kerjaan mbak cepat selesai. Mbak janji nanti kalau pekerjaan mbak selesai dengan baik, liburan tahun ini kita pergi ke Amerika." Raisya ingat sebentar lagi bulan Desember, pasti kantor-kantor ada liburan cuti bersama akhir tahun. Raisya sudah merencanakan akan pergi liburan ke Amerika menemui Sarah juga ayahnya di sana sambil healing.
"Benarkah? Mbak mau mengajak kita berdua?" Aisyah langsung menegakkan badannya menatap Raisya dengan wajah masih berair-air.
Raisya menyeka air mata Aisyah yang masih turun dari kedua kelopak matanya.
"Bukan hanya kamu, mbak mau mengajak adik-adik mbak yang lainnya juga ibu. Ya termasuk Arsel. Mbak belum sempat mengajak mereka pergi ke sana. Kali ini kita akan pergi bersama-sama semua." Raisya tadinya ingin memberi kejutan pada Aisyah mengenai rencana liburannya ke sana.
__ADS_1
"Wah.. mbak.. ini beneran kan?" Wajah Aisyah yang tadinya sedih sekarang nampak senang. Meski baru kabar tapi itu sesuatu yang sangat membahagiakan dirinya. Seumur-umur belum pernah Aisyah dan Anwar berlibur ke luar negeri, jangankan luar negeri luar kota pun Aisyah belum pernah. Selain keuangan mereka yang baru cukup untuk kebutuhan sehari-hari, mereka pun kadang bingung harus pergi kemana. Jika ini benar, ini. seperti hadiah besar buat Aisyah dan juga Anwar yang selama ini tidak mempunyai keluarga juga tidak pernah liburan jauh.
"InsyaAllah.. makanya doain mbak ya! Biar kerjaannya lancar." Ucap Raisya tersenyum melihat Aisyah kembali ceria.
"Iya mbak.. saya selalu berdoa yang terbaik buat mbak. Aisyah sayang mbak.. " Aisyah kembali memeluk Raisya menghabiskan waktu terakhir bersama Raisya.
"Iya, mbak juga sayang kalian.. " Raisya terenyuh melihat sikap Aisyah yang memang tulus menyayangi nya. Meski mereka bukan saudara kandung tapi ikatan batin mereka begitu kuat dan besar.
Kring
Kring
Kring
Suara telepon masuk ke handphone Raisya. Dia menggeser tanda hijau untuk mengangkat panggilan.
"Halo assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam. Aku di depan rumahmu." Suara yang dikenali Raisya terdengar jelas di seberang telepon. Raisya menjauhkan pesawat dan melihat layar handphonenya, sepasang netranya melihat tajam pada layar handphonenya. Hanya tertera nomor tanpa nama.
"Siapa mbak?" Tanya Aisyah heran melihat perubahan wajah Raisya yang tiba-tiba murung.
"Pak Jacky." Jawab Raisya bingung. Di saat dirinya akan pergi, dia malah datang. Ada kegundahan yang melanda Raisya. Khawatir Jacky melarang ini itu membuat pemberangkatan kali ini terhambat.
"Maksud mbak bagaimana?" Aisyah belum mengerti.
"Pak Jacky ada di depan rumah." Jawab Raisya melihat Aisyah.
"Pak Jacky ada di depan rumah kita?" Aisyah dengan mata berkerung mengulang pertanyaan.
"Iya. Mbak bingung Aisyah. Khawatir dia melarang mbak berangkat." Raisya mengungkapkan isi hatinya yang sedang gundah.
"Biar Aisyah yang bukakan pintu. Mbak lanjut saja beres-beres nya. Lagian tinggal sedikit kan mbak?" Aisyah yang telah membantunya tahu barang yang akan dibawa Raisya nanti. Barusan Raisya hanya menambahkan beberapa pakaian yang perlu untuk ditambahkan. sedangkan keperluan lainnya sudah disiapkan dari kemarin-kemarin.
__ADS_1
"Iya. Terima kasih ya!" Ucap Raisya sambil menutup tas lalu memutar resleting untuk merapatkan tas travelnya. Tak lupa Raisya mengunci tas itu agar aman.
Aisyah keluar dari kamar Raisya menuju pintu utama.
Ceklek
Pintu dibuka, Aisyah menegedarkan pandangannya ke halaman. Di luar pagar sudah terparkir mobil sedan mewah milik Jacky. Dia tidak bisa masuk sembarangan karena pagar rumah Raisya terkunci.
Aisyah pun membuka pagar dan mendorong pagar itu agar Jacky bisa memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah.
Setelah melihat pintu gerbang terbuka Jacky melajukan mobilnya memasuki rumah Raisya dan memarkirkan mobilnya di depan rumah itu.
Jacky keluar dari mobil dan membuka kacamata hitamnya yang bertengger di hidung mancungnya.
"Raisya nya mana?" Jacky bertanya pada Aisyah. Dia tidak melihat ada Raisya menyambutnya.
"Ada di dalam pak. Silahkan masuk!" Aisyah mempersilahkan Jacky masuk ke dalam rumah.
Jacky pun mengekor di belakang Aisyah lalu duduk di kursi sofa ruang tamu. Sedangkan Aisyah berjalan ke kamar Raisya.
"Mbak.. pak Jacky sudah ada di ruang tamu menunggu mbak." Ucap. Aisyah memberitahu Raisya.
"Iya." Raisya yang sudah selesai berhias berdiri dari kursi riasnya hendak menemui Jacky.
"Mbak.. apa perlu saya temani?" Tanya Aisyah menawarkan diri menemani Aisyah.
"Tidak usah! Kamu bawakan saja air minum!" Raisya mengelus lembut bahu Aisyah agar dia membantunya membawakan air minum.
"Baik mbak." Aisyah mengangguk patuh. Dia melangkah pergi ke dapur untuk membawakan air buat tamu.
Raisya berjalan menuju ruang tamu dengan perasaan yang tidak kalah dah dig dug tidak karuan. Detak jantungnya mendadak berdetak keras juga cepat. Kekhawatiran sedang melanda Raisya saat ini.
Raisya tak bisa menghindar apalagi lari dari Jacky. Apapun yang akan terjadi dia akan menghadapinya.
__ADS_1
Lain dengan Jacky. Sejak tadi perasaannya tidak tenang ingin segera bertemu dengan Raisya. Entah kenapa feeling nya hari itu terus saja menuntunnya untuk bertemu dengan Raisya. Terpaksa dia pergi meninggalkan pekerjaannya, karena hanya ingin bertemu dengan Raisya.