
Setelah mengantarkan anak-anak sekolah. Raisya mendatangi klink alternatif untuk mendaftarkan diri menjadi siswa pelatihan. Kebetulan letak klinik tidak jauh dari lokasi sekolah.
"Selamat siang mbak. Ada bisa saya bantu?" Seorang resepsionis tersenyum dengan ramah menyambut kedatangan Raisya di tempat itu.
"Maaf dek. Saya mau mendaftarkan diri pelatihan." Raisya mengungkapkan niatnya untuk datang.
"Oh.. iya mbak. Mari saya antarkan ke lantai tiga. Nanti mbak bicara saja dengan bagian pendaftaran." Terang resepsionis yang menyambut Raisya.
"Oh iya terima kasih." Raisya menyambut bantuannya. Mereka berjalan menaiki tangga menuju lantai tiga dimana di lantai itu diadakan pelatihan dan pendidikan bagi siswa yang berminat untuk mendalami ilmu kesehatan alternatif.
"Bu ini ada yang berminat mendaftar. Silahkan mbak. Nanti bisa ngobrol sama tutornya langsung. Saya tinggal dulu ya mbak." Sang resepsionis pun meninggalkan Raisya.
"Oh iya terimakasih." Ucap Raisya yang telah diantarkan oleh resepsionis.
"Silahkan mbak duduk!" Ucap seorang wanita yang disebut tutor.
"Nama mbak siapa?"
"Perkenalkan nama saya Raisya." Jawab Raisya.
"Perkenalkan saya Mila, tutor disini mbak Raisya. Ini saya berikan brosur dan persyaratan menjadi siswa disini. Mbak boleh memilih kelas akupuntur, akupresur, dan bekam. Mbak boleh memilih kelas mana saja, dan boleh memilih ketiga kelas juga jika mbak berminat. Cuman.. kebetulan kelas baru sudah dimulai, mbak boleh menunggu kelas bru lagi atau mau langsung mengikuti yang ada." Ucap Mila.
"Oh.. begitu mbak. Kalau mengikuti kelas baru kira-kira lama tidak mbak Mila menunggu nya?" Tanya Raisya ingin tahu.
"Tidak tentu mbak. Saran saya mending mbak ikut kelas yang ada. Nanti mbak bisa mengikuti ketertinggalannya jika ada kelas baru." Ucap Mila menyarankan.
"Oh.. baik kalau begitu. Untuk jadwalnya bagaimana?"
"Untuk jadwal ada kls pagi dan sore mbak. Mbak boleh memilih yang mana saja. Waktunya seminggu dia kali. Kalau mbak mau mengikuti tiga kelas sekaligus ada harga diskon." Ucap Mila.
"Oh.. iya? Saya sih pengen semuanya bisa. Tapi mungkin waktunya saya kurang bisa membagi. Jadi saya putuskan untuk mengambil dua kelas dulu saja mbak. Kelas akupuntur dan akupresur." Raisya sejak dulu memang ingin sekali mempelajari ilmu kesehatan.
"Baik. Mbak Raisya boleh mengisi formulir pendaftaran dan membayar pendaftaran di muka. Untuk biaya pendidikan mbak bisa tranfer langsung ke nomor rekening disini." Mila mengarahkan Raisya untuk mengisi formulir dan petunjuk administrasi lainnya.
"Oh iya baik." Raisya pun tak lama kemudian mengisi formulir pendaftaran dan biaya pendaftaran. Selanjutnya menyerahkan formulir itu kembali pada Mila.
"Baik mbak Raisya boleh langsung mengikuti pelajaran besok jam 8.30 sampai 9.30. Dan alat-alat yang akan anda gunakan besok sebagai pelengkap pembelajaran. Diharap mbak Raisya bisa tepat waktu ya!"
"Baik mbak Mila. Saya ucapkan terimakasih." Raisya berdiri menyalami tangan Mila.
__ADS_1
"Selamat begabung ya mbak Raisya. Semoga berhasil. Tetap semangat!" Mila menyemangati.
"Iya terima kasih." Jawab Raisya bersemangat.
Setelah berpamitan Raisya pun turun dari lantai tiga dan menuju tempat parkiran. Dia buru-buru masuk ke dalam mobil.
"Subhanallah... panas banget." Raisya masuk ke dalam mobil sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Padahal tidak berpengaruh akan suhu yang ada di dalam mobil yang hawa panasnya begitu menyengat.
Hari itu matahari sangat panas sekali. Sampai-sampai ubun-ubun Raisya pun agak berdenyut. Apalagi mobil itu kena sinar matahari langsung. Karena beberapa tempat yang teduh sudah diisi mobil.
Klinik ini penuh juga pengunjungnya terlihat dari beberapa antrian di depan bagaian administrasi yang sedang mengambil nomor antri.
"Duh.. kenapa nih mobil?" Raisya kaget mobilnya tidak bisa distarter. Raisya mencoba beberapa kali, tapi hasilnya tetap sama. Mobil yang dikendarainya tidak mau menyala juga.
Terpaksalah walaupun panas Raisya keluar dari mobilnya. Dia hanya bisa menyetir mobil tapi tidak bisa memeriksa kerusakan mobil.
"Waduh panas... " Raisya berjalan ke arah halaman klinik sekedar berteduh dari panas. Dia merogoh handphonenya menelpon Irwan.
Tanpa diketahui seseorang sedang melihat dirinya dari dalam mobil.
"Assalamu'alaikum.." Raisya mengucap salam. dengan cemas.
"Waalaikumsalam." Jawab Irwan.
"Mmm.. ada. Tapi sebentar ya.. aku cari dulu." Jawab Irwan.
"Iya Wan terimakasih." Ratna menutup teleponnya.
Raisya nampak cemas, sebentar lagi Arsel pulang sekolah tapi mobilnya malah mogok di tempat orang.
"Kenapa mobil kamu?" Seorang laki-laki dengan wahh putih bercahaya menghampiri Raisya.
Raisya menatap curiga. Karena dirinya tidak mengenali laki-laki itu. Tapi dari sekilas wajahnya tidak nampak wajah orang jahat. Tapi di zaman begini waspada tetap harus.
Melihat Raisya hanya melihatnya saja. Laki-laki itu menyodorkan tangannya.
"Perkenalkan nama saya dokter Ferdi. Dokter di klinik ini." Ucap dokter sambil tersenyum ramah.
Setelah dokter Ferdi memperkenalkan diri, barulah Raisya membalas senyumannya dan menyambut tangannya untuk berkenalan.
__ADS_1
"Mm.. maaf nama saya Raisya."
"Mobil anda mogok?" Dokter Ferdi menunjuk ke arah mobil Raisya.
"Mmm.. iya. Ini sedang menunggu montir." Raisya tidak banyak bicara.
"Sudah ada?" Dokter Ferdi dengan ramah bertanya.
"Mmm... belum." Jawab Raisya pendek.
"Coba saya lihat dulu, apa yang menjadi kendala." Dokter Ferdi hendak membantu melihat kondisi mobilnya.
"Gak usah dok. Biar saya tunggu saja montir." Melihat penampilan dokter Ferdi yang sudah rapih Raisya tidak hati untuk merepotkan, apalagi panas matahari begitu menyengat.
"Oke. Coba telepon montirnya, khawatirnya lama." Dokter Ferdi melihat kecemasan di wajah Raisya.
"Baik." Raisya membuka layar handphonenya tapi Irwan tak juga memberitahu montir kenalannya.
"Mmm belum ada." Raisya berkata pelan.
"Ya sudah.. saya pinjam kuncinya!" Dokter Ferdi setengah memaksa.
Nih.. orang mau ditolong malah seperti tidak percaya.
Dokter Ferdi bergumam dalam hati.
"Ini.. " Raisya dengan ragu menyodorkan kunci mobilnya dan diterima oleh dokter Ferdi.
Dokter Ferdi langsung membuka handle pintu mobil dan menstarter mobil Raisya. Beberapa kali dia mencoba hasilnya tetap nihil. Dia keluar lalu membuka cup mobil. Dia memeriksa mesin mobil.
Raisya menghampiri dokter Ferdi.
"Maaf dok. Sebaiknya saya titip mobil dulu di klinik. Biar nanti montir yang bawa kesini. Saya harus menjemput anak saya sekarang." Raisya tidak mau berdiam diri menunggu montir sedangkan jam keluar Arsel.
"Baik. Memang sebaiknya pakai jasa montir. Dilihat dari kerusakannya ada alat yang mesti diganti." Ucap dokter Ferdi.
"Iya dok."
"Biar saya antarkan. Kunci mobilnya titip saja di resepsionis!" Dokter Ferdi menyerahkan kunci mobil Raisya.
__ADS_1
"Terimakasih dok. Biar saya naik mobil online saja." Tolak Raisya halus.
"Jangan menolak kebaikan orang yang mau membantumu."