Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Jack-Gal


__ADS_3

Jack berdiri diam di balik bayang-bayang gelap sambil menunggu korbannya keluar dari dalam hotel. Saat ini dia tengah menjalankan misi untuk membunuh seorang wanita simpanan yang berusaha merusak reputasi salah satu pejabat pemerintah yang ada di negara ini.


"Jika bukan karena bayarannya yang sangat besar, aku tidak akan mau berurusan dengan sampah seperti dia. Merepotkan saja" gerutu Jack saat melihat mangsanya malah sibuk merias diri di depan kaca spion mobil.


Mata dingin Jack terus mengamati gerak-gerik wanita tersebut. Dengan langkah yang sangat ringan dia berjalan mendekat kemudian memukul tengkuk wanita ini.


Buggghhhhhhhhh


"Aakkkhhhhhhhh!."


Wanita itu jatuh pingsan setelah sempat berteriak sebentar. Dengan santai Jack memanggulnya kemudian membawanya ke dalam kegelapan.


"Transfer uang itu sekarang juga" ucap Jack begitu panggilan teleponnya tersambung.


"Apa kau benar-benar sudah mendapatkannya? Cepat sekali."


Sudut bibir Jack bergerak membentuk sebuah seringai.


"Orang tidak akan memanggilku Jack-Gal kalau pekerjaan mudah seperti ini tidak bisa aku selesaikan dengan cepat. Karena tugasku sudah selesai, kau sebaiknya segera membereskan bagianmu."


"Hahahha, kau memang sangat hebat seperti yang di katakan oleh orang-orang Jack. Baiklah, aku akan mengirimkan bukti transferannya padamu nanti. Oh ya Jack, ngomong-ngomong kematian seperti apa yang akan kau berikan pada wanita simpananku itu?."


Jack membenturkan kepala wanita itu saat mendengar lenguhan kecil dari mulutnya. Dia lalu mendengus kuat. "Biasanya orang yang banyak mencari tahu akan mati lebih cepat di bandingkan manusia lainnya. Apa kau tertarik?."


Dari dalam telepon tidak terdengar suara apapun lagi begitu Jack mengeluarkan ancaman. Dia sangat tidak suka jika ada orang yang menanyakan seperti apa caranya dalam menghilangkan nyawa orang lain.


"Kau cukup duduk diam sambil menonton televisi di rumahmu saja. Dalam kurun waktu tak kurang dari lima belas menit kau akan melihat berita tentang kematian wanita simpananmu ini."


Tanpa menunggu perkataannya di balas, Jack langsung memutuskan panggilan itu. Dia bersiul senang kemudian membawa wanita itu mendekat kearah mobil tempatnya berdandan tadi.


Brrruuuukkkk


"Maaf Nona kalau kau harus mati di tanganku. Tubuhmu terlalu mahal untuk tetap di biarkan hidup. Kalau kau tidak terima dengan kematian ini, silahkan temui aku di alam baka nanti. Di sana kau bisa membalasku sama persis seperti apa yang akan aku lakukan padamu" ucap Jack dingin setelah membanting wanita itu ke atas kap mobil.


Tangan Jack bergerak cepat meretas CCTV hotel tersebut. Dia lalu mengeluarkan benda bersinar yang terselip di pinggangnya kemudian menggorok leher wanita itu bersamaan dengan CCTV hotel yang tiba-tiba mati.


"Aku suka aroma darah" gumam Jack seraya menjilati darah yang membasahi tangannya. "Ck, kapan aku akan mendapatkan korban yang bisa melakukan perlawanan? Aku mulai bosan bermain sendiri."

__ADS_1


Setelah memastikan korbannya mati, Jack segera memenggal kepalanya. Lagi-lagi dia bersiul saat menenteng kepala wanita itu sebelum akhirnya dia lemparkan kearah tempat yang biasa di lalui oleh banyak orang.


"Sepuluh menit" ucap Jack sambil berjalan kearah kegelapan. "Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua.... satu."


Aaaaaaaaaaaaaaaaa


Begitu Jack selesai menghitung, terdengar suara jeritan dari arah tempatnya membuang kepala wanita itu. Dia tersenyum puas.


Dengan tangan yang berlumuran darah Jack pergi meninggalkan tempat itu. Manusia berdarah dingin, mungkin julukan inilah yang paling cocok untuk seorang Jack-Gal.


...........................


"Tuan Muda, sepertinya Jack-Gal sudah kembali ke negara ini. Lihatlah, tadi malam seorang wanita di temukan mati dengan kepala terpenggal di halaman parkir sebuah hotel. Tidakkah menurut anda ini adalah perbuatannya?" tanya Ares sambil menyodorkan tablet berisi berita yang baru saja dia baca.


Gabrielle yang saat itu tengah memeriksa berkas pekerjaan segera berhenti. Dia menerima tablet tersebut kemudian mulai membaca beritanya. Alisnya mengerut.


"Jack-Gal, tidak salah lagi. Tapi bukankah dia sudah di deportasi dari negara ini setelah menjadi buronan dari kasus penembakan walikota tujuh tahun lalu?" tanya Gabrielle heran.


"Benar Tuan Muda. Dan hanya orang-orang berpangkat saja yang bisa mencabut larangan tersebut. Sepertinya kali ini Jack-Gal mendapat deking yang cukup kuat dari dewan pemerintah, Tuan Muda" jawab Ares.


Gabrielle mengusap dagunya pelan. Keberadaan Jack-Gal sangat misterius. Tidak ada yang tahu seperti apa rupa sebenarnya dari seorang pembunuh bayaran yang selalu menghabisi mangsanya dengan cara yang sangat sadis. Semua korbannya mati dengan kepala terpisah dari badan. Sangat cocok dengan julukannya sebagai Jack-Gal, Jack si pemenggal.


"Baik Tuan Muda!."


"Oh ya Ares, apa pendapatmu tentang ayahnya Elea?" tanya Gabrielle.


"Tuan Bryan sepertinya bersih dari urusan Nyonya Elea, Tuan Muda. Semua kata-katanya terdengar jujur, juga wajahnya yang sedih membuat saya yakin kalau dia tidak tahu menahu tentang masalah itu."


"Kau benar, dia memang tidak mengetahui apapun. Tapi ayahnya tahu" lanjut Gabrielle seraya mengepalkan tangan. "Karim Young mengetahui kejadian saat Elea di buang ke panti asuhan. Karena saat aku menyinggung tentang masalah bayi yang di buang, hanya dia saja yang memperlihatkan ekpresi berbeda. Jelas sekali kalau dia merasa tertekan mendengar berita itu."


Ares diam mencerna perkataan Tuan Muda-nya. Tiba-tiba saja satu hal yang sedikit mustahil muncul di kepalanya.


"Tuan Muda, atau jangan-jangan jenazah yang di semayamkan di samping makam Almarhum Nyonya Sandara itu bukan anak mereka. Bisa saja kan ada seseorang yang sengaja membuat berita palsu mengenai kematian Nona Eleanor Young. Dan firasat saya mengatakan kalau Tuan Karim terlibat dalam hal ini. Bukankah Tuan Bryan bilang kalau ayah dan ibunya sangat membenci Nyonya Sandara dulu? Sangat besar kemungkinannya kalau Tuan Karim dan istrinya diam-diam menukar cucunya dengan bayi orang lain yang sudah meninggal. Karena dengan begitu keturunan Nyonya Sandara tidak akan menjadi bagian dari keluarga mereka!."


Gabrielle langsung duduk dengan tegak setelah mendengar perkataan Ares. "Yang kau katakan sangat masuk akal, Ares. Pantas saja aku merasa terganggu dengan makam yang memakai nama Elea. Ternyata ini alasannya."


"Jadi apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Tuan Muda? Haruskah kita membongkar makam itu untuk mencari tahu siapa yang di kubur di sana?" tanya Ares.

__ADS_1


"Kita tidak bisa melakukannya, Ares. Perasaan Bryan akan sangat terluka karena yang dia tahu putrinya sudah lama meninggal" jawab Gabrielle.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pertemukan saja Nyonya Elea dengan Tuan Bryan? Jika memang ada ikatan darah di tubuh mereka, Tuan Bryan pasti bisa mengenali kalau Nyonya Elea adalah putrinya" ucap Ares memberi saran.


Gabrielle menggeleng.


"Terlalu beresiko jika kita mempertemukan mereka sekarang. Kita masih belum tahu seperti apa respon kakeknya Elea jika mendengar kalau cucu yang di buangnya ternyata masih hidup. Kau bayangkan sendiri kira-kira apa yang akan dia lakukan pada istriku."


Benar juga. Ares sedikit melupakan fakta kalau Tuan Karim sangat membenci nyonya kecilnya dulu.


"Sudahlah, kita bahas masalah ini nanti. Apa jadwalku siang ini?" tanya Gabrielle menyudahi pembicaraan tentang Elea dan keluarga kandungnya.


"Anda tidak memiliki jadwal apapun lagi selain menandatangani beberapa berkas saja, Tuan Muda" jawab Ares. "Apa anda ingin makan siang di luar?."


Gabrielle mengangguk. "Aku akan makan siang di rumah. Kasihan Elea, dia pasti merindukanku."


'Apa ini tidak terbalik, Tuan Muda? Astaga, jelas-jelas anda yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Nyonya Elea. Hmm..'


Gabrielle mengabaikan apa yang sedang di pikirkan Ares tentangnya. Tangannya mulai sibuk membuka berkas yang bertumpuk di atas meja.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan Muda" pamit Ares kemudian menunduk hormat.


Sepeninggal Ares, Gabrielle terkekeh pelan. Dia merasa benar-benar gila karena Elea. Sampai asistennya saja bisa berpikiran seperti itu tentangnya.


"Apa perasaanku terlalu jelas ya? Padahal aku sudah berusaha untuk terlihat biasa saja."


Bolehkah author menangis mendengar Gabrielle yang tidak bisa menyadari ketidakwarasannya dalam memiliki Elea.... 🤧🤧🤧🤧


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2