
Levi berjalan keluar dari ruang meeting dengan raut wajah yang sangat masam. Dia benar-benar kesal menghadapi para tikus got yang tidak berhenti memojokannya. Meskipun Levi mampu mengalahkan mereka, tetap saja hal itu menguras banyak tenaga dan juga emosinya. Urat leher Levi selalu menegang setiap kali beradu mulut dengan orang-orang yang ingin menggulingkannya dari perusahaan ini.
"Dasar tua-tua kurang kerjaan, sepertinya kalian suka sekali ya memantik emosiku. Apa kalian tidak bisa tinggal duduk diam sambil membaca berkas pekerjaan yang ada? Heran!" gerutu Levi setelah sampai di ruangannya.
Kania dengan sabar mengambil sepatu atasannya yang di lempar asal ke sudut lemari. Dia cukup maklum kalau si mantan model tersebut merasa frustasi setelah menghadapi mulut-mulut parasit yang selalu sibuk mencari masalah dengannya. Sambil tersenyum kecil Kania meletakkan sepatu di dekat kursi yang sedang di duduki oleh atasannya.
"Apa Nona membutuhkan sesuatu yang bisa menyegarkan pikiran?" tanya Kania.
"Aku butuh sugar daddy-ku, Kania. Dia beberapa hari ini terus mengabaikan aku karena sibuk mengurus pasien. Itulah kenapa emosiku jadi tidak stabil begini," jawab Levi dengan raut wajah memelas.
"Sugar daddy?"
Levi mengangguk. Memang benar kalau sekarang Reinhard jadi jarang sekali memberi kabar padanya. Dokter itu selalu sibuk mengurus pekerjaannya di rumah sakit sampai lupa kalau di sini ada hati yang kesepian. Ini juga yang menjadi alasan kenapa Levi bisa begitu marah setiap kali ada yang membuatnya merasa tersinggung. Dia kesal karena timbangan perhatian dari calon suaminya sedikit berkurang.
"Apa si sugar daddy itu adalah Tuan Reinhard?" tanya Kania penasaran.
"Iyalah, siapa lagi memangnya."
Astaga Nona Levita, bagaimana bisa anda menyebut Tuan Reinhard sebagai sugar daddy? Bukankah beliau itu adalah calon suami anda ya?
"Oh satu lagi Kania. Yang menjadi sugar daddy-ku bukan hanya Reinhard, tapi Gabrielle juga. Aku juga punya sugar mommy, namanya Elea. Dia kecil tapi mulutnya sangat beracun. Kau harus waspada jika berada di dekat wanita itu," ucap Levi serius.
"Sugar mommy? Nona, baru kali ini aku dengar julukan seperti itu. Dan julukan tersebut terdengar sedikit aneh," sahut Kania heran. "Apa dia sekaya seperti julukannya?"
"Haaaa... kau berani bertanya tentang kekayaan Elea?" tanya Levi tak percaya. "Kania, tolong kondisikan jantungmu dengan baik. Aku tidak mau kau mati mendadak begitu aku mengatakan seberapa kaya sugar mommy yang memeliharaku selama ini."
Kania menelan ludah. Sepertinya dia salah bertanya tadi. Namun karena penasaran, dia akhirnya menganggukkan kepala. Kania sangat ingin tahu seberapa banyak kekayaan yang di miliki oleh wanita bernama Elea itu. Apakah lebih banyak dari keluarga Ma atau malah jauh tertinggal di bawahnya.
"Kau tahu keluarga Young?"
"Tahu, Nona. Pemilik perusahaannya bernama Tuan Bryan dan mendiang Tuan Karim kan?"
"Ya, benar. Paman Bryan adalah suami bibiku, kami masih saudara. Dan apa kau tahu seberapa kaya keluarga itu?" tanya Levi. "Dia adalah pewaris pertama dari kekayaan mereka."
Kania mengangguk paham. Dia semakin tidak sabar ingin segera mendengar kelanjutannya.
"Apa kau pernah mendengar nama bangsawan Wu?"
"Tidak Nona."
"Kalau desainer Clarissa Wu yang dari Paris?"
__ADS_1
"Kalau itu saya tahu, Nona. Bahkan saya memiliki satu koleksi miliknya."
"Dan Elea adalah pewaris tunggal dari Nyonya Clarissa Wu. Kau bisa bayangkan sendiri bukan betapa kayanya sugar mommy yang bernama Elea itu? Aa satu lagi, sekarang Elea menjalin hubungan dengan pewaris Group Ma, Gabrielle Shaquille Ma, yang tak lain adalah sahabat dekatku sendiri. Seandainya mereka menikah, aku rasa kau bisa meregang nyawa karena tak sanggup menghitung jumlah kekayaan yang mereka miliki. Benar tidak?"
Seperti orang idiot, Kania mengangguk dengan mulut ternganga lebar. Pewaris tunggal dari harta kekayaan milik Bangsawan Clarissa Wu dan juga adalah pewaris dari Group Young? Omaigat... ini sih namanya bukan sugar mommy lagi, tapi sugar di atas sugar mommy. Ya Tuhan, Kania sungguh sangat syok mendengarnya.
Hehehe, kau belum tahu saja Kania kalau Gabrielle dan Elea itu sebenarnya sudah menikah. Dan seandainya kau tahu kalau Elea itu sangat suka mengumpulkan kartu hitam kemudian lupa dimana meletakkannya aku jamin kau akan langsung mati di tempat. Sugar mommy-ku itu tidak main-main, Kania. Apapun yang aku inginkan akan segera terwujud detik itu juga. Dan orang yang bisa memiliki sugar mommy dan sugar daddy seroyal mereka hanyalah aku seorang. Hanya Levita Foster yang bisa menjadi pelakor bersertifikat halal dalam rumah tangga mereka. Hanya aku Kania, hanya aku. Hahahahahaha.
"Nona Levita, apakah anda baik-baik saja?" tanya Kania heran melihat atasannya tertawa sambil berpose seperti superhero.
Di saat Levi hendak menjawab, seseorang yang sudah beberapa hari ini mengabaikannya masuk ke dalam ruangan. Reinhard, dokter tampan itu muncul sambil membawa seikat bunga di tangannya.
"Ekhmm, Nona Levita, Tuan Reinhard, saya permisi dulu!" pamit Kania kemudian bergegas keluar dari ruangan atasannya.
Reinhard mengangguk. Dia lalu menatap ke arah kekasihnya yang tampak acuh.
"I miss you."
"Siapa kau?" tanya Levi sinis.
Sadar kalau kekasihnya merajuk, Reinhard pun segera datang menghampiri. Dia meletakkan bunga yang dia bawa ke atas meja kemudian duduk di sebelah Levi. Reinhard tersenyum lucu.
"Jangan menggodaku. Aku sedang tidak mood sekarang!" omel Levi kemudian menatap ke arah lain.
Astaga Rein, tolong jangan menggodaku seperti ini. Hatiku jadi meleleh nanti.
"Sayang, beberapa waktu ini aku sangat sibuk sampai tidak bisa beristirahat dengan baik. Boleh tidak aku meminjam bahumu sebentar untuk bersandar? Aku benar-benar sangat kelelahan sekarang," bujuk Reinhard sambil menusuk-nusuk bahu kekasihnya pelan.
Levi masih berusaha agar tidak luluh dengan rayuan Reinhard. Dia terus melihat ke arah lain sambil menggigit bibir bawahnya agar tidak tersenyum.
"Sayang, jangan marah lah."
"Pergi sana. Jangan dekat-dekat denganku."
"Bagaimana mungkin aku bisa pergi kalau separuh jiwaku ada di sini, hm? Apa kau tega membuatku mati rasa, sayang?" sahut Reinhard bermanja.
Gemas karena Levi masih tak mau menatapnya, dengan lembut Reinhard mencium pipinya. Dia terkekeh lucu ketika melihat semburat merah muncul di sana.
"Aiyooo... calon istriku sedang tersipu rupanya. Cantik sekali."
Levi akhirnya kalah. Sambil tersenyum lebar dia langsung menarik Reinhard ke dalam pelukannya. Levi benar-benar sangat merindukan dokter tampan ini. Benar-benar sangat merindukannya.
__ADS_1
"Kau kemana saja, Rein? Hatiku rasanya seperti kosong saat kau mengabaikan aku."
"Maaf sayang, tugas di rumah sakit sangat banyak. Kau tahu sendirilah seperti apa pekerjaan calon suamimu ini."
"Tapi kau ini kan direkturnya. Masa iya semua pekerjaan harus kau yang menyelesaikannya. Kan masih ada banyak dokter yang bisa menggantikanmu, Rein. Aku sangat benci di abaikan seperti kemarin-kemarin," ucap Levi mengeluh pada kekasihnya.
Reinhard tersenyum.
"Kau begitu merindukan aku?"
"Yaiyalah. Memangnya pria mana lagi yang akan aku rindukan selain dirimu? Dasar konyol."
"Siapa tahu kau ada... uhuk... dengan pria lain selama aku tidak memperhatikanmu," sahut Reinhard.
"Oh, begitu ya? Tahu begini sejak kemarin aku sudah mencari pejantan untuk menghamiliku. Tahu tidak kalau ayahku sudah ribut meminta cucu? Sia-sia aku menunggumu selama ini, Rein."
Bola mata Reinhard hampir meloncat keluar saat mendengar kata-kata ekstrem yang diucapkan oleh kekasihnya. Dia kemudian melepaskan pelukannya lalu menatap tajam ke arah Levi.
"Beraninya kau berpikiran seperti itu ya. Akan ku suntik mati jika benar ada pria lain yang kau izinkan untuk menyentuhmu!" amuk Reinhard tak terima.
"Ya sudah kalau begitu ayo cepat nikahi aku, Rein. Atau kalau kau belum siap kita bisa mencicilnya lebih dulu. Kepalaku sudah sangat pusing setiap mendengar ayah dan ibu sibuk membahas tentang cucu mereka yang bahkan kita saja belum melakukan pembukaan. Ingat Rein, aku ini produk asli yang masih tersegel rapi. Yakin kau tidak berminat untuk mencicipinya sedikit? Kata orang enak lho!" goda Levi dengan sengaja.
Dan begitu Levi selesai bicara, Reinhard langsung mendorongnya hingga jatuh terlentang di sofa. Levi yang tidak menyangka kalau Reinhard akan berubah seagresif ini nampak gugup ketika Reinhard menindih tubuhnya. Seketika dia panik, khawatir kalau-kalau Reinhard akan mengajaknya wik-wik sekarang juga.
"Sayang, sen*fsu apapun aku, aku tetap tidak akan mencicipinya sebelum resmi menjadi suamimu. Karena apa? Karena kau adalah wanita terhormat yang akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Aku tidak mau kesucianmu hilang sebelum waktunya karena itu sama artinya dengan aku yang merendahkan harga diri mendiang ibuku. Paham?"
Levi tertegun. Pikirannya salah. Dia kira tadi itu Reinhard akan benar-benar mengajaknya bercinta, rupanya dia salah. Reinhard tetaplah Reinhard yang selalu menjaga harga dirinya sebagai seorang wanita. Sungguh sangat beruntung Levi bisa bertemu dengan pria sebaik dan sesabar dokter ini.
"Aku sangat mencintaimu, Rein. Sungguh."
"Begitu pun aku, sayang. Aku jauh lebih lagi mencintaimu. I love you Levita Foster," sahut Reinhard kemudian mulai menyesap bibir sintal milik calon istrinya.
πππππππππππππππππ
...π»VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...π»IG: rifani_nini...
...π»FB: Rifani...
__ADS_1