
Lusi berjalan seorang diri sambil menyusuri pinggiran taman yang biasa menjadi tempatnya bermain bersama dengan Nyonya kecilnya. Baru sehari dia di tinggal pergi, Lusi sudah merasa sangat kesepian. Dia merasa ada yang kurang di dalam rumah ini jika Nyonya kecilnya tidak ada.
"Huftt sadarlah Lusi. Kau itu hanya seorang pelayan, kau mana boleh merindukan majikanmu sampai seperti ini. Jika Tuan Muda tahu, dia pasti akan sangat murka. Nasib pekerjaanmu yang akan jadi taruhannya" gumam Lusi sambil memukuli kepalanya sendiri.
Sebagai orang yang telah di percaya menjadi pelayan pribadi Nyonya-nya, tentu saja sudah membuat Lusi terbiasa dengan kedekatan mereka. Nyonya kecilnya itu sangat baik hati, beliau tak pernah membedakan status meksipun hubungan mereka adalah seorang majikan dan bawahan. Kita itu sama di mata Tuhan, hanya tingkah dan perilaku kita yang membedakan, kurang lebih seperti itulah ucapan yang selalu keluar dari mulut Nyonya kecilnya setiap kali Lusi bertanya.
Saat Lusi sedang memikirkan kebersamaan dengan Nyonya kecilnya, salah seorang temannya datang menghampiri.
"Lusi...!."
"Iya, ada apa?" tanya Lusi seraya berjalan mendekat.
"Nun menyuruhmu masuk ke dalam."
"Untuk apa Nun memanggilku? Semua pekerjaanku kan sudah beres."
"Aku tidak tahu. Sudah sana masuk, jangan biarkan manusia robot itu menunggu terlalu lama. Nanti dia bisa marah!."
"Hufft, baiklah!."
Dengan sedikit berlari Lusi segera masuk ke dalam rumah. Dia lalu membungkuk hormat setelah sampai di hadapan Nun.
"Kau darimana?" tanya Nun dingin.
"Aku baru saja dari taman, Nun. Emm, aku kesepian karena Nyonya Elea tidak ada di rumah jadi aku mendatangi tempat kami biasa bermain" jawab Lusi dengan jujur.
Nun mengangguk. Sebenarnya tidak hanya Lusi saja yang merasa kesepian, dia dan para pelayan lain juga merasakan hal yang sama. Rumah ini serasa kosong setiap kali di tinggal pergi oleh Nyonya cilik yang selalu bertingkah konyol.
"Beberapa hari lagi mungkin Nyonya Elea dan Tuan Muda Gabrielle akan kembali ke rumah. Tidak perlu merasa galau" ucap Nun mencoba menghibur bawahannya.
"Benarkah itu Nun?" tanya Lusi berbinar.
"Ya. Dan sekarang kau pergilah ke supermarket. Sayuran di rumah kita sudah habis" jawab Nun sembari menyodorkan catatan kecil berisi daftar barang belanjaan lengkap dengan setumpuk uang pada Lusi.
Lusi segera menerima uang tersebut kemudian menatap ragu-ragu kearah pria berwajah datar yang sedang berdiri di depannya.
__ADS_1
"Apa apa?."
"Em itu Nun, boleh tidak kalau aku jalan-jalan sebentar setelah pulang dari supermarket. Aku janji tidak akan lama, sungguh" jawab Lusi kemudian mengangkat dua jarinya keatas. "Aku kesepian Nun, jadi aku ingin sedikit mencari hiburan di luar sana."
"Hati-hati" ucap Nun datar kemudian melenggang pergi dari hadapan Lusi.
"Astaga, dia kenapa kaku sekali sih? Memangnya tidak bisa ya bicara sedikit banyak padaku?" gerutu Lusi sambil melangkah keluar menuju gerbang.
Dari balik tirai jendela, Nun rupanya terus memperhatikan Lusi. Dia lalu memerintahkan salah seorang penjaga untuk mengawasi gadis itu dari jarak jauh.
"Pergi dan ikuti Lusi. Pastikan dia sampai ke rumah dengan aman kalau kau tidak mau berurusan dengan Tuan Muda!."
"Baik Nun!."
Lusi adalah pelayan sekaligus teman kesayangan Nyonya rumah ini. Bisa habis semua orang jika pelayan itu sampai kenapa-napa. Itulah alasan Nun diam-diam mengirim seorang penjaga untuk melindungi Lusi, Nun tidak mau mengambil resiko menghadapi amarah Tuan Muda-nya jika si Nyonya kecil sampai bersedih hati.
Sesampainya Lusi di supermarket dia segera menuju rak sayur-sayuran dan memilih sesuai yang tertulis di dalam catatan. Saat Lusi sedang asik memilih sayur, tiba-tiba saja ada yang merebut tasnya dari samping. Sontak saja hal itu langsung membuat Lusi berteriak kaget.
"Aaaaaa, copettt....!."
Di kejauhan, penjaga yang tengah mengawasi Lusi nampak sedang berlari dengan cepat. Namun langkah penjaga itu di cegat oleh Junio yang langsung menjelaskan siapa pria yang sedang bersama Lusi.
"Dia temanku, namanya Glenn. Kami berteman baik dengan Grizelle, kau boleh menghubunginya jika tidak percaya. Jangan khawatir, temanku tidak akan berbuat macam-macam pada Lusi, dia hanya sedang memperjuangkan cintanya pada gadis itu!."
Setelah penjaga itu memastikan kalau pria yang sedang bersama Lusi bukan orang jahat, barulah dia merasa lega. Sementara Lusi, dia tengah menatap syok kearah pria yang tadi membekap mulutnya.
"Kau siapa? Kenapa sok kenal sekali!" tanya Lusi bingung sekaligus kesal.
Glenn tersenyum. Dia sangat suka melihat ekpresi kesal di wajah gadis ini. "Namaku Glenn, aku teman baiknya Grizelle. Aku bukannya sok kenal, tapi aku memang ingin mengenalmu lebih jauh!."
Kening Lusi mengerut. Baru kali ini dia di sapa oleh seorang pria tampan. Bahkan pria ini secara terang-terangan mengajaknya untuk berkenalan.
"Tuan, coba buka matamu lebar-lebar. Lihat, aku itu sedang memakai seragam pelayan. Kau tahu apa artinya bukan?."
"Artinya kau seorang pelayan" jawab Glenn sambil mengulum senyum.
__ADS_1
"Nah, itu tau. Kau mungkin salah mengenali orang, Tuan. Mungkin bukan saya orangnya" imbuh Lusi kemudian mengambil bawang-bawangan yang tersusun rapi di rak sayur. "Sudah ya sekarang kembalikan tas belanjaku. Masih ada banyak barang yang harus aku beli, jadi tolong jangan membuang waktuku, Tuan."
Glenn mengangkat tas berisi sayuran itu keatas saat Lusi berniat mengambilnya. Dia terkekeh saat gadis ini meloncat-loncat agar bisa menggapai tas yang sedang di pegangnya.
"Tuan tolong berikan tasnya!" rengek Lusi menyerah dengan nafas yang sedikit terengah setelah melompat-lompat.
"Aku kan sudah bilang kalau aku yang akan membawa tas ini. Kenapa kau bebal sekali sih" sahut Glenn sambil menyisipkan rambut Lusi ke belakang telinga.
Tubuh Lusi kaku saat dia mendapat perlakuan manis dari pria bernama Glenn ini. Dia hanya bisa menelan ludah dengan wajah memerah seperti buah tomat saat pria tampan ini tak segan untuk menunjukkan perhatiannya meskipun dia adalah seorang pelayan. Sangat kontras sekali penampilan mereka dimana Glenn yang memakai setelan jas yang pasti dengan harga setinggi selangit. Lusi bisa mengetahui hal itu karena sering melihat pakaian kantor milik Tuan Muda-nya yang baru selesai di loundry.
"Kenapa diam, hem? Terpesona dengan ketampananku ya?" goda Glenn dengan sengaja.
"Iya.." sahut Lusi jujur.
Sedetik kemudian Lusi memekik sambil menutup mulutnya yang baru saja keceplosan bicara. Dia segera melarikan diri dengan berpindah dari rak satu ke rak yang lain untuk menghindari Glenn. Lusi benar-benar sangat malu sekarang. Bisa-bisanya dia berkata dengan sangat jujur kalau dia sedang terpesona oleh ketampanan dan juga perhatian yang di tunjukkan oleh Glenn padanya tadi.
"Lusi Lusi, kalau kau bertingkah semenggemaskan ini aku malah jadi semakin menginginkanmu. Haaah, aku benar-benar sudah terkena sihir si gadis pelayan itu. Sepertinya aku harus segera menemui Gabrielle untuk meminta Lusi darinya" gumam Glenn sambil menepuk dadanya yang tidak berhenti berdebar.
Tak ingin kehilangan gadis yang di sukainya, Glenn bergegas menyusul Lusi yang terus menghindar. Gemas, Glenn akhirnya memeluk pinggang Lusi kemudian mengajaknya memilih sayuran. Dia abai akan tatapan heran para pengunjung melihat apa yang dia lakukan pada seorang gadis berseragam pelayan ini.
"T,Tuan, tolong lepaskan aku. Aku malu di lihat banyak orang" bisik Lusi sembari menutupi wajahnya.
"Biarkan saja. Sudah, lebih baik kau fokus padaku saja, jangan pedulikan orang lain. Karena mulai sekarang kau adalah kekasihku. Jadi kau hanya boleh memikirkan aku saja, mengerti!" paksa Glenn kemudian mencium puncak kepala Lusi yang sedang terbengang setelah mendengar ucapannya.
'Kekasih??????? Apa pria ini sudah gila? Aaaaaaa.... Nyonya Elea, tolong selamatkan aku dari pria sakit jiwa ini, aku takut jatuh cinta padanya...!!!!.'
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1