
Dengan tubuh yang lemah Fulgi merangkak mendekati ibunya yang masih terlelap. Dia mengguncang lengannya, berharap kalau wanita ini bisa membantunya meminta air minum.
"Ma...."
Kimmy tak merespon. Sepertinya dia sangat kelelahan setelah semalam menjadi bola sepak di tangan Lan.
"Ma, bangun" lirih Fulgi tak berdaya.
Jackson yang tidak sengaja lewat menatap datar kearah dua sejoli yang berada di dalam kandangnya Lan. Dia termenung. Beberapa waktu lalu dialah yang terperangkap di dalam kandang maut tersebut sebelum Elea datang dan memberinya pengampunan. Dan sekarang posisinya telah di gantikan oleh dua orang yang juga memiliki niat buruk terhadap penolongnya. Jackson tiba-tiba saja terfikir, mungkinkah Elea juga akan memaafkan kesalahan Kimmy dan Fulgi? Mungkinkah kedua orang picik ini akan mendapat kesempatan untuk membenahi diri sepertinya?.
"Tidak baik pagi-pagi begini sudah melamun."
Jackson terperanjat kaget ketika mendengar seseorang bicara dari arah belakang. Segera dia berbalik kemudian membungkukkan tubuh begitu tahu siapa yang sedang berdiri di sana.
"Selamat pagi, Nyonya Liona" sapa Jackson.
Liona mengangguk. Dia kemudian melihat kearah kandang, menatap sinis kearah dua orang yang tergeletak tak berdaya di dalam sana.
"Apa kau sedang mengunjungi mereka?" tanya Liona. "Baik sekali."
"Tidak, nyonya. Tadi aku tidak sengaja lewat di sini, dan sedikit melamun saat terkenang kalau waktu itu akulah yang berada di dalam kandangnya Lan" jawab Jackson jujur.
"Kau ingin bernostalgia?.
Liona terkekeh kecil.
"Dengan senang hati, nyonya."
"Hmmm, sepertinya ada yang sudah menjadi sahabat dekatnya Lan. Kau tidak takut lagi ternyata" ejek Liona kemudian melirik kearah Lan yang masih tertidur di dekat pintu kandang.
"Semua ini berkat Elea, nyonya. Aku pasti masih terjebak dalam halusinasi jika seandainya Elea tidak datang untuk mengampuni dosaku" sahut Jackson kemudian tersenyum.
Liona mengangguk senang. Dia puas sekali melihat cara Jackson menghargai kebaikan hati menantunya.
__ADS_1
"Oh ya nyonya, aku ingin meminta izin untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Elea. Aku merasa ada yang tidak beres dengan hasil tes kesehatan yang kemarin nyonya berikan padaku" ucap Jackson saat teringat dengan agenda hari ini.
"Pemeriksaan? Memangnya Elea kenapa?" tanya Liona khawatir.
"Ini hanya tebakanku saja, nyonya. Entah itu donor ginjal atau donor sum-sum tulang belakang aku masih belum bisa memastikan. Tapi yang jelas, penyakit Elea tidak sesederhana yang kalian tahu. Sejenis kelainan yang cukup langka. Tapi itu baru dugaanku saja, belum tentu benar. Yah, aku harap semoga dugaanku salah agar Elea tak perlu melakukan operasi besar untuk menyembuhkan penyakitnya. Aku tidak mau melihat Elea kesakitan, nyonya" jawab Jackson sembari menarik nafas panjang.
Liona gusar.
"Entah dugaanmu benar atau tidak, kita harus tetap melakukan persiapan. Jenis ginjal dan sum-sum tulang seperti apa yang akan di butuhkan? Biar aku meminta Hansen untuk mencari pendonornya terlebih dahulu. Sedia payung sebelum hujan itu jauh lebih baik bukan?.
"Nyonya Liona, kau tidak perlu merasa khawatir karena pendonornya sudah ada."
"Maksudnya?.
Kening Liona mengerut. Dia menatap seksama kearah Jackson yang terlihat begitu tenang. Bahkan wajah pria ini terlihat begitu ceria, membuat Liona menjadi penasaran.
"Aku yang akan menjadi pendonornya, nyonya" ucap Jackson tenang.
"Apa? Tapi Jackson, kenapa kau mau melakukan hal itu? Bukankah kau tahu sendiri dampak dari operasi tersebut? Kemungkinan untukmu bisa memiliki keturunan akan sangat kecil, kau juga akan menjadi orang yang lemah jika kehilangan satu ginjalmu" sahut Liona kaget.
"Jack, kau belum memberiku jawaban."
"Nyonya, aku melakukan ini semua bukan karena aku masih menyukai Elea. Ada sesuatu hal yang tidak bisa aku ceritakan sekarang. Tapi yang jelas, ini semua adalah bentuk balas budi atas semua kebaikan hati menantu nyonya. Aku ingin menebus sesuatu yang pernah gagal aku lakukan. Dengan mendonorkan ginjal atau sum-sum tulang belakang untuk Elea, semuanya baru akan impas. Aku tidak akan merasa bersalah lagi terhadapnya " ucap Jackson dengan mata berkaca-kaca.
Liona tertegun. Dia merasa aneh dengan jawaban yang di berikan oleh Jackson. Liona semakin merasa aneh ketika melihat Jackson meneteskan airmata sambil terus menyebut nama menantunya. Keadaan ini sedikit janggal, tapi Liona tidak tahu itu terjadi karena apa.
"Jack, aku tidak mengerti dengan apa yang kau ucapkan. Itu terdengar aneh, tapi aku bisa merasakan ada ketulusan di dalamnya. Jika memang benar kau yang akan menjadi pendonornya, aku akan sangat berterima kasih padamu" ucap Liona seraya menepuk bahu Jackson yang masih terisak lirih.
Dengan tangan gemetar Jackson menghapus air matanya. Pikirannya melayang pada mimpi yang di alaminya semalam. Mimpi yang langsung membuatnya sadar kalau di antara dia dan Elea ada tali penghubung yang mengikat keduanya. Jackson mengusap wajahnya yang kembali basah terkena airmata saat terkenang dengan kejadian menyedihkan di dalam mimpi tersebut.
"Ayo masuk. Yang lain sudah menunggu kita untuk sarapan" ajak Liona begitu tahu apa yang membuat pria ini menangis.
"Tidak usah, nyonya. Aku sarapan di belakang saja bersama teman-teman yang lain" tolak Jackson segan.
__ADS_1
Jackson cukup tahu diri dengan posisinya. Dia mana mungkin berani untuk makan satu meja dengan keluarga hebat ini. Terlalu rendah baginya menerima keistimewaan itu.
"Jangan beralasan, Jack. Aku tidak terlalu suka pada orang yang langsung menolak niat baikku" ucap Liona penuh penekanan.
"Tapi nyonya, aku...
"Mulai sekarang kau adalah bagian dari keluarga ini. Kita semua adalah saudara, jadi wajarkan kalau aku mengajakmu untuk makan bersama dengan yang lainnya? Jangan sungkan, aku yakin Elea pasti akan merasa senang kalau kau juga ada di sana."
Meski bimbang, Jackson akhirnya menerima ajakan sang pemilik rumah. Dia sedikit tak nyaman saat semua mata tertuju kearahnya begitu dia masuk.
"Dokter Jackson, kau mau makan bersama kami ya?" tanya Elea penuh semangat.
"Iya. Apa kedatanganku mengganggu?" jawab Jackson.
"Tidak kok, tapi dokter jangan menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja ini ya? Nanti aku kelaparan."..
Semua orang tertawa mendengar kelakar nyeleneh yang di lontarkan oleh Elea. Gabrielle yang melihat hal itupun sama sekali tidak merasa cemburu. Dia legowo karena bagaimana pun Jackson lah yang akan memberikan kebahagiaan pada istrinya nanti.
🍀 Jauh beberapa tahun sebelum Masehi, di sebuah rumah sederhana terlihat seorang pria berpakaian lusuh yang sedang menangis sambil memeluk seorang gadis kecil yang tubuhnya sudah bersimbah darah. Sebuah pedang panjang nampak menembus dari bagian perut hingga punggung gadis kecil tersebut.
"Hikss, Zhao'er, bangun. Ayo buka matamu."
Tak peduli sekeras apapun Shinyu memanggil nama adiknya, gadis kecil itu tetap tak mau membuka mata. Gadis kecil itu harus meregang nyawa karena melindungi kakaknya yang ingin di bunuh oleh seorang bandit. Shinyu memiliki hutang yang sangat banyak pada bandit tersebut hanya untuk memenuhi dahaganya yang begitu tergila-gila dengan meja judi dan juga rumah bordil. Bahkan tak jarang Shinyu melakukan kekerasan pada adiknya jika tak mau memberinya uang. Hingga pada akhirnya petaka mengerikan ini terjadi. Zhao'er meninggal tepat di depan mata Shinyu dengan mengorbankan tubuhnya sebagai penghadang pedang yang di arahkan ke dadanya.
"Zhao'er, jika Dewa memberiku kesempatan untuk bereinkarnasi, aku bersumpah tidak akan memiliki hidup yang baik sebelum aku bertemu dengan reinkarnasimu. Saat waktunya tiba, aku akan mengorbankan segalanya untuk menebus pengorbanan yang sudah kau lakukan. Aku berjanji Zhao'er, aku berjanji demi nyawaku" ucap Shinyu mengucapkan sumpah dengan begitu lantang.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 Rifani...