
"Sayang, kenapa cepat sekali pulangnya? Menginap semalam lagi ya, Grandma masih merindukanmu" ucap Clarissa tak rela cucunya pergi dari rumahnya.
Elea tersenyum. Dia lalu meraih tangan tua neneknya kemudian menciumnya untuk berpamitan. Jujur, saat ini Elea masih menyimpan sesuatu yang salah pada wanita tua ini. Tapi dia berusaha meredamnya dengan cara pergi meninggalkan rumah ini, Elea tak mau neneknya merasa sedih jika harus melihat kebaikan yang di paksakan. Biarlah, mungkin dengan menjaga jarak kebenciannya perlahan-lahan akan terurai.
"Maaf Grandma, tapi pekerjaan Kak Iel sudah menumpuk di kantor. Kalau kami tidak segera kembali aku takut badan Kak Iel di tumbuhi lumut saat mengerjakan berkas-berkas itu!."
Gabrielle, Levi, Reinhard dan juga Ares tergelak. Mereka tadi sempat kaget ketika Elea bilang kalau mereka akan kembali ke negara asal, bukan meneruskan liburan mereka di Paris. Tapi Gabrielle yang sadar kalau istrinya ingin menghindar segera menyetujuinya. Toh mau dimanapun mereka asalkan tetap bersama Elea itu tidak akan menjadi masalah untuk Gabrielle. Justru dia akan lebih di untungkan lagi karena mereka bisa bebas bercinta tanpa ada yang mengganggu.
"Benar Grandma. Pekerjaanku sudah menunggu untuk segera di selesaikan. Atau begini saja, setelah Grandma sehat datanglah ke negara kami. Nanti disana kita bisa menghabiskan waktu lebih lama, sekalian aku juga ingin memperkenalkan Ayah dan Ibu pada Grandma. Iya kan sayang?."
"Iya, Kak Iel. Grandma saja yang datang berkunjung ke rumah kami ya? Ibu Liona dan Ayah Greg sangat baik, mereka pasti akan menyambut Grandma dengan tangan terbuka" jawab Elea membanggakan kebaikan hati mertuanya.
Clarissa tersenyum. Dia merasa lega karena cucunya mendapatkan mertua yang baik. "Gabrielle, Grandma bukan Nenek yang baik untuk Elea. Tolong jaga dia baik-baik ya, jangan pernah menyakitinya. Dan untuk kedua orangtuamu, tolong sampaikan rasa terima kasih Grandma karena mereka sudah bersedia untuk menyayangi Elea. Grandma pasti akan segera datang berkunjung ke negara kalian nanti, jadi sehat-sehat ya sampai Grandma datang kesana!."
Ekpresi di wajah Elea sedikit berubah ketika neneknya berpesan pada suaminya agar tidak menyakitinya. Namun saat Elea hendak bicara tiba-tiba saja pelukan di pinggangnya menguat. Elea menoleh, dia mengerjapkan mata melihat suaminya menatap tak berkedip. 'Apa aku tidak boleh memarahi Grandma, Kak Iel?.'
Gabrielle mengangguk. Dia kemudian tersenyum ketika istrinya mengangguk patuh.
"Grandma jangan khawatir. Seumur hidup aku tidak akan pernah menyakiti Elea karena aku sangat mencintainya" jawab Gabrielle kemudian mencium puncak kepala Elea. "Dia adalah satu-satunya wanita yang mendiami hatiku, Grandma. Jangankan untuk menyakitinya, melihat dia bersedih saja hatiku sudah sangat hancur. Aku tidak rela jika melihatnya tidak bahagia. Jadi Grandma tidak perlu mengkhawatirkan hal itu!."
"Baguslah. Grandma lega mendengarnya" ucap Clarissa. "Elea, sayangku, berikan Grandma pelukan yang sangat lama ya. Biarkan Grandma melepas rindu ini sebelum kalian pulang ke negara kalian!."
Meski enggan, Elea masih tetap menganggukkan kepala. Dia tidak mau melihat suaminya kecewa, juga tak ingin membuat neneknya merasa bersedih.
"Grandma akan sangat sangat merindukanmu, sayang. Jaga diri baik-baik ya di sana, dan maaf sepertinya Grandma tidak bisa mengantarkanmu pergi. Tubuh Grandma masih lemah, tidak apa-apa kan sayang?" tanya Clarissa sembari membelai lembut punggung cucunya. Rasanya sangat tidak rela harus berpisah dengan cucu yang baru saja di temukannya. Tapi Clarissa sadar kalau cucunya ini sudah sangat tidak nyaman berada di dekatnya. Mungkin kepulangan mereka hanya alasan saja agar cucunya bisa menghindar.
"Tidak apa-apa, Grandma. Kesehatan Grandma jauh lebih penting di bandingkan apapun. Lekas sehat dan datang ke rumahku ya, nanti aku akan memasakkan makanan enak untuk Grandma" jawab Elea dengan tulus.
Levi yang mendengar ucapan Elea segera mencebikkan bibir. Dia bisa mencium aroma-aroma tidak enak di sini. Dan baru saja Levi berfikiran seperti itu Elea langsung mengeluarkan ranjau daratnya.
"Makanan yang di masak Kak Levi sangat enak. Grandma pasti akan ketagihan setelah mencobanya."
Nah, benarkan? Ini dia aroma tidak enak yang di rasakan oleh Levi barusan. Sungguh Elea sangat ajaib, dia yang ingin menjamu neneknya tapi Levi yang terkena imbasnya. Ingin rasanya Levi menjitak kepala makhluk kecil itu jika seandainya tangannya tidak di genggam erat oleh Reinhard.
"Ck, aku tidak akan lari kemanapun jadi tidak perlu menggenggam tanganku seerat ini" sindir Levi pelan.
"Biar saja. Memangnya tidak boleh ya memegang tangan kekasihnya sendiri?" tanya Reinhard.
__ADS_1
"Yang bilang tidak boleh itu siapa, Reinhard."
"Tidak ada. Makanya aku bertanya."
"Huh." Levi mencebik.
Clarissa melepaskan pelukannya kemudian mengelus pipi cucunya. Hatinya kembali berdenyut saat teringat kalau putri kandungnya telah meninggal. Cira yang merasakan tubuh majikannya bergetar segera memegangi tubuhnya dengan kuat. Dia khawatir kalau majikannya akan kembali pingsan.
Elea sebenarnya tahu ada yang tidak beres dengan tubuh neneknya. Tapi dia acuh, entah kenapa jiwanya seperti memberontak, memaksanya untuk bersikap sedikit kejam pada orang-orang yang telah menyakitinya, juga menyakiti ibunya.
"Grandma, kau baik-baik saja?" tanya Gabrielle sembari melirik kearah istrinya yang bersikap datar.
Clarissa tersenyum kecut melihat cucunya yang hanya diam tam merespon. "Grandma baik-baik saja. Grandma hanya merasa sedih karena akan berpisah dengan kalian!."
"Benar Grandma tidak apa-apa?."
"Iya....."
Gabrielle menghela nafas.
"Nyonya Clarissa, kami pamit ya. Terima kasih atas semua kemewahan yang anda sediakan selama kami menginap di rumah anda. Sungguh suatu kehormatan besar bagiku bisa bertandang ke rumah keluarga bangsawan paling terkenal di Paris" pamit Levi sopan.
Levi langsung ternganga ketika di tawari job yang benar-benar sangat menggiurkan. Namun sedetik kemudian dia ingat sesuatu.
"Em tapi Nyonya, saya kan sudah di blacklist dari dunia permodelan oleh cucu menantu anda. Apa tidak apa-apa kalau anda ingin tetap mengundang saya? Juga Elea, berjalan saja dia seperti akan roboh tertiup angin. Saya khawatir hal ini akan mengacaukan acara anda!."
"Kak Levi aku sekarang sudah berisi kok. Kak Iel memberiku makan dengan sangat baik, aku juga minum vitamin dengan sangat teratur. Iya kan Kak Rein?" tanya Elea tak terima tubuhnya di anggap lemah oleh Levi.
Selaku dokter yang selalu memberikan vitamin, Reinhard sedikit gelagapan saat di tanya seperti itu oleh Elea. Karena sebenarnya yang Elea minum bukanlah vitamin, melainkan obat penunda kehamilan.
"Grandma, aku pastikan Levi dan Elea akan menghadiri acara pagelaran itu. Tenang saja, Elea adalah gadis yang bisa melakukan apapun. Hanya pagelaran seperti itu saja dia pasti bisa melewatinya tanpa harus membuat Grandma merasa malu" ucap Gabrielle ikut membela istrinya.
Clarissa mengangguk lega.
"Grandma se....
"Lalu bagaimana dengan nasibku, hem? Aku mana bisa masuk ke dunia modeling kalau namaku masih di blokir olehmu!" protes Levi menyela.
__ADS_1
"Tenang saja Kak Levi. Nanti aku yang akan membujuk Kak Iel untuk kembali membuka jalan untukmu. Tapi itu tidak gratis" sahut Elea.
Gabrielle mengulum senyum. Ternyata istrinya sudah pandai melakukan negosiasi sekarang.
"Cih, beraninya kau melakukan tawar-menawar denganku. Cepat katakan apa yang kau mau" sungut Levi.
"Hehe, kau harus mengajari aku bagaimana caranya menjadi model yang baik. Siapa tahu setelah itu aku bisa menggeser posisimu. Iya kan Kak Iel?."
Krik... Krik... Krik...
Reinhard segera menyeret Levi masuk ke dalam mobil ketika melihatnya yang ingin mengamuk setelah mendengar perkataan blak-blakan Elea yang ingin menggeser posisinya di dunia modeling. Reinhard mati-matian menahan kekasihnya yang berniat menggunduli kepala istrinya Gabrielle. Dia mana mungkin membiarkan hal itu terjadi di hadapan Nyonya Clarissa. Bisa panjang urusannya nanti.
"Sayang, kenapa kau jahil sekali, hem?" tanya Gabrielle gemas.
"Ahaha, biar saja Kak Iel. Kalau tidak seperti itu Kak Levi pasti masih mengoceh di sini" jawab Elea di sela-sela tawanya. "Grandma, aku pasti datang ke acara Grandma nanti. Aku ingin melihat dunia luar, aku juga sangat tertarik dengan dunia yang di penuhi fashion. Aku ingin belajar banyak hal, Grandma."
"Oh ya? Jadi kau tertarik dengan dunia seperti yang Grandma geluti?" tanya Clarissa kaget.
"Iya. Cita-citaku adalah bisa mempunyai butik gaun pengantin hasil karyaku sendiri, Grandma. Sebentar lagi aku juga akan masuk ke sekolah desain" jawab Elea bangga.
Clarissa segera mendekap cucunya penuh haru. Akhirnya, tidak hanya harta warisan keluarganya saja yang akan segera di turunan pada cucunya, namun juga bakatnya. Clarissa sangat bahagia ketika tahu kalau Elea ternyata menyukai hobi yang sama dengannya. Benar-benar buah jatuh yang tak jauh dari pohonnya.
"Ya sudah Grandma, kami pamit pulang dulu" ucap Gabrielle mengurai kebahagiaan yang sedang di rasakan oleh kedua orang di depannya.
Clarissa melepas pelukannya kemudian mengangguk. Dengan berat hati dia mengantarkan Gabrielle dan Elea masuk ke dalam mobil mereka. Matanya nampak berkaca-kaca ketika Elea melambaikan tangan sembari tersenyum manis.
"Hati-hati ya, Grandma pasti akan segera datang mengunjungi kalian!" teriak Clarissa ketika mobil yang membawa cucunya mulai bergerak.
"Aku tunggu ya Grandma. Jangan bohong!" sahut Elea dari kejauhan.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...