Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Kunjungan Mertua


__ADS_3

"Selamat datang Nyonya Besar Liona" sapa Nun sembari membungkuk hormat kearah wanita cantik yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"Terima kasih selalu menyambutku Nun" sahut Liona sopan. "Dimana menantuku? Apa yang dia lakukan seharian ini?."


"Nyonya Elea sedang menonton film bersama Nona Levi dan para pelayan, Nyonya. Hari ini beliau sibuk menggambar dan juga bercanda bersama mereka" jawab Nun sambil mempersilahkan nyonya besarnya masuk ke dalam rumah.


Liona tersenyum samar. Meski menyandang status sebagai Nyonya Ma, menantunya sama sekali tidak menjaga jarak dengan para pelayan yang ada di rumah ini. Dia salut, putranya benar-benar tidak salah memilih pasangan.


"Apa dia tidak pernah membusungkan dada di hadapan kalian?" tanya Liona sembari menyerahkan kotak makanan yang dia bawa pada pelayan. "Tolong pindahkan ke piring ya Bi, aku akan memberikannya langsung pada menantuku."


"Baik Nyonya Besar."


Sambil menunggu makanan siap, Liona duduk menunggu di kursi dapur.


"Nyonya Elea sama sekali tidak pernah berbuat seperti itu, Nyonya Besar. Bahkan terkadang kami sendiri yang bingung bagaimana cara menghadapi kebaikannya. Beliau terlalu polos dan hatinya masih begitu murni. Tuan Muda Gabrielle sangat beruntung bisa memiliki pendamping seperti Nyonya Elea" jawab Nun bangga dengan kebaikan nyonya kecilnya.


"Kau benar sekali Nun. Gabrielle sangat beruntung bisa memiliki Elea di sisinya. Oh ya, apa kau sering di buat jantungan olehnya?" tanya Liona penasaran.


"Jika saya ini manusia, mungkin saya sudah mati di tangan Tuan Muda, Nyonya Besar. Terkadang Nyonya Elea masih belum faham kalau Tuan Muda itu mencemburui semua laki-laki yang ada di rumah ini. Beliau masih suka menyentuh dan berbicara dengan pria lain saat sedang bersama Tuan Muda. Saya rasa itu yang membuat nyawa saya selalu berada di ujung tanduk, Nyonya Besar" jawab Nun jujur.


"Dan Ares?."


"Termasuk Ares juga, Nyonya Besar. Dia yang paling menderita di antara kami semua."


Liona tergelak. Dia lalu terbahak memikirkan betapa posesifnya Gabrielle pada Elea. Keposesifannya bahkan mengalahkan ayahnya sendiri.


"Astaga, kenapa anak dan suamiku bisa jadi seperti ini sih. Benar-benar" gumam Liona.


Tak lama kemudian, mie goreng kesukaan Elea pun siap. Karena ingin segera menemui menantu kesayangannya, Liona segera meminta Nun untuk mengantarkannya menuju ruangan dimana menantunya berada.


Tok,tok,tok


Pintu ruangan terbuka. Pelayan itu segera menundukkan kepala begitu melihat siapa yang datang.


"Nyonya Besar Liona."


Liona mengangguk. "Dimana menantuku?."


"Nyonya Elea berada di dalam. Silahkan masuk Nyonya Besar" jawab si pelayan sambil mempersilahkan majikannya untuk masuk.

__ADS_1


Sedangkan yang berada di dalam ruangan, Levi sebagai pencetus ide untuk menonton film saat ini tengah meringkuk ketakutan di belakang tubuh Elea. Sejak film di putar, dia sama sekali tak berani melihatnya.


"Kak Levi, kau ini kenapa? Hantu valaknya tidak seram kok?" tanya Elea yang sedikit sesak nafas saat tubuhnya di peluk dengan sangat kuat.


"Jangan membohongiku, Elea. Kau pikir aku tadi tidak melihat seperti apa cover hantu valak itu apa? Huh!" sungut Levi tanpa berani melihat kearah layar.


"Iya, tapi kan Kakak yang mengajakku menonton. Makanya kalau takut jangan sok berani Kak, begini kan jadinya."


Jantung Levi seperti di tusuk pedang mendengar sindiran Elea. Dia ingin sekali marah, tapi dia takut. Takut kalau-kalau hantu valak itu akan keluar saat dia tak lagi bersembunyi. Jadi untuk sekarang dia memutuskan untuk mengalah dulu. Tunggu setelah filmnya habis, dia baru akan membuat perhitungan dengan makhluk kecil ini.


"Elea..."


Samar-samar Elea seperti mendengar seseorang memanggil namanya. Namun dia tidak bisa menoleh karena tubuhnya di kuasai oleh Levi.


"Kak Levi, kau dengar tidak ada seseorang yang memanggilku barusan?" bisik Elea.


Bukannya menjawab, Levi malah semakin menguatkan pelukannya di tubuh mungil Elea. Pikirannya sudah sibuk kemana-mana.


'Ini sudah pasti. Sudah pasti hantu valak itu yang memanggil Elea. Aaaa, tapi kenapa aku juga mendengarnya? Bagaimana ini? Hantu valak, tolong jangan makan aku, dagingku pahit. Kau bisa keracunan nanti. Makan saja si makhluk kecil ini, tubuhnya mulus tanpa cacat. Kau akan sangat bahagia jika memakannya.'


Mata Liona membulat lebar begitu mendengar isi pikiran dari wanita yang sedang meringkuk ketakutan di tubuh menantunya. Entahlah, dia bingung antara ingin marah atau malah tertawa melihat keduanya. Dan bukannya memeriksa, kedua wanita itu malah asik menebak-nebak siapa dirinya.


Puk


Liona, Elea dan juga pelayan yang berada di sana terkaget-kaget mendengar teriakan Levi. Elea yang penasaran akhirnya menoleh kearah belakang. Matanya membulat begitu tahu siapa yang sedang berdiri di belakangnya.


"Ibu Liona!" pekik Elea senang.


"Halo sayang, kalian sedang apa?" tanya Liona seraya melirik kearah wanita yang sedang terbengang kaget di sebelah menantunya. "Nona, kau baik-baik saja?."


"Nyo,Nyonya Liona.. Ja,jadi bukan hantu valak ya yang tadi menepuk bahuku" jawab Levi dengan wajah merah terbakar rasa malu.


Liona tersnyum sambil menggelengkan kepala. "Mana ada hantu yang bisa bicara seperti ini. Kau terlalu menakuti pikiranmu sendiri, Nona."


Levi menelan ludah. Dia lalu melihat kearah Elea yang sedang tersenyum tanpa dosa.


"Kenapa melotot padaku Kak? Aku juga tidak tahu kalau Ibu mertuaku akan datang berkunjung. Iya kan Ibu Liona? Kita tidak bersekongkol kan?."


"Tidak, Ibu datang atas keinginan Ibu sendiri. Oh ya sayang, ini Ibu bawakan mie goreng kesukaanmu, makanlah" jawab Liona sambil menyerahkan piring berisi masakan pada menantunya.

__ADS_1


"Waaaahhh mie goreng!" teriak Elea. "Terima kasih banyak Ibu Liona, aku menyayangimu."


Levi hanya duduk diam sambil memperhatikan Elea yang mulai asik menikmati makanan yang di bawa oleh ibu mertuanya. Dia merasa kikuk sendiri karena sudah asal bicara tadi. Tak ingin citra nama baiknya rusak, Levi segera meminta maaf pada ibunya Gabrielle.


"Em Nyonya Liona, tolong maafkan sikap saya barusan. Saya sudah sangat tidak sopan pada anda tadi."


"Panggil Bibi Liona saja" jawab Liona kemudian duduk di sebelah menantunya. "Kalau takut kenapa menonton film horor hem? Kalau nanti kalian tidak bisa tidur bagaimana?."


"Kak Levi yang ingin menontonnya Ibu Liona, aku hanya menurut saja. Tapi dia sama sekali tidak mau menonton, dia ketakutan" sahut Elea sambil terus mengunyah makanan kesukaannya. "Ibu Liona, mie gorengnya enak sekali. Merk apa yang Ibu Liona masak? Nanti aku akan membelinya."


Levi ingin sekali menjitak kepala Elea karena sudah membuka kartu asnya di hadapan ibunya Gabrielle. Awalnya dia pikir Elea yang akan ketakutan jika di ajak menonton film horor, siapa yang menyangka kalau makhluk kecil ini sama sekali tidak merasakan hal itu. Justru dirinyalah yang tidak berani menonton karena sejujurnya Levi paling anti dengan film-film yang berbau mistis. Dan kali ini dia kembali termakan jebakannya sendiri.


"Kalau begitu habiskan saja. Jangan lupa untuk berbagi dengan... Siapa namamu?" tanya Liona pura-pura tidak tahu.


"Levi Bi, namaku Levi."


"Ah ya Levi."


Elea mengangguk. Dia segera menyendok mie goreng kemudian menyodorkannya ke mulut Levi. "Ayo buka mulutmu Kak Levi, biarkan aku menyuapimu. Tenagamu pasti terkuras kan karena terus berteriak sejak tadi?."


Jika tidak memikirkan keberadaan ibunya Gabrielle, Levi pasti akan langsung meneriaki Elea karena sudah mengejeknya. Dan alhasil, dia akhirnya menerima suapan itu dengan hati yang sangat dongkol.


"Enak kan Kak?" tanya Elea sambil menyuapkan mie goreng ke dalam mulutnya.


"Ya, enak sekali. Benar-benar sangat enak."


Levi bicara jujur kalau makanan itu memang sangat enak. Namun dia bicara sambil memelototkan mata kearah Elea karena sedang menahan kekesalannya.


Liona yang melihat interaksi kedua wanita ini menarik nafas lega. Setidaknya Elea masih memiliki seorang teman yang benar-benar peduli padanya meskipun sedikit ketus. Namun itu jauh lebih baik jika di bandingkan dengan semua keluarga besar Elea yang sudah membuangnya dengan sangat keji. Menelantarkan bayi yang tak berdosa hanya demi sebuah status dan kedudukan.


'Elea, teruslah tersenyum seperti ini. Ibu dan suamimu akan selalu melindungimu dari semua marabahaya. Kau seperti matahari yang memberikan sinar kehangatan bagi semua orang. Jadi senyum dan sinarmu tidak boleh redup, dan Ibu sendiri yang akan memastikan semua itu. Ibu berjanji padamu sayang.'


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2