
Di sinilah Clarissa sekarang. Berdiri merenung sambil memeluk putrinya yang sedang terlelap. Matanya menatap kosong kearah rumah megah yang ada di hadapannya. Setelah berhasil menyelamatkan Sandara dari hukuman kejam ayahnya, Clarissa memutuskan untuk membawa putrinya pergi ke negara dimana ayah kandungnya berada. Dia berniat menemui Karim, kemudian menyerahkan Sandara untuk di rawat olehnya. Clarissa sudah tidak memiliki tempat lain yang ingin dia tuju, di pikirannya hanya ada nama Karim saja meskipun dia sedikit ragu kalau kekasihnya itu bersedia untuk merawat putri mereka.
'Apa yang harus aku lakukan jika Karim tak mau mengakui Sandara sebagai putrinya? Seharusnya dulu aku langsung memberitahukan kehamilanku, bukan malah menunggunya datang kembali seperti orang bodoh. Ya Tuhan, tolong bantu aku menemukan tempat terbaik untuk putriku. Aku tahu aku salah, tapi putriku tidak tahu apapun. Dia terlahir ke dunia akibat perbuatan hina kami, jadi aku mohon padamu Tuhan, tolong jangan hukum gadis kecil ini. Tolong beri dia kebahagiaan yang selayaknya. Biar aku saja yang menanggung semua dosa-dosa itu. Aku mohon padamu Tuhan, tolong kabulkan satu inginku ini...'
"Ma, kenapa menangis?."
Clarissa tersentak. Dia segera menghapus airmatanya kemudian tersenyum kearah putrinya yang sudah terbangun.
"Mama bukan menangis sayang, tapi kelilipan."
"Ma, jangan bersedih. Aku baik-baik saja" ucap Sandara. "Apa itu rumah Papa?."
Belum sempat Clarissa menjawab, pintu gerbang rumah tersebut terbuka. Muncul seorang wanita cantik yang sedang menggandeng seorang pria kecil di sebelahnya. Wanita tersebut kemudian menghampiri Clarissa dan Sandara.
"Kalian siapa?" tanya wanita itu dengan tatapan penuh curiga.
"Emm maaf Nyonya, apa aku bisa bertemu dengan Karim?" tanya Clarissa ragu. Hatinya sedikit sakit, dia tidak bodoh untuk sekedar menyadari siapa wanita yang sedang berdiri di hadapannya.
"Ada urusan apa kau ingin bertemu dengan suamiku? Dan siapa gadis kecil ini? Kenapa wajahnya sedikit mirip dengan suamiku?."
Bagai tertusuk pedang, Clarissa harus menerima kenyataan pahit kalau Karim ternyata sudah menikah dan memiliki seorang putra. Berusaha untuk tetap tegar, Clarissa mencoba menjelaskan maksud kedatangannya ke rumah itu.
"Nyonya, gadis kecil ini bernama Sandara, dia adalah putriku bersama Karim. Maksud kedatangan kami ke rumah ini adalah untuk meminta Karim merawat putri kami. Aku..
"Apa??? Dasar tidak tahu malu, beraninya kau menyebut suamiku sebagai ayah dari putrimu. Kau sudah hilang akal ya!" sentak wanita itu murka. "Pergi, bawa anakmu menjauh dari sini. Asal kau tahu ya, suamiku itu tak pernah memiliki wanita lain selain aku, istrinya. Di dalam hidupnya, hanya aku satu-satunya wanita yang pernah menjalin hubungan dengannya. Jadi tolong berhenti berhalusinasi, Karim tidak pernah memiliki wanita lain selama ini!."
Clarissa tercengang, tidak menyangka kalau pria yang begitu di cintainya itu tidak pernah mengakui hubungan mereka. Dengan perasaan yang sangat hancur Clarissa kembali menanyakan dimana keberadaan Karim saat ini, dia perlu untuk bicara secara pribadi dengannya.
"Nyonya, entah Karim mengakui hubungan kami atau tidak, tolong beritahu aku dimana dia sekarang. Ada hal yang sangat penting yang harus aku sampaikan padanya!."
"Sudah aku bilang pergi ya pergi. Kau wanita j*lang, cepat angkat kaki dari rumahku atau aku akan meminta para penjaga untuk mengusir kalian dari sini. Cepat pergi dari hadapanku sekarang!" hardik wanita itu.
__ADS_1
Sandara diam mendengarkan pertengkaran antara ibunya dengan wanita galak itu. Tatapan matanya kemudian beralih pada pria kecil yang juga sedang menatapnya. Mereka berdua kemudian sama-sama tersenyum, tidak mempedulikan orangtua mereka yang sedang bertengkar hebat.
"Aku Bryan, siapa namamu?" ucap si pria kecil dengan isyarat bibir.
"Aku Sandara."
"Kau sangat cantik. Nanti saat aku sudah besar aku akan menikahimu. Kau bersedia tidak?."
Meski tidak paham dengan maksud pria bernama Bryan itu, Sandara tetap menganggukkan kepala. Sekelebat bayangan aneh tiba-tiba muncul yang langsung membuat Sandara menghentikan pertengkaran ibunya dengan ibunya Bryan.
"Ma, ayo kita pergi!."
"Tunggu dulu sayang. Mama harus bertemu dengan Papamu dulu sebelum pergi dari sini" sahut Clarissa.
"Papa tidak akan datang Ma" ucap Sandara lirih.
Kening Clarissa mengerut. Dia kemudian berjongkok, menangkup wajah putrinya yang terlihat sedih. "Sayang, darimana kau tahu kalau Papa tidak akan datang menemui kita, hem? Kita tunggu sebentar lagi ya, Papa pasti akan segera muncul."
"Sampai matipun aku tidak akan pernah membiarkan anakmu bertemu dengan suamiku. Kalau kau sampai nekad melakukannya, maka aku tidak akan segan-segan untuk menyingkirkan putrimu dari dunia ini. Ingat itu, Clarissa Wu!."
Sesak, namun juga lega karena ternyata Karim tidak benar-benar melupakannya. Sepertinya wanita ini sengaja mengucapkan hal itu hanya untuk membuatnya merasa sakit hati kemudian berfikiran buruk pada Karim. Saat Clarissa tengah termenung, tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Dia kemudian menarik tangan putrinya menuju mobil yang mereka tumpangi saat datang ke rumah ini.
"Sayang, ada apa?" tanya Clarissa heran saat putrinya menolak untuk masuk ke dalam mobil.
"Ma, pulanglah ke rumah Grandpa. Aku tidak apa-apa di sini sendirian" jawab Sandara.
"Sandara, kau ini bicara apa. Mama mana mungkin tega meninggalkanmu sendirian di sini. Ini tempat asing Nak, terlalu berbahaya untuk gadis kecil sepertimu!."
Clarissa panik. Dia sadar kalau putrinya memiliki cara berfikir yang sedikit berbeda dengan gadis kecil lain yang setara dengan usianya. Hatinya mulai ketar-ketir menyikapi kedewasaan putrinya, Clarissa yakin Sandara bisa merasakan kesulitan yang sedang dia alami.
"Ma, tidak apa-apa Mama meninggalkan aku di negara ini. Grandpa adalah orangtua Mama, jadi Mama harus menghormatinya. Setelah aku besar nanti, aku pasti akan mencari Papa. Jadi Mama jangan khawatir lagi ya..."
__ADS_1
Sandara kecil sangat mengerti betapa sulit berada dalam posisinya ibunya yang terjepit di antara dua pilihan. Kalau boleh memilih, Sandara sangat tidak mau di pisahkan dari ibunya, dia tentu saja merasa sangat takut jika harus hidup sendirian di negara orang. Tapi bagaimana pun juga Sandara kecil sudah tahu kalau perpisahan ini akan tetap terjadi. Dia dan ibunya akan segera terpisah oleh jarak dan juga waktu, seperti apa yang sudah dia lihat dalam mimpinya.
Clarissa tertegun mendengar kata-kata putrinya. Hati orangtua mana yang tidak hancur jika di paksa berpisah dengan anak kandungnya sendiri. Di bawah guyuran hujan, tangis Clarissa pecah. Suaranya terdengar begitu memilukan, menjadikan pintu gerbang rumah kekasihnya sebagai saksi kesakitan yang harus dia reguk. Cintanya membawa petaka, dan putrinya yang harus menjadi korban.
"Sandara.... Ma,maafkan Mama Nak. Maaf karena sudah menempatkanmu dalam keadaan yang sangat sulit. Mama sangat menyayangimu, Mama mencintaimu Sandara!" ratap Clarissa saat putrinya melepaskan gandengan tangan mereka. Hancur, hatinya hancur berkeping-keping menyaksikan putrinya yang bergerak menjauh.
"Aku tahu Mama sangat menyayangi aku. Pergilah Ma, cepat kembali ke rumah sebelum Grandpa marah dan memukuli Mama lagi" ucap Sandara seraya menahan kesedihan dan ketakutannya.
"Sandara, putri Mama... Hikssss, maafkan Mama sayang, maaf."
"Tidak apa-apa Ma, aku sangat mengerti dengan kesulitan yang Mama rasakan. Sudah ya Ma, aku pergi dulu. Hujannya semakin deras, hari juga sudah semakin malam. Aku perlu menemukan tempat tinggal yang baru mulai sekarang!."
Bagai orang gila Clarissa menjerit pilu saat mendengar ucapan putrinya. Tubuhnya luruh ke tanah, tak mempedulikan pakaiannya yang kotor terkena percikan air hujan. Tangan Clarissa terulur, berharap kalau putrinya akan datang memeluknya. Namun sayang, Sandara kecil malah berlari menjauh, meninggalkan Clarissa yang hampir mati sambil meneriakkan namanya.
"Papa, kenapa kau tega melakukan hal ini pada kami berdua Pa. Aku membencimu Pa, aku membencimu!" teriak Clarissa histeris sambil memukuli genangan air hujan.
Entah berapa lama Clarissa menangis di tempat itu sampai akhirnya dia di usir oleh si penjaga rumah. Sebelum pergi dari sana, Clarissa menatap lama kearah pepohonan. Dia tahu kalau putrinya masih bersembunyi di sana, menatapnya dengan penuh kesedihan.
"Karim, aku harap kau bisa secepatnya menemukan keberadaan Sandara. Maafkan aku, hanya ini satu-satunya cara supaya putri kita tetap hidup. Karim, seumur hidup aku akan terus menantikan kedatangan kalian berdua. Sampai waktunya tiba, aku akan mengunci hati ini hanya untukmu!."
😭
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1