
"Nona baik-baik saja?."
Levi mengangguk lemah. Setelah kembali dari Paris mendadak kepala Levi terasa sakit sekali. Dia semalam sudah meminum obat, tapi entah kenapa pagi ini tubuhnya malah terasa tidak karu-karuan. Tulang dan sendinya ngilu, badannya juga sedikit panas. Sepertinya Levi demam setelah cukup lama tak pernah mendatangi negara beriklim dingin.
"Apa Nona mau Bibi panggilkan dokter?."
"Tidak usah, Bi" jawab Levi kemudian berbaring di sofa ruang tengah. "Bisa tolong ambilkan air hangat tidak, Bi? Tenggorokanku sangat kering seperti di gurun pasir."
"Baik Non, tunggu sebentar!."
Bibi pelayan itu bergegas pergi ke dapur untuk mengambil air hangat. Sedangkan Levi, dia nampak lemas sambil sesekali mengusap hidungnya yang memerah.
"Tidak asik. Baru juga ke Paris, masa iya aku langsung sakit begini. Kalau Gabrielle tahu bisa gawat ini, dia pasti akan mengataiku model kampungan" gumam Levi.
Drrtttt, drrrtttttt
Baru saja Levi hendak memejamkan mata, tiba-tiba ponselnya bergetar. Bibirnya mengerucut, kesal karena ada yang mengganggu waktu istirahatnya.
"Awas saja kalau bukan orang penting yang menelfon" sungut Levi kemudian melihat layar ponselnya. "Eh, ada apa makhluk kecil ini menelfonku? Apa dia tidak ikut Gabrielle pergi ke perusahaan?."
Karena penasaran Levi segera mengangkat panggilan tersebut. Dia mendengus ketika melihat wajah cantik yang sedang memperlihatkan senyum manis di kamera. "Ada apa?."
"Eh Kak Levi, hidungmu kenapa? Apa kau baru saja di sengat lebah? Lucu sekali...Hahhaaa..!."
Levi menarik nafas panjang-panjang, mencoba meredam keinginannya untuk melakban mulut gadis kecil yang sedang menertawainya itu. Sayang sekali mereka jauh. Kalau tidak, Levi pasti akan langsung menyembur Elea karena sudah berani mengoloknya.
"Kalau kau menelfon hanya untuk mengajakku bertengkar, lebih baik matikan saja. Aku sedang tidak punya tenaga untuk memberimu pelajaran, Elea!."
Tawa Elea langsung terhenti. Sepertinya makhluk kecil itu paham kalau Levi sedang tidak berminat untuk bercanda.
"Kak Levi, kau sakit ya?."
Dengan malas Levi menganggukkan kepala.
"Kenapa? Kau pasti senang sekali bukan melihatku menderita seperti ini?."
"Mana ada lah. Aku justru prihatin karena sepertinya hari ini Kak Levi tidak bisa ikut pergi bersenang-senang denganku dan juga Kak Lusi. Siang ini kami berniat pergi berbelanja karena Kak Lusi akan masuk sekolah bersamaku. Yeyyy..!."
Gurat kecemburuan langsung muncul di wajah Levi ketika dia tahu kalau Elea akan mengajak orang lain untuk pergi bersenang-senang. Sambil memasang wajah sedih, Levi mencoba menahan kepergian Elea. Dia mana rela kehilangan waktu untuk bersama teman kecilnya ini, terlebih lagi akan ada Lusi yang menemaninya. Levi khawatir kalau Lusi akan merebut posisinya di hati Elea.
"Elea, apa kau sudah lupa dengan semua pengorbanan yang pernah aku lakukan untukmu? Teganya kau ingin bersenang-senang dengan orang lain tanpa membawaku serta. Aku kecewa padamu Elea, kau tidak setia kawan!."
__ADS_1
Senyum jahat muncul di bibir Levi ketika dia melihat Elea terkejut mendengar perkataannya. Tak ingin sandiwaranya ketahuan, Levi sengaja mengalihkan kamera ke langit-langit ruangan. Dia tentu saja tidak ingin Elea tahu kalau dia tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya barusan.
"Kak Levi, kenapa kau bicara seperti itu? Aku mana mungkin lupa dengan semua jasa-jasamu, lagipula aku menelfon kan karena memang ingin mengajak Kakak pergi jalan-jalan. Siapa yang menyangka kalau Kakak sedang tidak enak badan. Jangan marah ya, oke. Nanti aku akan membawa Kakak pergi mengunjungi toko perhiasan. Kak Iel bilang di Diamond Group sedang ada pagelaran berlian model terbaru, nanti kita pergi kesana ya Kak? Mau kan?."
Bagai mendapat obat, kadar panas di tubuh Levi langsung menurun. Dia berdehem sebelum mengembalikan posisi kamera menghadap ke wajahnya.
"Baiklah kalau kau memaksa. Jam berapa kalian akan pergi? Aku yang datang menjemput kalian atau kalian yang datang kemari?" tanya Levi jaim.
"Aku tidak memaksa Kakak lho. Kalau Kak Levi sedang tidak enak badan ya sudah istirahat saja. Kenapa mata duitan sekali sih!."
"Yakkkkkkk, kau bilang apa Elea?.".Yoo, darah Levi kembali di buat mendidih. Luar biasa memang istrinya Gabrielle.
Di layar ponsel, Elea nampak mengerucutkan bibir. Levi yang melihat hal menggemaskan itu seperti tersihir, emosinya langsung mereda begitu saja.
"Nanti Kak Levi saja yang datang kemari ya. Tapi sebelum pergi antarkan aku dulu ke perusahaannya Kak Iel. Dia bilang mau mengecek pakaian yang akan aku kenakan nanti!."
Bola mata Levi memutar jengah. Hanya pakaian pun harus melapor dulu. Gabrielle benar-benar overposesif sekali pada Elea. Levi kemudian berdoa dalam hati supaya Reinhard tidak seperti itu. Bisa botak dia kalau Reinhard sampai se-posesif Gabrielle.
"Ya sudah kalau begitu aku bersiap dulu. Jangan lupa kenakan pakaian yang terbuka supaya suamimu yang sok ganteng itu mati jantungan saat melihatmu nanti. Mengerti tidak?."
"Iya, aku mengerti Kak!."
"Haisssshhhh, siapa sih yang datang bertamu pagi-pagi begini!" gerutu Levi sambil berjalan sempoyongan kearah pintu.
Dengan wajah masam Levi memutar knop pintu. Keningnya mengerut ketika dia melihat seseorang sedang berdiri dengan wajah tertutupi buket bunga mawar yang cukup besar.
"Maaf, di rumahku sedang tidak ada perayaan. Jadi pergilah dari rumahku sebelum aku mencabut semua kelopak bunga yang menutupi wajahmu itu."
Terdengar kekehan dari balik bunga tersebut. Reinhard yang memang sengaja datang untuk menyapa kekasihnya sangat tidak menyangka akan mendapat sambutan seperti ini. Sungguh, Levi itu sangat berbeda dengan gadis lain. Bukannya menjerit histeris, gadis ini malah mengusirnya dengan cara yang sangat sadis. Sangat bar-bar.
"Selamat pagi kesayanganku" sapa Reinhard sembari menurunkan buket bunga agar tak menutupi wajahnya lagi. "Eh sayang, kenapa hidungmu memerah? Kau demam ya?."
Khawatir terjadi sesuatu pada kekasihnya Reinhard tanpa sadar membuang buket bunga yang dia bawa. Tapi belum sempat dia mengecek suhu tubuh di kening Levi, dia sudah lebih dulu mendapat jeweran di telinganya. Sontak saja hal itu membuatnya mengaduh sambil mencoba membebaskan telinganya dari capitan tangan Levi.
"Sayang sakit!."
"Biar saja. Tidak akan aku lepaskan sampai telingamu putus" sahut Levi dengan kejam.
"Sayang... Sakit" rengek Reinhard.
Levi mencebik. Dia melepaskan telinga Reinhard kemudian memungut bunga mawar yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai. Sambil memelototkan mata Levi menarik tangan Reinhard untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Kenapa membuang bunganya sih?."
"Maaf, aku tidak sengaja tadi" jawab Reinhard setelah duduk di sofa. "Sayang, tubuhmu panas. Kau demam kan?."
"Ya iyalah. Memang kau kira apa? Sauna?."
Reinhard meringis. Mood kekasihnya sepertinya sedang tidak baik.
"Jangan sakit-sakit. Aku kan jadi khawatir."
"Ck, apalah kau ini Rein" sahut Levi dengan pipi merona antara tersipu dan juga demam.
Tangan Reinhard terulur mengusap pipi Levi. Panas, itu yang dia rasakan. Dia kemudian menoleh kearah Bibi pelayan yang baru saja datang membawakan air minum dan juga bubur hangat.
"Bi, bisa tolong ambilkan handuk dan air kompres tidak?."
"Bisa Tuan, tunggu sebentar" jawabnya.
Reinhard segera mengambil alih nampan berisi makanan dari tangan si Bibi. Dia kemudian meletakkannya di meja, mengambil mangkok berisi bubur lalu mengaduknya perlahan.
"Sarapan dulu ya, setelah itu aku akan membelikanmu obat."
Kali ini Levi patuh tanpa banyak membantah. Dia merasa sangat terharu dengan kepedulian yang di tunjukkan oleh Reinhard. Sambil tersenyum Levi membuka mulut saat Reinhard menyodorkan bubur yang sudah dia dinginkan sebelumnya.
Kedua anak manusia itu hanya saling diam sambil bertatapan mata. Kekeraskepalaan Levi seakan menghilang ketika Reinhard menghadapinya dengan kelembutan. Levi yang notabennya sering merasa kesepian merasa sangat bahagia karena memiliki seorang kekasih yang begitu perhatian. Mungkin karena terlalu asik menikmati kebersamaan itu tanpa sadar bubur di mangkuk sudah habis. Reinhard mengusap sisa bubur di mulut Levi dengan jarinya kemudian menyekanya dengan tisu. Di saat yang bersamaan Bibi pelayan datang membawakan alat kompres.
"Bi, tolong temani dia sebentar disini. Aku akan pergi ke apotik untuk membeli obat. Sayang, jangan tidur dulu ya? Aku akan segera kembali" pamit Reinhard kemudian mencium kening Levi.
Bagai kerbau yang di colok hidungnya Levi hanya mengangguk patuh. Dia terus menatap punggung Reinhard hingga menghilang di balik pintu. Reinhard-nya begitu hangat, Levi benar-benar sangat mencintainya.
'Rein, terima kasih untuk perhatianmu. Kau pria yang sangat baik, aku beruntung bisa mendapatkan cinta darimu!.'
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1