
"Kau berkirim pesan dengan siapa Cira?" tanya Clarissa setelah sampai di dalam kamar hotel.
Untuk menghilangkan kejenuhan, Clarissa mengajak Cira untuk berjalan-jalan di taman tak jauh dari hotel. Dia merasa sangat kesepian karena tujuannya datang ke negara ini belum tercapai. Clarissa yang di dera perasaan rindu memutuskan untuk mencari udara segar, terlalu sesak baginya untuk terus berada di dalam hotel memikirkan cucunya yang menolak untuk bertemu.
"Dengan Ares, Nyonya" jawab Cira pelan. "Dia bertanya apa yang sedang saya lakukan!.
"Waahhh, sepertinya ada kemajuan ya" ledek Clarissa sembari mengulum senyum. "Kalau begitu aku tak perlu lagi meminta Gabrielle untuk mendekatkan kalian bukan?.
"Nyonya, ini tidak seperti yang anda pikirkan. Saya dan Ares hanya berteman biasa. Tidak ada sesuatu yang istimewa di antara kami berdua. Sungguh!" kilah Cira dengan pipi merona merah.
Clarissa terkekeh.
"Ya sudah kalau memang begitu anggapanmu, aku tidak akan memaksa. Oh iya Cira, sekarang sudah jam berapa? Terlalu menikmati suasana di negara ini aku sampai lupa berapa lama kita berada di luar" tanya Clarissa kemudian menatap sedih kearah deretan kado yang tertata rapi di atas meja.
"Hampir jam dua belas siang, Nyonya."
Cira mengikuti arah pandang mata majikannya. Dia menghela nafas, sangat paham dengan apa yang sedang di rasakan oleh majikannya ini.
"Nyonya, apa anda ingin saya meminta Ares membujuk Nona Elea?.
"Jangan lakukan apapun, Cira. Biarlah nanti Gabrielle yang memutuskan. Kasihan Elea, kondisi batinnya tidak begitu baik, aku takut nantinya dia malah akan merasa tertekan jika kita terlalu memaksanya untuk datang kemari!" cegah Clarissa.
"Tapi saya tidak tahan melihat kesedihan anda, Nyonya. Siapa tahu Ares bisa membujuk Nona Elea agar bersedia datang kemari meskipun hanya sebentar. Saya tahu Nyonya begitu merindukannya, iya kan?.
Ingin rasanya Clarissa menjawab iya. Tapi dia tidak boleh egois, dia tak mau cucunya itu merasa terpaksa yang mana akan berimbas pada hubungan keduanya. Dengan sangat tidak rela Clarissa kembali menolak usul Cira. Dia kemudian berbaring lesu diatas ranjang hotel.
Tok, tok, tok
"Siapa yang bertamu siang-siang begini, Cira? Tolong katakan padanya aku sedang tidak ingin di ganggu. Jika mendesak, minta orang itu untuk kembali lagi nanti sore" ucap Clarissa.
"Baik Nyonya!" jawab Cira kemudian bergegas membuka pintu yang terus di ketuk.
Begitu pintu terbuka, Elea yang memang sengaja ingin memberikan kejutan pada Cira langsung menarik tangan Ares untuk maju ke depan. Sedangkan Ares, pria itu nampak berdiri kaku dengan wajah tegang. Bukan kemunculan Cira yang membuatnya seperti itu, melainkan pegangan tangan nyonya-nya yang langsung membuat nyawa Ares berada di ujung tanduk.
"Ekhmmmm!.
Dengan cepat Ares segera menyingkir ke samping begitu mendengar suara deheman Tuan Muda-nya. Dia mencoba untuk tetap tenang meski hatinya sedang berdebar kuat antara takut dan juga bahagia karena bertemu dengan wanita yang di sukainya.
"Awas saja kau ya, beraninya mencari kesempatan dalam kesempitan. Akan ku rontokkan seluruh bulu yang ada di tubuhmu nanti" ancam Gabrielle sambil berbisik di samping telinga Ares.
Elea diam memperhatikan suaminya yang sedang berbisik-bisik. Dia kemudian ingat kalau baru saja menyentuh pria lain di hadapan suaminya yang memang sangat posesif ini. Tak ingin Ares mendapat amukan, dengan cepat Elea membujuk Gabrielle dengan cara meringsek masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Aku tidak sengaja menyentuhnya Kak, sungguh" bisik Elea. "Nanti malam aku pakai lingerie yang kita beli ya untuk membayar ganti ruginya. Jangan marahi Ares, nanti mentalnya down kalau mendapat omelan di depan Kak Cira."
Kecemburuan di wajah Gabrielle langsung musnah. Rupanya lingerie cukup ampuh untuk meredakan kekesalannya. Sambil mengulum senyum, Gabrielle akhirnya mengangguk setuju untuk tidak membuat perhitungan pada Ares.
"Aku akan menagihnya nanti malam, sayang. Kau jangan sampai lupa."
Elea mengangguk.
"Cira, siapa yang datang?.
"Aku, Grandma!" sahut Elea kemudian melepaskan diri dari pelukan suaminya. "Kak Cira, kau tolong temani Ares makan siang ya. Dia bilang sudah sangat kelaparan tadi!.
"Nyonya, saya..
Gabrielle memelototkan mata kearah Ares yang ingin menolak.
"Benar, Cira. Bisa tolong temani aku makan siang tidak?" ucap Ares mengalah. Pelototan mata Tuan Muda-nya cukup menjadi tanda kalau dia-tidak-boleh-membantah.
"Tapi bagaimana dengan Nyonya?" sahut Cira bingung.
"Sudah sana pergi saja" ucap Clarissa yang langsung berlari kearah pintu begitu mendengar suara cucunya. "Elea, ini benar kau sayang?.
"Iya Grandma. Memangnya ada siapa lagi yang bernama Elea disini? Hanya ada aku, Grandma. Eleanor Ma, istrinya Kak Iel Ma" jawab Elea kemudian merentangkan tangan kearah Grandma-nya.
"Kalian kenapa masih ada disini? Sana pergi!" usir Gabrielle sambil memicingkan mata kearah Ares.
"Benar tidak apa-apa kalau kami pergi dari sini, Tuan Muda?" tanya Ares yang merasa sedikit tidak enak.
"Apa aku perlu menyewa tentara dari langit untuk menjagaku selama kau tidak ada? Iya?.
"Bukan begitu maksud saya, Tuan Muda. Saya hanya..
"Sudahlah Ares, kenapa kau bebal sekali sih. Kalau kau tidak mau pergi dengan Kak Cira ya bilang saja. Biar nanti aku carikan pria lain yang jauh lebih tampan untuk menjadi kekasihnya Kak Cira" celetuk Elea yang langsung membuat Ares dan Cira terperangah kaget.
"Kalau begitu kami permisi, Nyonya Elea. Tuan Muda, Nyonya Clarissa, kami permisi" sahut Ares dengan cepat menarik tangan Cira untuk pergi dari sana.
Gabrielle tersenyum kearah istrinya sambil mengacungkan jari jempol. Misi mereka sukses besar.
"Grandma, aku minta maaf ya kalau kemarin tidak bisa menyambut kedatanganmu. Bibi Yura dan sahabatku masuk rumah sakit karena aku. Jadi aku merasa tidak enak jika harus meninggalkan mereka berdua disana" ucap Elea setelah pelukannya terlepas.
"Karenamu? Memangnya apa yang terjadi? Gabrielle, ada apa ini? Kemarin kau tidak bilang begini" cecar Clarissa panik.
__ADS_1
"Ceritanya sangat panjang, Grandma. Oh iya, Kak Iel bilang Grandma membawakan aku banyak hadiah ya. Aku mau lihat Grandma, boleh tidak?" sahut Elea menjawab pertanyaan Grandma-nya.
"Tentu saja boleh sayang. Kalau begitu ayo masuk" ucap Clarissa kegirangan kemudian membawa cucunya masuk ke dalam kamar.
Gabrielle yang di abaikan hanya bisa menghela nafas. Sepertinya dia harus banyak memaafkan orang hari ini. Dengan langkah gontai Gabrielle pun ikut masuk kemudian duduk di sofa sambil memperhatikan istrinya yang sedang heboh memilih-milih kotak kado.
"Wooaaahhh, kadonya banyak sekali. Ini Grandma semua yang beli?.
"Iya, itu semua Grandma beli khusus untukmu sayang. Bagaimana? Kau suka tidak?" jawab Clarissa sembari tersenyum senang melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah cucunya.
"Suka sekali, Grandma. Aku tidak menyangka Grandma akan sebegini kaya. Kira-kira Grandma bangkrut tidak jika aku mengambil semua hadiah ini?" ucap Elea sambil terus memilih kado mana yang akan dia buka.
Clarissa terbengang. Bangkrut?? Yang benar saja. Bahkan harta miliknya bisa di setarakan dengan harta kekayaan milik Gabrielle. Dan cucunya baru saja menanyakan apakah dia akan bangkrut hanya karena hadiah-hadiah ini? Astaga, seketika Clarissa tak bisa berfikir menggunakan nalar yang baik. Aliran darah ke otaknya seakan membeku karena mendengar kata-kata janggal dari mulut cucunya.
"Jangan di ambil hati, Grandma. Cucu Grandma itu bahkan bisa membuat orang kehilangan nafas dalam sedetik begitu kerongkongannya terbuka" ucap Gabrielle sambil menahan tawa.
"Dia, memang seperti itu ya?" tanya Clarissa sambil menunjuk cucunya yang tak mempedulikan pembicaraannya dengan Gabrielle.
"Iya" jawab Gabrielle singkat. "Lebih baik Grandma duduk saja, biarkan istriku memilih kado mana yang akan dia ambil."
"Tapi semua kado itu memang di peruntukan untuk Elea, Gabrielle."
"Iya aku tahu, Grandma. Tapi Elea hanya akan mengambil beberapa saja. Selebihnya dia pasti akan memberikannya pada orang lain."
"Sahabat?" beo Clarissa.
Gabrielle mengangguk.
"Levi dan para pelayan di rumahku adalah sahabatnya Elea, Grandma. Dia bahkan akan selalu membungkus makanan saat di pesta untuk di bagi-bagikan pada mereka semua. Elea begitu baik, Grandma. Dia tak pernah memikirkan kesenangannya sendiri. Sejak awal mengenalnya, aku selalu di buat terkagum-kagum. Dia tak pernah bersikap pongah meski statusnya adalah menantu kesayangan di Keluarga Ma. Kita beruntung bisa memilikinya, Grandma."
Benarkah ini cucunya? Clarissa begitu terharu hingga tak kuasa menahan airmata. Sungguh, putri tunggal Sandara mempunyai banyak kejutan yang mana membuat Clarissa semakin menyayanginya.
'Kau beruntung, Sandara. Putrimu terlahir dengan begitu istimewa. Mama janji setelah ini akan selalu menjaganya, Mama akan membahagiakannya sampai nafas Mama terlepas dari raga. Mama janji sayang, Mama janji...'
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Rifani...