Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Yang Harus Di Lewati


__ADS_3

Gabrielle memandangi istrinya yang masih belum sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Saat ini mereka sedang berada di ruang VVIP yang sengaja di persiapkan khusus untuk Elea. Bukan apa, Gabrielle hanya mengikuti saran dari Reinhard supaya memberikan tempat yang aman dan juga nyaman agar Elea tidak panik saat terbangun nanti.


"Sayang, ayo buka matamu" bisik Gabrielle sembari menggenggam tangan istrinya.


Ares yang saat itu berada di sana tak tega melihat kondisi kedua tuannya. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi. Seandainya saja dia bisa membawa Tuan Muda-nya datang lebih cepat, mungkin keadaan Nyonya kecilnya tidak akan seperti ini.


"Elea, ayo cepat buka matamu sayang. Jangan diam seperti ini, kau membuatku takut."


Ceklek


Reinhard menutup pintu dengan perlahan sambil menatap kearah Gabrielle yang sedang duduk di samping ranjang Elea. Dia lalu berjalan menghampirinya.


"Tenanglah, istrimu pasti baik-baik saja Gab. Dia belum sadar mungkin karena terlalu syok setelah bertemu dengan Jack-Gal tadi."


Gabrielle tak bergeming. Dia masih terus memandangi wajah pucat istrinya sampai dimana akhirnya dia teringat dengan Levi. "Rein, bagaimana kondisi Levi sekarang?."


Reinhard menghela nafas. "Dia juga masih belum sadar sama seperti istrimu. Tapi syukurlah luka-luka di tubuhnya tidak terlalu berbahaya jadi bisa di tangani dengan mudah."


"Lalu Tuan Bryan, apa keluarganya sudah tahu?' tanya Gabrielle yang juga teringat dengan kondisi ayah mertuanya.


"Pihak rumah sakit sudah menghubungi mereka tadi. Seharusnya keluarga Tuan Bryan sudah tiba di sini" jawab Reinhard.


Gabrielle menganggukkan kepala. Dia lalu melirik kearah Ares. "Apa kalian menemukan mayatnya?."


Ares maju mendekat sebelum menjawab pertanyaan Tuan Muda-nya. "Tidak, Tuan Muda. Jack-Gal sepertinya masih belum mati meksipun dia terjun ke dasar jurang. Entah dia sudah melarikan diri atau bagaimana, kami sama sekali tidak bisa menemukan jasadnya!."


"Apa itu artinya kalian gagal menjalankan perintah dariku?" tanya Gabrielle kesal. "Tidak akan mudah bagi Jack-Gal melarikan diri dari sana, Ares. Jurang itu sangat dalam, mustahil tubuhnya tidak terluka sama sekali!."


"Maafkan saya, Tuan Muda. Saya sudah gagal" jawab Ares menyesal.


Saat Gabrielle hendak memaki Ares, tiba-tiba terdengar lenguhan pelan dari ranjang. Sekejab Gabrielle dan Reinhard langsung siaga menanti akan seperti apa reaksi Elea begitu tersadar.


"Ayaahhh....."


Di luar dugaan, Elea malah menggumamkan nama ayah sebelum matanya terbuka. Bahkan sekarang dia mulai bergerak gelisah dengan tangan yang melambai-lambai seakan ingin menggapai sesuatu.


"Gabrielle, apa Elea sudah tahu?" tanya Reinhard penasaran.


"Ya, dia sudah tahu kalau Bryan adalah ayah kandungnya" jawab Gabrielle sambil terus mengusap lembut tangan istrinya yang tidak berhenti melambai.


Mata Reinhard membelalak lebar. Dia cukup kaget begitu tahu kalau Elea ternyata telah mengetahui siapa ayah kandungnya.


"Bagaimana dia bisa tahu Gab? Tidak mungkin Levi yang mengatakannya kan?."

__ADS_1


"Dia tidak sengaja mendengar pembicaraanku bersama ibuku beberapa waktu lalu. Karena dia bertanya jadi ya aku jelaskan sekalian kalau Bryan adalah ayah kandungnya" jawab Gabrielle berkilah.


"Ayaahhh...."


Mata Elea perlahan terbuka setelah dia menyebut nama ayahnya. Sebutir cairan bening nampak menetes di sudut matanya saat dia teringat dengan keadaan ayahnya yang begitu menyedihkan.


"Hiksss, Ayah."


"Kalian keluarlah" usir Gabrielle yang sadar jika istrinya membutuhkan waktu untuk bicara tanpa harus memakai topeng.


Ares dan Reinhard segera keluar dari sana begitu mereka di usir. Mereka cukup tahu diri untuk tidak menganggu pasangan suami istri tersebut.


"Sayang, kenapa menangis? Mana yang sakit, hem?" tanya Gabrielle lembut.


"Kak Iel..."


"Iya sayang, kenapa?."


"Aku melihat Ayah saat di taman tadi. Dia, hiksss, dia terlihat seperti pengemis. Sangat kasihan, aku tidak tega melihatnya Kak" jawab Elea di sela-sela tangisnya.


"Ssssstttt, tenanglah. Kau baru saja sadar Elea, jangan terbawa emosi dulu" ucap Gabrielle menenangkan sembari memeluk istrinya. "Ayahmu baik-baik saja sekarang. Dia sedang di rawat di rumah sakit ini juga."


Elea kaget. Dia segera melepaskan diri dari pelukan suaminya kemudian menatapnya khawatir. "Kenapa Ayah bisa masuk rumah sakit Kak? Apa terjadi sesuatu padanya setelah aku pergi dari taman?."


"Hehe, ayo bicara lagi sayang, yang banyak. Aku tidak keberatan kok membungkam mulut manismu itu" ledek Gabrielle gemas melihat kelakuan istrinya.


"Kak Iel, jangan menggodaku dulu. Kita ini sedang bicara serius" sahut Elea pelan. "Nanti saja, ya."


"Nanti apanya sayang, hem?."


Seakan terjebak pada ucapannya sendiri, Elea segera menutup wajahnya menggunakan bantal. Pikirannya tadi sudah pergi kemana-mana karena berfikir suaminya ingin mengajaknya bercinta.


"Sayang, hei, kenapa di tutup begini sih? Suamimu yang tampan ini jadi tidak bisa menikmati wajah malu-malumu itu. Hei, buka sayang" bujuk Gabrielle sambil menarik pelan bantal yang menutupi wajah istrinya.


Akhirnya di atas ranjang itu terjadi adegan tarik menarik antara Gabrielle dan Elea. Sebenarnya ini adalah trik yang di lakukan Gabrielle untuk mengalihkan ingatan Elea dari kejadian yang menimpanya siang tadi. Yah meskipun hanya sementara, tapi setidaknya dengan waktu sesingkat itu Gabrielle bisa menenangkan Elea terlebih dahulu. Perkara dia akan histeris setelah ini, Gabrielle akan memikirkan solusinya nanti.


"Kak Iel, jangan menggodaku terus. Aku kan jadi malu" protes Elea saat bantal yang menutupi wajahnya berhasil di tarik.


"Malu apa. Aku sudah melihat seluruh bagian tubuhmu bahkan sampai di lokasi paling rahasia sekalipun" sahut Gabrielle dengan entengnya.


Gabrielle meringis saat Elea mencubit pinggangnya dengan cukup keras. Setelah itu dia ikut berbaring dan menjadikan tangannya sebagai tumpuan kepala.


"Sayang, apa sekarang sudah lebih baik?" tanya Gabrielle.

__ADS_1


Elea menatap wajah suaminya kemudian menarik nafas dalam-dalam. "Mungkin aku baik-baik saja Kak, tapi hatiku tidak. Ada yang retak di dalamnya."


Mata Elea membulat lebar saat suaminya tiba-tiba naik keatas tubuhnya. Jantungnya berdebar kuat saat kepala suaminya bergerak kearah dada.


Cup, cup, cup


"Nah, sekarang sudah tidak retak lagi kan?" tanya Gabrielle sembari menahan tawa.


Untuk sesaat Elea terpaku melihat apa yang baru saja di lakukan suaminya. Tak lama kemudian matanya berkaca-kaca, dia terharu karena suaminya tidak mengutamakan nafsu dengan keadaannya yang masih terluka seperti ini.


"Terima kasih sudah menghiburku, Kak. Aku pikir tadi Kakak ingin meminta jatah dariku" jawab Elea jujur.


Gabrielle tersenyum. Dia bergegas turun dari atas tubuh istrinya kemudian kembali berbaring di sebelahnya. Dengan hati-hati Gabrielle menarik Elea ke pelukannya kemudian menciumi puncak kepalanya dengan sayang.


"Senafsu apapun diriku, aku tidak akan tega menyentuhmu dulu, sayang. Kesehatanmu jauh lebih berarti di bandingkan kebutuhanku. Lagipula kan masih ada hari lain, tidak harus malam ini juga kan?" ucap Gabrielle menanggapi perkataan istrinya barusan.


"Aku benar-benar sangat beruntung memiliki suami yang begitu pengertian seperti Kak Iel. Tidak sia-sia penantianku selama ini" sahut Elea dengan hati yang membuncah. "Oh ya Kak, bagaimana keadaan Kak Levi? Dia, dia tadi tertembak!."


"Levi baik-baik saja sayang. Tidak ada luka serius di tubuhnya selain bekas tembakan di bagian lengan dan juga luka robek di bahu dan kepalanya. Jadi kau jangan khawatir lagi ya. Sekarang cukup fokus pada kesembuhanmu karena setelah ini kita akan kembali berhadapan dengan Jack-Gal!" jelas Gabrielle menjawab kekhawatiran istrinya.


"Maksudnya apa Kak?" tanya Elea penasaran.


"Jack-Gal belum mati sayang. Dia berhasil selamat setelah melarikan diri dengan cara melompat ke dalam jurang. Aku yakin setelah ini dia akan kembali mencarimu!."


Elea terdiam. Yah, yang di ucapkan oleh suaminya sangat benar. Masalah ini masih akan berlanjut karena satu mimpi Elea belum terjadi. Yaitu mimpi dimana Elea di masukkan ke dalam sangkar emas yang sangat besar setelah di tangkap oleh pria aneh yang ternyata adalah Jackson.


"Kekhawatiran Kak Iel memang benar. Masih ada satu kejadian yang harus aku lewati dulu sebelum masalah ini selesai Kak!."


"Kejadian?" beo Gabrielle kaget. "Sayang, tolong katakan padaku apa yang sudah kau lihat!."


"Tidak bisa aku jabarkan sekarang, suamiku sayang. Satu hal yang paling penting.. Tolong jangan terlambat menyelamatkan aku Kak. Karena di mimpiku, kalaupun harus mati maka aku akan di tarik mati bersamanya. Kakak paham kan maksud ucapanku?."


Gabrielle menelan ludah sebelum menganggukkan kepala. Dia lalu mendekap tubuh mungil Elea dengan sangat erat. Baru seperti ini saja Gabrielle sudah ketakutan setengah mati. Sepertinya dia perlu menjaga kesehatan jantungnya sebelum Jack-Gal benar-benar menculik istrinya.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2