
Dengan hati-hati Gabrielle membaringkan tubuh Elea di atas ranjang kamar mereka. Saat dia pulang dari kediaman Keluarga Young, dia mendapati istrinya sudah tertidur lelap dengan kepala yang menyender di sofa. Sepertinya Elea tadi menghabiskan waktu dengan menggambar sambil menunggunya pulang karena di atas meja ada beberapa kertas yang berisi coretan tangannya.
"Elea, sebenarnya apa yang terjadi pada masa lalumu dulu? Kenapa semuanya terasa rumit untuk di cerna?" ucap Gabrielle lirih sambil menatap lekat wajah istrinya.
Elea bergumam pelan saat Gabrielle menyentuh wajahnya. Dia lalu berbalik memunggungi Gabrielle kemudian kembali tertidur nyenyak.
"Sayang... Apa yang akan terjadi padamu jika kau tahu mengenai rahasia yang di sembunyikan oleh mereka? Akankah kau merasa hancur?."
Gabrielle mendesah pelan sambil mengusap wajahnya. Dia termenung mengingat percakapannya dengan Tuan Bryan, ayah kandung Elea.
Flashback
"Tuan Bryan, ayah dan ibuku bilang kalian pernah berjumpa di pemakaman. Apa itu benar?" tanya Gabrielle sambil menatap dalam kearah pria yang duduk di depannya.
Ya, setelah makan malam selesai, Gabrielle sengaja meminta waktu untuk bicara berdua dengan ayah Elaa. Meskipun tadi ayah Elea tidak menunjukkan gelagat aneh saat Gabrielle menyinggung masalah tentang bayi yang di buang, entah kenapa Gabrielle malah tertarik untuk mengorek informasi darinya terlebih dahulu ketimbang kakek Elea yang jelas-jelas mengetahui rahasia tersebut.
"Benar Tuan Muda. Seharusnya sore itu saya datang menemui anda, tapi karena ada suatu hal terpaksa saya harus mengirim Patricia yang datang kesana" jawab Bryan jujur.
"Tidak masalah, aku bisa mengerti. Kalau boleh tahu, siapa yang kau kunjungi di pemakaman itu?."
Kening Gabrielle mengerut melihat wajah Bryan yang tiba-tiba terlihat sedih. Dia merasa ada yang tidak beres dengan respon ayah mertuanya ini.
"Jangan di jawab jika itu membuatmu merasa tidak nyaman, Tuan" ucap Gabrielle tak tega.
Bryan tersenyum kecut. Dia lalu menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa Tuan Muda. Waktu itu saya sedang mengunjungi makam anak dan istri dari pernikahan pertamaku. Mereka berdua meninggal sembilan belas tahun yang lalu tepat setelah putri kami di lahirkan ke dunia."
"Aku turut berduka cita, Tuan Bryan."
Bryan mengangguk.
"Terima kasih, Tuan Muda. Oh ya, putriku bernama Eleanor Young. Nama itu adalah nama yang selalu di sebut oleh istriku setiap malam. Kami berdua sangat menantikan kehadiran Eleanor sampai dimana terjadi sebuah kecelakaan yang membuat Sandara terluka sangat parah. Eleanor berhasil di selamatkan, tapi tak berapa lama setelah istriku meninggal dia turut pergi juga. Sepertinya mereka berdua memang sengaja ingin menyiksaku " ucap Bryan sedih.
__ADS_1
Gabrielle mencoba mencari kebohongan di setiap perkataan Bryan. Bukannya mendapat apa yang dia cari, Gabrielle malah di buat kaget saat dia melihat Bryan menangis dengan kepala tertunduk.
"Tuan Muda, maaf jika saya akan berucap sedikit tidak sopan terhadap anda. Saya hanya ingin mengingatkan anda supaya tidak melakukan kesalahan yang bisa membuat anda kehilangan orang terkasih. Rasanya benar-benar menyiksa, Tuan Muda. Ingin mati tapi malaikat maut tak kunjung datang menjemput" lanjut Bryan pilu.
"Tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi, Tuan Bryan. Lagipula semua itu sudah lewat. Tapi jika boleh tahu, kesalahan apa yang telah kau perbuat sampai harus menderita seperti ini?" tanya Gabrielle menyelidik.
Bryan akhirnya berani memperlihatkan wajahnya saat Gabrielle bertanya tentang kesalahan yang telah dia lakukan pada mendiang anak dan istrinya dulu. Dengan berat hati dia akhirnya menceritakan kejadian pilu yang di alami oleh wanita yang sangat di cintainya itu.
"Anda tahu Tuan Muda, setiap kali saya pulang dari kantor, Sandara akan selalu menyambut saya dengan senyuman yang sangat hangat. Tidak pernah sekalipun terlihat kalau dirinya sedang mengalami tekanan yang berasal dari kedua orangtua saya. Sandara adalah malaikat, dia menanggung beban penderitaan seorang diri hanya karena tidak mau melihat saya bertengkar dengan orangtua. Dan kesalahan besar yang sudah saya perbuat adalah terlambat menyadari kalau selama ini saya telah menarik Sandara masuk ke dalam jurang yang terjal. Di rumah ini, dia di perlakukan jauh lebih buruk di bandingkan para pelayan. Dalam keadaan hamil besar pun dia tetap di paksa melakukan pekerjaan berat hingga akhirnya dia terjatuh dari tangga. Dan ya, anda pasti bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya bukan? Anak dan istri saya harus pergi karena saya yang lalai menjaga mereka berdua."
Nafas Gabrielle terasa sangat berat begitu tahu kalau istrinya sudah menderita bahkan sebelum lahir ke dunia. Namun penjelasan Bryan tak kunjung menjawab rasa penasaran Gabrielle. Dia merasa cukup terganggu dengan makam yang bertuliskan nama istrinya.
"Tuan Bryan, apa Eleanor terlahir kembar?."
Bryan terhenyak bingung mendengar pertanyaan Gabrielle. "Tidak, Tuan Muda. Putri kami hanya satu, yaitu Eleanor. Dan saat ini dia sudah tinggal di surga Tuhan" jawab Bryan jujur.
Mata Gabrielle membelalak lebar. Dia lalu melihat kearah Ares yang juga sedang terkejut sama sepertinya.
"Jadi anakmu tidak kembar? Tapi bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Gabrielle tak sadar.
"Eleanor, dia sekarang ada...
"Tuan Muda Gabrielle" panggil Ares dengan suara yang cukup keras.
Hampir saja. Untung Ares cepat menghentikan perkataan Gabrielle yang ingin mengatakan kalau Elea kini sedang berada di rumahnya.
Gabrielle yang sadar akan kesalahannya mengeratkan rahang. Dia lalu mengusap wajahnya kasar hingga memerah.
Bryan yang masih penasaran memilih untuk kembali bertanya. Dia merasa aneh karena tamunya seperti mengenal putrinya yang sudah meninggal sejak bayi.
"Maaf Tuan Muda. Kalau tidak salah tadi anda menyebut nama Eleanor, putri saya. Kenapa anda terlihat seperti pernah mengenalnya?."
__ADS_1
Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Gabrielle saat dia menyadari kalau ayahnya Elea sedang curiga. Otaknya yang cerdas segera berputar mencari alasan.
"Pikiranku masih terdistrake pada pemberitaan bayi yang di buang tadi, Tuan Bryan. Jadi aku bicara sedikit ngawur" jawab Gabrielle asal.
Bryan ber-oh ria setelah mendengar jawaban itu.
"Oh, saya pikir anda bertemu dengan arwah putri saya, Tuan Muda. Makanya saya kaget saat anda menyebut nama Eleanor" sahut Bryan memaklumi.
Gabrielle tersenyum. Tak ingin salah bicara lagi, dia segera pamit undur diri dari sana. Untuk sekarang, informasi ini sudah lebih dari cukup. Dia akan mencari waktu lagi di lain hari jika ada kesempatan untuk kembali datang berkunjung.
"Kalau begitu aku permisi dulu, Tuan Bryan. Ini sudah malam, aku yakin kau pasti juga sudah sangat kelelahan setelah mengurus perusahaan. Istirahatlah, dan tolong sampaikan salamku pada anggota keluargamu yang lain. Makanan di rumahmu sangat enak. Aku suka.!"
"Syukurlah jika anda menyukainya, Tuan Muda. Terima kasih banyak sudah mau datang ke rumah kami yang sederhana ini. Hati-hati di jalan" ucap Bryan sopan.
"Sama-sama, Tuan Bryan."
Flashback Now
"Elea, meski kau bukan anggota keluarga itu, aku berjanji kebahagiaanmu akan tetap menjadi prioritas utama bagiku. Aku tidak akan membiarkanmu terluka sayang. Tidak akan" ucap Gabrielle sungguh-sungguh.
Satu-satunya yang bisa Gabrielle pikirkan sekarang hanyalah kebahagiaan Elea. Hatinya sangat luar biasa sakit mengingat perkataan Bryan yang mengatakan kalau ibu Elea mengalami hari-hari yang sangat buruk saat sedang mengandungnya. Setelah puas merenung, Gabrielle memutuskan untuk segera menyusul istrinya pergi ke alam mimpi. Dia merengkuh tubuh mungil itu kemudian mendekapnya dengan sangat erat.
'Aku mencintaimu Eleanor Young.'
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...