
Setelah kembali dari rumah sakit, Gabrielle segera meminta Ares untuk memanggil beberapa desainer ternama untuk mencarikan pakaian yang cocok untuk Elea. Dia ingin agar istrinya itu terlihat sangat cantik di resepsi pernikahan adiknya nanti. Sementara dia sendiri saat ini tengah bersiap di kamar lain dengan di bantu oleh Nun. Mereka juga tengah membahas sesuatu yang cukup rahasia.
"Apa kau sudah meminta Lusi untuk memakaikannya?" tanya Gabrielle sambil merapihkan dasi kupu-kupu yang bertengger di kerah kemejanya.
"Sudah, Tuan Muda" jawab Nun.
Gabrielle mengangguk puas. Setelah itu dia menatap datar bayangan wajahnya di cermin. "Yang lain?."
"Seperti yang sudah anda perintahkan, Tuan Muda. Termasuk Nona Muda Grizelle!."
"Baguslah. Huftttt, kenapa rasanya tegang sekali" gumam Gabrielle sambil berjalan keluar dari dalam sana.
Di luar kamar, para desainer dan juga perias nampak berjejer rapi setelah menyelesaikan tugas mereka mendandani wanita cantik yang baru saja berjalan melewati pintu. Untuk sesaat Gabrielle seakan tidak bisa bernafas melihat penampilan istrinya. Sangat anggun dan elegant, sama sekali tak terlihat jika gadis itu adalah gadis yang selalu membuat jantung orang lain berpacu dengan cepat akibat kepolosannya.
"Cantik, luar biasa cantik" gumam Gabrielle tak sadar.
Nun dan semua orang di sana segera menundukkan kepala saat pasangan suami istri ini saling membalas senyuman. Sadar jika keduanya ingin bermesraan, Nun segera menggiring semua orang untuk pergi dari sana sebelum banteng pencemburu itu mengeluarkan tanduk runcingnya.
"Sayang, kau cantik sekali. Aku jadi tidak rela membawamu pergi ke pesta" ucap Gabrielle mengerucutkan bibir sembari mengusap lembut pipi putih istrinya. "Aku takut pria-pria yang ada di sana merebutmu dariku!."
Elea tersenyum. Tangannya bergerak merapihkan dasi yang melekat di kerah leher suaminya. "Aku hanya akan jadi miliknya Kak Iel saja. Lagipula kita kesana tidak hanya untuk bersenang-senang, ada sesuatu yang jauh lebih penting setelahnya!."
Gabrielle menghela nafas. Dia lalu mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Elea yang terlihat begitu menggoda. Namun keinginannya itu harus pupus saat dadanya di paksa berhenti oleh sebuah tangan mungil. "Kenapa menahanku, hem?."
"Nanti lipstiknya rusak, kasihan kakak-kakak yang meriasku tadi. Nanti mereka kecewa jika hasil karya tangan mereka di hancurkan" jawab Elea menahan tawa.
"Biar saja. Lagipula aku sudah membayar mereka dengan sangat mahal. Apa salahnya membuat mereka bekerja dua kali lebih keras daripada yang lain?" celetuk Gabrielle mendengus tak suka saat keinginannya tidak terpenuhi.
Elea terkekeh melihat suaminya merajuk. Dia lalu mengecup singkat bibir suaminya. "Jangan marah. Masih ada banyak kesempatan untuk melakukannya Kak. Jadi yang sekarang di tunda dulu ya?."
__ADS_1
"Baiklah, demimu kami rela menderita" sahut Gabrielle asal sambil menunduk kearah juniornya yang sudah menggunduk tegak.
Setelah Elea berhasil membuat mood suaminya membaik, dia kemudian mengajaknya untuk segera pergi ke acara resepsi. Di tengah perjalanan, Elea terlihat gelisah. Dia duduk dengan tidak tenang sambil beberapa kali menoleh kearah samping jalanan untuk memperhatikan sesuatu.
"Sayang, ada apa?" tanya Gabrielle yang memang sejak tadi memperhatikan gelagat aneh istrinya. "Jangan panik, semua pasti akan berakhir dengan baik. Aku sudah menyiapkan semuanya untuk melindungimu nanti!."
Elea berbalik. Dia menatap lekat kearah suaminya dengan wajah yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. "Dia akan muncul dari balik kegelapan Kak. Mobil ini nanti akan meledak, dan Grizelle ada bersama kita. Dokter Jackson akan menembak kalian berdua kemudian membawa aku pergi. Kak Iel, kau harus selamat. Kalian berdua tidak boleh terluka!."
Ares yang mendengar ucapan Nyonya-nya segera mengirimkan pesan pada anak buahnya yang sudah berjaga di sekitar gedung resepsi. Tak lupa juga dia mengirim pesan pada Ethan dan juga Priston agar mereka siaga pada kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi di sana.
"Sssttttt, kendalikan pikiranmu Elea. Aku berjanji, aku dan Grizelle akan baik-baik saja. Kau jangan cemas, oke?" hibur Gabrielle sembari mendekap tubuh istrinya yang sudah berubah dingin seperti es.
"Aku tidak cemas, Kak Iel. Aku, aku hanya sedikit takut" cicit Elea pelan.
"Iya sayang, aku tahu. Kau adalah gadis pemberani, masalah seperti ini bukan sesuatu yang bisa membuatmu menyerah dan ketakutan. Elea-nya Gabrielle itu sangat kuat, dan juga sangat bodoh. Benar tidak?."
"Benar sekali Kak!."
Gabrielle tergelak mendengar jawaban jujur istrinya. Setelah itu dia tertawa menyadari istrinya yang masih begitu patuh meskipun dalam kondisi yang sedang ketakutan. Ares yang melihat hal itupun tak tahan untuk tidak tersenyum. Nyonya kecilnya masih sempat untuk melawak di saat bahaya besar sedang menantinya.
"Kak Iel, kita lupa membawa kado untuk Izel!" pekik Elea heboh. "Astaga, bagaimana ini? Bagaimana kalau nanti Izel menangis dan tidak mengizinkan kita masuk ke sana Kak?."
"Ekhmm maaf Nyonya, tapi Tuan Muda sudah mengirimkan hadiah untuk Nona Muda siang tadi" sela Ares menjawab kepanikan Nyonya kecilnya.
"Sudah ya?" beo Elea kaget.
"Iya sayang, aku sudah mengirimkan hadiah untuk Izel. Jadi kau tidak usah khawatir lagi kita akan di usir dari gedung resepsi" jawab Gabrielle tergelitik dengan kehebohan istrinya. "Sayang, kenapa kau harus sekaget ini hanya karena sebuah kado? Tahu tidak, Grizelle itu sudah mempunyai semuanya. Di tambah lagi suaminya juga sangat kaya, dia tidak akan kekurangan apapun setelah menikah!."
"Tapi aku pernah melihat seseorang di usir keluar oleh temannya karena datang tidak membawa hadiah. Wajarkan kalau aku juga takut di usir seperti orang itu, Kak?" tanya Elea sendu.
Bukan orang lain sebenarnya, melainkan dirinya sendiri yang pernah di usir dari pesta ulang tahun temannya karena datang hanya dengan memakai pakaian biasa dan juga tidak membawa kado. Itulah kenapa tadi Elea sangat panik, khawatir hal memalukan seperti itu akan terulang kembali.
Sadar jika istrinya memiliki kenangan buruk tentang sebuah kado, Gabrielle akhirnya paham. Dia menggenggam tangan Elea kemudian menciumnya berulang kali. "Maaf, aku tidak tahu kalau kau pernah mengalami kejadian seperti itu. Sekarang jangan sedih lagi ya, nanti kalau Izel mengusir kita, Ares yang akan meledakkan gedung resepsi mereka!."
__ADS_1
Area langsung menelan ludah. Dia sungguh sangat tidak bersedia melakukan hal berbahaya itu. Bisa-bisa dia yang mati terpanggang oleh kemurkaan Nyonya Besar Liona.
"Kak Iel, Kakak mana boleh berbuat seperti itu pada saudara sendiri. Itu jahat namanya" omel Elea. "Ares, apapun yang terjadi kau tidak boleh menuruti keinginan Kak Iel. Itu sangat berbahaya, tahu tidak?!."
"Baik Nyonya!" sahut Ares lega.
Selamat, selamat
"Hahhahahaha, aku hanya bercanda saja sayang. Kenapa kau semarah ini, hem?" ucap Gabrielle gemas sambil tertawa terbahak-bahak mendengar omelan istrinya.
"Bercandanya tidak lucu, Kak Iel" sungut Elea.
"Iya iya sayang, maaf."
Gabrielle masih terus membujuk istrinya yang masih cemberut gara-gara perkataannya tadi. Misi merajuknya itu baru selesai saat mobil mulai memasuki halaman parkir gedung tempat resepsi di gelar. Sebelum keluar, Elea terdiam lama saat tangannya menerima uluran tangan suaminya. Dia lalu menarik nafas panjang, menatap sekilas kearah pepohonan dimana tempat itu baru saja muncul di dalam penglihatan yang baru saja dia dapatkan.
"Kau siap?" tanya Gabrielle menggaetkan tangan Elea ke lengannya.
"Siap tidak siap aku harus tetap siap kan Kak?" sahut Elea.
Gabrielle tersenyum. Dia tahu kalau istrinya kembali melihat sesuatu. Tapi Gabrielle sengaja membiarkannya, dia tidak ingin merusak acara ini jika terlalu banyak menekan istrinya. Dengan langkah pasti, Gabrielle menggandeng Elea masuk ke dalam gedung dimana puluhan wartawan langsung mengarahkan lensa kamera kearah mereka berdua.
"Ares, lakukan sesuai yang aku minta" bisik Gabrielle.
"Baik Tuan Muda!."
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...