Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Si Perusak Suasana


__ADS_3

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Gleen?" tanya Gabrielle heran melihat keberadaan Gleen di rumah orangtuanya.


"Iya, kenapa Paman malah ada di rumah Ibu Liona? Kak Lusi mana?" ucap Elea ikut bertanya.


Gleen terdiam. Tubuhnya masih kaku setelah di cecar dengan banyak pertanyaan oleh orangtua dan juga kelurganya Gabrielle. Keringat dingin nampak masih membasahi wajahnya, menjadi tanda kalau pria ini sedang ketakutan karena merasa terancam.


"Dia datang kemari ingin meminta maaf pada kita semua, Gab. Lusi memutuskan untuk berpisah dengannya" sahut Liona kemudian melirik kearah Nyonya Clarissa yang terlihat canggung. "Selamat datang, Nyonya Clarissa. Silahkan duduk dan mari kita lupakan kejadian tadi tadi sore."


Clarissa mengangguk sambil tersenyum kikuk. Tak ingin membuat nyonya rumah kembali tersinggung, dia segera mendudukkan bokongnya di sofa lembut yang ada di sana kemudian menatap wanita cantik yang berada di seberangnya. Cantik memang, tapi auranya terlihat sangat dingin. Mengerikan.


"Dia saudaraku, namanya Abigail. Yang duduk di sebelahnya itu Mattheo, suaminya. Lalu mereka adalah kedua anaknya, Kayo dan Fedo. Mereka tinggal di Jepang dan baru siang tadi datang ke negara ini" jelas Liona saat menyadari apa yang sedang di pikirkan oleh neneknya Elea.


"Oh, salam kenal Nyonya Abigail, Tuan Mattheo. Aku Clarissa, Grandma-nya Elea" sahut Clarissa memperkenalkan diri.


"Salam kenal kembali, Nyonya Clarissa. Senang bertemu dengan anda" ucap Abigail ramah, namun dingin.


Elea terus menatap curiga kearah Gleen. Dia yakin sekali kalau orang ini pasti sudah melakukan sesuatu hal yang mana membuat Lusi marah.


"Paman Gleen, kau melakukan kdrt ya pada Kak Lusi? Makanya dia memutuskanmu" tuduh Elea sengit.


"Elea, aku mana mungkin melakukan hal itu pada Lusi. Aku sangat mencintainya, tolong buang jauh-jauh pemikiran jahatmu" sahut Gleen dengan sabar.


Keberadaan Elea bisa mempersulit posisi Gleen jika dia sampai mengulangi kesalahan yang sama seperti apa yang dia lakukan saat di rumah sakit. Terkenang dengan hal itu tiba-tiba saja membuat bulu kuduk Gleen berdiri. Elea itu makhluk yang sangat unik karena kepolosannya bisa membuat orang lain kehilangan nyawa. Dan nyawa Gleen saat ini sedang berada di ujung tanduk.


"Cih, kau bohong Paman. Aku yakin sekali kau pasti sudah berbuat jahat pada Kak Lusi. Iya kan? Mengaku sajalah, tidak usah malu."


Semua orang yang ada di sana nampak mengulum senyum melihat cara Elea menginterogasi Gleen. Sedangkan tersangkanya hanya bisa diam menerima, pasrah.


"Aku benar-benar tidak melakukan apapun padanya, Elea" jawab Gleen sambil menahan nafas.


"Sungguh?" tanya Elea.


Gleen mengangguk dengan cepat.


"Tapi aku masih tidak percaya."


'Ya Tuhan Elea, aku mohon jangan membuat jantungku terus berdebar. Kata-katamu sungguh membuatku takut.'

__ADS_1


Karena penasaran dengan kesalahan yang sudah di lakukan oleh Gleen pada Lusi, Gabrielle mencoba untuk menenangkan Elea dulu. Dengan lembut dia membimbingnya untuk duduk di sofa.


"Sayang, jangan terlalu memojokkan Gleen. Bisa saja kesalahannya itu tidak menjurus pada kekerasan seperti yang kau tuduhkan tadi" ucap Gabrielle.


"Siapa bilang tidak" elak Elea menolak perkataan suaminya. "Paman Gleen itu adalah orang yang kejam, dia kasar Kak!.


"Kasar? Kenapa kau bisa bicara seperti itu, hem?.


"Karena tadi siang Paman Gleen membentakku saat di rumah sakit. Bibi Abigail dan Kayo saksinya. Iya kan? Kalian jangan bohong ya, Tuhan bisa marah nanti!.


Kayo menelan ludah. Dia tak menyangka kalau kakak iparnya akan benar-benar mengadukan perbuatan Gleen pada Kak Gabrielle. Dan yang lebih buruk lagi rahasia itu terbongkar tepat di hadapan Bibi Liona dan Paman Greg. Tiba-tiba saja Kayo merasa iba dengan nasibnya Gleen. Apalagi sekarang paman dan bibinya sudah berubah menjadi sepasang singa yang siap menerkam mangsa.


'Matilah aku. Elea, kenapa kau sengaja membuatku mati di tangan orangtuanya Gabrielle? Apa kau tidak merasa kasihan padaku?.


Jangankan untuk menelan ludah, bernafas pun Gleen seperti tidak bisa ketika merasa kalau saat ini dia bukan sedang berada di rumah orangtuanya Gabrielle, melainkan sedang berada Kutub Utara dimana ada tiga ekor beruang besar tengah menatapnya marah. Keringat yang tadinya hanya sebesar biji selasih kini berubah menjadi sebesar jagung ketika Gabrielle, Nyonya Liona dan Tuan Greg bergerak mendatanginya.


"Gleen, apa kau punya nyawa cadangan?" tanya Liona dengan raut wajah yang sangat horor.


"Ti-tidak, Nyonya Liona. Saya-saya minta maaf, tadi itu saya tidak bermaksud untuk membentak Elea. Semuanya adalah tindakan reflek" jawab Gleen susah payah menjelaskan.


"Iya benar, Ibu Liona. Tikam saja jantung Paman Gleen dengan belati. Kalau Ibu tidak tega, biar Grandma Clarissa yang melakukannya" imbuh Elea.


"A-apa Elea? K-kau meminta Grandma untuk menyakiti orang ini?" sahut Clarissa tergagap sambil menunjuk pria yang sedang ketakutan di bawah ancaman Gabrielle dan orangtuanya.


"Iya" jawab Elea polos.


Gabrielle dan ayahnya yang tadinya ingin mengamuk pada Gleen mendadak tidak tahan untuk tidak tertawa mendengar ucapan Elea yang menginginkan neneknya untuk memberi pelajaran pada Gleen. Sungguh, gadis kecil itu sangat pandai merusak suasana. Dia seperti bom yang bisa menyulut kemarahan semua orang dalam sekejab, juga bisa membuat orang tergugu dalam sekali ucap. Benar-benar perusak suasana yang sangat ulung.


"Gabrielle, kau atau Ibu yang akan memberinya pelajaran? Beraninya dia membentak berlian Ibu. Sudah bosan hidup sepertinya" tanya Liona yang juga menahan diri untuk tidak tersenyum mendengar kepolosan menantunya.


"Biar aku saja Bu" jawab Gabrielle kemudian menyeringai.


Gleen hanya bisa pasrah ketika Gabrielle menghajarnya di depan semua orang. Karena dia tahu hukuman ini masih sangat lumayan daripada dia harus menjadi santapan harimau yang tadi di lihatnya sedang bersantai bersama dua orang asing di halaman depan rumah.


Bughh, bugghh


Clarissa memejamkan mata. Dia takut sekali melihat kekerasan yang sedang terjadi di sana. Clarissa sebenarnya juga merasa kesal saat tahu kalau pria itu sudah membentak cucu kesayangannya, tapi dia tidak menduga kalau Gabrielle akan memberinya hukuman seperti ini. Sungguh, keluarga mertua cucunya sangat brutal dan mengerikan.

__ADS_1


"Kak Iel, sudah ya. Aku takut Paman Gleen mati sekarang" celetuk Elea.


"Bagus kalau dia mati" sahut Gabrielle asal.


"Bagus apanya si Kak. Yang ada kasihan para malaikat yang ada di kuburan, mereka pasti kesulitan mencatat semua kejahatan Paman Gleen. Sudah ya jangan bertengkar lagi!.


Gabrielle mendengus. Dia kemudian menarik Elea masuk ke dalam pelukannya.


"Aku tidak suka ada yang meyakitimu, sayang."


"Aku juga. Rasanya tidak enak kalau di sakiti terus-menerus Kak" sahut Elea sembari mengusap-usap punggung suaminya.


Gleen menyeka darah yang menetes keluar. Luka lebam kini menghiasi wajah tampannya, namun hal itu belum membuatnya merasa aman. Sepasang singa galak saat ini masih menatapnya garang. Dan itu membuatnya sadar kalau Elea adalah jebakan yang sangat mematikan. Gleen bersumpah dalam hatinya tidak akan pernah mau berurusan dengan makhluk yang bernama Elea. Dia truma.


"Kakak ipar, apa kau tidak mau meminta ganti rugi dari pria itu?" tanya Fedo yang tiba-tiba saja ingin memeras harta milik seorang pengusaha sukses yang sedang duduk di lantai dengan wajah penuh luka.


"Tidak, karena sekarang aku sudah kaya. Kak Iel, Ayah Greg dan Ibu Liona, Grandma Clarissa, Kakek Karim, Ayah Bryan dan Ibu Yura, mereka semua sudah memberiku kartu hitam. Jadi aku tidak mau meminta ganti rugi lagi dari Paman Gleen. Kasihan dia, nanti dia bangkrut" jawab Elea jujur.


Fedo dan Kayo ternganga. Sekaya inikah kakak ipar mereka?.


Gleen seperti kehilangan raganya saat itu juga. Bukan pukulan Gabrielle yang membuatnya merasa kesakitan, melainkan ucapan Elea yang menyebut dirinya bisa bangkrut jika memberikan kartu hitam padanya. Eh, apa itu kartu hitam? Black card tanpa batas kah?


Saat semua orang sedang diam terkesima, tiba-tiba saja Elea melihat seseorang yang sedang tersenyum kearahnya.


"Dokter Jackson!" teriak Elea kegirangan kemudian segera berlari menghampiri pria yang dulu pernah menjadi momok paling menakutkan dalam hidupnya.


Semua mata langsung tertuju kearah Gabrielle begitu mendengar Elea menyebut nama Jackson. Andai bisa di lihat, saat ini di kepala Gabrielle sudah muncul dua buah tanduk yang berwarna merah menyala. Ya, dia kesurupan jin pencemburu. Apalagi memangnya 🤣🤣🤣🤣🤣


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2