Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Pria Pelit


__ADS_3

Mata Elea mengerjap perlahan. Dia lalu menoleh kearah samping saat merasakan tangannya menyentuh benda kenyal. Elea tersenyum, menatap sayu kearah suaminya yang juga sedang tersenyum kearahnya.


"Kak Iel....."


"Iya sayang, kenapa?" sahut Gabrielle lega melihat istrinya bangun. "Apa ada yang tidak nyaman?."


"Tidak ada. Aku hanya ingin di peluk saja" jawab Elea lirih.


Tanpa membuang waktu lagi Gabrielle segera memeluk Elea dengan erat. Dia menopang tubuhnya agar tidak jatuh menimpa tubuh istrinya yang masih terbaring di sofa.


"Sayang?."


"Iya Kak" jawab Elea sembari menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya.


"Semuanya sudah berakhir. Setelah ini hanya akan ada kebahagiaan di dalam hidupmu. Maaf aku tidak memberitahumu dulu kalau aku sengaja mengajakmu ke Paris untuk membongkar masalah ini. Aku sudah tidak tahan melihatmu terus bersedih, jadi aku beserta Ayah dan Ibu mengatur rencana hari ini" ucap Gabrielle memberi penjelasan. "Kau tidak marah kan?."


"Oh, jadi semuanya sudah di atur oleh Kakak ya?" sahut Elea tanpa merasa kaget. "Pantas saja aku merasa sedikit aneh saat Kakak mengajakku mengunjungi negara yang sedang turun salju. Padahal kan Kakak sudah berjanji akan mengajakku pergi berlibur ke pantai."


Gabrielle tersenyum. Dia melepas pelukannya kemudian menatap dalam-dalam wajah istrinya dari jarak yang cukup dekat. "Awalnya aku ingin mengajakmu berlibur ke Jepang. Tapi entah kenapa aku berubah pikiran saat mendengar igauanmu!."


"Igauan?" beo Elea heran. "Kapan itu terjadi Kak? Kenapa aku tidak tahu ya?."


"Kau tentu saja tidak akan tahu sayang. Kau mengingau saat sedang tidur jadi hanya aku saja yang mendengarnya" jawab Gabrielle.


Mulut Elea membulat, sedikit malu karena ternyata suaminya mendengar igauannya. "Oh iya Kak Iel, dimana Grandma, dia masih ada di sini atau tidak?."


"Grandma-mu ada di luar. Dia sejak tadi terus gelisah karena kau tak kunjung sadar" jawab Gabrielle kemudian membantu Elea untuk duduk.


Elea segera menekan kepalanya yang sedikit berdenyut. Gabrielle yang melihat istrinya meringis kesakitan segera menggantikan tangannya untuk memijit kepalanya dengan lembut. Kedua orang itu diam dan saling menatap, seakan berbicara melalui mata batin mereka.


"Terima kasih."


"Untuk sekarang aku belum bisa menerima ucapan terima kasihmu dulu sayang. Tunggu sampai nanti malam, aku akan menagihnya di tempat tidur" sahut Gabrielle sambil menyeringai mesum.


Bluuusshhhh


Meskipun masih sedikit pucat, rupanya hal itu tak bisa menutupi rona merah di pipi Elea. Gabrielle yang melihat istrinya tesipu malu menjadi gemas sendiri. Sambil terus memijit kepalanya, Gabrielle menciumi pipi, kening, juga mata istrinya. Sedangkan Elea, dia terkekeh melihat kelakuan suaminya. Merasa di manja, itu sudah pasti. Siapa yang tidak suka di perlakukan seperti ini oleh pria yang kita cintai.


"Sudah Kak..." rengek Elea saat bibir suaminya mulai merambat kemana-mana.


Gabrielle menghela nafas dalam kemudian menyatukan keningnya dengan kening Elea. "Kau benar-benar sangat berbahaya sayang. Selalu saja membuatku lupa diri seperti pemakai narkoba. Tubuh dan aromamu sangat candu, membuatku tak bisa berhenti untuk menyentuhmu."

__ADS_1


Elea tersenyum. Dia lalu mencium kilat bibir suaminya. "Jangan di teruskan. Aku bisa terbang ke langit kalau Kakak terus menggodaku!."


"Tidak masalah" sahut Gabrielle. "Asalkan kau terbang bersamaku, tinggal di langit ke tujuh juga aku tidak keberatan!."


"Apalah Kakak ini" ucap Elea tersipu.


Saat Gabrielle dan Elea tengah saling menggoda, pintu ruangan terbuka. Clarissa yang memang sejak tadi sudah melihat cucunya terbangun segera datang menghampirinya. Dengan mata berkaca-kaca Clarissa melihat betapa bayangan wajah Sandara melekat erat di wajah cucunya.


"Grandma.." panggil Elea.


"Sayangku.." sahut Clarissa kemudian berjongkok di sebelah sofa.


Gabrielle tanggap. Dia segera memberikan ruang untuk istri dan neneknya berbicara. Dan ruang yang di maksud oleh Gabrielle adalah dia yang hanya bergeser satu senti dari tempatnya yang sekarang. Reinhard dan Levi yang melihat kelakuan absurd temannya itu hanya bisa menggerutu dalam hati. Bagaimana tidak, awalnya mereka pikir Gabrielle akan benar-benar memberikan ruang agar Elea bisa berduaan dengan Nyonya Wu. Tapi yang terjadi adalah Nyonya Wu masih tetap berjongkok di samping sofa karena Gabrielle hanya menggerakkan sedikit bokongnya kearah samping. Benar-benar devinisi pria yang sangat pelit.


"Elea, sayangku... Maafkan Grandma ya" ucap Clarissa sembari membelai lembut wajah cucunya. "Sebenarnya ada banyak cara untuk menyelamatkan Mama-mu dulu. Tapi Grandma tidak bisa melakukan hal itu karena mata-mata orangtua Grandma selalu mengawasi dengan sangat ketat. Grandma sangat takut mereka akan menyakiti Mama-mu. Keadaan waktu itu benar-benar sangat sulit, sulit sampai Grandma kesulitan untuk bisa bernafas dengan benar!."


"Sudahlah Grandma, semua itu sudah berlalu. Lagipula waktu sudah tak bisa di ulang, Mama Sandara tidak akan bisa bangun lagi. Aku sudah sangat lelah, aku ingin menyudahi semuanya" sahut Elea. "Grandma, kita lupakan semua luka ini ya. Kasihan Mama Sandara, dia pasti sedih sekali jika melihat kita semua tidak bahagia."


"Yang di ucapkan Elea benar, Nyonya Wu" imbuh Gabrielle yang menyadari ada raut tak biasa di wajah istrinya. "Kita buka lembaran baru bersama."


Clarissa menghela nafas panjang. Dia tahu betul kalau cucunya ini masih memendam kekecewaan yang sangat dalam, hal itu terlihat jelas dari sorot matanya. Tak ingin membuat keadaan kembali mengeruh, Clarissa segera mengalihkan pembicaraan. Biarlah semuanya seperti ini dulu, toh dia juga belum tahu seperti apa kehidupan yang di jalani oleh cucunya selama ini.


Gabrielle mengangguk. Dia mencium tangan Elea yang masih berada di dalam genggaman tangannya. "Sayang, apa kau menginginkan sesuatu?."


Elea mengangguk. Dia lalu melihat kearah Levi yang sedang berdiri di samping Reinhard dan seorang gadis muda yang tadi datang bersama neneknya.


"Aku masih ingin berbelanja dengan Kak Levi, Kak. Misi kami belum selesai tadi."


Ucapan polos Elea mengundang tawa semua orang yang ada di sana, tak terkecuali Madam Yo. Pria gemulai itu nampak semringah karena hari ini butiknya telah menjadi saksi sebuah tragedi pertemuan yang sangat mengharukan. Dengan langkah kemayunya dia berjalan mendekat kearah Elea sambil tersenyum menggoda kearah Gabrielle.


"Jangan melirik suamiku" protes Elea sambil mengerucutkan bibir.


"Hehehe, maaf Nona manis, tapi bola mataku berbelok sendiri kearah suamimu" goda Madam Yo.


"Kalau begitu congkel saja bola matamu keluar!."


Semua orang tergelak, setelah itu mereka kembali mentertawakan Elea.


"Aku hanya bercanda saja Nona manis. Ya sudah, karena semua masalahnya sudah selesai bagaimana kalau aku menemanimu memilih gaun-gaun cantik yang ada di sini" ucap Madam Yo sambil mengulurkan tangan kearah cucu sang ratu mode. "Mari, khusus untukmu aku akan menggratiskan semua barang yang kau inginkan. Jadi jangan ragu untuk memilih, oke..?."


"Aku juga, aku juga" timpal Levi penuh semangat.

__ADS_1


"Hei, kau punya telinga tidak sih. Aku bilang khusus untuk Nona cantik ini, bukan Nona galak sepertimu" sergah Madam Yo.


"Isshh, dasar pelit kau pria lembek" ejek Levi sambil mencebikkan bibir.


"Biar saja lembek, daripada kau, parasit!."


"Dia itu bukan parasit Madam Yo, tapi pelakor!" tambah Elea kemudian bangkit berdiri sambil berpegangan pada tangan lembut Madam Yo.


"Whhaaattttt?? Pelakor??!" pekik Madam Yo kaget.


Levi memutar bola matanya jengah.


"Iya, karena Kak Levi sangat menyukai uang suamiku. Iya kan Kak?" tanya Elea.


"Ya ya ya, terserah kau saja Elea. Aku sedang malas memarahimu sekarang" sungut Levi.


Gabrielle tersenyum samar melihat istrinya yang sudah kembali ceria seperti sebelumnya. "Sayang, pergilah bersenang-senang. Aku akan menunggu kalian di sini!."


"Iya Kak" sahut Elea kemudian menoleh kearah neneknya. "Grandma, tolong tunggu aku sebentar ya. Ada misi yang harus segera aku selesaikan dulu!."


"Iya sayangku. Pergilah, nikmati waktumu dengan tenang" jawab Clarissa kemudian mencium pipi cucunya dengan sayang.


Setelah ketiga orang itu pergi, Clarissa segera beralih menatap Gabrielle. Dia menginginkan sesuatu darinya.


"Malam ini Elea milikku. Jadi Grandma harus mengantri dulu jika ingin meminta waktunya" ucap Gabrielle tanpa basa basi.


"Darimana kau tahu kalau Grandma ingin mengajak Elea pulang ke rumah?" tanya Clarissa heran.


"Itu terlihat jelas di manik mata Grandma" jawab Gabrielle berkilah.


Setelah itu mereka tertawa bersama. Clarissa merasa sangat lega karena semua beban yang ada di pundaknya telah hilang meskipun harus menerima kenyataan pahit kalau putri yang begitu dia rindukan sudah meninggal dunia. Sakit memang, tapi inilah hidup, roda akan terus berputar sampai kita berada di satu titik keabadian, yaitu kematian. Hanya satu yang masih sangat mengganjal di benak Clarissa, penyebab kematian putrinya. Juga kenapa cucunya menyebut jika putrinya harus hidup di bawah tekanan orang yang tidak memiliki hati nurani.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


__ADS_2