
"Kak, aku bisa sendiri!" ucap Elea sambil menahan tangan suaminya yang ingin membantunya memakai bra.
"Tidak apa-apa. Kau sedang sakit sayang, biar aku saja yang melakukan semua ini" sahut Gabrielle.
Wajah Gabrielle memanas. Bagaimana tidak, saat dia ingin mengaitkan bra di punggung Elea, matanya tidak sengaja melihat gumpalan daging putih yang bersembunyi di dada istrinya. Dan nalurinya sebagai seorang pria normal langsung muncul. Nafasnya mulai memburu dengan dada yang berdebar kuat.
"Kak Iel, kau demam ya?" tanya Elea.
"Haa!".
Gabrielle seperti orang linglung saat Elea bertanya padanya. Dia mengerjap beberapa kali untuk menormalkan pikirannya dari tekanan nafsu.
"Wajahmu merah sekali, atau jangan-jangan Kakak tertular penyakit seperti para paman. Astaga, kita harus segera pergi ke dokter kalau begitu!" teriak Elea panik.
Mata Gabrielle terpejam. Istrinya benar-benar sangat pintar dalam merusak suasana.
"Elea, aku baik-baik saja. Wajahku bisa memerah karena darah sedang mengalir di wajahku. Bukan karena aku tertular penyakit seperti yang kau bilang tadi!" ucap Gabrielle sabar.
Elea tidak langsung percaya begitu saja setelah mendengar perkataan suaminya. Dia menatap lekat-lekat wajah suaminya dari pantulan cermin.
"Tapi kenapa aku merasa kalau Kakak sedang berbohong ya? Kak, Tuhan bisa marah kalau Kakak tidak mau bicara jujur!".
Jakun Gabrielle bergerak naik-turun dengan cepat. Bukan karena sedang menahan gairah, melainkan mati kutu karena perkataan menohok istrinya.
"Oh iya Elea, setelah sarapan kita akan pergi ke rumah sakit. Dokter bilang perlu di lakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui penyebab rasa sakit setiap kau datang bulan. Kau mau kan?" tanya Gabrielle sambil menarik resleting baju istrinya.
Mata Elea membulat lebar begitu dia mendengar nama rumah sakit di sebutkan. Segera dia berbalik menghadap kearah suaminya dengan wajah yang terlihat panik.
"Kak Iel, bisa tidak kita jangan pergi ke rumah sakit. Aku takut sekali bertemu dokter!" ucap Elea penuh harap.
"Tidak bisa. Memangnya apa yang harus kau takutkan dari para dokter itu, hemm?".
Gabrielle menarik tangan istrinya kearah ranjang. Dia lalu meminta Elea agar duduk di pangkuannya.
"Duduk di sini!".
Dengan patuh Elea menuruti perintah Gabrielle. Dia lalu meletakkan satu tangannya ke bahu suaminya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku sayang!".
"Itu, aku, aku...
Kening Gabrielle mengerut melihat sikap Elea yang terlihat aneh. Mata tajam Gabrielle menangkap adanya raut ketakutan yang tidak biasa di wajah istrinya.
'Aku tidak mau bertemu dokter, tidak mau. Mereka jahat, mereka kejam. Aku tidak mau!'.
Elea terus bungkam tak ingin mengatakan alasan kenapa dia tidak mau pergi ke rumah sakit. Sekarang dia bahkan tidak mau melihat wajah suaminya. Elea sedang berusaha untuk menghindar.
__ADS_1
"Sayang, ada apa hem? Apa telah terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui?" tanya Gabrielle mencoba mengulik sesuatu yang dia curigai.
Saat Elea sedang kebingungan menghadapi pertanyaan Gabrielle, tiba-tiba saja perutnya berbunyi. Dia tersenyum tanpa dosa kearah Gabrielle sambil memegangi perutnya.
'Akhinya aku punya nasib baik juga. Pertolongan datang di saat yang tepat. Terima kasih Tuhan, kau sudah menyelamatkan aku dari pertanyaan Kak Gabrielle!'.
"Lapar?" tanya Gabrielle sayang.
Biarlah, Gabrielle memilih untuk melepaskan istrinya kali ini. Dari gelagat yang di tunjukkan oleh istrinya barusan, Gabrielle bisa mengambil kesimpulan kalau ada sesuatu yang coba di sembunyikan oleh Elea. Dan dia menebak kalau trauma yang di alami oleh Elea pasti berhubungan dengan dokter.
"Iya Kak, aku seperti tidak makan selama ratusan tahun. Cacing-cacing di dalam perutku pasti sedang menangis karena kelaparan" jawab Elea sambil menepuk pelan perutnya.
"Kalau begitu ayo kita makan. Kau ingin makan di dalam kamar atau turun ke bawah saja!" ucap Gabrielle sambil membelai kepala istrinya.
"Emmmm, di bawah saja Kak. Kata orang, makan di dalam kamar itu tidak sopan!" sahut Elea dengan mimik yang meyakinkan.
Gabrielle tertawa. Dia lalu mengangkat tubuh mungil Elea ke dalam gendongannya. Tanpa melepaskan pandangannya, Gabrielle membawa Elea keluar dari dalam kamar.
"Selamat pagi Tuan Muda dan Nyonya Elea!" sapa Nun dan para pelayan.
"Selamat pagi semuanya. Kak Lusi, kau ingin mengambil gaji ya?" tanya Elea langsung.
Lusi tersenyum mendengar pertanyaan nyonya kecilnya. Dia memang sempat mengatakan pada nyonya nya kalau hari ini dia akan meminta gaji lebih awal karena ingin mengirimkannya ke kampung halaman.
"Iya Nyonya. Tapi bukan sekarang, nanti saja" jawab Lusi sopan.
"Nun, apa kau belum membayar gaji mereka?" tanyanya.
"Dua hari lagi mereka baru akan menerima gaji, Tuan Muda" jawab Nun.
"Kak Iel, tolong jangan marah pada Kak Lusi ya. Dia meminta gajinya sekarang karena mau di kirim untuk ibunya yang sedang sakit. Kasihan, Kak Lusi pasti sangat khawatir saat ini!" ucap Elea memohon.
'Seandainya saja aku memiliki orang tua, pasti aku akan sama khawatirnya seperti Kak Lusi jika mendengar mereka sakit. Tapi sayang aku tidak akan pernah merasakan seperti apa rasanya memberi kasih sayang pada orangtua. Hidupku memang sangat sial. Tapi aku bersyukur setidaknya aku masih hidup, aku masih memiliki Kak Gabrielle dan Kak Levi yang akan selalu menyayangiku!'.
Gabrielle diam mendengarnya apa yang sedang di pikirkan oleh istrinya. Hatinya terenyuh, tentu saja. Siapa yang tidak terbawa perasaan jika mengetahui penderitaan apa yang telah di lalui oleh istri kecilnya ini.
"Kau ingin aku melakukan apa pada Lusi, hem?" tanya Gabrielle.
Elea diam berpikir. Dia kemudian membisikkan sesuatu di telinga suaminya yang membuat Lusi merasa was-was.
'Tuhan, semoga saja Nyonya tidak mengatakan sesuatu yang bisa memancing kemarahan Tuan Muda'.
"Hanya itu?".
Elea mengangguk.
"Iya. Mau ya?" rayu Elea dengan memasang wajah seimut mungkin.
__ADS_1
Gabrielle luluh. Tanpa sadar dia mencium bibir istrinya di hadapan semua orang.
"Tundukkan kepala kalian!" perintah Nun cepat.
Pipi Elea merona. Satu tangannya meremas kuat pinggiran kemeja putih yang di pakai suaminya.
"Kenapa menciumku di depan orang lain si Kak. Kita kan bisa melakukannya diam-diam!" bisik Elea.
Gabrielle tergelak. Dia merasa aneh dengan kata diam-diam yang di maksud oleh Elea.
"Kenapa harus malu, kita kan sudah menikah. Hal seperti ini sudah biasa di lakukan oleh pasangan suami istri" sahut Gabrielle dengan tidak tahu malunya.
"Iiihh, tapi kan aku malu Kak. Aku sekarang jadi curiga kalau Kak Iel itu sebenarnya adalah anggota buaya darat. Iya kan?" tuduh Elea.
Nun dan para pelayan langsung mengangkat wajah kaget begitu mendengar kata-kata nyeleneh yang terlontar dari mulut nyonya mereka.
'Astaga Nyonya, darimana anda mendapatkan kata seperti itu? Siapa orang yang sudah berani mencuci otak polos anda, nyonya?'.
Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Gabrielle setelah dia di curigai sebagai komplotan buaya darat. Dengan wajah masam dia membawa Elea masuk ke dalam lift. Membiarkan istri kecilnya ini sibuk bermain dengan pikirannya sendiri.
"Nun!".
"Iya Tuan Muda".
"Apa kau sudah mengatur setiap menu makanan yang akan di makan oleh istriku?" tanya Gabrielle.
"Sudah Tuan Muda. Dokter Reinhard yang meresepkan semua menu makanan itu!" jawab Nun.
Gabrielle mengangguk puas. Dia lalu menunduk melihat apa yang sedang di lakukan oleh istrinya.
"Sayang, apa yang sedang kau gambar di dadaku?".
Ujung jari Elea sejak tadi terus berputar-putar di dada suaminya. Jarinya bergerak menggambarkan sesuatu di sana.
"Aku sedang berusaha menggambar seekor buaya, Kak. Tapi entah kenapa kepalanya selalu bulat. Mungkinkah buaya yang aku gambar terlalu banyak makan?" ucap Elea balik bertanya.
Suasana di dalam lift menjadi begitu sunyi setelah Elea mengatakan apa yang sedang dia gambar. Lagi-lagi mereka semua harus terjebak oleh perkataan Elea yang menjerumus.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS...
LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA
🌻 IG: nini_rifani
🌻 FB: Nini Lup'ss
__ADS_1
🌻 WA: 0857-5844-6308