Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Teka-Teki Baru


__ADS_3

"Iel, pindahkan saja Elea ke dalam kamar. Lagipula hari sudah malam, masalah ini kita bahas lagi besok" ucap Liona sambil mengelus rambut menantunya yang sudah terlelap.


"Baiklah Bu, kalau begitu kami ke kamar dulu. Ibu juga istirahatlah, selamat malam."


Setelah berpamitan pada ibunya, Gabrielle segera menggendong Elea kemudian membawanya menuju kamar. Sambil menunggu lift terbuka, Gabrielle termenung sambil memikirkan maksud dari gumaman Elea yang menyebut jika ibunya tidak sejahat orang yang membuangnya ke dalam jurang. Sebenarnya tadi Gabrielle ingin langsung menanyakan hal tersebut pada Elea, namun di halangi oleh ibunya karena tak ingin membuat psikis istrinya semakin tertekan setelah menceritakan kebodohannya yang tetap menolong Jack-Gal meskipun sudah mendapatkan firasat jika pria itu akan menyakitinya.


Ting


"Ares, kau pergilah istirahat di kamarmu. Tidak perlu mengantarkan kami sampai ke dalam" ucap Gabrielle sembari melangkah keluar dari dalam lift.


"Baik Tuan Muda. Selamat beristirahat untuk anda dan Nyonya Elea" sahut Ares.


Gabrielle mengangguk. Dengan sebelah kakinya dia membuka pintu kamar, melangkah dengan sangat perlahan kemudian membaringkan Elea di atas ranjang mereka.


"Istri kecilku yang misterius, tidurlah yang nyenyak. Tubuh dan pikiranmu sudah sangat lelah, kau butuh istirahat yang banyak sayang" bisik Gabrielle kemudian mencium kening istrinya lama.


Setelahnya Gabrielle berniat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Namun baru saja dia berbalik, tiba-tiba saja tangannya di tahan. Dia lalu menoleh.


"Sayang, kau tidak tidur?" tanya Gabrielle kaget melihat istrinya yang sedang tersenyum manis kearahnya.


"Belum" jawab Elea jujur.


"Tapi tadi di..


"Aku sengaja Kak Iel. Siapa suruh pelukan Kakak terasa sangat nyaman, jadi ya aku pura-pura tidur saja menikmati pelukan itu."


Gabrielle tergelak. Dia terkekeh kemudian duduk di tepian ranjang dengan tangan yang masih di genggam oleh istrinya. "Sudah lebih baik, hemm?."


Elea mengangguk. Dia segera duduk kemudian menyender ke kepala ranjang. "Asalkan ada Kakak di sampingku, aku pasti baik-baik saja karena Kakak adalah perisai tempatku berlindung!."

__ADS_1


"Perisai? Maksudnya?."


"Setelah menunggu selama belasan tahun, aku akhirnya menemukan tempat untuk berteduh. Kak Iel, dari usiaku empat belas tahun aku sudah menunggu pertemuan kita. Itu yang menjadi penyebab aku bertahan di restoran Kakak meskipun orang-orang di sana seringkali memperlakukan aku dengan seenaknya. Kesulitan yang aku alami selama bekerja di sana sama sekali tidak ada artinya jika di bandingkan dengan penderitaan dan juga rasa takut yang harus aku tanggung setiap harinya. Dari hari ke hari aku terus menunggu kapan dewa pelindungku akan datang. Sampai akhirnya Tuhan mempertemukan kita dengan Kak Levi sebagai perantaranya" jawab Elea.


"Berarti dari pertama kita bertemu kau sebenarnya sudah tahu siapa aku?" tanya Gabrielle takjub.


Luar biasa. Bahkan pertemuan mereka saja Elea sudah bisa memprediksi. Sungguh ini adalah kabar yang sangat membahagiakan untuk Gabrielle. Dia tidak menyangka kalau ternyata Elea sudah cukup lama menantinya.


"Aku tidak tahu karena di dalam mimpi itu wajah Kakak tidak terlihat jelas. Hanya ada satu gambaran dimana orang yang akan menjadi perisaiku adalah seseorang yang mampu membaca pikiran orang lain. Dan Kakak mempunyai kelebihan itu!."


Tubuh Gabrielle menegang kaget. Dia lalu menatap Elea tak percaya. "Jadi selama ini kau tahu kalau aku bisa membaca pikiran orang lain? Tapi kenapa kau diam saja sayang? Kenapa tidak bertanya ataupun bercerita padaku?."


Elea tersenyum. Dia mengulurkan tangan, meminta suaminya memberikan pelukan yang selalu bisa menenangkannya. "Karena aku takut Kak Iel akan membuangku jika tahu kalau aku ini tidak normal. Dan juga... Elea yang Kakak lihat selama ini hanyalah topeng belaka. Aku tidak benar-benar bodoh seperti yang kalian kira, atau lebih tepatnya hanya berpura-pura bodoh untuk melindungi diri!."


Sambil memeluk istrinya, Gabrielle merasakan ada sesuatu yang janggal di sini. "Sayang, apa ini ada hubungannya dengan seseorang yang telah mencelakaimu? Maaf, tadi aku sempat mendengar gumamanmu yang menyebut jika Ibu tidak sejahat orang yang membuangmu ke dalam jurang."


"Kak Iel, apa kau mengenal seorang wanita bernama Weyan?" tanya Elea lirih.


"Weyan?" sahut Gabrielle. "Sepertinya tidak sayang. Memangnya dia siapa dan apa hubungannya denganmu?."


"Dia adalah orang yang membuangku ke dalam jurang, Kak" jawab Elea sedih.


Kening Gabrielle mengerut. Dia mencoba mengingat-ingat dimana pernah mendengar nama tersebut. Tapi nihil, dia tetap tak menemukan daftar nama wanita tersebut di dalam pikirannya sekeras apapun dia mengingat.


"Weyan Young, istri dari Karim Young, kakek dan nenek kandungku!" imbuh Elea dengan airmata yang menggenang di pelupuk mata.


Bagai tersengat listrik, Gabrielle tersentak kaget saat Elea menyebut nama keluarga yang sedang dia selidiki. Dia lalu melepaskan pelukannya, menatap lekat kearah istrinya yang ternyata sedang menangis tanpa suara.


"Elea, sayang, kau kau tahu?" tanya Gabrielle gugup.

__ADS_1


"Aku tahu semuanya Kak Iel. Aku juga tahu kalau Kak Levi adalah bagian dari mereka. Aku tahu semua itu Kak Iel, aku tahu" jawab Elea terisak. "Keanehan yang ada di tubuhku benar-benar sangat menyiksa, gambaran tentang mereka terus saja muncul di mataku. Aku sangat menderita Kak Iel. Tolong..."


Gabrielle syok. Untuk beberapa saat dia tidak bisa berkata apa-apa selain hanya menatap istrinya yang sedang terisak sedih. Baginya kabar ini terlalu mengejutkan, dia tidak menyangka kalau Elea ternyata mengetahui semuanya. Istrinya tahu dengan jelas siapa keluarga kandungnya bahkan juga mengetahui kelebihan yang dia miliki.


"Nenek Weyan sengaja membuangku saat aku di usir dari panti. Dia begitu marah sambil terus mengutukku. Kak Iel, tubuhku di ikat sebelum anak buahnya melemparkan aku ke dalam jurang yang sangat dalam. Sebelum aku di buang, aku sempat menanyakan kenapa mereka begitu membenciku, bahkan tega mengancam pemilik panti agar terus melakukan penyiksaan terhadapku. Nenek Weyan bilang kalau aku ini pembawa sial, aku adalah anak terkutuk yang tidak seharusnya lahir ke dunia. Aku dan ibuku adalah sama, seorang sampah yang tidak seharusnya menjadi bagian dari keluarga mereka. Nenek Weyan bahkan bersumpah sampai dia mati dia tidak akan membiarkan aku bertemu dengan Ayah, juga tidak akan membiarkan aku melihat makam ibu. Aku sehina itu Kak di mata mereka, padahal bukan aku yang minta untuk di lahirkan, tapi kenapa mereka membebankan semua kebencian itu padaku. Apa salahku sebenarnya!" ucap Elea mulai emosional.


Tak tahan mendengar penuturan Elea yang begitu menyesakkan dada, Gabrielle kembali memeluknya. Membiarkan air mata kesedihan itu tumpah membasahi pakaiannya.


"Menangislah sayang, jangan di tahan. Keluarkan segala beban yang selama ini kau pikul. Ada aku, ada aku yang akan menguatkanmu di sini, menangislah!" hibur Gabrielle sedih.


"Hiksss, di taman, di taman kemarin aku bertemu dengan kakek, Kak. Aku, aku ingin sekali memeluknya, tapi tidak bisa. Aku tidak di inginkan, mereka tidak menginginkan anak terkutuk ini, mereka tidak menginginkan aku Kak Iel, mereka tidak menginginkan aku!."


Rahang Gabrielle mengetat. Di luar dugaan, ternyata ibunya Bryan tega membuang istrinya dengan begitu kejam. Belum pecah satu teka-teki tentang kenapa ada makam lain yang beratasnamakan istrinya, sekarang muncul lagi satu teka-teki baru. Entahlah, Gabrielle merasa kalau kejadian ini tidak lah sederhana. Pasti ada hal penting yang mendalangi perbuatan kejam neneknya Elea.


"Ssstttttt, hanya orang-orang bodoh yang tidak menginginkan gadis seistimewa dirimu sayang. Mata mereka semua buta, mereka tidak bisa melihat betapa mahalnya kehadiranmu di dunia ini" ucap Gabrielle berusaha menyalurkan ketenangan.


Elea terus terisak di dalam dekapan suaminya. Hatinya sakit, sangat sakit meski dia sudah berusaha untuk melupakan semua itu. Tapi pertemuan yang tak di sengaja dengan kakeknya kembali membuka luka di hati Elea. Luka yang memaksanya harus berdarah-darah selama belasan tahun.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...

__ADS_1


__ADS_2