
Levi terus mengusap rambut Elea yang berada di dalam dekapannya. Sejak mereka masuk ke kamar ini, Elea sama sekali tak mengizinkan untuk menjauh. Makhluk kecil ini seperti ketakutan, tapi juga terlihat penuh kebencian. Levi yang melihat hal itu hanya bisa menarik nafas panjang, prihatin akan kesedihan yang di tanggung oleh teman kecilnya.
"Kak Levi, kenapa sulit sekali untuk merasa damai?" tanya Elea. "Aku sudah bersusah payah memaafkan kesalahan Grandma yang lalai dalam melindungi Mama Sandara. Tapi kenapa dia malah membahas kematian Mama? Hatiku sakit sekali, aku tadi sangat ingin membunuhnya!."
Gluuukkkk
Tidak percaya, itulah yang muncul di benak Levi ketika dia mendengar ucapan Elea. Levi sangat tidak percaya teman kecilnya sudah separah ini mengidap kerusakan mental akibat permasalahan yang datang bertubi-tubi.
"Elea, kau tidak boleh bicara seperti itu. Nyonya Clarissa adalah Grandma-mu, kau harus menghormatinya!."
"Tapi Grandma tidak sayang aku, Kak Levi. Dia jahat, sama seperti Kakek Karim dan istrinya. Gara-gara ulah mereka bertiga aku dan Mama Sandara harus hidup dengan sangat menderita. Mereka berbuat tanpa memikirkan perasaan kami lalu meminta maaf seenak jidat. Apa mereka pikir nyawaku dan nyawa Mama Sandara adalah sebuah permainan? Kenapa Tuhan bisa menghidupkan orang-orang kejam seperti mereka? Dan kenapa harus aku dan Mama Sandara yang menjadi korban? Kenapa bukan orang lain saja? Kenapa Kak Levi? Kenapaa...!!!."
Levi panik saat Elea kehilangan kendali. Baru saja dia hendak memanggil pengawal yang berjaga di luar, pintu kamar sudah terbuka lebih dulu. Levi lega melihat Gabrielle yang datang bersama Ares.
"Levi, ada apa?" tanya Gabrielle buru-buru mendekat kearah ranjang. Dia lalu mengusap punggung istrinya yang sedang mendekap Levi dengan erat. "Sayang, kau kenapa hem?."
Levi mengetikkan beberapa kata di ponsel miliknya kemudian menyerahkannya pada Gabrielle.
"Gabrielle, ini kacau. Elea berniat membunuh Nyonya Clarissa. Dia kembali berontak, dia merasa sangat sakit hati pada Nyonya Clarissa, Kakek Karim dan juga istrinya. Cepat pikirkan cara untuk meredam kemarahan Elea. Aku takut dia nekad!."
Mata Gabrielle melotot begitu dia membaca tulisan tersebut. Sambil menelan ludah Gabrielle mencoba menarik tubuh istrinya dari pelukan Levi.
"Sayang...?."
"Aku sedang marah Kak Iel, kau jangan menggodaku dulu!" ucap Elea menolak untuk berpindah ke pelukan suaminya.
Senyum kecil muncul di bibir ketiga orang yang ada di sana begitu mereka mendengar ucapan Elea yang terdengar lucu. Sambil mengulum senyum Gabrielle kembali membujuk Elea agar mau memeluknya.
"Sayang, kau mau bermain boneka salju tidak? Di luar salju sedang turun, kalau kau mau aku bisa menemanimu!."
Mendengar perkataan suaminya hati Elea sedikit goyah. Boneka salju, dia pernah memimpikannya saat berada di dalam pesawat. Elea kemudian berusaha keras untuk berdamai dengan keinginannya yang ingin membunuh Grandma-nya sendiri. Hatinya sudah lelah, dia butuh suaminya dan sebuah penghiburan.
"Aku mau Kak. Tapi setelah itu aku tidak mau kembali ke rumah ini lagi. Aku tidak mau bertemu dengan Grandma!."
"Sayang, aku tahu kau kecewa, tapi tidak baik jika kita pergi begitu saja dari sini. Grandma pasti akan merasa sangat sedih, begitu juga Mama Sandara. Mama pasti tidak akan setuju kalau kita membuat Grandma sedih. Jadi malam ini kita tetap menginap di sini ya? Hanya malam ini, setelah matahari terbit kita akan langsung pulang ke rumah. Oke?" bujuk Gabrielle.
__ADS_1
Mendengar nama ibunya di sebut membuat Elea segera tersadar. Tidak benar kalau dia lebih mementingkan keegoisannya karena biar bagaimanapun ini bukan sepenuhnya salah neneknya. Perlahan-lahan Elea akhirnya melepaskan diri dari pelukan Levi. Dia lalu menatapnya dalam.
"Terima kasih Kak Levi, sudah mau meminjamkan bahumu untuk kusandari. Tapi maaf ya bajumu jadi kena ingusku!."
"Elea, bisa tidak kau jangan membuat orang terkena darah tinggi?."
Levi yang awalnya merasa prihatin dengan keadaan Elea mendadak jadi emosi sendiri ketika mendengar ucapannya. Entahlah, gadis kecil ini sangat pandai merusak suasana. Sungguh menyebalkan, tapi dia sangat menyayanginya.
"Sudahlah Lev, abaikan ucapan istriku. Sebaiknya kau temani Reinhard di kamar Grandma, saat ini dia sedang berduaan dengan seorang gadis cantik di sana!" usir Gabrielle kemudian segera menarik Elea ke pelukannya. Menciumi puncak kepalanya dengan sayang.
"Oh shittt, jangan bilang Reinhard sedang selingkuh di belakangku, Gab!" pekik Levi kemudian menyingsing lengan bajunya keatas. "Awas saja dia. Akan ku botaki kepalanya kalau dia berani bermain api di belakangku!."
Setelah menyiapkan diri untuk menangkap basah Reinhard yang sedang berduaan dengan gadis lain, Levi segera pergi dari kamar Elea. Emosinya begitu memuncak.
"Kak Iel, kenapa Kak Reinhard ada di kamar Grandma?" tanya Elea mulai khawatir.
"Oh, tadi dia hanya ingin memeriksa tekanan darahnya Grandma saja. Dia terlihat sedih setelah kau meninggalkannya tadi" jawab Gabrielle berkilah.
"Sungguh?."
"Iya sayang. Aku tidak mungkin tidak memberitahumu jika Grandma kenapa-napa. Lagipula itu hanya memeriksa tekanan darah saja, bukan hal lain!" jelas Gabrielle sedikit berdebar karena harus membohongi istrinya. "Di luar sedang hujan salju, mau kesana sekarang?."
"Ares, tolong ambilkan mantel milik istriku. Kami akan bermain salju di luar!."
"Baik Tuan Muda!."
Ares dengan gesit segera mengambilkan mantel milik kedua tuannya. Dia kemudian menunggu di luar kamar sebelum akhirnya mengikuti pasangan suami istri ini keluar untuk bermain salju.
"Woooaaahhhhh......!" pekik Elea sembari menengadahkan tangan menangkap salju yang sedang turun. "Aku benar-benar bisa merasakan dinginnya salju, Kak Iel. Ahahahaha, saljuuuu... Aku mendapatkanmu sekarang!."
Elea segera melepaskan gandengan tangan suaminya kemudian berlarian di bawah hujan salju. Hati yang awalnya berdarah seakan langsung terobati ketika dia merasakan hawa dingin di jemari mungilnya. Elea terus berlari kesana kemari mencetak jejak kaki di bawah tumpukan salju yang memenuhi halaman depan rumah neneknya.
"Elea, aku sangat suka melihatmu tersenyum riang seperti ini. Rasanya seperti aku menemukan tumpukan berlian yang sangat banyak. Kau sumber kebahagiaanku sayang, teruslah tersenyum seperti ini selamanya!" gumam Gabrielle sambil memandangi istrinya yang sedang asik membuat bola-bola dari salju.
Pukkkkk
__ADS_1
"Ahahahhaa Kak Iel, ayo serang aku. Ayo..!" teriak Elea sambil tertawa lebar setelah melemparkan satu bola salju ke dada suaminya. "Ayo balas aku kalau Kakak bisa!."
"Waahhh, beraninya kau membangunkan macan yang sedang tertidur, sayangku. Tunggu sebentar, suamimu yang tampan ini akan membuat bola-bola cinta dulu untuk membalasmu. Jangan menangis jika aku melakukan serangan balik ya!" sahut Gabrielle mulai membuat bola salju sambil tertawa melihat Elea yang sibuk mencari tempat untuk bersembunyi.
Pukkkkk
Lagi. Kali ini kepala Gabrielle yang terkena lemparan bola saljunya Elea.
"Hahahaha, dua kosong Kak Iel. Ayo ayo cepat balas aku!."
Begitu selesai, Gabrielle segera melempari istrinya dengan bola salju yang dia buat. Sepasang suami istri itu akhirnya saling melempar kemudian tertawa terbahak-bahak saat bola salju mengenai wajah mereka. Para pelayan dan juga penjaga merasa sangat terhibur menyaksikan kebersamaan Gabrielle dan Elea. Mereka seakan ikut terbius oleh tawa yang mereka sebarkan.
"Sayang, bibirmu sudah membiru. Kita masuk ya?" ajak Gabrielle khawatir.
"Belum mau Kak Iel. Aku masih belum membuat boneka salju!" rengek Elea menolak ajakan suaminya.
"Tapi tubuhmu sudah sangat dingin. Aku khawatir kau terkena flu besok!" sahut Gabrielle sembari menangkup pipi istrinya yang sudah sedingin es.
Bukannya mendengarkan ucapan suaminya, Elea malah sengaja menjatuhkan diri ke ranjang salju. Dia merentangkan kedua tangan dan kakinya kemudian menggerakannya seperti orang yang sedang mendayung.
"Langiiitttt....... Terima kasih sudah menurunkan salju malam ini. Hatiku bahagia sekali, besok-besok berikan hujan salju lagi ya? Malam ini sepertinya aku tidak bisa membuat boneka salju dulu karena suamiku sudah melarang. Jadi tolong kabulkan keinginan ku ya langit!" teriak Elea yang membuat semua orang tertawa.
"Astaga sayang, apa yang kau lakukan, hem? Kau bisa membeku nanti!" teriak Gabrielle panik.
"Kak, ayo berbaring di dekatku. Kita nikmati hujan salju ini sambil berpegangan tangan" ucap Elea kemudian mengulurkan tangan kearah suaminya.
Hilang sudah kekhawatiran Gabrielle ketika melihat senyum manis di bibir istrinya. Tanpa mempedulikan rasa dingin yang menusuk tulang dia segera membaringkan diri di sebelah Elea sambil menggenggam erat tangannya.
Pada akhirnya, cucu Adam dan Hawa tersebut larut dalam sebuah ciuman panjang di bawah hujan salju. Mereka abai akan segala permasalahan yang sedang terjadi. Hanya ingin egois dengan memikirkan kebahagiaan mereka berdua. Tapi tanpa di sadari oleh Gabrielle dan Elea, ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka dari balik tirai jendela. Mata itu nampak memperlihatkan kecemburuan dan juga keterpesonaan yang sangat kentara. Dialah Fulgi, pria yang menginginkan kehancuran hubungan sepasang suami istri yang sedang terbalut dalam kebahagiaan.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...