Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Pujian


__ADS_3

Ares diam sambil memperhatikan Tuan Muda-nya yang sedang tersenyum sambil menatap layar ponsel. Dia tentu saja tahu siapa orang yang telah membuat Tuan Muda-nya terlihat begitu senang.


"Kau manis sekali, sayang".


Di dalam video itu terlihat Elea yang sedang tertawa dengan begitu bebas sambil menikmati makanan di tangannya. Suara tawa istri kecilnya itu bahkan sampai menular pada Gabrielle.


"Ares, ayo kita susul Elea ke taman bermain. Aku tiba-tiba ingin ikut bergabung dengan mereka!" ucap Gabrielle tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel.


Ares menghela nafas perlahan mendengar keinginan Tuan Muda-nya. Dia lalu melihat jam mewah yang melingkar di tangan kirinya.


"Lima menit lagi anda harus menghadiri pertemuan dengan Tuan Bryan, Tuan Muda. Saya tidak menyarankan anda untuk melarikan diri dari pertemuan ini!".


"Cih, siapa juga yang ingin melarikan diri. Undur saja pertemuan ini" sahut Gabrielle malas.


Lagi-lagi Ares menghela nafas.


"Tidak bisa, Tuan Muda. Semuanya sudah di jadwalkan. Anda di haruskan membayar denda pinalti 10 kali lipat dari nilai yang di tentukan dalam kontrak perjanjian jika tidak menghadiri pertemuan ini!".


"Astaga kau ini repot sekali sih. Denda ya denda saja, uangku banyak. Kau tidak perlu takut kalau aku akan memakai uangmu untuk membayar denda pinalti itu!" omel Gabrielle.


"Tidak seperti itu caranya, Tuan Muda. Pertemuan kali ini bukan hanya bertujuan untuk bisnis saja. Apa anda lupa dengan niatan anda yang ingin menggali informasi tentang rahasia itu?" ucap Ares mengingatkan.


Perkataan Ares membuat Gabrielle sadar seketika.


"Ya Tuhan, kenapa kau baru mengingatkan aku Res? Bagaimana kalau tadi aku benar-benar membatalkan pertemuan penting ini. Ishhh, kau ini bagaimana sih!" gerutu Gabrielle sambil keluar dari dalam mobil.


'Anda yang bagaimana, Tuan Muda. Kenapa aku yang di salahkan?'.


Ares hanya bisa pasrah saat dirinya kembali menjadi sasaran. Dia segera keluar dari dalam mobil kemudian berjalan cepat menyusul Tuan Muda-nya yang sudah masuk ke dalam restoran.


"Selamat datang Tuan Muda!" sapa seorang pria yang menjadi manager baru di sini.


"Hmmmm".


"Apa tamunya sudah datang?" tanya Ares.


"Sudah Tuan Ares. Nona Patricia sudah menunggu di dalam!".


Sudut alis Gabrielle terangkat keatas. Dia menoleh kearah Ares kemudian menyeringai penuh maksud.


"Siapa yang di incar, siapa pula yang datang menyerahkan diri. Ayo, kita tidak boleh membuat tamu penting kita menunggu terlalu lama!" ucap Gabrielle.


"Baik Tuan Muda!".


Sebelum pergi menemui Patricia, Gabrielle memerintah manager restoran menyediakan jamuan terbaik untuk tamunya. Ares yang melihat tindakan Tuan Muda-nya hanya bisa menghela nafas. Dia tentu saja tahu kalau ada maksud lain di balik kebaikannya itu.


Setelah semuanya siap, barulah Gabrielle dan Ares masuk ke dalam ruangan VIP dimana Patricia sedang duduk menunggu kedatangan mereka.

__ADS_1


Patricia segera berdiri kemudian membungkuk hormat begitu melihat kedatangan dua orang pria yang di tunggunya sejak tadi.


"Selamat sore, Tuan Muda Gabrielle. Selamat sore Tuan Ares!" sapa Patricia ramah.


Gabrielle mengangguk. Dia merasa risih saat wanita ini terus mencuri-curi pandang kearahnya.


"Dimana Tuan Bryan? Bukankah seharusnya dia yang datang kemari?" tanya Ares membuka percakapan.


"Ayah sedang tidak enak badan, Tuan. Jadi beliau mengutus saya untuk mewakili perusahaan kami!" jawab Patricia.


Ares mengangguk. Dia kemudian membuka berkas yang di bawanya kemudian meletakkannya di atas meja.


Gabrielle dan Patricia langsung larut dalam urusan pekerjaan. Sementara Ares hanya berdiri sambil mengawasi jalannya kontrak bisnis antara dua perusahaan besar.


"Kalau ada yang tidak pas kau boleh menanyakannya padaku!" ucap Gabrielle setelah pembahasannya selesai.


Patricia memeriksa berkas itu dengan sangat teliti. Dia membaca dengan detail setiap poin yang tertera di dalamnya.


"Saya cukup puas dengan semua poin yang ada di sini, Tuan Muda. Jadi saya rasa tidak ada yang perlu saya tanyakan lagi pada anda" ucap Patricia sembari tersenyum manis.


"Baiklah kalau begitu. Aku tinggal menunggu hasilnya saja. Dan aku harap perusahaanmu tidak membuatku kecewa!".


"Saya jamin anda tidak akan menyesal telah bekerjasama dengan Young Grup. Dan terima kasih karena telah mempercayakan proyek ini pada kami!" sahut Patricia sambil mengulurkan tangan.


Wajah Patricia memerah saat uluran tangannya di abaikan oleh Gabrielle. Dia segera menarik tangannya kembali kemudian menyembunyikannya di bawah meja.


Tak lama kemudian pintu ruangan di ketuk. Ares segera membukakan pintu untuk pelayan yang membawakan makanan untuk mereka.


"Terima kasih!" ucap Patricia setelah pelayan selesai memindahkan makanan di atas meja.


"Apa kau suka makanan ini?" tanya Gabrielle sambil mengaduk-aduk minuman di gelasnya.


Patricia hampir tersedak saat Gabrielle bertanya seperti itu kepadanya. Sambil menahan rasa malu dia menjawab pertanyaan itu.


"Suka, Tuan Muda. Maaf, apa anda yang memesan semua makanan ini?".


"Ya. Semua ini aku pesan khusus untukmu" sahut Gabrielle tanpa menatap lawan bicaranya.


"Terima kasih banyak atas kehormatan ini, Tuan Muda. Saya merasa tersanjung!" ucap Patricia bangga.


Ekor mata Ares melirik kearah Patricia yang sedang tersipu malu. Dalam hatinya, dia sedang menertawai kebodohan wanita ini yang tidak sadar kalau dirinya baru saja masuk ke dalam perangkap Tuan Muda-nya.


"Santai saja. Oh ya, apa kau memiliki saudara lain di rumah?" tanya Gabrielle memulai penyelidikan.


Tangan Patricia terhenti di udara. Dia mengerjapkan mata sebentar kemudian menggeleng.


"Hanya aku satu-satunya putri di Keluarga Young, Tuan Muda. Itupun hanya putri angkat. Ayah dan ibuku tidak bisa memiliki keturunan" jawab Patricia jujur.

__ADS_1


Gabrielle menghela nafas. Sepertinya Patricia tidak seburuk yang dia pikirkan. Dia berani berkata jujur dan tidak malu mengakui kalau dia hanya seorang anak angkat.


"Kenapa Tuan Muda bertanya seperti itu? Apa anda sedang menyelidiki keluarga kami?" tanya Patricia dengan tatapan curiga.


"Tuan Muda kami terlalu sibuk untuk mengurusi hal-hal semacam itu, Nona Patricia. Tolong perhatikan kata-kata anda!" sela Ares sembari mengunyah makanannya.


Patricia tergagap mendapat peringatan seperti itu dari orang kepercayaan Gabrielle. Berhadapan dengan kedua orang besar ini ternyata cukup sulit. Biasanya orang lain lah yang akan terintimidasi dengan setiap pertanyaan yang di lontarkan oleh Patricia. Namun sekarang dialah yang mati kutu di tangan Ares.


"Maaf Tuan Ares kalau saya lancang. Saya hanya penasaran saja kenapa orang besar seperti Tuan Muda Gabrielle menanyakan hal pribadi seperti itu tentang keluarga saya. Saya tidak berada di posisi yang salah bukan jika menanyakan secara langsung apa maksud dari pertanyaan tersebut?" tanya Patricia.


'Kau cukup sulit di hadapi, Patricia. Tapi bukan Gabrielle namanya jika aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku mau!'.


"Rupanya kau orang yang cukup terbuka, Nona Patricia. Dan benar, kau tidak salah bertanya seperti itu kepadaku!" ucap Gabrielle datar.


Patricia tersenyum.


"Bicara secara langsung terasa jauh lebih baik daripada hanya berdiam diri, Tuan Muda. Meskipun terkadang keterbukaan itu bisa menimbulkan efek yang kurang mengenakkan. Saya minta maaf jika Tuan Muda merasa tersinggung dengan kata-kata saya barusan!".


"Tidak sama sekali. Aku justru malah merasa senang karena bisa mengenal wanita secerdas dirimu. Pilihan Tuan Bryan sangat tepat dengan mengirimkanmu kemari!".


Pipi Patricia merona. Dia seperti terbang ke atas awan mendapat pujian dari pria terkaya di negara ini.


"Terima kasih atas pujiannya, Tuan Muda".


Gabrielle mengangguk. Dia meraih ponselnya saat mendapat notif pesan dari sana.


"Maaf Nona, aku harus segera pergi. Ada urusan penting yang harus segera di selesaikan!" ucap Gabrielle sambil bangkit berdiri.


Ares pun mengikuti gerakan Tuan Muda-nya. Dia mengambil semua berkas di atas meja.


"Silahkan, Tuan Muda. Terima kasih untuk kerjasama dan, terima kasih juga untuk semua makanan ini" sahut Patricia kemudian ikut berdiri.


"Kalau begitu kami permisi, Nona" pamit Ares.


Patricia mengangguk. Dia membungkuk hormat saat kedua pria itu melangkah pergi dari sana. Sebuah senyum manis terukir di bibir Patricia saat teringat dengan beberapa pujian yang dia terima dari Gabrielle.


"Sepertinya Gabrielle tertarik padaku. Haruskah aku mulai mendekatinya?" gumam Patricia senang.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS......


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2