
Setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor, barulah Patricia pulang ke rumah. Ya, sudah dua hari ini dia tinggal bersama kedua orangtuanya. Patricia sudah tak lagi terbebani perasaan apapun lagi karena dia sudah memutuskan untuk membuka lembaran baru setelah melihat pernikahan Gleen dan Lusi. Patricia tiba-tiba saja beranggapan kalau Lusi yang hanya seorang pelayan saja bisa memiliki hidup yang begitu beruntung, yang artinya dia juga bisa memiliki keberuntungan yang sama. Meskipun sampai saat ini Patricia masih enggan untuk menjenguk Elea di kediamannya. Dia masih sungkan untuk bertatap muka dengan adiknya. Ya, adiknya. Dalam lubuk hati Patricia dia sebenarnya sudah bisa menerima kehadiran Elea, dia hanya belum siap untuk bertemu.
Sambil melangkah gontai Patricia berjalan masuk ke dalam rumah. Dia tersenyum saat salah satu pelayan menyambutnya.
"Nona Patricia, apakah Nona ingin makan malam sekarang atau ingin beristirahat terlebih dahulu?"
"Em, Ayah dan Ibu dimana?" tanya Patricia sembari mendudukkan bokongnya ke sofa. Sungguh lelah.
"Tuan dan Nyonya bilang ingin menghabiskan malam di luar. Mereka juga berpesan agar Nona tidak menunggu karena mereka akan menginap di hotel," jawab si pelayan.
Entah apa yang terjadi tiba-tiba saja ayah dan ibu Patricia menjadi sangat lengket. Keduanya terlihat seperti pasangan pengantin baru yang baru saja menikah. Patricia awalnya kaget, tapi lama-kelamaan dia ikut merasa bahagia karena sekarang ibunya sudah mendapat kebahagiaan yang selama ini di tunggunya. Menanti selama belasan tahun lamanya membuat Patricia sangat terharu melihat bagaimana ayahnya memperlakukan ibunya dengan penuh cinta. Memikirkan tentang kehangatan kedua orangtuanya membuat Patricia merasa iri. Ya, dia iri karena tak memiliki pria yang bisa mencintainya dengan tulus. Patricia tetap saja pada rasa yang dulu, yaitu kesepian.
"Bibi, bisa tolong masakkan nasi goreng kornet yang sangat pedas untukku tidak? Jangan lupa tambahkan saos sambal yang sangat banyak ya. Aku juga ingin puding coklat, kalau ada es kelapa muda juga boleh. Ah, aku juga ingin makan buah kiwi, tapi tolong di potong dengan bentuk kotak-kotak ya?" ujar Patricia sambil menelan ludah.
Bukannya menjawab, si pelayan malah terbengang kaget. Tidak biasanya nonanya makan makanan berat di malam hari.
"Bi, ada apa?"
"Ah, o-oh tidak N-Nona. Itu, apa benar Nona ingin memakan semua makanan yang tadi Nona sebutkan? Bukankah selama ini Nona sangat menjaga pola makan Nona ya?" tanya si pelayan keheranan.
Patricia terdiam. Benar juga, selama ini dia sangat anti memakan makanan manis di malam hari. Tapi entah kenapa malam ini dia begitu menginginkan makanan tersebut. Sampai-sampai air liur Patricia seperti akan menetes saat menyebutkan nama makanan tersebut.
"Tidak apa-apa Bi, tolong di siapkan saja. Malam ini hatiku sedang bahagia, jadi sedikit memakan makanan manis harusnya tidak menjadi masalah kan? Kalau Bibi khawatir aku menjadi gendut, mulai besok aku akan lebih giat berolahraga. Bagaimana? Sekarang tidak ada masalah lagi kan?" ucap Patricia menggoda si pelayan.
Si pelayan tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, Nona. Saya akan segera menyiapkannya."
__ADS_1
Patricia mengangguk. Dia lalu memilih untuk merebahkan diri di sofa sembari menunggu makanannya siap. Pekerjaan di kantor lumayan banyak. Hal itu membuat tenaga dan pikiran Patricia sedikit terkuras.
Pria gila itu sedang apa ya? Sudah beberapa hari ini aku tak lagi mendengar kabar tentangnya. Junio tidak mungkin mati di rumahnya kan?
Mata Patricia langsung terbuka lebar saat dia memikirkan Junio. Dia kaget karena tiba-tiba saja bisa terkenang dengan pria gila itu. Jujur, sejak Junio membawanya ke acara pemberkatan pernikahannya Gleen dan Lusi, pria itu mendadak hilang begitu saja. Dan Patricia sebenarnya tak mengambil pusing tentang hal itu, tapi barusan tiba-tiba saja nama Junio melintas di pikirannya.
"Ah sudahlah, untuk apa aku masih memikirkan seseorang yang sudah merusak harga diriku. Junio saat ini pasti sedang bersama wanita lain yang bisa memuaskan hasratnya. Mustahil dia memikirkan aku," gumam Patricia.
Patricia kembali memejamkan mata. Kali ini dia benar-benar terlelap, dia tak ingin lagi memikirkan sesuatu yang bisa membuat mentalnya kembali drop. Patricia mencoba untuk merelakan apa yang sudah terjadi karena di pikirpun semua itu tidak akan mungkin kembali. Mahkota Patricia sudah terlanjur hilang akibat karma yang dia dapat.
Entah berapa lama Patricia tertidur, dia baru terbangun saat mendengar panggilan pelayan. Sambil mengerjapkan mata Patricia mencoba untuk duduk. Dia lalu memekik kesenangan melihat semua makanan yang dia mau sudah tertata rapi di depannya.
"Waahhh, nasi gorengnya harum sekali, Bi."
"Hati-hati, Nona. Nasi gorengnya masih panas!" ucap si pelayan kaget melihat nonanya yang ingin langsung memakan nasi goreng yang masih mengepulkan asap.
"Penjaga sedang membeli kelapanya di luar, Nona. Stok di rumah kita sudah habis. Mohon tunggu sebentar,"
"Oh, ya sudah tidak apa-apa," sahut Patricia sambil mulai menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. "Hmmm, enak sekali. Bibi sudah makan?"
"Sudah, Nona."
Patricia mengangguk. Dia terus menikmati makanannya sambil sesekali memekik kesenangan. Ini adalah makanan terenak yang dia rasakan sepanjang hidupnya. Entahlah, padahal ini hanya nasi goreng kornet biasa, tapi rasanya benar-benar bisa membuat Patricia merasa sangat puas.
"Nona Patricia kenapa ya? Tingkahnya kenapa aneh sekali?" gumam salah satu pelayan keheranan.
"Iya. Lihat saja cara makannya, seperti orang yang berpuasa sepanjang tahun saja. Nona bahkan menikmati semua makanan secara bersamaan."
__ADS_1
"Apa jangan-jangan Nona Patricia hamil ya? Dia melakukan sesuatu yang tidak biasa dia lakukan. Nona kan selama ini sangat menjaga pola makannya. Tapi lihat sekarang, dia bahkan berani makan puding coklat malam-malam begini."
"Hussss, jangan sembarangan bicara. Nona Patricia itu tidak memiliki kekasih, bagaimana caranya dia bisa hamil jika tidak ada pria yang menidurinya. Jaga mulutmu baik-baik, jangan sampai kau menebar berita yang tidak jelas kebenarannya. Nanti jatuhnya bisa menjadi fitnah!"
"Iya-iya maaf. Aku hanya heran saja melihat sikap Nona Patricia yang tiba-tiba berubah!"
Rupanya bisik-bisik tetangga yang dilakukan oleh para pelayan terdengar di telinga Patricia. Dia tidak marah, tapi sangat syok. Patricia baru sadar ada yang salah dengan dirinya.
Tidak mungkin aku hamil anaknya Junio. Aku selalu meminum pil KB setiap kami berhubungan intim. Mustahil ada bayi di dalam perutku.
"Nona, Nona baik-baik saja?" tanya pelayan khawatir melihat wajah nonanya yang tiba-tiba memucat.
"Ak-aku baik-baik saja," jawab Patricia tergagap. "Em Bibi, aku sudah kenyang. Nanti tolong antarkan ke kamar saja kalau es kelapanya sudah ada. Aku ingin mandi dan istirahat dulu, badanku sangat lelah."
Setelah berkata seperti itu Patricia bergegas masuk ke dalam kamar. Dia ingin memastikan sesuatu yang bisa menjawab kekhawatirannya. Patricia sungguh tidak mau jika sampai harus mengandung anaknya Junio. Dia tidak ingin mempunyai anak dari seorang pria bajingan sepertinya.
"Tenang, Patricia. Apa yang terjadi padamu sekarang hanya kebetulan saja karena hatimu sedang bahagia melihat kebahagiaan Ayah dan Ibu. Kau tidak mungkin hamil, kau tidak hamil!" ucap Patricia dengan bibir gemetar saat melihat kalender.
πππππππππππππππππ
...π»VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...π»IG: rifani_nini...
...π»FB: Rifani...
__ADS_1