
Buliran-buliran keringat menetes deras di kening Elea sesaat sebelum dia membuka mata. Dia terlihat gelisah, seakan sedang menyaksikan sesuatu yang begitu mengerikan.
Levi yang kebetulan saat itu sedang berada di samping ranjang terkejut melihat perubahan di diri Elea. Dengan cepat dia menekan tombol khusus untuk memanggil Gabrielle dan Reinhard yang sedang membicarakan hal penting di ruangan lain.
"Elea, kau kenapa sayang? Sadar Elea, sadar" ucap Levi panik seraya mengguncang lengan teman kecilnya. "Ya Tuhan, ini ada apalagi. Elea, tolong sadarlah, jangan membuatku takut!.'
Karena tubuhnya terus mendapat guncangan, perlahan-lahan mata Elea terbuka. Dia mengerjap, lalu menatap kosong kearah langit-langit ruangan. " Izel, dia terbakar!."
"Apaaa..!" pekik Levi terkejut mendengar gumaman lirih tersebut. "Kenapa kau bicara seperti itu, Elea? Dan kenapa juga Grizelle harus terbakar?."
Tak ada jawaban. Elea hanya diam saja dengan wajah yang mulai pucat ketakutan. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Masuklah Gabrielle dan Reinhard dengan nafas yang terengah-engah. Sepertinya mereka berlari dengan kekuatan penuh agar bisa segera sampai di ruangan ini.
"Levi ada ap.... Sayang, kau sudah bangun?" tanya Gabrielle kemudian menghambur kearah ranjang. "Elea, hei, kau lihat apa, hem? Kenapa wajahmu pucat begini?."
Levi menepuk pelan bahu Gabrielle. "Dia bilang saudara kembarmu terbakar. Aku tidak tahu kenapa Elea bicara seperti itu!."
Sementara Reinhard, dia sigap memeriksa Elea yang masih berada dalam kondisi terikat. Dia cukup kaget mendapati tubuh Elea yang sudah baik-baik saja setelah Gabrielle memintanya untuk menyuntikkan obat. Karena merasa sudah cukup aman, Reinhard akhirnya membuka tali-tali yang membelit tangan dan kaki Elea. Tak lupa juga dia mengoleskan salep agar bekas ikatan tersebut tidak membekas di tubuhnya.
"Bagaimana?" tanya Gabrielle memastikan.
"Obat yang kau berikan sangat mujarab, Gab. Dan tubuh istrimu merespon dengan sangat baik, sekarang dia sudah baik-baik saja" jawab Reinhard.
Gabrielle menarik nafas lega. Racikan anak buah ibunya benar-benar tiada tanding. Dengan lembut Gabrielle membelai wajah pucat istrinya yang masih terdiam dengan tatapan kosong. "Sayang..."
Indra pendengaran Elea merespon cepat saat dia mendengar panggilan lembut dari seseorang yang beberapa bulan ini menjadi tempatnya berlindung. Dia menoleh, menatap datar kearah suaminya yang terlihat sedih.
"Kak Iel, Izel...
"Ssssttttt, jangan bahas apapun dulu" ucap Gabrielle memotong perkataan Elea. "Sekarang katakan padaku di bagian mana yang terasa tidak nyaman!."
Elea menggeleng. "Aku ingin bertemu Ayah. Aku rindu dia."
"Iya, tapi nanti ya. Sekarang kau harus istirahat dulu untuk memulihkan tenaga. Ayah pasti sedih kalau melihatmu seperti ini."
Reinhard segera berbisik di samping telinga Gabrielle untuk memberitahukan sesuatu. "Tuan Karim dan Nyonya Yura saat ini berada di dalam kamar ayah mertuamu. Aku tidak sengaja melihatnya saat kita sedang berlari kemari!."
Gabrielle mengangguk samar. Dia lalu tersenyum kearah istrinya yang sejak tadi terus menatapnya. "Kenapa menatapku seperti itu, hem? Merindukan suamimu?."
__ADS_1
Elea langsung mengangguk. Dia benar-benar membutuhkan sandarannya saat ini karena ada banyak hal yang dia lihat saat berada dalam alam mimpi. Tapi untung saja pikiran Elea masih bisa terkendali dengan tidak mengatakan semua itu di hadapan Levi dan juga dokter Reinhard.
"Iyuuuhh.... Kalian berdua membuatku ingin muntah" sindir Levi jengah.
"Kenapa Kakak ingin muntah? Kak Levi hamil ya?" celetuk Elea.
Mata Levi melotot. Dalam keadaan seperti ini pun teman kecilnya masih sanggup membuat darahnya naik ke ubun-ubun. Sungguh keahlian yang tak tertandingi.
"Oh ya Kak Levi, aku ingin bertanya sesuatu padamu" ucap Elea. "Ini tentang kenapa aku belum juga hamil meksipun sudah beberapa bulan menikah. Kakak tahu tidak kenapa bisa begitu?."
Gabrielle, Reinhard dan Levi saling melirik begitu mendengar pertanyaan Elea. Mereka bertiga sama-sama bingung harus menjawab bagaimana. Jujur tidak mungkin, tidak jujur pun mereka sedikit sulit untuk menjelaskannya. Alhasil, ketiganya hanya diam mengabaikan pertanyaan gadis kecil yang kini menatap mereka dengan penuh keheranan.
"Kenapa kalian malah terlihat seperti pencuri sih? Kak Levi aku sedang bertanya padamu, kenapa diam saja!" desak Elea mulai menyadari ada yang tidak beres dengan dirinya.
"Tanyakan saja pada suamimu, Elea. Dia yang memiliki alat reproduksi" sahut Levi asal.
"Aku juga punya kok. Kalau hanya milik Kak Iel saja tidak akan mungkin jadi bayi" celetuk Elea ngotot.
"Pffftttt, hahahhahaaa....." Reinhard terbahak mendengar celetukan Elea. Bisa-bisanya gadis ini berkata hal sevulgar itu dengan mimik wajah yang terlihat biasa saja. Sungguh, istri sahabatnya ini sangat ajaib.
"Gabrielle, sepertinya aku akan kembali ke kamarku saja. Otak istrimu yang bodoh itu sudah kembali normal seperti biasa" ucap Levi seraya mendesah panjang.
"Benar kan Kak Iel, kita tidak bisa membuat anak kalau hanya ada satu alat reproduksi saja. Harus ada dua baru bisa lulus seleksi" tanya Elea serius.
"Iya sayang, kau benar sekali. Maklumi saja, dia kan belum menikah. Jadi dia tidak tahu bagaimana cara membuat anak dengan baik" jawab Gabrielle sengaja menyindir wanita bar-bar di sebelahnya.
"Yaakkkkk mulutmu Gabrielle. Bisa tidak jangan ikut gila seperti istrimu!" hardik Levi kesal. "Dan kau Elea, kau itu masih kecil. Berhenti bicara vulgar seperti ini di hadapan orang dewasa!."
"Tapi Kak Levi, biarpun aku masih kecil aku itu sudah menikah. Suamiku sangat tampan dan kaya raya. Bukankah Kak Levi juga senang memeras kekayaan suamiku ya? Pelakor maksudnya!."
Setelah berkata seperti itu Elea mendapat sebuah cubitan kecil di lengannya. Dia meringis sambil mengelus bekas cubitan itu saat Levi memandangnya kesal.
"Sakit tidak?" tanya Levi ketus bercampur tak tega.
"Sakit Kak. Kau mencubit kulitku seperti seekor kepiting yang bertemu musuh. Sakiiitt sekali" jawab Elea berseloroh.
"Hilih, alasan saja kau!."
__ADS_1
Gabrielle dan Reinhard hanya diam memperhatikan dua wanita yang sifatnya sangat bertolak belakang ini. Mereka berdua begitu menyukai cara Levi dan Elea berteman. Levi dengan kata-kata jahatnya, sementara Elea dengan celetukannya yang selalu berhasil membuat orang lain darah tinggi. Namun keduanya sama-sama saling menyayangi layaknya saudara kandung. Bahkan hubungan mereka terjalin dengan sangat kuat meskipun tidak ada ikatan darah di antara mereka.
"Kak Levi, jika suatu hari nanti terjadi hal buruk padaku, kau akan datang menolongku tidak?" tanya Elea lirih saat sebuah bayangan mengerikan melintas di bola matanya.
Kening Levi mengerut. Dia lalu menatap waspada kearah Elea. "Jangan bicara sembarangan kau Elea. Ingat, ucapan sama artinya dengan do'a. Jadi mulutmu jangan asal menguap saja!."
"Aku tidak sembarangan menguap kok Kak. Semua yang aku katakan itu adalah fakta" sahut Elea mencoba mengatakan kalau semua itu adalah takdir yang akan segera terjadi di dalam hidupnya.
"Fakta kepalamu!" omel Levi galau. "Rein, setelah ini lebih baik kau periksa otaknya Elea. Sepertinya ada kabel yang rusak di dalam kepalanya setelah pingsan tadi."
"Kak Iel..." rajuk Elea mencari pertolongan.
Tangan Gabrielle terulur mengusap pipi istrinya. Dia tersenyum, senyum yang bisa meyakinkan istrinya kalau semua akan baik-baik saja. "Tenanglah, apapun yang terjadi aku tidak akan membiarkanmu terluka. Cukup sekali aku lalai menjagamu, sayang. Setelah ini tidak akan ada lagi kebodohan seperti itu. Aku janji!."
"Apa itu artinya Kak Iel akan segera datang untuk menyelamatkan aku nanti?" tanya Elea berbinar.
"Tentu saja. Dan setelah semua masalah ini beres, kita berempat akan pergi berlibur ke semua tempat yang kau inginkan. Jadi kau tidak perlu merasa takut lagi, oke? Kita hadapi bajingan itu bersama-sama" jawab Gabrielle.
Elea segera mengangguk dengan cepat. Dia menggenggam tangan suaminya yang masih bertengger di pipi. "Aku lega karena perisaiku ada bersamaku!."
"Hei, kalian berdua itu sedang bicara apa sih?" sela Levi dan Reinhard bersamaan.
"Hanya orang yang sudah menikah yang boleh mengetahuinya" sahut Gabrielle dengan kejam.
"Sialan kau!" umpat Levi jengkel.
Setelah itu ketiganya kembali mengobrol. Semua merasa lega karena sekarang Elea sudah baik-baik saja dan bisa tertawa lepas. Hanya saja, setelah tawa hari ini akan ada kejadian yang membuat sikap beberapa orang berubah drastis.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1
...🌻 WA: 0857-5844-6308...