
Senyum Patricia langsung mengembang saat dia melihat kerumunan wartawan di depan pintu masuk gedung tempat resepsi pernikahan putri dari Keluarga Ma di gelar. Itu menandakan jika di sana pria yang sedari tadi di tunggunya sudah tiba. Patricia kemudian segera merapihkan penampilannya sebelum mendatangi kerumunan tersebut. Hingga akhirnya...
"Permisi Tuan Muda Gabrielle, siapa gadis yang datang bersama anda? Apakah dia rekan anda atau ada hubungan spesial di antara kalian berdua?."
"Selamat malam, Nona. Bisa tolong berikan sedikit wawancara pada kami semua..."
"Nona, anda sangat cantik. Boleh kami tahu dari keluarga mana Nona berasal?."
Darah Patricia bagai mendidih begitu dia melihat gadis yang sedang di carinya berada tepat di sebelah pria yang di sukainya. Patricia tidak menyangka kalau gadis sialan itu akan datang bersama Gabrielle, bahkan mereka terlihat begitu mesra. Dengan wajah memerah menahan emosi, Patricia segera menyingkir dari kerumunan tersebut. Dia memilih untuk kembali bergabung bersama dengan kedua orangtuanya.
'Sial, bagaimana bisa j*lang itu muncul di tempat ini? Apa yang akan terjadi jika Ayah tahu kalau Eleanor ada di dalam gedung yang sama dengannya? Mungkinkah di sini akan terjadi drama pertemuan anak dan orangtua yang sudah sembilan belas tahun terpisah?.'
Gelisah, Patricia merebut segelas wine yang sedang di bawa oleh pelayan. Dia menghabiskan minuman berwarna pekat tersebut dalam sekali teguk. Patricia kemudian menoleh saat merasakan sebuah elusan pelan di bahunya.
"Cia, kau kenapa? Wajahmu merah sekali?" tanya Yura heran.
"J*lang itu ada di sini, Bu. Dia datang bersama Gabrielle. Lihatlah ke pintu masuk, para wartawan sedang heboh menyorotinya" jawab Patricia kesal sembari menunjuk kearah pintu.
Yura menatap kearah yang di tunjuk oleh putrinya. Seketika tubuhnya menengang, tidak percaya dengan kehadiran seorang gadis cantik yang wajahnya sama persis dengan mendiang istri pertama suaminya. Dalam kekagetannya, Yura segera mencari-cari keberadaan Bryan yang tadi sedang berbincang dengan mitra bisnisnya. Dia ingin memberitahu jika putri mereka ada di gedung ini. Namun niat itu harus terhenti saat Patricia menahan tangannya.
"Cia, kenapa menahan tangan Ibu Nak?."
"Jangan beritahukan hal ini pada Ayah, Bu. Aku tidak mau di permalukan di depan umum jika mereka harus bertemu sekarang" jawab Patricia khawatir. "Tolong kali ini turuti kata-kataku, Bu. Aku mohon!."
Lagi. Yura lagi-lagi berada di dalam kebimbangan. Ini adalah kabar yang sangat membahagiakan untuk suaminya, tapi ini juga adalah kabar yang bisa menyakiti hati putrinya. Karena terlalu lama menimang, Yura tidak menyadari kalau saat ini Gabrielle dan Eleanor telah berpindah menuju pelaminan dimana sang pengantin berada.
"Izel, selamat ya. Kau hari ini menikah untuk yang kedua kali" ucap Elea memberi selamat pada adik iparnya. "Dan, Tuan Drax..
__ADS_1
"Panggil Drax saja, kakak ipar" sahut Drax siap-siap senam mental saat menghadapi istri dari kakak iparnya..
"Apa tidak apa-apa?" sahut Elea ragu. "Wajahmu terlihat tua, aku jadi merasa tidak enak jika hanya memanggil nama."
Benar kan apa yang di takutkan oleh Drax. Saat mempelai pria tengah menahan nafas karena mendapat sindiran menohok dari kakak iparnya, Gabrielle dan Grizelle berusaha untuk tidak tertawa melihat bagaimana gadis kecil ini membungkam mulut seorang mafia. Sementara Greg dan Liona, mereka hanya bisa menghela nafas panjang melihat interaksi ganjil yang sedang terjadi di antara kedua menantunya.
Saat di atas pelaminan Elea sedang membekukan peredaran darahnya Drax, di bagian lain Bryan tengah menatap putrinya dengan penuh bangga. Orangtua mana yang tidak bahagia jika putri kesayangannya bisa menjadi bagian dari keluarga paling berpengaruh di negara ini. Sayangnya status Eleanor sebagai pewaris tunggal dari Keluarga Young masih belum boleh di publikasikan. Padahal Bryan sudah tidak sabar ingin segera memberitahu semua orang jika gadis cantik bertubuh mungil yang berada di sisi pewaris Group Ma adalah putrinya bersama Sandara, Eleanor Young. Tapi demi kebahagiaan anak dan menantunya, Bryan akan menahan keinginannya itu. Biarlah semua itu dia serahkan pada waktu, Bryan yakin di suatu saat nanti dunia akan tahu kalau menantu pertama di Keluarga Ma adalah benar putrinya.
Puukkk
Bryan yang sedikit melamun tersentak kaget saat ada seseorang yang menepuk pundaknya. Dia kemudian segera berbalik badan menoleh kearah orang tersebut.
"Kau rupanya. Ada apa?" tanya Bryan sembari menatap dalam kearah istrinya yang entah kenapa terlihat seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"Itu Bryan, apa kita masih lama berada di sini?" tanya Yura hati-hati, takut suaminya curiga. "Patricia mendadak tidak enak badan, dia mengajak kita untuk pulang terlebih dahulu."
"Kita baru saja datang beberapa saat yang lalu, Yura. Dan kita juga belum menyapa tuan rumah. Apa kata Tuan Greg dan Nyonya Liona jika kita meninggalkan pesta secepat ini. Aku khawatir mereka akan tersinggung" jawab Bryan memberi pengertian.
"Yura, ada apa? Kau terlihat gelisah, apa ada sesuatu yang terjadi?" selidik Bryan mulai curiga. Bryan bukannya bodoh, dia tahu kalau anak dan istrinya sudah melihat keberadaan Eleanor sejak di pintu masuk. Tapi Bryan tidak menyangka kalau istrinya akan menunjukkan reaksi seperti ini, seolah tak sudi bertemu dengan putrinya.
"A, ti,tidak Bryan. Aku, aku hanya mencemaskan Patricia saja" jawab Yura gugup.
Satu tangan Bryan terulur mengusap bahu istrinya, dia berusaha untuk membuatnya tetap tenang. "Yura, apa kau tidak suka melihat putri sambungmu? Aku tahu kau dan Patricia merasa tidak nyaman karena kehadiran Eleanor di sini, benar kan?."
Tubuh Yura seketika kaku. Dia memang terkejut, tapi sama sekali tidak merasa terganggu dengan kemunculan anak sambungnya. Yura justru malah senang karena suaminya akan segera bertemu dengan putri yang sedang di carinya. Tapi masalahnya, di sini Patricia menolak untuk hal itu. Putrinya tidak ingin suaminya mengetahui keberadaan Eleanor di tempat ini.
"Bryan, jadi kau sudah tahu kalau Eleanor ada di sini?."
__ADS_1
"Ya, sejujurnya aku sudah lama mengetahui keberadaan Eleanor. Hanya saja aku masih menyembunyikan hal ini dari kalian semua. Aku ingin memberikan kejutan, dan malam ini adalah waktu yang ku maksud" jawab Bryan kemudian melihat kearah pelaminan dimana putrinya sedang bercanda dengan keluarga Gabrielle. "Yura, dia sangat cantik bukan?."
Tanpa sadar Yura tersenyum kemudian menganggukkan kepala. Dia ikut tersihir dengan pesona yang di tebarkan oleh gadis itu. Untuk sesaat Yura lupa akan kesakitan Patricia, dia tidak lagi peduli tentang putrinya saat Bryan mengajaknya untuk menemui gadis kecil yang akan segera menjadi anak sambungnya.
"Brengsek! Jadi selama ini Ayah sudah mengetahui keberadaan gadis sialan itu?" umpat Patricia yang memang sengaja menguping pembicaraan kedua orangtuanya. "Pantas saja aku kesulitan melacak keberadaannya, rupanya j*lang itu bersembunyi di balik punggung Ayah dan Keluarga Ma. Dasar murahan!."
Mata Patricia merah menyala menyaksikan bagaimana ibunya begitu bahagia memeluk seorang gadis yang jelas-jelas adalah saingannya. Hatinya sakit, tentu saja. Siapa yang rela berbagi kasih seorang ibu dengan orang lain yang harus Patricia akui jauh lebih sempurna darinya. Namun mau tidak mau Patricia harus menelan pil pahit tersebut. Ayah dan ibunya begitu gembira menyambut kedatangan parasit yang akan segera menggeser posisinya. Yang mana hal itu membuat kebencian Patricia semakin besar terhadap Eleanor.
"Sekarang bersenang-senang lah dulu di atas penderitaanku, abaikan saja aku sesuka hati kalian. Tapi lihat dan saksikan bagaimana nanti aku akan melenyapkan gadis yang berada di pelukan kalian saat ini. Akan kubuat kalian menangis darah karena sudah berani mengabaikan perasaanku. Aku bersumpah untuk itu, Han-Yura Foster, Bryan Young!."
Tak ingin lagi menyaksikan pertemuan menjijikkan itu, dengan langkah lebar Patricia pergi meninggalkan gedung. Dia begitu marah, sampai tidak menyadari jika gelagatnya sejak tadi sudah ada yang mengawasi.
"Tuan Ares, apa saya perlu mengerjai wanita itu?" tanya Lusi yang entah kapan menjadi dekat dengan Ares, asisten Tuan Muda-nya yang terkenal galak.
"Tidak usah. Kau cukup berdiri bersamaku untuk mengawasi Nyonya dari sini" jawab Ares datar. "Ingat, kau sedang menjalankan tugas penting di sini. Jika berhasil, maka Tuan Muda akan memberimu hadiah yang sangat besar!."
Belum sempat Lusi menjawab, mereka berdua sudah di serbu oleh para wartawan. Para wartawan itu sangat penasaran tentang identitas wanita yang datang bersama pewaris dari Group Ma tadi.
"Silahkan kalian mengambil gambar sebanyak yang kalian mau. Tapi ingat, Tuan Muda tidak ingin foto gadisnya terpajang polos di media. Sebisa mungkin kalian harus menutupi wajahnya. Bagi siapa yang melanggar, bersiaplah menjadi gelandang dan di deportasi dari negara ini. Apa kalian mengerti!" gertak Ares setelah menjawab beberapa pertanyaan dari si pemburu berita.
"Baik Tuan Ares. Terima kasih untuk informasinya, kami permisi!."
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...