
Di kediaman Liona, seorang pria nampak tengah terbaring di rerumputan dengan di temani seekor harimau besar di sampingnya. Tubuh pria itu penuh luka, baju yang di pakainya pun terlihat koyak sana-sini seperti seorang gelandang. Jackson, pria naas itu hanya diam menatap langit. Otaknya kosong, dia bahkan abai akan semua luka yang memenuhi hampir di sekujur tubuhnya. Jackson lelah, benar-benar sangat lelah menghadapi siksaan yang tiada habisnya dari Keluarga Ma. Sebanyak apapun dia berteriak meminta agar di bunuh, telinga semua orang yang tinggal di rumah ini seakan tuli. Mereka kadang membalasnya hanya dengan cibiran dan juga umpatan, tak jarang mereka malah menghajarnya hingga babak belur. Sungguh, Jackson benar-benar sangat menyesal pernah mencari masalah dengan keluarga ini. Dia bodoh karena sudah mengabaikan peringatan Fendry yang selalu mengatakan kalau Keluarga Ma adalah keluarga yang sangat berbahaya. Jackson merasa dirinya mampu menghadapi keluarga ini dengan statusnya yang sebagai pembunuh bayaran, juga karena dia memiliki koneksi orang-orang dari kepemerintahan. Tapi nyatanya, tidak ada seorang pun yang datang untuk menolongnya saat dia berhasil mengambil ponsel salah satu penjaga yang ada di rumah ini. Semua janji-janji yang di katakan oleh para tikus negara itu tidak ada yang terbukti sekali Jackson menyebutkan nama orang yang menyekapnya. Mereka seakan acuh, atau malah mereka sebenarnya tak berani untuk datang ke rumah ini. Entahlah, Jackson tak tahu.
"Apa ini adalah karma atas apa yang sudah aku lakukan pada para korbanku?" ucap Jackson mengenang semua dosa yang pernah dia lakukan.
"Tapi bukan aku yang menginginkan kematian mereka. Aku hanya sebagai alat perantara saja, dan kenapa hanya aku yang mendapat balasannya? Kenapa orang-orang yang memintaku membunuh orang masih bisa hidup dengan tenang di luaran sana? Kenapa hanya aku!! Kenapa hanya aku yang harus menjalani penyiksaan sekejam ini! Kenapa hah, kenapa!!!."
"Karena mereka tahu dimana batasan mereka untuk tidak mengusik keluargaku. Sedangkan kau, kau bahkan dengan sengaja menyakiti menantuku. Membuatnya ketakutan, juga menyakitinya secara fisik maupun mental. Itulah alasan kenapa kau bisa berada di neraka ini, Jackson!."
Tak perlu Jackson melihat kearah orang yang baru saja bicara dia sudah tahu siapa orang tersebut. Liona Serra Zhu, Jackson benar-benar tak percaya dirinya akan di kalahkan oleh wanita yang sudah tak lagi muda ini. Dia kalah, bahkan sebelum sempat memiliki gadis kecilnya.
"Oh ya Jackson, Gabrielle dan Elea saat ini sedang dalam perjalanan kembali dari Paris. Aku tahu kau sudah sangat bosan berada di sini, jadi aku akan menyerahkanmu pada mereka nanti. Tapi..... Aku tidak berani menjamin kalau kau akan selamat dari Elea" ucap Liona penuh maksud.
Bingung, Jackson segera duduk kemudian menatap wanita yang sedang berdiri dengan wajah datarnya. Jangan lupakan juga Greg Ma, meski tak pernah bicara padanya pria itu entah kenapa berhasil membuat Jackson selalu merasa terintimidasi. Seakan dirinya tak di izinkan untuk menatap Nyonya Liona dalam waktu yang cukup lama.
"Apa maksud anda, Nyonya?."
"Menurutmu?" ucap Liona. "Kau bayangkan saja. Saat Elea berusia dua belas tahun kau sudah menorehkan trauma yang sangat buruk di pikirannya. Kau melecehkannya, juga menganiaya fisiknya, bahkan kau juga kembali melakukan kekerasan padanya beberapa waktu lalu. Tidakkah menurutmu kenangan-kenangan buruk itu cukup membangkitkan seorang monster jahat di diri Elea? Jackson, mungkin kau sudah terbiasa membunuh para korbanmu. Tapi itu tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan amarah seseorang yang sejak kecil hidup dalam kesakitan. Kau,,, akan mati di tangan Elea..!."
Glukkkkk
Jackson mendadak di dera rasa takut yang amat luar biasa setelah mendengar ucapan Nyonya Liona. Bahkan amukan harimau yang selalu menemani hari-harinya tak sampai membuat tubuhnya bergetar seperti ini.
"Apa kau takut?" tanya Liona.
"Ny,Nyonya..... Bisakah kau membunuhku sekarang saja? Aku, aku tidak mau mati di tangan Elea" jawab Jackson dengan suara bergetar.
"Kenapa? Elea itu hanya gadis kecil yang tidak memiliki kekuatan apapun, jadi apa yang harus kau takutkan darinya?" cibir Liona sembari menampilkan sebuah smirk jahat di sudut bibirnya.
__ADS_1
Bola mata Jackson bergerak gelisah. Dia adalah seorang pembunuh bayaran yang sangat dingin, tapi dia tentu saja tidak mau mati di tangan seorang psikopat. Seorang psikopat memiliki gaya membunuh jauh lebih sadis dari apa yang pernah dia lakukan. Dan Jackson tidak mau itu, dia tidak mau merasakan nyawanya di renggut dengan sangat perlahan oleh Elea. Dia lebih memilih mati di tembak daripada harus menjadi kelinci percobaan. Dia tidak mau.
"Nyonya, aku mohon tolong bunuh aku sekarang juga. Aku, aku tidak mau mati di tangan psikopat, aku tidak mau!."
Greg dan Liona hanya tersenyum sinis melihat tawanan mereka berteriak histeris. Tak mengindahkan permintaan Jackson yang menginginkan kematiannya, mereka berdua memilih untuk segera pergi dari sana. Tak lupa juga Liona memerintah Hansen untuk mengurung Jackson di kandang Lan dan memberinya makanan bergizi seperti biasa.
"Honey, apa kau yakin menantu kita mampu untuk menghilangkan nyawa Jackson?" tanya Greg setelah mereka sampai di dalam rumah.
"Tidak!" jawab Liona singkat.
"Lalu apa maksud ucapanmu tadi?."
Liona menghela nafas dalam. "Greg, Elea mungkin tidak memiliki keberanian untuk menghilangkan nyawa orang lain, tapi aku yakin mulutnya pasti akan mengeluarkan sesuatu yang cukup mengerikan. Aku sengaja menakut-nakuti Jackson supaya dia semakin tersiksa, aku ingin dia menjadi gila bahkan sebelum Gabrielle dan Elea sampai ke rumah ini!."
Greg diam mencerna ucapan istrinya. Dia kemudian menyeringai setelah tahu tujuan istrinya melakukan hal ini pada Jackson.
"Ya, tepat sekali Greg. Aku ingin dia benar-benar merasa sangat tersiksa setiap kali teringat dengan nama Elea. Dan aku rasa hal ini cukup adil untuk membalas tujuh tahun penderitaan menantu kita akibat perbuatannya. Ya meskipun waktunya cukup singkat, tapi aku yakin mulai hari ini Jackson tidak akan bisa tenang. Dia pasti akan selalu merasa was-was, khawatir kalau Elea akan datang menghampirinya!" jawab Liona lagi.
"Baguslah. Tapi aku rasa tanpa di bunuh pun Jackson akan mati dengan sendirinya. Bukankah mental yang sakit adalah sesuatu yang bisa menelan kehidupan seseorang, Hon? Seandainya saja kita memberinya celah, aku yakin sekali dia pasti akan langsung bunuh diri. Benar tidak?."
Liona mengangguk. Tak lama kemudian salah seorang anak buahnya datang. Dia melaporkan sesuatu yang membuat keduanya tertawa lucu.
"Permisi Tuan dan Nyonya Besar, Jackson berusaha mencelakai dirinya sendiri dengan membenturkan kepala ke dinding kandang. Dia juga menolak untuk menghabiskan makanan yang sudah kami siapkan!."
"Ekhm, kalian patahkan saja salah satu tangannya supaya dia tidak bisa macam-macam lagi. Dan setelah itu suapi dia, aku tidak mau menantuku kecewa jika melihatnya kurus kering. Bisa-bisa kami di anggap sebagai mertua yang pelit karena tak mau memberi makanan pada bajingan itu!" ucap Greg sembari mendekap pinggang ramping istrinya.
"Baik, Tuan Besar. Apakah masih ada perintah lain?."
__ADS_1
"Ada" jawab Liona. "Minta Hansen untuk menanamkan chip ini ke tubuh Jackson. Lalu setelahnya biarkan dia berjalan-jalan di luar rumah. Biarkan dia menikmati kebebasannya sebelum kematian datang menjemput!."
"Tapi Nyonya, bagaimana kalau dia kabur?."
"Tenang saja, dia tidak akan pernah bisa melarikan diri dari rumah ini. Karena di dalam chip ini...." jawab Liona sembari memperlihatkan sebuah benda kecil di tangannya. "Ada sensor yang tersambung langsung ke otaknya. Jackson tidak akan pernah berani bertatap muka dengan orang luar karena di matanya, orang-orang itu memiliki wajah yang sama persis dengan Elea. Dan tempat bersembunyi yang paling aman adalah di kandangnya Lan. Jadi kau tidak perlu takut, kalian bahkan tidak harus mengikutinya. Biarkan saja, nantinya dia akan pulang sendiri ke rumah ini!."
"Baiklah kalau begitu, Nyonya" jawab si penjaga kemudian mengambil benda mengerikan itu dari tangan Nyonya-nya. "Saya permisi Tuan dan Nyonya Besar!."
Greg dan Liona mengangguk. Setelah penjaga itu pergi, Greg menatap istrinya penuh kagum. Wanita cantik ini selalu saja membuatnya kaget dengan temuan-temuannya yang sangat mengagumkan.
"Honey, kenapa kau bisa secerdas ini, hem?."
Liona tersenyum.
"Karena aku adalah Nyonya Ma."
"Benar sekali. Kau adalah Nyonya dari segala Nyonya yang menguasai hati seorang Greg Ma!."
Setelah itu keduanya bercumbu. Meski tak muda lagi, kemesraan di antara keduanya tak lekang oleh waktu. Apalagi Greg, pria itu bahkan masih mempertahankan posisinya sebagai pria pencemburu akut yang kadang-kadang membuat istrinya menggelengkan kepala. Kendati demikian, Liona begitu amat mencintai suaminya. Pria yang dulu dengan tidak tahu malunya datang menyatakan diri sebagai pemiliknya.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...