Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Boneka Chuki


__ADS_3

Mata Jackson berkilat marah saat dia melihat seorang wanita cantik tengah berbincang dengan seorang pria di halaman hotel tempat berlangsungnya resepsi pernikahan Gleen dan Lusi. Dia kemudian bergegas keluar dari dalam mobil lalu membanting pintunya dengan sangat kuat.


Brraaaakkk


"Astaga, orang gila mana yang membanting pintu mobil dengan begitu kuat?!" pekik Kayo kaget sambil mengelus dada.


"Orang gila itu aku!"


Kayo segera berbalik ke arah suara yang berasal dari belakang tubuhnya. Dia lalu mengerutkan kening melihat tampilan wajah Jackson yang terlihat seperti boneka chuki. Sangat mengerikan.


"Kau kenapa, Jack? Kesurupan?"


"Siapa bajingan itu?" sahut Jackson balik bertanya.


Mata tajam Jackson seperti mengeluarkan magma panas saat matanya beradu pandang dengan mata pria yang sedang menggoda calon istrinya. Seketika jiwa Jack-Gal yang sudah lama tenang kini kembali mencuat. Ingin rasanya Jackson memenggal kepala pria ini sekarang juga.


"Dia?" ucap Kayo sembari menunjuk dada pria yang tadi berbincang dengannya.


Sudut bibir Kayo berkedut melihat Jackson yang langsung mengangguk dengan cepat. Pria ini sedang cemburu, dan itu terlihat sangat manis di mata Kayo. Jackson yang tadinya dingin seperti beruang kutub tiba-tiba saja berubah menjadi boneka chuky hanya gara-gara melihatnya berbincang dengan pria lain. Sungguh, kejadian ini sangat menggelitik hati.


"Siapa dia?" desak Jackson tak sabar.


"Jadi kau cemburu gara-gara aku mengobrol dengannya?"


"Jangan mengalihkan pertanyaan. Sekarang jawab dia siapa!"


"Hei Bung, jangan kasar pada wanita!"


Kayo dengan cepat menahan tubuh Jackson yang ingin menyerang. Dia kemudian memeluknya sambil menengadahkan wajah.


"Dia itu sepupuku, Jack. Memangnya kau tidak tahu dia siapa?" tanya Kayo sambil menahan tawa.


"Sepupu darimana hah! Kau jangan coba-coba membohongiku ya!" sentak Jackson emosi.


Darius yang melihat sepupunya dimarahi oleh mantan penjahat itupun merasa tak terima. Dia kemudian berniat untuk memberi pelajaran pada pria tersebut.


"Kau pulang saja, Darius!" ucap Kayo.


"Tapi Kay, pria ini....


"Tenang saja, dia tidak akan berani menyakitiku. Lagipula apa kau tidak tahu kalau Ibu dan Bibi Liona sudah menjodohkan aku dengannya? Pulanglah, aku aman bersamanya."


Jackson dan Darius saling memperlihatkan tatapan sengit meski keduanya sudah sama-sama tahu tentang identitas masing-masing. Kayo yang melihat hal itupun tak kuasa untuk tidak tertawa. Dia membenamkan wajahnya ke dada Jackson sambil terus berusaha agar tidak mengeluarkan suara.


"Awas saja kalau sepupuku sampai lecet!" gertak Darius sebelum melangkah pergi menuju mobil miliknya.


Kayo tersentak kaget saat tangannya tiba-tiba ditarik dengan kuat. Langkahnya sedikit terseok ketika Jackson membawanya menuju mobil.


"Jangan kasar, Jack!" seru Kayo sambil menahan pintu mobil yang hendak dibuka.


"Masuk!"

__ADS_1


"Oke. Tapi asal kau tahu, aku sangat benci dengan pria-pria yang mudah bersikap kasar pada wanita!"


Kayo kemudian bergegas masuk ke dalam mobil sambil memegangi pergelangan tangannya yang sudah memerah. Dia lalu membuang muka ke arah luar saat Jackson masuk menyusulnya.


Bukannya membujuk, Jackson dengan marah menyalakan mesin mobilnya kemudian berlalu dari halaman hotel. Entah pria tadi benar sepupu Kayo atau bukan, yang jelas dada Jackson seperti terbakar api. Dia sungguh sangat marah ketika ada pria lain yang berdekatan dengan calon istrinya.


Kau milikku, Kay. Aku tidak akan mengizinkanmu berdekatan dengan pria lain meski itu adalah sepupumu sendiri.


Kayo yang terus melihat ke arah luar nampak mengeratkan rahang ketika mobil bergerak bukan menuju rumah bibinya. Ingin bertanya, tapi dia gengsi. Kayo kemudian memilih untuk tetap diam membiarkan Jackson membawanya pergi entah kemana.


Setelah hampir setengah jam berkendara, terdengar suara deburan ombak yang menyapa indra pendengaran Kayo. Wajah yang tadinya terlihat masam kini mulai menunjukkan sedikit kebahagiaan karena Jackson membawanya ke tempat favoritnya. Pantai.


"Turun!" perintah Jackson dingin.


Saat Jackson hendak keluar, dia tidak sengaja melihat memar di pergelangan tangan Kayo. Dia mengurungkan niatnya yang ingin keluar dari dalam mobil kemudian meraih tangan calon istrinya yang terluka.


"Siapa yang melakukan ini padamu, hah! Jangan bilang ini adalah perbuatan dari pria yang kau sebut sebagai sepupumu itu, Kay!"


Kayo memicingkan mata ke arah Jackson. Sungguh, dia benar-benar sangat dongkol sekarang. Bagaimana mungkin pria ini menuduh Darius yang telah melukai tangannya. Padahal jelas-jelas Jackson-lah yang menarik tangannya dengan kuat saat ingin membawanya masuk ke dalam mobil.


"Apa kau sudah amnesia, Jack? Lupa siapa tadi yang sudah menyeretku dengan kasar, hah!" sahut Kayo balas membentak.


"Jangan menuduhku!" teriak Jackson dengan nafas memburu.


"Siapa yang menuduh. Yang aku katakan adalah fakta kalau memang benar kau yang sudah membuat memar di pergelangan tanganku. Kau sungguh sangat menjengkelkan, Jack. Aku muak melihatmu!"


Setelah berteriak seperti itu dengan marah Kayo keluar dari dalam mobil. Dia lalu membuang asal sepatunya, berlari ke arah pantai kemudian duduk di tepian laut yang kering.


"Kau adalah pria paling menyebalkan yang pernah aku kenal, Jackson. Aku tidak akan mau menikah denganmu. Titik!" kesal Kayo saat tahu kalau Jackson tidak menyusulnya.


"Maaf," ucap Jackson kemudian mencium bahu putih milik calon istrinya. "Aku terbakar cemburu jadi tidak bisa berpikir dengan jernih. Maafkan aku ya."


"Tidak akan pernah kumaafkan!" sahut Kayo sok jual mahal. Padahal dalam hatinya dia begitu senang karena Jackson lumayan peka akan kekesalannya.


Terdengar hembusan nafas panjang dari mulutnya Jackson saat Kayo tak bersedia untuk memaafkannya. Dia yang posisinya sedang berjongkok di belakang Kayo segera memeluknya dengan erat. Mulut Jackson tak berhenti merayap. Kini mulutnya itu sudah singgah di leher jenjang Kayo kemudian menjalar ke arah tulang selangka. Entah bagaimana caranya tiba-tiba saja sekarang Kayo sudah berada dalam pangkuan Jackson. Dia lalu menatap matanya dengan sangat intens.


"Maaf,"


"Tidak akan!"


"Aku bilang maaf!"


"Aku bilang tidak!"


Kayo langsung kicep saat mulutnya di bungkam dengan ciuman. Suasana pantai yang sangat sejuk dan sedikit dingin, juga dengan suara deburan ombak yang begitu merdu membuat Kayo terbawa arus romantis yang di ciptakan oleh Jackson. Dia merespon ciuman itu dengan mengalungkan kedua tangan ke leher calon suaminya. Meresapi setiap sentuhan lembut yang sangat memabukkan.


"Maaf,"


Seulas senyum kecil muncul di bibir Jackson setelah dia melepaskan Kayo agar bisa bernafas dengan nyaman. Ya, benar. Tadi dia memang sedikit menghukumnya karena kesal tidak mendapat maaf dan juga masih kesal karena Kayo berbicara dengan pria lain.


"Di maafkan," sahut Kayo sedikit tersipu. Dia menunduk sambil memegangi bibirnya yang sedikit kebas.

__ADS_1


"Ekhmm, sepertinya nanti akan cukup mudah bagiku untuk membuatmu mau memaafkan kesalahanku," ucap Jackson sembari menempelkan keningnya dengan keningnya Kayo. "Kau langsung memaafkan aku setelah aku memberimu ciuman yang sangat panas tadi. Sebegitu nikmatnya kah sampai kemarahanmu bisa langsung luluh, hm?"


"Jangan bicara sembarangan kau. Itu tadi, itu tadi...


Mendadak Kayo menjadi sangat gugup saat Jackson menatapnya tak berkedip. Sungguh, dia sangat salah tingkah sekarang.


"Itu tadi apa, hm? Itu tadi sangat enak dan bergairah. Begitu maksudmu?" ledek Jackson dengan sengaja.


"Cihh, tidak kusangka ternyata kau mesum juga ya, Jack. Sangat menggelikan!" sahut Kayo tak suka.


Jackson terkekeh mendengar hal itu. Dia lalu sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah cantik calon istrinya. Jari telunjuk Jackson kemudian bergerak ke arah bibir Kayo yang masih membengkak. Dia mengusapnya dengan lembut tanpa melepaskan tatapannya dari wajah ayu yang sedang tersipu.


"Kau cantik jika patuh begini," puji Jackson tulus.


"Dan sayangnya aku tidak sepatuh yang kau pikir."


Kalau boleh jujur, sentuhan jari Jackson membuat Kayo terbuai. Pria ini entah kenapa bisa tahu dimana titik yang bisa membuatnya melemah. Kayo setengah mati menahan suara desahannya saat jari tangan Jackson bergerak menuju belahan dadanya.


"Semua yang ada di tubuhmu adalah milikku, Kay. Siapapun yang berani menyentuhnya selain aku, maka aku akan langsung memenggal kepalanya. Aku tidak sudi sesuatu yang sudah menjadi milikku di sentuh oleh orang lain, terlebih lagi jika itu adalah pria. Dari sini kau harusnya paham bukan dengan batasanmu?" ucap Jackson mempertegas kepemilikannya.


"Siapa kau berani mengaturku seperti ini? Ingat Jackson, sampai detik ini aku masih belum menerima lamaranmu!" sahut Kayo mengingatkan.


"Memang benar kalau kau belum menerima cincin lamaran dariku. Tapi tubuh dan pikiranmu tidak bisa menolak sentuhan yang aku berikan. Benar kan?"


Oke, satu kosong. Kali ini Kayo tak bisa mengelak dari hal tersebut. Memang benar kalau tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan ketika Jackson menyentuhnya. Pun di hati Kayo sebenarnya juga sedikit demi sedikit sudah mulai mengagumi sosok Jackson, mantan penjagal yang tiba-tiba menjelma menjadi pria yang sangat posesif.


"Tidak perlu menjawab, aku sudah tahu. Sekarang kita pulang, kau bisa masuk angin karena tidak memakai pakaian!" bisik Jackson kemudian mengangkat tubuh Kayo ke dalam gendongannya.


"Matamu buta ya? Aku memakai gaun, Jack."


"Tapi di mataku kau sama sekali tidak memakai gaun apapun. Sebenarnya sejak aku melihatmu tiba di hotel dengan hanya memakai gaun ini aku sudah sangat ingin merobeknya. Apa kau pikir otakku bisa baik-baik saja melihatmu memakai pakaian yang sangat terbuka seperti ini? Tidak Kay, aku sangat benci melihatnya!"


"Bilang saja kau cemburu."


"Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya."


"Terserah akulah. Mulut-mulutku, kau tidak berhak melarangku bicara," ucap Kayo kemudian membenarkan letak duduknya di kursi mobil.


"Untung saja kau belum resmi menjadi istriku. Jika tidak, malam ini aku akan mengajakmu bercinta di sini sampai pagi supaya mulutmu tidak sembarangan bicara lagi. Mau!"


Bibir Kayo mencebik. Dia kembali melihat ke arah luar saat mobil mulai bergerak menjauh. Bolehkah dia merasa beruntung karena di cintai dengan cara yang sangat posesif? Aigoo.. πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


βœ…Hai gengss.. maaf ya beberapa hari ini up-nya teratur. Tapi insyaallah mulai besok udah bisa normal lagi karena sekarang keadaan sudah mulai membaik. 😊😊😊


Oh ya, mampir yuk ke chanel yutub @Mak Rifani buat nonton keuwuan Luri dan Fedo. Part 11 udah up lho


...🌻VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻IG: rifani_nini...


...🌻FB: Rifani...


__ADS_2