Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Kartu Hitam


__ADS_3

"Yura, Eleanor dimana? Aku dengar tadi dia datang mengunjungimu" tanya Karim sambil melihat kesana kemari mencari keberadaan cucunya.


"Oh, Elea sedang pergi mengunjungi Lusi, Ayah. Mungkin sebentar lagi dia baru akan kembali kesini" jawab Yura. "Duduklah, Yah. Kita tunggu Eleanor bersama-sama."


Karim mengangguk. Dia kemudian berjalan kearah ranjang sambil memegangi tiang infusnya. Karim langsung memaksa untuk datang ke kamar ini saat dia tidak sengaja mendengar pembicaraan asistennya. Karim sangat merindukan cucunya, dia ingin sekali berbincang dengan gadis kecil yang lahir dari rahim anak kandungnya, Sandara.


"Ayah, ada apa?" tanya Yura saat menyadari raut tak biasa di wajah ayah mertuanya.


"Hanya sedang terkenang dengan dosa besar yang pernah Ayah lakukan pada ibunya Eleanor dulu. Hmm... Yura, apa Ayah masih pantas untuk di maafkan?.


Lagi, Karim kembali di dera perasaan bersalah. Sekuat apapun dia mencoba untuk menerima, tetap saja hati kecilnya menolak. Hati itu seakan tak rela membiarkannya untuk hidup dengan tenang. Bukan maksud Karim ingin mengelak dari dosa-dosa yang telah dia perbuat, hanya saja dia ingin menyimpannya dalam-dalam seperti yang di inginkan oleh cucunya. Tapi semua itu sangat sulit, Karim tak sanggup.


"Jika Eleanor ada di sini, dia pasti akan sangat sedih melihat Ayah yang terus meratapi dosa. Aku tahu semuanya pasti sangat sulit untuk Ayah, tapi lebih sulit lagi jika menjadi Eleanor. Dia yang paling tersakiti, dia yang terabaikan, dia juga yang hampir tidak di akui oleh kita semua. Bayangkan Ayah, bayangkan. Siapa di antara kalian yang hidupnya paling menderita? Tolong jangan seperti ini terus, Ayah. Berbahagialah karena Eleanor sudah kembali. Mari berikan dia banyak kebahagiaan yang selama ini tidak dia dapatkan. Lupakan semuanya, simpan kenangan buruk itu rapat-rapat di dalam hati Ayah. Ya..?" bujuk Yura sedih.


Ceklek


"Ibuu..."


Tubuh Karim kaku saat dia mendengar Eleanor memanggil menantunya dengan sebutan ibu. Dia lalu memberanikan diri menoleh kearah pintu dimana cucunya tengah berdiri diam dengan wajah datar.


"Sayang, kemarilah. Ada Kakekmu di sini, dia menunggumu sejak tadi" ucap Yura berusaha memecah kecanggungan antara ayah mertua dan anak sambungnya.


"Kakek... menungguku?" tanya Elea lirih.


"I-iya. Kakek, Kakek menunggumu" jawab Karim terbata.


Elea tersenyum. Dia sudah berdamai dengan hatinya. Membuang segala kekecewaan yang ada, Elea melangkah mendekati kakeknya. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika melihat mata tua itu berkaca-kaca.


"Kakek.. tidak membenciku lagi kan?.


Bibir Karim bergetar. Rasanya sakit sekali saat mendengar cucunya bertanya seperti itu. Karim lalu memberanikan diri meraih tangan mungil cucunya, menatapnya lama sebelum akhirnya menangis tertahan.


"M-maafkan Kakekmu ini, sayang. Maaf..."


"Kakek, jangan ungkit apapun lagi ya. Semua itu sudah berlalu, aku tidak mau mengingatnya. Kalau Kakek ingin meminta maaf, aku sudah memaafkan kesalahan Kakek. Dengan sangat ikhlas, tanpa dendam apapun lagi. Iya benar aku kecewa, tapi aku sudah memutuskan untuk berdamai dengan semua itu. Aku lelah terus tersakiti Kek, aku ingin bahagia bersama kalian" sahut Elea dengan tatapan datar. "Bisa kan Kek aku bahagia? Bisa kan kita jangan lagi mengungkit masalalu yang kejam itu? Aku takut tidak bisa mengendalikan diri jika terus di tekan dengan permintaan maaf. Aku tidak suka!.


Yura sedikit khawatir melihat ayah mertuanya yang tidak berhenti menangis. Karenanya Yura mencoba untuk membujuknya.


"Ayah, jangan menangis lagi ya. Eleanor sudah memaafkan kesalahan Ayah, jadi Ayah harus menghargai perasaannya. Ya.."

__ADS_1


"Hikss, iya. Ayah-Ayah tidak akan menangis lagi" sahut Karim tersendat.


"Mana ada tidak menangis lagi. Itu ingus Kakek masih keluar dari hidung. Banyak lagi!.


Celetukan Elea bagai rem cakram yang langsung membuat tangis Karim terhenti. Yura yang tidak menyangka kalau putrinya akan bicara seperti itu nampak tercengang dengan mulut ternganga. Sungguh, jantungnya seperti berhenti berdetak saat Eleanor berucap.


"Ibu, Ayah dimana? Aku ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting dengannya" tanya Elea mengabaikan raut terkejut di wajah ibu dan kakeknya.


"Ha.. Oh, Ayahmu, Ayahmu mungkin masih ada di jalan" jawab Yura tergagap.


"Ayah di sini."


Semua orang langsung melihat kearah pintu. Bryan yang baru saja sampai di rumah sakit segera mendatangi anak dan istrinya. Dia memeluk putrinya dengan sayang kemudian mencium keningnya lama. Setelah itu dia beralih memeluk ayahnya, kemudian beralih lagi untuk memeluk istrinya. Tak lupa juga Bryan meninggalkan kecupan singkat di pipi Yura yang langsung membuatnya tersipu malu.


'Tuhan, terima kasih sudah memberiku keluarga yang utuh. Kau benar-benar baik, mengabulkan segala sesuatu yang selama ini aku impikan. Terima kasih banyak Tuhan, terima kasih....'


"Sayang, ada apa mencari Ayah?" tanya Bryan.


"Minggu depan aku akan mulai masuk kuliah, Ayah, Ibu, Kakek. Jadi aku ingin meminta sesuatu yang sangat penting dari kalian" jawab Elea dengan raut wajah yang sangat serius.


Bryan, Yura, dan Karim menjadi sedikit tegang saat Elea berbicara dengan nada yang sangat serius. Mereka bertiga menatap si gadis kecil itu dengan dada berdebar kencang.


"Sesuatu apa?" tanya Bryan khawatir.


"H-hadiah?.


Syok. Ketiga orang itu seperti berhenti bernafas sejenak. Mereka pikir Eleanor akan meminta sesuatu seperti perpisahan, tapi ternyata dugaan mereka salah. Meskipun kaget, mereka bertiga lega karena bukan sesuatu hal menyakitkan yang di minta oleh Eleanor. Segera Karim menanyakan apa yang di inginkan oleh cucunya itu.


"Memangnya hadiah apa yang kau inginkan, hm? Kakek janji Kakek pasti akan memberikan apapun yang kau minta."


"Begini Kek. Kak Iel sudah memberiku kartu hitam, Ayah Greg dan Ibu Liona pun sudah. Jadi aku ingin meminta kartu yang sama dari kalian. Aku ingin menjadi gadis yang kaya raya, Kek. Boleh kan?.


Karim sedikit bingung dengan kartu hitam yang di maksud oleh cucunya. Dia kemudian menoleh kearah Bryan, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya di maksud oleh cucunya.


"Bryan, apa itu kartu hitam? Apa itu sejenis kartu yang ada di casino?.


"Astaga Ayah, kenapa Ayah bisa terfikir kearah sana. Mana mungkin Gabrielle dan orangtuanya memberi Eleanor kartu untuk bermain judi. Ada-ada saja Ayah ini" jawab Bryan kemudian terpingkal-pingkal dengan pemikiran konyol ayahnya.


"Ayah, Ayah tidak boleh menertawai orangtua. Nanti Tuhan marah lalu mengazab Ayah supaya tidak bisa tertawa lagi" tegur Elea.

__ADS_1


Bryan kicep. Dia langsung membeku begitu di tegur oleh putrinya.


"Maaf sayang, Ayah hanya bercanda saja tadi" sahut Bryan mengelak.


"Bercanda boleh saja, Yah. Tapi Ayah harus ingat kalau Kakek ini sudah tua. Bagaimana kalau dia sampai terkena stroke gara-gara kelakuan Ayah? Aku bisa rugi karena Kakek belum memberiku kartu hitam."


Rasanya Karim seperti ingin menangis begitu mendengar perkataan polos cucunya. Dia sungguh di buat tak berdaya oleh mulut gadis kecil ini.


"Baiklah, Ayah tidak akan bercanda seperti itu lagi. Ayah minta maaf ya" ucap Bryan sambil mengulum senyum.


"Aku maafkan" sahut Elea. "Jadi kalian mau memberiku kartu hitam tidak?.


"Eleanor, sebenarnya kartu hitam itu apa. Kakek sama sekali tidak tahu, sayang" tanya Karim yang masih bingung perihal kartu hitam.


"Kartu hitam itu blackcard, Ayah. Tahu kan?" jelas Yura yang gemas melihat interaksi keluarganya.


"Oohh, blackcard. Ayah pikir itu apa" ucap Karim. "Tunggu sebentar ya, Kakek akan meminta asisten Kakek untuk mengambil dompet di kamar."


Elea mengangguk. Dia dengan sangat antusias memperhatikan kakeknya yang sedang berbicara dengan sang asisten. Elea kemudian menoleh saat namanya di panggil.


"Eleanor, ini adalah kartu hitam dari Ayah dan Ibu. Kau boleh memakainya untuk membeli semua barang yang kau mau."


"Hehe, terima kasih Ayah, terima kasih Ibu. Sekarang aku resmi menjadi orang kaya" sahut Elea kegirangan.


Bryan dan Yura tersenyum lucu mendengar ocehan putri mereka. Padahal tanpa kartu hitam itupun Eleanor sudah memiliki harta yang begitu melimpah. Tapi ya sudahlah, mungkin ini cara Eleanor meluapkan kebahagiaannya.


"Eleanor, ini hadiah dari Kakek. Kalau masih kurang, nanti Kakek akan memberimu beberapa kartu lagi untuk uang saku" ucap Karim penuh semangat saat memberikan kartu hitam pada cucunya.


"Woaahh, Kakek baik sekali" sahut Elea kemudian memeluk kakeknya dengan sayang. "Karena aku sudah menguras harta kalian, sekarang aku pamit dulu ya. Aku ingin memamerkan kartu-kartu ini pada seseorang. Dah Kakek, dah Ayah, dah Ibu...."


Elea melenggang pergi meninggalkan kakek dan kedua orangtuanya yang sedang tercengang. Dia sangat bahagia karena sekarang semua orang begitu menyayanginya. Kini tujuan Elea hanya satu, pergi mengunjungi nyonya pelakor yang sedang sakit.


'Kak Levi, aku yakin kau pasti akan langsung kejang-kejang saat melihat tiga kartu hitam ini. Hahaha....'


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2