Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Gadis Bermulut Granat


__ADS_3

Flashback


Buliran keringat nampak menetes membasahi wajahnya Gleen yang sedang duduk di hadapan orangtuanya Lusi. Ya, saat ini dia tengah berada di sebuah pedesaan di mana orangtua kekasihnya tinggal. Setelah meminta izin pada Gabrielle, Gleen dengan di bantu oleh anak buah Nyonya Liona langsung menyambangi kediaman calon mertuanya. Dan seperti yang di katakan oleh Lusi, begitu Gleen tiba dia langsung menjadi pusat perhatian semua warga. Semuanya sibuk menyentuh mobil yang dia gunakan, juga terus memandangnya dengan sorot mata penuh penasaran. Hingga pada akhirnya dia bertemu dengan seorang gadis remaja yang wajahnya terlihat sangat mirip dengan Lusi. Dan Gleen sangat yakin kalau gadis ini adalah calon adik iparnya.


"Permisi, apa kau yang bernama Nania?" tanya Gleen ramah.


Sambil mengerutkan kening, Nania menganggukkan kepala.


"Iya. Kau siapa?.


"Namaku Gleen. Aku calon suami kakakmu. Lusi."


"Calon suaminya Kak Lusi?" tanya Nania sembari menelisik penampilan pria yang baru saja mengaku sebagai calon suami kakaknya. "Tapi kenapa kau lebih terlihat seperti bodyguard seorang renternir?.


'Ya Tuhan, tidak mungkin gadis ini adalah saudara kembarnya Elea kan?.


Meski cukup sesak mendengar tuduhan Nania, Gleen mencoba sabar. Mungkin karena dia datang dengan memakai setelan jas jadi gadis ini berpikir sedemikian rupa tentangnya.


"Ekhmm Nania, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?.


"Apa aku terlihat seperti akan membiarkanmu untuk bertanya?" tanya Nania sarkas.


Kak Lusi adalah matahari di keluarganya. Jadi Nania beranggapan kalau pria ini datang dengan membawa niat kurang baik karena langsung memperkenalkan diri sebagai calon suami Kak Lusi di mana kakaknya sendiri tak pernah memberitahu keluarga jika telah memiliki kekasih. Wajar bukan kalau dirinya merasa curiga.


"Nan, kau sedang bicara dengan siapa?.


Gleen menoleh. Dia tersenyum begitu tahu kalau gadis yang baru bertanya itu bernama Luri, adiknya Lusi, kakaknya Nania.


"Ini Kak, ada bodyguard seorang renternir yang mengaku sebagai calon suami Kak Lusi. Mencurigakan sekali dia" jawab Nania sembari melirik sinis kearah pria yang sedang diam membeku di depannya.


Luri menatap seksama kearah pria tersebut. Tak lama kemudian dia tersenyum begitu menyadari kalau di belakang pria ini ada penjaga yang biasanya datang bersama Nyonya dan Tuan Ma.


"Kak, mari masuk ke dalam. Ayah dan Ibu tidak akan bisa keluar rumah jika tidak ada yang membantu!" ajak Luri sopan.


"Ah, baiklah. Em Luri, bisakah kau membantuku mengambil bingkisan di mobil? Aku membawa banyak hadiah dari kota, tolong nanti kau bantu bagikan untuk warga desa yang lain juga" sahut Gleen lega karena Luri tidak semematikan Nania.


"Kak Luri, kau masuk saja ke dalam rumah. Biar aku yang membantu Kak Gleen mengambil hadiah!" timpal Nania dengan semangat. "Ayo Kak!.


Gleen cengo. Dia bingung dengan sesuatu yang baru saja terjadi. Kemana perginya tatapan dewi perang yang terus di tunjukkan oleh gadis bernama Nania ini? Kenapa sikapnya langsung berubah begitu dia menyebutkan tentang hadiah?? Sungguh, Gleen berani menjamin seratus persen kalau Nania adalah kembaran Elea. Tidak bisa terbayangkan jika kedua gadis bermulut granat ini di satukan, Gleen yakin sekali pasti akan ada banyak korban berjatuhan.


"Kak, maaf ya kalau sikap adikku membuat Kakak tidak nyaman. Dia memang type gadis yang selalu memperlihatkan perasaannya secara terang-terangan. Akan tetapi sesungguhnya dia gadis yang sangat baik!" jelas Luri yang merasa tidak enak melihat kelakuan adiknya pada sang tamu.


"Tidak apa-apa, bukan masalah untukku. Justru aku merasa senang kalau Nania mau bersikap terbuka Sesama ipar memang seharusnya begitu kan?" jawab Gleen sambil terkekeh lucu.

__ADS_1


Luri tersenyum. Dia bisa merasakan kalau pria ini adalah pria yang baik. Tak ingin lagi membiarkan tamunya berada di luar rumah, segera dia berpamitan untuk masuk ke dalam. Membiarkan adiknya terus menyeret sang tamu untuk mengambil hadiah.


Dan di sinilah Gleen sekarang. Duduk berhadapan dengan kedua orangtua Lusi yang tengah menatapnya bingung. Sementara si mulut granat sejak tadi sibuk membagi-bagikan hadiah yang dia bawa. Dan Luri, gadis kalem itu sepertinya tengah berada di dapur.


"Tuan, apa anda tidak salah orang?" tanya Luyan yang tak paham dengan maksud kedatangan sang tamu yang memperkenalkan diri sebagai calon suami putri sulungnya.


"Tolong jangan memanggilku Tuan. Panggil Gleen saja" sahut Gleen canggung.


Luyan dan Nita kemudian saling memandang. Meski pun mereka tinggal di desa, mereka cukup tahu kalau pria ini pastilah berasal dari kalangan orang berada. Itulah kenapa mereka sedikit tak percaya kalau putri mereka yang hanya seorang pelayan akan menikah dengan pria kaya seperti Gleen.


"Em Nak Gleen, kau mungkin salah mendatangi kami kemari. Benar kalau putri kami itu bernama Lusi, akan tetapi dia hanya seorang pelayan biasa. Rasanya tidak mungkin kalau kau adalah calon suaminya" ucap Nita.


"Bu, aku tidak salah mendatangi kalian. Aku juga tahu kalau Lusi adalah pelayan di rumah temanku, Gabrielle" sahut Gleen sambil menyeka keringat yang membanjiri wajahnya. "Ayah, Ibu, aku mencintai Lusi, dan ingin menjadikannya sebagai istriku. Tidak peduli apakah dia seorang pelayan atau pun seorang gelandangan. Di mataku Lusi itu adalah sesosok bidadari yang bisa memberiku kehangatan. Sejak kecil aku tidak pernah merasakan apa yang namanya perhatian, aku hanya hidup bersama dengan sahabatku sampai sekarang. Semenjak mengenal putri kalian, hidupku berubah. Dan aku tidak mau jika harus berpisah dengannya. Hidupku bisa hancur jika sampai kehilangan Lusi, segala-galanya saat ini hanya tentang dia. Sungguh!.


Luyan tersenyum ketika Gleen tanpa canggung memanggilnya dengan sebutan ayah. Luyan bisa melihat keseriusan di mata Gleen saat membicarakan tentang putrinya.


"Putriku hanya gadis biasa, Nak Gleen. Jangan terlalu melebih-lebihkan,"


"Itu fakta, Ayah. Aku sama sekali tidak melebih-lebihkan,"


Gleen kembali menyeka keringat yang terus saja keluar membasahi wajahnya. Dia benar-benar sangat gugup. Jantungnya seperti akan terlepas ketika berhadapan dengan orangtua kekasihnya.


"Di minum Kak tehnya. Maaf ya hanya bisa menyediakan minuman sederhana saja" ucap Luri sambil meletakkan tiga gelas teh hangat di atas meja.


"Ayah, Ibu, Luri, sebenarnya aku datang kemari adalah untuk menjemput kalian ke kota. Lusi sedang sakit!.


Semua orang sangat kaget begitu di beritahu kalau Lusi sedang sakit. Tak terkecuali si mulut granat. Nania langsung berlari mendekat dengan mata berkaca-kaca kemudian memegang erat lengan Gleen.


"Kak, Kak Lusi sakit apa? Kenapa dia tidak mengabari kami di sini?.


Gleen menghela nafas. Dia lalu mengelus puncak kepala Nania yang sudah terisak, kemudian menatap kearah mertuanya yang terlihat begitu syok.


"Sebaiknya kalian tanyakan langsung padanya. Jangan khawatir, sekarang kondisinya sudah berangsur membaik. Aku juga sudah mencarikan dokter dari luar negeri yang akan merawat Lusi sampai sembuh total. Dan ini...


Perkataan Gleen terjeda. Dia lalu mengeluarkan beberapa lembar foto dari saku jasnya di mana foto tersebut berisi gambar rumah yang baru dia beli sebelum datang ke desa ini. Gleen sudah mempersiapkan segalanya sebelum memboyong orangtua dan adik-adiknya Lusi untuk tinggal di kota bersama mereka nanti.


"Aku ingin membawa kalian semua pindah ke kota supaya Lusi tidak perlu lagi tinggal berjauhan dengan kalian. Di sana nanti kalian semua akan tinggal di rumah ini. Aku sengaja membelinya atas nama Lusi agar kalian tidak merasa canggung. Dan aku baru akan tinggal bersama kalian setelah menikah dengan Lusi. Jadi Ayah, Ibu, Luri dan Nania, kalian mau kan ikut aku pindah ke kota? Kasihan Lusi, dia begitu merindukan kalian,"


Luyan, Nita, Luri, dan Nania ternganga lebar begitu melihat betapa mewahnya rumah yang ada di dalam gambar. Setelah itu mereka menatap Gleen tanpa kedip.


"Tuan Gleen, Nyonya Besar Liona dan Tuan Besar Greg sudah menunggu kalian semua. Akan sangat tidak sopan jika kita membiarkan mereka menunggu terlalu lama" ucap salah seorang penjaga.


"Ah, begitu ya!" sahut Gleen kemudian meneguk teh miliknya. "Kalau begitu ayo kita semua berangkat,"

__ADS_1


"Sekarang?" beo Luyan kebingungan. "Tapi kami belum mempersiapkan baju ganti untuk di bawa ke sana,"


Gleen tersenyum. Dia beranjak dari duduknya kemudian menghampiri mertuanya yang sedang kebingungan.


"Ayah jangan khawatir, semuanya sudah aku persiapkan di rumah baru kalian. Termasuk juga dengan sekolahnya Luri dan Nania. Nanti di sana juga akan ada dua perawat khusus yang akan merawat Ayah dan Ibu. Kalian hanya perlu bahagia sebelum bertemu dengan Lusi. Itu saja,"


"Haaaaaa.....


Tak ingin mengulur waktu, Gleen segera meminta semua orang untuk bergegas masuk ke dalam mobil. Dia dengan senang hati membopong ayah mertuanya yang tak lagi memiliki kaki saat ingin berpindah duduk ke dalam mobil mewah miliknya.


"Kak Gleen, sepatuku bagaimana? Dan hadiah-hadiahnya?" tanya Nania yang baru tersadar dari keterkejutannya saat mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumahnya.


"Nanti di sana kau bisa membeli sepatu sebanyak yang kau mau. Jangan khawatir" jawab Gleen sambil tersenyum.


"Benarkah?.


"Tentu saja. Calon suami kakakmu ini sangat kaya, aku bahkan bisa membelikanmu sepatu beserta pabrik yang membuatnya,"


Mata Nania langsung memicing.


"Cihh, dasar sombong. Ingat Kak, orang sombong jenazahnya bisa di tolak bumi,"


Gleen sesak nafas. Dia langsung melonggarkan dasinya yang entah kenapa serasa mencekik lehernya.


"Nania, bicara yang sopan. Kak Gleen jauh lebih tua darimu Nak" tegur Luyan yang masih tidak mengerti kenapa hidupnya bisa tiba-tiba berubah seperti ini.


"Aku hanya mengingatkannya saja, Yah. Sombong itu sangat tidak baik. Lihat saja, nanti aku akan mengadukan hal ini pada Kak Lusi."


"Nania" panggil Luri merasa tak enak.


Nania berdecak. Dia lalu mencebikkan bibir kearah calon suami kakaknya yang hanya diam dengan wajah yang tak enak di pandang.


'Junio, aku selalu berusaha untuk menghindari Elea, tapi sekarang aku malah menjemput Elea dengan versi yang lebih mengerikan. Semoga saja kau bisa satu penderitaan denganku ya. Amiinn....'


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_lupss...


...🌻 FB: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2