
Setelah memastikan kalau istrinya sudah benar-benar terlelap, Gabrielle dengan perlahan-lahan turun dari ranjang. Dia berniat pergi keluar menghirup udara segara, sekaligus mencari ketenangan untuk memahami sisi lain dari Elea yang baru dia ketahui. Sebelum meninggalkan kamar, Gabrielle terlebih dahulu memperhatikan wajah cantik istrinya. Ada bagian dalam dirinya yang berontak marah karena masih tak bisa memahami penderitaan yang selama ini di tanggung oleh istri kesayangannya.
"Elea, apa kau pernah terluka parah akibat keistimewaanmu ini? Kau begitu cemas, takut tidak ada yang mempercayai perkataanmu. Bahkan ketakutanmu itu sampai terbawa dalam alam bawah sadarmu. Sebenarnya seberapa banyak rahasia yang kau pendam selama ini sayang? Usiamu masih sangat muda, tapi kau sudah menghadapi badai yang aku yakin bukan badai biasa!."
Setelah puas memandangi wajah istrinya, barulah Gabrielle keluar dari dalam kamar. Hatinya gelisah. Bukan karena ada orang yang ingin mencelakainya, melainkan karena memikirkan keadaan psikis istrinya yang tidak berhenti menggumamkan kata tolong percaya aku, aku tidak bohong saat baru memejamkan mata.
"Tuan Muda, anda belum tidur?."
Gabrielle yang sedikit melamun tersentak kaget saat ada yang bertanya. Dia lalu menghela nafas saat mendapati Ares yang sedang berdiri di hadapannya.
"Kau rupanya, membuat kaget saja."
"Maafkan saya Tuan Muda" sahut Ares.
Gabrielle mengangguk. Dia lalu teringat dengan mobilnya yang tadi di yakini Elea akan meledak. "Ares, apa kau sudah memeriksa mobilnya? Juga apa kau menemukan seseorang yang mencurigakan di sekitar pohon pinus?."
Ares menggelengkan kepala. "Tidak ada apapun di mobil maupun di luar rumah, Tuan Muda. Tapi saya yakin, ketakutan yang di rasakan oleh Nyonya Elea itu nyata, beliau tidak bohong."
"Kenapa kau yakin sekali? Apa kau mulai ada rasa pada istriku?" tuduh Gabrielle tidak suka melihat Ares begitu memahami istrinya.
'Jangan mulai sekarang,Tuan Muda.'
"Tidak sama sekali, Tuan Muda. Saya hanya meyakini apa yang saya lihat. Menurut saya, ucapan yang Nyonya Elea ucapkan tadi adalah suatu kebenaran, hanya saja masih belum jelas kapan hal itu akan benar-benar terjadi. Ibarat kata, Nyonya Elea seperti mendapat gambaran tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Itulah kenapa beliau tadi terlihat begitu panik dan ketakutan karena hanya beliau saja yang bisa melihat kejadian tersebut!" jawab Ares dengan sejelas-jelasnya.
"Jadi kau juga menyadari hal itu?."
"Terlalu kentara untuk kita tidak menyadari hal tersebut, Tuan Muda. Lagipun saya hanya menebak, bukan memastikan!."
Gabrielle menarik nafas. "Tebakanmu juga tidak salah, Ares. Elea memang mempunyai kelebihan itu, dia bisa melihat seperti apa masa depan dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Aku memang belum mendengar sendiri dari mulutnya, tapi kejadian tadi membuatku yakin kalau Elea memang sedikit berbeda!."
"Jika memang benar seperti itu, apa Nyonya Elea sebelumnya juga sudah tahu kalau akan bertemu dengan Tuan Muda?" celetuk Ares.
Mendengar celetukan Ares, Gabrielle sedikit kaget. Antara bingung dan juga bahagia, dia tersenyum membayangkan kalau seandainya memang benar dirinya sudah ada di dalam gambaran mata Elea sejak lama. Berarti itu tandanya mereka berdua memang di takdirkan menjadi jodoh. Jodoh yang di restui Tuhan.
"Sedang apa kalian berduaan di sini?."
Gabrielle dan Ares sama-sama terperanjat kaget mendengar suara tersebut. Mereka kemudian menoleh.
__ADS_1
"Ibu...."
"Nyonya besar Liona" sapa Ares sembari membungkuk hormat.
Liona mengangguk. Dia tadinya ingin pergi melihat menantunya karena merasa sangat tidak tenang, tapi dia malah menemukan anaknya yang sedang berbincang dengan asistennya tak jauh dari lift.
"Gabrielle, bagaimana kabar menantu Ibu? Apa dia sudah tidur?."
"Iya Bu, Elea sudah tidur. Kalau keadaannya, aku tidak bisa menganggapnya baik-baik saja. Dia terus saja mengigau" jawab Gabrielle sembari menghela nafas panjang.
"Mengigau?" beo Liona.
Gabrielle mengangguk. Dia lalu menyender ke dinding kemudian melipat tangan di atas perut. "Aku tidak bohong, tolong percaya padaku. Dia terus mengigaukan kalimat tersebut berulang kali Bu. Dan ekpresi di wajahnya terlihat begitu tertekan, jauh lebih parah jika di bandingkan dengan ekpresinya saat mengingat Jack-Gal. Ibu, aku yakin Elea pasti menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih buruk lagi dari dari apa yang kita ketahui selama ini. Aku yakin itu!."
Liona diam. Dia tidak menyangka kalau menantunya akan seluar biasa ini. Tersadar akan sesuatu, Liona segera menatap lekat kearah putranya.
"Kalau benar Elea memiliki kemampuan seperti itu, berarti kita semua sudah dia lihat sejak Elea belum menjadi istrimu. Astaga, bulu kuduk Ibu sampai merinding. Hal ini terlalu mengejutkan untuk kita semua" ucap Liona sambil mengusap tengkuknya yang meremang.
"Itu juga yang sedang aku bicarakan dengan Ares, Bu. Dan yang tahu jawabannya ya hanya Elea sendiri, kita hanya bisa menebak saja" sahut Gabrielle.
Elea yang tadi terbangun seorang diri akhirnya memutuskan untuk keluar kamar. Dia merasa sangat sesak saat ingatan itu kembali datang dan seperti mencekiknya di kala tidur. Dia butuh perisai untuk berlindung, dan perisai itu adalah berada di pelukan suaminya. Tempat ternyaman yang berhasil Elea temukan setelah sekian lama menderita.
"Sayang, kenapa bangun?" tanya Gabrielle setelah istrinya menginjak anak tangga terakhir.
Melihat perisainya berdiri di depan mata, Elea segera menghambur memeluknya. Dia tersenyum, lega karena tak perlu merasa takut lagi.
'Nyaman sekali.'
Sudut bibir Gabrielle berkedut mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh istrinya. Dia lalu mengusap punggungnya dengan sayang. "Kenapa bangun, hem?."
"Aku merindukan Kak Iel tapi tidak menemukannya di dalam kamar. Jadi aku menyusul kemari" jawab Elea tak jujur.
"Benarkah?."
Elea mengangguk. Dia segera melepaskan diri dari pelukan suaminya kemudian berjalan menghampiri ibu mertuanya yang sedang tersenyum.
"Ibu Liona, apa Ibu akan percaya jika aku mengatakan sesuatu yang terdengar sedikit mustahil?" tanya Elea tanpa merasa lagu.
__ADS_1
Sudah Elea putuskan untuk bicara jujur pada semua orang yang ada di sini. Dia lelah menanggung beban ini sendirian.
"Ibu akan mempercayai semua yang ingin kau katakan" jawab Liona. "Jangan sungkan sayang, ceritakan semua hal yang mengganggu pikiranmu. Kami semua ada di sini, jadi jangan merasa kalau kau hanya sendirian. Lepaskan beban berat di pundakmu dan mengadulah pada Ibu!."
Tahu kalau menantunya akan mengatakan sesuatu yang sangat serius, Liona segera mengajaknya duduk di sofa. Di ikuti oleh Ares dan Gabrielle yang juga ikut merasa penasaran dengan apa yang akan di sampaikan oleh Elea.
Sebelum mulai bercerita, Elea terlebih dahulu menarik nafas dalam-dalam. Memasok udara sebanyak-banyaknya karena ceritanya akan sedikit menguras emosi.
"Sayang, kau bisa menceritakan masalahmu sekarang. Ibu janji Ibu akan menjadi pendengar yang sangat baik untukmu" ucap Liona penuh perhatian sembari mengusap pipi menantunya.
"Ibu Liona, aku tidak sama seperti kebanyakan orang. Aku cacat" ucap Elea pelan.
Jeda sejenak. Ke-tiga orang tersebut dengan sabar memberikan waktu untuk Elea bernafas dan menenangkan hati sebelum melanjutkan perkataannya.
"Sejak kecil aku mengalami keanehan yang membuat aku selalu di kucilkan oleh orang-orang. Setiap kali tertidur, aku selalu di beri penglihatan tentang apa yang akan terjadi di hari esok. Entah itu tentang kematian, musibah atau hal yang lainnya. Awalnya aku pikir itu semua hanya bunga tidur, jadi aku tidak mempedulikannya. Aku baru menyadarinya saat kejadian malam itu dimana aku yang sebenarnya sudah mendapat gambaran kalau akan ada orang yang menyakitiku dengan cukup parah. Tapi karena otakku yang lamban berfikir, dengan bodohnya aku malah menolong dokter yang tubuhnya bersimbah darah, padahal sudah jelas dalam mimpiku kalau dokter itu akan melakukan hal tak senonoh padaku. Dia...
"Jangan di teruskan" ucap Liona menyela perkataan menantunya begitu melihatnya mulai panik. "Ares, tolong ambilkan air minum untuk Elea!."
"Baik Nyonya Besar" sahut Ares kemudian segera berlari kearah dapur.
Gabrielle mendekap erat tubuh Elea. Jantungnya berdebar kuat saat dia tidak sengaja mendengar gumaman istrinya yang begitu lirih.
"Ibu Liona percaya padaku, dia pasti tidak akan memukul dan membuangku ke jurang seperti mereka. Ibu Liona orang baik, dia tidak jahat!."
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
MAAF YA GENGSS CUMA UP SATU, TAPI INSYAALLAH SORE EMAK UP LAGI, DOAIN AJA UP LEBIH BANYAK YA? 🤭
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...
__ADS_1