
Wajahnya pucat pasi, bibirnya pun bergetar hebat menyaksikan auman harimau yang sedang duduk santai di depannya. Jackson, dia bersikap setenang mungkin agar tidak memancing kebuasan binatang ini dengan tidak menimbulkan suara sedikitpun meski sekarang dia benar-benar sangat ketakutan.
'Brengsek! Aku harus mencari cara agar bisa keluar dari sangkar ini sebelum Grizelle dan keluarganya yang k*parat itu mengambil tindakan. Ck, tapi bagaimana caranya? Aku tidak menyangka mereka memelihara harimau di rumahnya. Benar-benar gila!.'
Mata Jackson terpejam erat saat harimau itu menjulurkan lidah kemudian menjilat darah kering yang menempel di lantai. Tulang-tulang di tubuhnya bagai melebur jadi abu saat harimau itu menggeram seraya membuka mulutnya dengan lebar, memperlihatkan gigi-gigi taringnya yang runcing, siap untuk mengoyak daging.
"DIMANA BAJINGAN ITU....!."
Jackson segera membuka matanya begitu dia mendengar suara teriakan. Dia mengumpat dalam hati melihat siluet tubuh seseorang yang sedang berjalan mendekat. "Sial, Gabrielle sudah pulang. Aku harus mengelabuinya supaya dia lengah dan aku bisa kabur dari tempat ini. Harus!."
Dengan membawa amarah yang sangat besar Gabrielle melangkah menuju sangkar tempat Priston dan Ethan menempatkan Jackson. Para penjaga yang berpapasan dengannya sampai menggigil ketakutan saat merasakan aura kegelapan yang jarang sekali mereka lihat di diri Gabrielle. Pria ini, dia begitu murka setelah Reinhard memberitahunya jika kejiwaan Elea benar-benar sangat bermasalah. Istri kecilnya itu tak mau bicara lagi, terlalu down setelah menceritakan apa yang dia lihat di alam bawah sadarnya.
"Jackson, apa kau suka dengan sangkar yang aku siapkan?" sinis Gabrielle dengan kilatan amarah di matanya. "Kau pasti tidak pernah membayangkan bukan kalau sangkar emas yang sudah kau siapkan untuk mengurung istriku kini berbalik mengurung dirimu sendiri? Bagaimana rasanya? Apa kau takut?."
"Hahahahaha, bagian mananya yang harus aku takutkan, Gabrielle. Dan ya, aku memang cukup terkejut dengan keberadaan sangkar ini. Tapi menurutku ini cukup nyaman untuk di tinggali" sahut Jackson mulai memprovokasi. "Oh ya, bagaimana keadaan gadis kecil kecilku? Dia belum mati kan?.
Sebuah smirk muncul di bibir Gabrielle saat Jackson dengan entengnya menyebut kata mati tentang Elea. " Apa kau suka jika melihat istriku tersiksa?."
"Tentu saja. P*lacur kecil sepertinya memang pantas untuk mati. Ciihhhh, menyesal aku tidak langsung membunuhnya saat kami bertemu di taman. Seandainya saja saat itu aku tahu kalau dia sudah menjual tubuhnya padamu, aku tidak akan berbelas kasihan lagi padanya. Benar-benar gadis sialan!" jawab Jackson dengan santainya.
Doooorrrrrrr
"Aaaarrgggkkkkkkk........!."
Lan langsung mengaum keras begitu dia mencium aroma darah yang berasal dari kaki Jackson. Dia mulai berjalan kesana kemari, gelisah saat kebuasan dalam dirinya bangkit. Gabrielle menyeringai melihat bagaimana Jackson berteriak kesakitan setelah dia menembak kakinya.
"Ini belum seberapa Jack, kau akan segera merasakan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada ini karena sudah berani menghina harga diri istriku. Apa kau tahu, gadis yang kau sebut sebagai p*lacur kecil itu memiliki kehormatan setinggi langit. Dan aku sangat beruntung memilikinya" ucap Gabrielle sambil mengeretakkan gigi.
__ADS_1
"Akkhhhh, k*parat kau Gabrielle. Cepat lepaskan aku dari sini!" bentak Jackson sambil memegangi kakinya yang berlumuran darah.
"Melespaskanmu?" ucap Gabrielle mengulangi ucapan Jackson. "Hahahahahaa... Bahkan sampai dunia ini kiamat aku tidak akan pernah membiarkanmu menghirup udara bebas lagi, Jack. Sampah sepertimu hanya cocok untuk tinggal di kandang binatang seperti ini. Apalagi di temani oleh Lan, dia pasti akan sangat menyayangimu!."
Kening Jackson mengerut, sedikit bingung saat Gabrielle menyebut nama Lan. "Siapa dia?."
"Jangan pura-pura tidak tahu, Jack. Sejak semalam bukankah kalian sudah bersama?" jawab Gabrielle.
"Kami bersama?" beo Jackson. Ekor mata Jackson kemudian menatap kearah harimau yang terus saja mengaum. Matanya langsung terbelalak lebar setelah tahu jika Lan yang di maksud oleh Gabrielle adalah harimau yang memang sejak semalam terus menunggunya di depan sangkar. "Kau jangan macam-macam, Gabrielle. Akan ku penggal kepalamu kalau kau berani membiarkan binatang itu menyentuhku!."
"Jackson Jackson, sekarang aku tanya padamu bagaimana caranya kau memenggal kepalaku kalau tubuhmu saja terkurung di dalam sangkar ini? Atau jangan-jangan kau memiliki kekuatan super yang bisa menembus dinding, iya?" ejek Gabrielle yang mengundang gelak tawa para penjaga yang ada di sana.
Skak matt. Jackson tak bisa berkutik lagi setelah Gabrielle mengingatkan dimana dirinya berada. Dia terus mengumpat dalam hati, merutuki orang-orang yang sudah berjanji untuk melindunginya selama berada di negara ini. 'Brengsek kalian semua. Aku sudah mengirimkan sinyal bantuan tapi kalian masih saja tidak ada yang datang untuk menolongku. Lihat saja, begitu aku keluar dari rumah ini, akan ku habisi kalian satu-persatu. Beraninya kau mempermainkan seorang Jack-Gal!.'
Gabrielle menatap muak mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh Jackson. Dia lalu menoleh kearah Ares. "Berikan itu padaku!."
"Baik Tuan Muda" sahut Ares kemudian segera menyerahkan apa yang di inginkan oleh Tuan Muda-nya.
"Mau apa, hah! Jangan kurangajar kau, Gabrielle. Aku bisa membunuhmu nanti!" teriak Jackson panik saat Gabrielle membuka gembok yang mengunci sangkar ini.
Suara geraman kembali terdengar saat Lan berhasil mencicipi darah Jackson yang menggenang di lantai. Binatang itu dengan aura pembunuhnya masuk ke dalam sangkar, membuka mulutnya lebar-lebar tepat di depan wajah Jackson yang sudah berwarna putih seperti kertas. Gabrielle sengaja membiarkan Lan bermain-main dengan mangsanya. Sementara dia sendiri segera menyuntikkan cairan itu di paha Jackson. Dalam sekejap darah yang keluar dari tubuh Jackson langsung berhenti. Namun beberapa saat kemudian efek dari cairan tersebut mulai beraksi.
"Akhhh, apa yang terjadi dengan tubuhku? Kenapa gatal sekali. Apa yang terjadi, akhh tolong aku. Gatal, gatal!" teriak Jackson mulai mencakari tubuhnya sendiri.
Gabrielle segera mengajak Lan keluar dari dalam sangkar saat Jackson mulai menggeliat kegatalan. Ya, dia berniat menciptakan neraka untuk bajingan yang sudah berani menyakiti dan menghina istri kesayangannya. Rasa gatal yang sedang di rasakan oleh Jackson itu rasanya benar-benar sangat menyakitkan. Cairan itu akan terus bergerak mengikuti aliran darah di tubuhnya, yang artinya, rasa sakit yang dia rasakan tidak akan pernah bisa hilang selama darahnya masih mengalir. Rasa menyiksa tersebut hanya bisa hilang jika Jackson meminum obat penawarnya. Namun sayangnya, Gabrielle tidak akan pernah memberinya obat penawar itu. Karena ini adalah salah satu bentuk balas dendam darinya.
"Aarrgghh brengsek, apa yang sudah kau suntikkan ke tubuhku, Gabrielle. Kenapa sekujur badanku terasa sangat gatal. Tolong aku, tolong beri aku penawarnya!" teriak Jackson kesakitan dengan kulit tubuh yang mulai terkelupas akibat dia cakar.
__ADS_1
Gabrielle, Ares dan para penjaga di sana hanya berdiri diam menyaksikan bagaimana Jackson menjerit dan menggeliat kesakitan. Darah mulai tercecer memenuhi lantai saat Jackson terus saja menggaruk tubuhnya tanpa henti. Semua orang di sini tahu bagaimana tersiksanya rasa gatal yang di timbulkan oleh cairan tersebut. Bahkan Ares sendiri pernah tidak sengaja merasakannya. Menurut pengakuannya, rasa gatal itu seperti akan melucuti tulang-tulang yang ada di tubuhnya. Gatal dan sangat menyiksa.
"Gabrielle, akkrrgggghhhh.... Aku mohon beri aku obat penawarnya. Aku mohon Gabrielle, tolong aku!" ucap Jackson menghiba.
Acuh, Gabrielle malah pergi meninggalkan Jackson yang sedang kesakitan. Meninggalkannya bersama Lan yang akan selalu setia menemaninya.
"Jaga bajingan itu baik-baik. Setelah dia sadar nanti, beri dia makanan yang penuh gizi. Jackson tidak boleh mati dengan mudah, aku ingin dia merasakan ratusan kali rasa sakit ketimbang rasa sakit yang di rasakan oleh istriku. Nanti setelah tenaganya sedikit pulih, biarkan dia sedikit berolahraga lari dengan Lan. Aku ingin lihat siapa di antara mereka yang paling buas!" perintah Gabrielle pada anak buahnya sebelum masuk ke dalam mobil.
"Baik Tuan Muda!."
Setelah itu Gabrielle dan Ares segera pergi dari rumah ibunya. Mereka kembali menuju rumah sakit dengan harapan ada sedikit perkembangan pada Elea. Membayangkan betapa hancur hati istrinya membuat dada Gabrielle terasa sangat sesak. Dia akhirnya mengambil keputusan untuk membawa Elea pergi jalan-jalan begitu luka di tubuhnya mengering. Gabrielle ingin Elea tersenyum, dia bersumpah akan membawakan sejuta kebahagiaan pada istrinya itu selama mereka liburan nanti.
"Ares, nanti setelah Elea pulih segera atur liburan ke luar negeri untuk kami berdua. Ah tidak, Levi dan Reinhard juga. Aku yakin Elea pasti akan menanyakan mereka jika tidak di ajak!."
"Tempat seperti apa yang ingin anda kunjungi, Tuan Muda?" tanya Ares.
"Tempat yang sangat indah. Pasir putih, laut biru dan juga keindahan alam yang bisa membuat pikiran menjadi tenang. Aku ingin Elea berada di tempat seperti itu, Ares. Aku ingin dia menghirup udara sejuk untuk menenangkan perasaannya" jawab Gabrielle lirih. "Bisa kan?."
Ares mengangguk. Tangannya segera berselancar mencari tempat yang di inginkan oleh Tuan Muda-nya. Dia menarik nafas panjang saat melirik kearah Tuan Muda-nya yang terlihat sedih melalui kaca spion. Dadanya ikut merasa sesak.
'Nyonya Elea, semoga setelah ini tidak ada lagi badai besar yang menghampiri hidupmu. Dan semoga anda dan Tuan Muda bisa segera mendapatkan kehidupan yang damai sejahtera seperti di awal-awal kalian bersama. Amiinn!.'
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...