
Gabrielle dengan lembut mengusap peluh yang membanjiri wajah istrinya. Ya, mereka baru saja kembali membuat adonan. Tapi kali ini Gabrielle tidak meminta Elea untuk meminum obat penunda kehamilan. Bukan apa, ini adalah persyaratan yang harus Gabrielle penuhi jika ingin meminta jatah dari istrinya itu.
"Lelah, hem?."
"Sedikit" jawab Elea manja. "Kak Iel, apa Kakak itu tidak merasa lelah?."
Sudut bibir Gabrielle berkedut. Dia yakin sekali istrinya pasti akan mengeluh tentang tenaganya yang seperti tak pernah habis saat bercinta.
"Lelah kenapa?" tanya Gabrielle sambil menahan tawa.
"Kita kan baru beberapa jam yang lalu sampai di negara ini, tapi kenapa tenaga Kakak sama sekali tidak berkurang ya? Malah Kakak bergerak seperti kuda liar di atas tubuhku tadi. Aku kan jadi heran" jawab Elea dengan raut muka penuh tanda tanya.
"Sayang, aku sebenarnya juga merasa lelah. Tapi...
"Tapi apa Kak?."
"Tapi aku tidak tahan setiap kali mencium aroma tubuhmu. Kau benar-benar candu, sayang. Aku bisa gila jika tidak segera menyentuhmu!."
Blussshhhhh
Gabrielle terpana melihat wajah istrinya yang merona malu. Tanpa dia sadari juniornya sudah kembali menegak, yang mana hal itu membuat istrinya memekik kaget.
"Waaaa, anak buah Kakak bangun lagi!."
"Haaaa..." Gabrielle membeo.
"Itu lihat di bawah. Anak buahnya Kakak berdiri lagi!" lanjut Elea sembari menunjuk kearah benda tumpul yang menggesek kakinya. "Astaga, cepat sekali bangunnya. Padahal kan dia baru saja muntah, masa iya ingin masuk lagi!."
Mendengar celetukan aneh istrinya membuat Gabrielle tertawa terbahak-bahak. Dia sekarang paham kenapa Elea memekik sambil menyebut nama anak buah yang ternyata adalah juniornya yang sudah kembali on fire. Masih dengan tertawa Gabrielle kembali naik keatas tubuh Elea. Dia lalu menciumi semua bagian wajah istrinya, menyisakan bibir bengkak itu sebagai hidangan terakhir sebelum akhirnya dia kembali turun ke ranjang.
"Kakak tidak mau lagi?" tanya Elea yang bingung melihat suaminya turun dari atas tubuhnya.
"Mau lah. Tapi yang tadi sudah cukup, aku tahu kau kelelahan. Kita bisa melanjutkannya besok pagi di dalam kamar mandi" jawab Gabrielle menyudahi.
"Apa anak buah Kak Iel tidak apa-apa? Kak Levi bilang Kakak bisa kena stroke kalau di tahan-tahan?" tanya Elea memastikan. Dia mana rela suaminya yang tampan ini terkena stroke. Lelah pun akan dia tahan jika itu bisa menyelamatkan kemerdekaan suaminya.
__ADS_1
Gabrielle tersenyum. Dia kembali menyesap bibir ranum Elea kemudian mendekapnya erat.
"Sayang, jangan selalu mendengarkan apa kata Levi. Karena terkadang ilmu yang kau dapat darinya itu sesat!."
Elea mengangguk. Wajahnya seperti terbakar saat dia merasakan milik suaminya yang masih menegang di bawah sana.
"Sudah, abaikan saja anak buahku. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu" lanjut Gabrielle kemudian melepaskan dekapannya.
Gabrielle mensejajarkan wajahnya dengan wajah Elea. Dia terdiam lama, mengagumi kecantikan natural yang menghiasi wajah istrinya. Sedangkan Elea, gadis kecil itu nampak tersenyum manis. Satu jarinya bergerak mengusap hidung mancung suaminya, kemudian turun ke bibir sexy yang selalu mencuri ciumannya di setiap kesempatan.
"Kau tahu Kak Iel, aku sangat beruntung bisa menjadi istrimu. Kau tampan, baik hati, dan juga sangat peduli padaku. Seandai Kakak jatuh miskin, ke lubang semut pun aku akan tetap ikut. Aku tidak peduli dimana kita akan tinggal, bagiku asal kita tetap bersama, jadi gelandangan pun aku rela" ucap Elea penuh ketulusan.
Gabrielle tersenyum. Dia membiarkan Elea meluapkan seluruh perasaan yang dia simpan untuknya. Jujur saja, saat ini hatinya sangat membuncah. Dia bahagia sekali saat Elea berucap seakan sedang mendeklarasikan kesetiannya sebagai seorang istri.
"Terima kasih Kak Iel untuk semuanya. Aku mencintaimu."
"Ekhmm, apa ini sebuah godaan?" ledek Gabrielle.
"Iihhh, Kak Iel ini bagaimana. Jangan merusak suasana yang sedang haru" protes Elea.
Elea mengulum senyum dengan pipi memerah. Dia bahagia, sangat bahagia setiap kali mendengar kata cinta yang keluar dari mulut suaminya. Setelah itu Elea teringat kalau tadi suaminya ingin membicarakan hal penting dengannya. Segera saja Elea menanyakan perihal tersebut pada yang bersangkutan. Dia sangat penasaran.
"Kak Iel bilang tadi ingin membicarakan sesuatu yang penting denganku. Apa itu?."
"Oh iya, aku sampai lupa gara-gara mendengar pengakuan cintamu tadi" jawab Gabrielle sambil terkekeh. "Begini sayang, aku meminta Lusi untuk masuk ke Universitas bersamamu nanti. Aku tidak tenang jika melepasmu sendirian disana. Kau tidak keberatan kan kalau Lusi mengikutimu?."
Mata Elea membulat lebar. Setelah itu dia menganggukkan kepala dengan cepat.
"Sama sekali tidak, Kak. Ah, terima kasih, aku senang sekali" jawab Elea. "Em tapi Kak, memangnya Kak Lusi mau pergi bersamaku? Kalau dia menolak bagaimana? Dia kan ahli dalam menghindari semua tawaran yang berhubungan denganku?."
Sambil mengusap pipi istrinya yang menggelembung, Gabrielle memberikan jawaban. "Tenang saja, Nun dan Ares sudah mengurus hal ini. Lusi pasti bersedia untuk sekolah bersamamu, jangan khawatir. Oke?."
"Oke, baiklah suamiku sayang. Aaaaa, senangnya. Kalau begitu, boleh tidak kalau besok aku pergi berbelanja tas dan sepatu dengan Kak Lusi? Dia pasti belum mempunyai persiapan apa-apa!."
Wajah Gabrielle langsung masam. Istrinya sekarang semakin cantik, dia khawatir akan ada pria lain yang menggoda Elea jika dia membiarkannya pergi bersama Lusi.
__ADS_1
Elea yang sadar kalau suaminya sedang cemburu segera meringsek masuk ke dalam pelukannya. Dengan nakal dia menciumi dada bidang suaminya, berusaha untuk membujuk agar pria tampan ini mau memberinya izin.
"Boleh ya?" rayu Elea sambil mendongakkan wajah. "Aku janji tidak akan lama, Kak Iel. Kalau Kakak takut ada pria lain yang jatuh cinta padaku, aku akan pergi dengan memakai masker. Dengan begitu tidak akan ada orang yang bisa melihat wajahku. Bagaimana? Begitu boleh tidak?."
Bukan Gabrielle namanya jika tak berhasil luluh dengan bujukan manis istrinya. Satu jarinya bergerak memencet hidung mungil Elea kemudian mencium keningnya lama.
"Pergilah. Tapi sebelum itu kau harus datang ke perusahaanku dulu. Aku perlu memastikan pakaian seperti apa yang akan kau kenakan nanti!."
"Baiklah suamiku sayang, aku akan ke kantor terlebih dahulu sebelum pergi berbelanja dengan Kak Lusi. Oh iya Kak Iel, aku boleh mengajak Kak Levi juga tidak? Dia bisa marah besar kalau aku menikmati uang Kakak tanpa mengajaknya. Tahu sendiri kalau Kak Levi itu kan pelakor. Aku heran kenapa dia bisa sangat menyukai uang Kak Iel. Memangnya Kak Levi itu sangat miskin ya Kak?."
Gabrielle tergelak. Miskin? Seorang Levita Foster miskin? Yang benar saja. Jika wanita bar-bar itu mendengar ucapan Elea, Gabrielle yakin sekali di kepalanya pasti akan keluar banyak tanduk. Levi pasti akan langsung mengamuk di katai miskin oleh Elea.
"Sayang, temanmu itu adalah pewaris tunggal dari harta kekayaan milik Keluarga Foster. Dia menyukai uangku hanya untuk membuatku kesal saja. Juga agar bisa menghabiskan banyak waktu bersamamu. Levi sangat menyayangimu, Elea. Itulah kenapa uangku selalu di jadikan alasan agar dia bisa mengajakmu bersenang-senang!."
Elea tersenyum.
"Aku tahu itu, Kak Iel. Makanya aku selalu ingat Kak Levi setiap kali pergi berbelanja. Terkadang aku merasa kalau di kehidupan sebelumnya Kak Levi adalah kakakku. Perhatian dan kepeduliannya benar-benar membuatku merasa sangat terharu. Siapa yang menyangka kalau pertemuan yang di awali dengan hinaan bisa berakhir indah seperti ini. Mungkin benar apa kata orang kalau kita itu tidak boleh menilai seseorang hanya dari cover luarnya saja. Karena bisa jadi keburukan yang kita lihat adalah tameng dari orang itu dalam mencari teman yang benar-benar tulus. Seperti Kak Levi. Mulutnya sangat pedas dan tajam, tapi hatinya sangat lembut seperti kapas. Aku sangat menyayanginya Kak Iel, aku sangat menyayangi Kak Levi!."
"Iya sayang aku tahu. Ya sudah lebih baik kita segera istirahat. Besok kau mau pergi bersenang-senang bukan?."
"Iya Kak" sahut Elea sembari mengangguk patuh.
Gabrielle terkekeh. Setelah itu dia menarik selimut lebih keatas untuk menutupi tubuh keduanya yang polos tanpa sehelai benangpun. Malam itu Gabrielle dan Elea melewati malam dengan sangat bahagia. Tidak hanya malam ini saja sebetulnya, tapi kebahagiaan ini akan selalu ada di malam-malam berikutnya. Malam yang panas dan juga malam yang penuh dengan cinta.
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1