Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Hina


__ADS_3

Patricia berteriak sambil menggedor-gendor pintu kamar. Dia ingin keluar, tapi tidak bisa karena Junio menguncinya dari luar. Pria gila itu benar-benar menjadikan Patricia sebagai seorang tawanan setelah memp*rkosanya dengan begitu kejam.


"Buka pintunya Juniooo!!! Aku mohon padamu tolong biarkan aku pergi dari sini. Aku ingin ke makam Ibuku Junio. Tolong buka pintunya. Juniooo!" teriak Patricia.


Setelah di beritahu kalau ibunya sudah meninggal dalam ledakan yang dia rencanakan, setiap detiknya Patricia selalu di bayangi perasaan bersalah. Dia kini sangat menyesal karena tega melenyapkan ibunya sendiri hanya karena dia yang merasa cemburu melihat kedekatan antara ibunya dan juga Elea. Mengingat nama gadis yang berhasil selamat dari ledakan membuat darah Patricia kembali mendidih. Dia tidak rela jika hanya ibunya saja yang meninggal, karena target yang sebenarnya dia incar adalah Elea. Patricia sebenarnya tidak benar-benar ingin ibunya mati, dia hanya mau memberinya sedikit peringatan. Tapi siapa yang menyangka kalau mimpi buruk ini akan terjadi. Ibunya mati dan orang yang seharusnya pergi ke neraka saat ini masih bisa menghirup udara dengan bebas.


"Kau bajingan Elea. Kenapa kau tidak mati saja hah! Kenapa harus Ibuku yang pergi dari dunia ini. Kenapa Elea, kenapa!.


Ceklek


Patricia mundur ketika pintu kamar terbuka. Dia menatap nyalang pada beberapa pelayan yang datang sembari membawa puluhan paperbag di tangan mereka. Tanpa para pelayan itu bicara Patricia sudah tahu apa isi dari paperbag tersebut.. Dia tentu tidak lupa dengan apa yang di katakan Junio tentang lingerie-lingerie sexy yang akan dia kenakan saat menyambutnya pulang.


"Bawa barang-barang menjijikkan itu pergi dari sini. Dan katakan pada tuan kalian kalau aku tidak akan sudi untuk memakainya!.


"Maaf Nona, di rumah ini kami hanya menerima perintah dari Tuan Junio saja. Sebagai tahanan, anda seharusnya tahu diri dan jangan sombong. Masih untung anda tidak di jadikan manekin oleh Tuan Junio dan Tuan Gleen. Hidup begini masih jauh lebih baik daripada harus menjadi patung tidak bernyawa bersama para model-model yang serakah itu!" sahut salah satu pelayan sambil melayangkan tatapan tajam.


Patricia tertegun. Bahkan seorang pelayan saja berani memandangnya dengan sebegini rendah. Tiba-tiba saja tengkuk Patricia meremang ketika dia membayangkan dirinya yang di sulap menjadi sebuah patung manekin oleh pria gila itu bersama temannya yang juga sama-sama berotak gila.


"Ini sudah hampir jam sepuluh malam. Nona sebaiknya segera bersiap diri untuk menyambut kepulangan Tuan Junio dengan memakai salah satu dari puluhan lingerie-lingerie ini. Saya ingatkan satu hal pada Nona, Tuan Junio moodnya akan sangat buruk jika keinginannya di bantah. Dia bisa berubah seperti monster jika ada yang memantik emosinya di kala lelah!.


"Aku tidak peduli dan aku tidak akan pernah mau menuruti keinginannya yang gila itu. Dan kau wanita buruk rupa, jangan sekali-kali berani memandang rendah kepadaku. Aku ini berasal dari keluarga bangsawan. Sedangkan kau dan teman-temanmu ini, kalian berasal dari kalangan bawah yang sangat miskin dan kumuh. Level kita sangat jauh berbeda. Tahu tidak kalian hah!" sentak Patricia sembari menuding salah seorang pelayan yang mempunyai bentuk wajah mengerikan.


Entah tersinggung atau apa, pelayan-pelayan itu tiba-tiba melemparkan tatapan yang sangat tidak bersahabat kearah Patricia. Mereka kemudian berjalan mendekat, semakin dekat hingga tubuh Patricia menabrak tembok.


"M-mau apa kalian? Jangan macam-macam padaku!" ucap Patricia gugup.


"Nona, apa kau tahu, dengan wajah buruk rupa seperti inilah kami semua bisa selamat dari kekejaman Tuan Junio dan Tuan Gleen. Seandainya kami mau, kedua tuan kami selalu siap untuk membiayai operasi plastik agar kami bisa tampil cantik seperti kebanyakan wanita lain. Tapi kami semua menolak karena kami tahu kalau kecantikan yang akan kami dapatkan bisa menyakiti perasaan tuan-tuan kami. Jadi anda itu jangan sombong, karena justru wanita berwajah cantik seperti andalah yang sedang berada dalam bahaya. Sewaktu-waktu kedua tuan kami bisa saja menjadikan anda sebagai manekin kalau anda terus memancing kemarahan mereka. Coba saja kalau anda tidak percaya. Kami bahkan tidak merasa keberatan sedikitpun jika kelak di minta untuk membersihkan debu yang menempel di tubuh anda ketika di tempatkan di ruang bawah tanah!.

__ADS_1


Mata Patricia terbelalak lebar begitu mendengar ucapan si pelayan. Dia tidak menyangka kalau Junio masih memiliki sisi manusia dengan menyelamatkan para wanita ini yang entah kenapa bisa mempunyai wajah yang sangat mengerikan. Untuk beberapa saat lamanya Patricia hanya terdiam sambil terus memikirkan apa yang baru saja dia dengar. Hingga dia di kejutkan oleh sebuah tarikan kuat yang menyeretnya kearah kamar mandi.


"Yaakkkk, apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!" amuk Patricia sambil meronta ingin melepaskan diri.


Pllaaaakkkkk


"Nona, tolong menurutlah. Kami semua sudah di beri kuasa oleh Tuan Junio untuk melakukan sedikit kekerasan jika anda terus melawan. Tolong bekerjasama lah dengan baik dengan kami semua jika anda masih sayang dengan nyawa" ancam salah seorang pelayan yang baru saja melayangkan satu tamparan kearah Patricia yang kini jatuh terduduk di pinggiran bathup.


"K-kalian, kenapa kalian begitu kejam padaku? Aku-aku tidak salah apa-apa pada tuan kalian. Kenapa kalian memperlakukan aku dengan sebegini hina?" tanya Patricia sambil terisak sedih meratapi nasib yang begitu menyakitkan.


"Maafkan kami semua, Nona. Ini sudah menjadi perintah dari Tuan Junio dan tugas kami hanyalah melaksanakan perintah tersebut dengan sebaik-baiknya. Jika Nona ingin melakukan komplain, silahkan sampaikan hal itu kepada Tuan Junio nanti. Karena disini kami hanyalah seorang pelayan, jadi kami tidak memiliki hak untuk banyak bicara!.


Patricia semakin terisak pilu ketika para pelayan itu melucuti pakaiannya. Dia mati-matian menahan malu ketika bercak keunguan yang memenuhi hampir seluruh tubuhnya terlihat oleh mereka.


"Jangan merasa malu, Nona. Semua wanita yang pernah tidur dengan Tuan Junio akan selalu berakhir seperti ini. Bedanya kalau Nona itu bisa selamat, sementara mereka. Mereka langsung di eksekusi begitu selesai di tiduri. Jadi Nona bersyukurlah atas kehidupan yang di berikan oleh tuan kami!" ucap pelayan yang menyadari kalau tawanan majikannya sedang merasa malu.


"Asalkan itu tidak melebihi batasan, kami mungkin bisa menjawabnya!.


Patricia mengangguk.


"Sekarang aku ada dimana? Seingatku malam itu anak buahnya Junio datang menculikku kemudian membawaku pergi menggunakan pesawat. Tapi setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi karena mereka menyuntikkan obat bius ke tubuhku."


"Saat ini Nona berada di negara tempat Nona tinggal. Awalnya anda memang di bawa ke kediaman Tuan Junio yang lama, tapi setelah Nona selesai di tiduri, Tuan Junio kembali membawa anda ke negara ini. Untuk alasannya sendiri kami tidak tahu karena itu sudah bukan ranah kami untuk ikut campur."


Ada secercah harapan begitu Patricia tahu kalau dia sedang berada di negaranya sendiri. Tapi baru saja dia menemukan sedikit celah kecil untuk meminta bantuan dari seseorang, sebuah suara langsung mematahkan harapannya.


"Jangan kau pikir bisa melarikan diri dari genggaman tanganku meski kini kau berada di negaramu sendiri, Patricia. Kalau kau tetap nekad ingin kabur dari rumah ini, maka bersiaplah untuk mati dan menjadi pajangan di rumah lamaku!" ucap Junio dingin. "Kalian keluar. Biar aku saja yang membantu wanita ini membersihkan diri!.

__ADS_1


"Baik Tuan, kami permisi!.


Sepeninggal para pelayan, Patricia langsung beringsut ketakutan melihat Junio yang berjalan kearahnya.


"Kenapa? Takut?" tanya Junio.


"Junio, tolong jangan sentuh aku lagi. Aku-aku...


Patricia bingung antara malu dan juga jijik. Miliknya masih begitu nyeri, dia tidak akan sanggup jika Junio kembali mengajaknya untuk bercinta.


"Jadilah gadis patuh maka aku akan sedikit lembut padamu. Bisa?.


"Baik-baik, aku akan patuh" sahut Patricia dengan cepat.


Junio menyeringai.


"Bagus. Kalau begitu biarkan aku yang memandikanmu. Tidak usah malu, karena aku sudah melihat semua bagian di tubuhmu. Aku bahkan masih sangat hafal bagian mana saja yang bisa membuatmu mendesah keenakan. Hahahahaha!.


Patricia hanya bisa menahan malu ketika Junio merendahkannya. Untuk saat ini, hanya sikap patuhlah yang bisa menyelamatkannya dari kematian. Nanti, begitu Junio lengah, dia akan mencari cara agar bisa keluar dari penjara ini kemudian pergi ke makam ibunya. Patricia ingin meminta maaf di atas pusara wanita yang sudah begitu tulus meyayanginya. Dia benar-benar sangat menyesal sekarang.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2