Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Pembawa Terang


__ADS_3

Gabrielle dengan langkah lebar berjalan menuju ruang rawat istrinya. Dia tidak berhenti mengomel sepanjang meeting yang berlangsung di perusahaan tadi. Jika saja bukan dalam kondisi mendesak, Gabrielle tidak akan mau meninggalkan istrinya. Apalagi Elea baru saja tersadar setelah dua hari koma, sudah pasti Gabrielle ingin menghabiskan waktu untuk menemaninya di rumah sakit.


"Ares, mana bunganya?" tanya Gabrielle saat akan masuk ke dalam ruang rawat istrinya. "Jangan bilang kau lupa untuk membelinya ya?.


"Tidak, Tuan Muda. Semuanya sudah saya siapkan dengan baik!" jawab Ares kemudian berjalan kearah salah satu bawahannya yang sudah menunggu sambil membawa buket bunga mawar dalam ukuran sedang.


Gabrielle dengan tergesa menerima buket bunga dari Ares lalu merapihkan rambut dan juga pakaiannya sebelum masuk ke dalam. Dia ingin istrinya memekik senang ketika melihatnya datang dengan tampilan yang rapi.


Ceklek


"Sayang, aku datang."


Tidak ada sahutan dari dalam kamar. Namun sudut bibir Gabrielle tertarik keatas saat dia mendapati istrinya tengah terlelap di atas ranjang.


"Manisnya" gumam Gabrielle kemudian menutup pintu dengan sangat perlahan.


Di dalam kamar ada ayah dan ibunya, Grandma Clarissa dan juga kedua mertuanya. Setelah mencium kening Elea, Gabrielle menyapa semua orang yang ada di sana. Dia menarik nafas lega saat ibunya memberitahu kalau hasil pemeriksaan istrinya sangat bagus. Ginjal barunya di terima dengan sangat baik oleh anggota tubuh yang lain tanpa harus mengalami penolakan.


"Oh ya Bu, Levi dimana? Bukankah tadi dia ada di sini sebelum aku pergi?" tanya Gabrielle saat tidak melihat keberadaan si wanita bar-bar.


"Tadi dia berpamitan akan pergi ke ruangannya Reinhard. Sekarang mungkin dia masih ada di sana atau malah sudah pulang ke rumahnya, Ibu tidak tahu" jawab Liona.


Gabrielle mengangguk. Setelah itu dia duduk di samping ranjang, mengusap pelan pipi Elea yang sedang asik bermain dalam dunia mimpinya.


"Cepat sembuh, sayang. Rasanya jenuh sekali jika berada di kantor tanpa dirimu" bisik Gabrielle.


Bryan dan Yura nampak tersenyum melihat betapa Gabrielle sangat menyayangi putri mereka. Keduanya lalu teringat dengan Patricia di rumah, kembali gusar memikirkannya. Bryan dan Yura menjadi tidak tenang karena takut kalau-kalau putri sulung mereka akan kembali menyakiti diri sendiri seperti tadi. Kegelisahan keduanya akhirnya menarik perhatian Clarissa yang duduk tak jauh dari mereka.


"Bryan, Yura, ada masalah apa? Sejak tadi Mama perhatikan kalian berdua terlihat sangat gelisah. Ada apa?.


"O-oh tidak ada apa-apa, Ma" jawab Yura berkilah.


"Jangan bohong, Mama tahu kalian sedang menyembunyikan sesuatu" desak Clarissa tak percaya.


Yura menoleh kearah Bryan. Dia ragu untuk memberitahu semua orang kalau saat ini Patricia sedang krisis mental. Bukannya berprasangka buruk, hanya saja Yura tidak tega jika putrinya harus menerima cacian dari orang-orang ini. Hatinya akan merasa sangat sedih nanti.


Liona yang mendengar isi pikiran Nyonya Yura pun akhirnya angkat bicara. Dia bisa memahami kalau mertua putranya sedang di dera perasaan khawatir yang begitu besar.

__ADS_1


"Nyonya Yura, kita semua adalah keluarga. Ada baiknya jika ada masalah kita bisa saling terbuka. Mungkin Patricia pernah berbuat salah, tapi sekarang kan dia sudah menyadari kesalahannya sendiri. Jadi jangan merasa sungkan untuk bercerita, siapa tahu di antara kami ada yang bisa membantu!.


Bryan menggenggam erat tangan istrinya yang terasa begitu dingin. Dia tersenyum, berusaha menyampaikan kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Begini Ma, Nyonya Liona, Tuan Greg, kami berdua memang sedang mengkhawatirkan keadaan Patricia. Tadi sebelum kami datang kemari dia sempat menyakiti tubuhnya sendiri dan terus berkata kalau hidupnya sudah hancur. Lalu setelahnya dia jatuh pingsan karena aku menamparnya supaya sadar!" ucap Bryan menceritakan masalah yang ada. "Patricia sepertinya begitu tertekan, makanya dia sampai berbuat seperti itu di hadapan kami berdua!.


'Gabrielle, apakah Junio telah merenggut kesucian Patricia?.


Gabrielle yang saat itu hanya menyimak dalam diam langsung berbalik menatap ibunya. Dia lalu menganggukkan kepala.


"Aku rasa iya, Bu. Tadinya Junio ingin menjadikan Patricia sebagai manekin koleksinya, tapi saat itu Elea melarangnya agar tidak membunuh Patricia. Kemungkinan besar Junio memang sudah menidurinya, Bu. Dia juga adalah seorang penjahat k*lamin!.


Liona menarik nafas. Dan tindakannya itu membuat Greg merasa penasaran.


"Ada apa Hon?' bisiknya.


"Patricia tertekan karena kesuciannya sudah di ambil oleh Junio, Greg. Dan aku rasa baik Tuan Bryan maupun Nyonya Yura mereka belum mengetahui hal ini. Makanya sekarang mereka terlihat sangat gelisah memikirkan Patricia" jawab Liona lirih.


"Haruskah aku mengirim orang untuk menghajar bajingan itu?.


Greg mengangguk. Dia lalu kembali menyimak percakapan antara Tuan Bryan dengan Nyonya Clarissa.


"Apa tidak sebaiknya di bawa ke psikolog saja?" tanya Clarissa terenyuh akan keadaan mental Patricia. "Takutnya dia akan kembali melakukan sesuatu yang bisa mencelakainya. Penyakit mental adalah sesuatu yang sangat berbahaya, Bryan. Kalian tidak boleh menganggapnya remeh!.


"Aku setuju dengan ide Nyonya Clarissa. Sebaiknya Patricia di bawa ke psikolog saja agar tekanan yang dia rasakan bisa mereda. Orang-orang yang seperti dia terkadang tak mampu menggunakan akal sehat untuk berpikir jernih. Kalian segeralah membawanya pergi berobat sebelum terlambat!" ucap Greg ikut menimbrung.


"Bagaimana sayang? Apa kau setuju untuk membawa putri kita pergi ke psikolog?" tanya Bryan.


Wajah Yura memanas saat Bryan memanggilnya sayang di hadapan semua orang. Dia benar-benar sangat kaget dengan sikap suaminya yang entah kenapa jadi sedikit vulgar semenjak hubungan mereka membaik. Bukannya tidak bersyukur, Yura hanya kaget saja karena selama ini sudah terbiasa dengan sikap Bryan yang sangat acuh dan juga dingin.


"Ayah, kau membuat Ibu merasa malu!.


Semua orang langsung menoleh kearah ranjang begitu mendengar suara serak Elea. Gabrielle yang sejak tadi menunggunya bangun langsung tersenyum lebar ketika melihat Elea membuka mata.


"Kak Iel, kau sudah datang ya?" tanya Elea sambil tersenyum manis. "Ck, kenapa semakin hari ketampanan Kak Iel semakin bertambah sih. Aku kan jadi semakin sayang!.


"Dasar pembual" ucap Gabrielle tergelitik dengan kata-kata istrinya.

__ADS_1


"Aku bukan membual, Kak Iel!.


"Lalu?.


"Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat di depan mata saja,"


Gabrielle terkekeh.


"Ayah, Ibu sedang malu, bujuklah" ucap Elea yang sudah beralih menatap kearah orangtuanya.


"Malu apa. T-tidak seperti itu juga, sayang" sahut Yura gugup.


"Alah bohong. Wajah Ibu saja sudah semerah buah tomat, jadi jujur saja. Iya kan?.


Liona dan Greg tampak menggelengkan kepala melihat kejahilan menantu mereka. Sungguh, Elea benar-benar sangat pandai menghidupkan suasana.


"Sayang, jangan jahil pada Ibu Yura. Kasihan!" tegur Gabrielle lembut.


"Biar saja, Kak Iel. Aku memang sengaja melakukannya supaya mereka bisa cepat memberiku adik. Kalau Ayah dan Ibu tidak di pojokkan seperti ini, mereka pasti akan lupa untuk bersenang-senang. Kan kasihan Ibu Yura, dia sudah menunggu sebegini lama untuk pengakuan Ayah" bisik Elea.


"Ya sudah terserah kau sajalah. Aku patuh" sahut Gabrielle kemudian menciumi tangan istrinya.


Bryan yang sadar akan maksud dan tujuan putrinya hanya bisa tersenyum kecil. Bahagia, itu yang dia rasakan. Yura begitu baik, akan sangat jahat jika Bryan masih tak mau melihat keberadaannya. Bryan pun akhirnya berjanji pada dirinya sendiri untuk memperlakukan Yura dengan lebih baik lagi. Dia tidak mau menyesal kedua kali.


'Terima kasih, Eleanor. Berkatmu sekarang mata hati Ayah jadi terbuka. Terima kasih juga karena sudah menyadarkan Ayah kalau di samping Ayah ada seorang bidadari tak bersayap yang mau mencintai Ayah tanpa pamrih. Sekali lagi terima kasih banyak, sayang.'


Dan apa yang sedang di pikirkan oleh Bryan membuat Gabrielle dan Liona tersenyum senang. Lagi-lagi gadis kecil ini membuat keajaiban. Elea adalah pembawa terang bagi semua orang.


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


...🌻VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻IG: rifani_nini...


...🌻FB: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2