
Tok, tok, tok
"Patricia, sayang... buka pintunya Nak!" panggil Yura.
Tidak ada sahutan. Khawatir terjadi sesuatu pada putrinya, Yura akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Dia mengernyitkan kening ketika melihat kearah ranjang. Kosong, putrinya tidak adanya di sana.
"Cia, kau dimana Nak?.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka. Muncul Patricia dengan wajah sembab dan juga mata yang membengkak.
"Aku di sini, Bu" sahut Patricia lirih. "Ada apa?.
Yura menatap sedih kearah putrinya. Dia kemudian berjalan menghampirinya lalu mengusap wajahnya yang terlihat pucat.
"Kenapa menangis lagi, hm?.
Patricia diam tak menjawab. Banyak hal yang membuatnya tidak bisa berhenti menangis sejak semalaman. Kematian kakeknya, surat wasiat tentang hak warisnya, juga tentang hidupnya yang tak lagi memiliki masa depan. Sebenarnya Patricia tidak menyalahkan Junio yang telah merenggut kegadisannya, dia pun sadar kalau itu adalah bentuk hukuman yang diberikan oleh Tuhan atas semua dosa yang pernah dia perbuat. Hanya saja sekarang Patricia merasa sangat kotor, dia merasa kalau dirinya adalah manusia paling hina di muka bumi ini.
"Cia, kakekmu sudah tenang di surga sana. Jangan menangisinya lagi ya, nanti kakekmu menjadi tidak tenang di surga" ucap Yura mencoba menghibur kesedihan sang putri. "Ikhlaskan ya, biarkan kakekmu damai di tempatnya berada sekarang."
"Aku menyesal atas apa yang sudah kuperbuat pada kalian semua, Bu" sahut Patricia sambil menahan tangis.
"Stttt, jangan bahas apapun lagi mengenai masalah itu ya Nak. Ayah, Ibu, Kakekmu, bahkan Eleanor pun sudah ikhlas memaafkannya. Kita semua tidak ada yang menghakimi kekhilafan yang telah kau perbuat, jadi jangan merasa terbelenggu ya? Lupakan semuanya, kita buka lagi lembaran yang baru!" sambung Yura bijak. "Ketahuilah Nak, semuanya bisa seperti ini berkat adikmu, Eleanor. Karena kebaikan hatinya sekarang Ibu dan Ayahmu bisa memiliki hubungan yang sangat baik. Berkat Eleanor juga kau bisa mendapat pengampunan maaf dari semua orang. Jadi Ibu harap kau jangan membuat adikmu merasa kecewa. Dia begitu tulus ingin menyatukan kita semua!.
Suara Patricia tercekat.
'Adik?? Eleanor adiknya? Bisakah aku menerimanya?.
"Cia, saat ini adikmu sedang sangat membutuhkan dukungan. Dia sakit parah dan baru saja melakukan operasi besar. Tadi pagi Ayahmu baru saja mendapat kabar kalau Eleanor sudah sadar, dan sekarang Ibu ingin mengajakmu pergi menjenguknya di rumah sakit. Kau mau kan pergi bersama kami?" tanya Yura dengan suara yang sangat lembut.
"Aku belum siap bertemu dengan Eleanor, Bu. Malu" jawab Patricia sambil menundukkan kepala.
Yura tersenyum. Dia sudah menduga kalau putrinya akan menjawab seperti ini.
__ADS_1
"Ya sudah tidak apa-apa, Ibu bisa mengerti. Kalau begitu Ibu pergi dulu ya. Kasihan adikmu, dia mencari-cari semua orang."
Patricia mengangguk. Dia hanya bisa tersenyum getir saat sang ibu mencium pipinya. Rasanya masih hangat seperti dulu, sama sekali tak berbeda setelah apa yang telah dia lakukan.
"Bu?.
Yura yang hendak membuka pintu kamar menoleh. Dia terkejut melihat putrinya yang sudah berderai airmata.
"Astaga Cia, kau kenapa Nak? Kenapa menangis?" cecar Yura sambil berjalan cepat kearah putrinya yang sedang menangis sesenggukan.
"Hiksss Bu, maafkan aku Bu. Aku benar-benar sangat menyesal pernah berniat mencelakaimu dan juga Eleanor. Aku sangat menyesal sampai rasanya ingin mati. Aku menyesal Bu!" jerit Patricia sambil memukuli dadanya sendiri. "Aku jahat, aku jahat Bu. Karena kejahatanku itu Tuhan menjadi sangat marah lalu mengambil semua yang berharga dalam hidupku. Aku menyesal Bu, sungguh!.
Yura merasa amat sangat terenyuh mendengar penyesalan yang terus diucapkan oleh putrinya. Dia dengan sayang memberikan pelukan hangat pada gadis yang sedang terluka batin ini, mencoba menyalurkan kehangatan agar tak terlalu merasa frustasi.
"Nak, setiap manusia pasti banyak melakukan kesalahan, tak terkecuali dirimu. Bahkan Ibu dan Ayah juga melakukan dosa-dosa yang sama besarnya seperti apa yang sudah kau perbuat. Kau tidak sendiri Nak, jangan sedih, oke?.
"Hidupku hancur Bu, aku sudah tidak punya harga diri lagi. Semuanya hancur karena kesalahanku sendiri. Aku kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku, Bu. Sekarang tak adalagi yang tersisa, semuanya hilang!" jerit Patricia lagi sambil mencakari kulit tubuh hingga mengeluarkan darah.
Mata Yura terbelalak lebar melihat tindakan gila putrinya. Segera dia menahan tangannya agar tidak terus menyakiti dirinya seperti ini. Sungguh, ini adalah kali pertama Yura melihat Patricia setertekan ini. Dia juga merasa sedikit aneh karena putrinya terus menyebut jika hidupnya sudah hancur dan tidak lagi memiliki harga diri.
"Biar saja, Bu. Aku malu, aku jijik Bu. Aku jijikkk!!.
Bryan yang saat itu sedang gusar menunggu istrinya yang tak kunjung datang, memutuskan untuk menghampirinya di kamar Patricia. Dia kaget setengah mati saat mendengar suara teriakan dari dalam kamar. Bryan dengan panik berlari menaiki anak tangga, takut kalau-kalau Patricia akan kembali melukai istrinya seperti waktu itu.
Brrraaakkk
"Yura, ada ap... astaga Patricia! Apa yang kau lakukan Nak?" pekik Bryan syok.
Yura yang sedang kesulitan menahan putrinya segera berteriak meminta Bryan untuk menolongnya.
"Bry, cepat bantu aku memegangi tangan Cia. Dia ingin terus melukai dirinya sendiri!.
Bryan segera berlari kearah anak dan istrinya kemudian menampar wajah Patricia. Dia sengaja melakukan hal tersebut agar putrinya bisa segera sadar.
"Bryaann!" jerit Yura kaget.
__ADS_1
"Sadar Patricia. Apa yang sedang kau lakukan sekarang adalah sesuatu yang sangat bodoh!" teriak Bryan sambil mengguncang bahu putrinya yang terdiam dengan tatapan kosong. "Sadar Nak, sadar. Menyesal itu boleh, tapi jangan sampai kau memelampiaskannya dengan cara seperti ini. Kau hanya akan merasa semakin sakit, sayang. Jangan seperti ini, oke?.
'Ayah, tubuhku kotor, Ayah. Aku sekarang sangat menjijikkan, aku ternodai. Bagaimana caranya aku memberitahu kalian tentang keadaan ini? Bagaimana caranya aku mengatakan pada kalian berdua kalau sekarang aku adalah seorang p*lacur?? Bagaimana Ayah, bagaimana!!!.
Bryan dan Yura kaget bukan main saat Patricia tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri. Mereka berdua kemudian membawa Patricia ke atas ranjang lalu membaringkannya dengan hati-hati.
"Jangan khawatir, Cia pasti baik-baik saja" ucap Bryan sambil menatap istrinya yang seperti kesulitan bernafas. "Tunggu sebentar ya, aku akan memanggil dokter untuk memeriksanya!.
"Hiksss Bry, kau pergi saja ke rumah sakit. Eleanor juga sedang membutuhkan kehadiran mu di sana, biar Patricia aku yang urus" ucap Yura sesenggukan.
"Tidak Yura. Eleanor memang sedang menunggu kehadiran kita di sana, tapi dia tidak sendirian. Sekarang Patricia jauh lebih membutuhkan kita berdua, Eleanor pasti paham jika kita datang sedikit terlambat" sahut Bryan menolak keinginan sang istri.
"Tapi Bry, Eleanor....
"Sudah, yang penting kita sudah tahu kalau Eleanor baik-baik saja. Tunggu sebentar, aku akan menelpon dokter dulu untuk memeriksa Patricia!.
Setelah berkata seperti itu Bryan berlari keluar dari dalam kamar. Alasan kenapa Bryan lebih mementingkan Patricia daripada Eleanor adalah karena sekarang dia sadar jika putri angkatnya itu sedang membutuhkan banyak perhatian. Bryan tak ingin lagi mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu. Pun jika Eleanor mengetahui hal ini, putrinya yang baik hati itu pasti akan memintanya untuk mendahulukan Patricia.
"Pelayan!" teriak Bryan sambil menekan nomor dokter pribadi keluarganya.
"Iya tuan,"
"Tolong antarkan air hangat ke kamar Patricia. Juga tolong siapkan bubur kesukaannya. Dia sedang tidak sehat, tolong lakukan dengan cepat ya."
"Baik, tuan. Adalagi?.
Bryan menggeleng. Setelah itu dia segera berbicara dengan dokter begitu panggilannya tersambung.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: rifani_nini...
__ADS_1
...🌻 FB: Rifani...