Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Detik Terakhir


__ADS_3

Bruugghhh


Bryan yang sedang duduk melamun di ruang tamu terperanjat kaget ketika melihat tubuh seorang wanita tiba-tiba di lempar ke bawah kakinya. Dia kemudian menatap bingung kearah pintu dimana ada seorang pria yang sedang berdiri dengan mata merah menyala seperti iblis.


"K-kau siapa? Dan wanita ini, kenapa kau melemparnya seperti itu? Tidakkah kau tahu kalau perbuatanmu it....


Kata-kata Bryan terjeda. Matanya melotot begitu dia menyadari kalau model pakaian yang di kenakan oleh wanita ini sangat mirip dengan pakaian yang di kenakan oleh istrinya tadi. Cepat-cepat Bryan berjongkok kemudian membalik tubuhnya. Dia ternganga ketika mendapati wajah istrinya yang sudah babak belur dan juga berlumuran darah.


"Kau, apa yang kau lakukan pada istriku hah! Siapa kau sebenarnya!" teriak Bryan emosi sambil menunjuk wajah pria yang sedang menatapnya dengan sangat bengis.


"Tuan Bryan, meskipun kalian berdua adalah mertuanya Gabrielle, aku tidak akan ragu untuk menghabisi nyawa kalian saat ini juga. Apa kau tahu, istrimu yang sedang kau bela itu diam-diam sudah membuat jebakan bersama dengan Patricia untuk membunuh Elea. Dan karena kejahatannya itu sekarang Elea mati dan kekasihku kritis di rumah sakit. Kekasihku ikut menjadi korban dari kekejaman yang di lakukan wanita ini bersama putrinya yang berwajah iblis itu. Asal kau tahu Tuan Bryan, tadinya aku ingin melindas kepala wanita ini, tapi tidak jadi karena aku harus membunuhnya bersama dengan Patricia. Sekarang beritahu aku dimana wanita iblis itu berada, dia harus ikut bertanggung jawab atas apa yang sudah mereka pada kekasihku dan juga pada istrinya Gabrielle. Cepat beritahu aku dimana Patricia!" bentak Gleen dengan sangat emosi.


"Yu-Yura membunuh Eleanor?". Tercekat, suara Bryan begitu lirih.


"Ya, dia sengaja mengajak Elea pergi hanya untuk memenuhi keinginan Patricia yang ingin menyingkirkannya dari rumah ini. Dan apa kau tahu, dia membawanya masuk ke sebuah bangunan kosong di tengah hutan kemudian meledakkan tempat tersebut. Untung saja tadi aku sempat melihat mobil penjaga yang membawa Lusi masuk ke hutan, kalau tidak, kekasihku pasti tidak akan terselamatkan!" sahut Gleen berapi-api. "Tuan Bryan, aku tidak terima dengan apa yang sudah di perbuat oleh istri dan juga anak angkatmu. Mereka harus mati di tanganku saat ini juga!.


Tubuh Bryan lemas. Dia tidak percaya kalau Yura mampu melakukan hal selicik ini di belakangnya. Padahal dia sudah bersedia untuk membuka hati, namun apa yang di lakukannya hari ini benar-benar membuat Bryan merasa sangat kecewa.


"Eleanor, dia tidak mungkin meninggal kan? Putriku, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Bryan sesak.


Panik memikirkan keadaan putrinya, dengan marah Bryan mengguncang bahu Yura. Matanya berkaca-kaca antara takut dan juga sakit hati. Dia terus mengguncang tubuh Yura dengan sangat kuat hingga akhirnya Yura pun membuka mata.


"B-Bry...


"Cepat beritahu aku dimana Eleanor! Ya Tuhan Yura, kenapa kau bisa sekejam ini pada putriku? Apa salah Eleanor padamu hah! Kenapa kau tega mencelakainya sampai seperti ini. Cepat katakan dimana putriku, Yura!.


Suara teriakan Bryan yang begitu menggema akhirnya menarik perhatian Karim yang saat itu tengah berada di halaman belakang. Bersama asistennya, dia melangkah masuk ke dalam rumah untuk menghampiri Bryan. Mata Karim terbelalak melihat keadaan menantunya yang bersimbah darah tengah di guncang oleh putranya. Dengan langkah tertatih Karim berusaha untuk melerai keduanya. Namun belum sempat dia menghentikan perbuatan Bryan, sebuah suara yang begitu dingin memintanya untuk berhenti.

__ADS_1


"Kau kakek tua, jangan ikut campur. Biarkan Tuan Bryan berbuat seperti itu pada wanita jahat ini. Kau jangan menghalanginya!" sergah Gleen sembari mengeluarkan senjata dari balik jas yang juga berlumuran darah.


"Turunkan senjatamu. Beraninya kau mengangkat senjata di hadapan Tuan Karim!.


"Diam atau kuledakkan kepalamu sekarang juga!.


Wajah asisten Karim pucat pasi ketika Gleen menembakkan peluru ke udara. Dia lalu membawa majikannya sedikit menjauh dari sana.


"Yura, cepat katakan dimana Eleanor! Cepat katakan dimana dia!" teriak Bryan semakin menggila.


"E-Elenaor... d-dia...


Suara Yura terputus-putus. Bryan yang melihat hal itu menjadi semakin frustasi. Dia melepaskan tubuh istrinya kemudian terduduk lemas di lantai sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Baru saja Yura, aku baru saja bertemu dengan putriku setelah sembilan belas tahun terpisah dan sekarang kau tega membuat kami terpisah kembali? Dimana hati nuranimu, Yura? Apa salah Eleanor padamu hah? Dia begitu polos, dia juga sangat menyayangimu meskipun kau hanya Ibu sambungnya. Tapi kenapa kau dan Patricia tega melakukan hal ini padanya? Kenapa Yura, kenapa!!!.


"Menantu yang selama ini kau bangga-banggakan ini telah bersekongkol dengan Patricia untuk membunuh Elea, Tuan Karim. Alasan dia mengajak Elea keluar rumah adalah hanya untuk memuluskan rencananya yang tidak ingin Elea ada di rumah ini. Dia mengajaknya masuk ke sebuah bangunan kosong di tengah hutan kemudian meledakkan bangunan tersebut. Dan apa kau tahu, kekasihku yang ingin menyelamatkan Elea juga ikut menjadi korban dari ledakan tersebut. Keadaannya sekarang kritis di rumah sakit, hidupnya sedang berada di ujung tanduk!" jawab Gleen menggantikan ayah mertua Gabrielle bicara.


"A-apaa???? E-Elenaor di di bunuh?.


"Ya, tadi aku sudah berusaha mencari jasadnya, tapi tidak ada. Mungkin tubuhnya sudah hancur bersama dengan ledakan tersebut!.


Karim langsung memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sangat sesak. Yura yang melihat penyakit mertuanya kambuh hanya bisa mengulurkan tangan kearahnya. Dia terus menggelengkan kepala, berusaha menyampaikan pada semua orang kalau anak sambungnya itu baik-baik saja. Tapi karena wajahnya sudah babak belur dan bibirnya terluka cukup parah, dia tak sanggup lagi untuk mengeluarkan suara. Yura hanya bisa menangis menyaksikan suami dan ayar mertuanya terjebak dalam kesalahpahaman.


"Ayah tidak menyangka kau akan berubah sebegini kejam pada anakmu sendiri, Yura. Dan Patricia, kenapa dia bisa sampai mempunyai niat jahat terhadap Eleanor? Apa yang membuatnya jadi berubah seperti ini, dia itu gadis yang baik dan sangat penurut. Kenapa Yura, kenapa kau dan Patricia memperlakukan Eleanor seperti ini? Kesalahan apa yang sudah di perbuat oleh gadis polos itu pada kalian berdua? Apa Yura, apa!" ucap Karim histeris dengan nafas tersengal.


"Tuan Karim, tolong kendalikan diri anda. Jangan memaksakan diri untuk terus bicara!" sela si asisten panik.

__ADS_1


Gleen yang menyaksikan hal itu hanya berdiri diam dengan tatapan bengisnya. Terkenang dengan kondisi kekasihnya yang sedang kritis, amarahnya kembali memuncak. Dia segera mendatangi Yura kemudian menginjak tangannya yang sedang bergerak-gerak ingin menggapai kaki Tuan Karim.


Kretaakkk


"Aakkhhhhh!.


Yura menjerit lirih ketika lengannya di injak hingga terdengar suara seperti tulang yang retak. Jangan kalian tanya seperti apa rasa sakitnya, rasanya benar-benar tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Bryan yang menyaksikan istrinya di siksa sedemikian rupa oleh pria yang membawanya pulang hanya terdiam masa bodo. Dia bahkan tidak peduli sekalipun pria ini ingin membunuh istrinya. Di mata Bryan, Yura tak lebih dari seorang pembunuh. Dia benci dan juga sangat menyesal karena sudah bersedia untuk membuka hati padanya.


"Sakit? Iya?!" sentak Gleen sambil tersenyum sinis kearah Yura yang sedang menangis sambil menatapnya.


"T-t-to-long" cicit Yura hampir tak terdengar.


Tak mau berbasa-basi lagi Gleen segera memasukkan ujung pistol ke dalam mulut mertuanya Gabrielle. Dia kemudian menarik pelatuk senjata api tersebut sambil menatap dingin kearah wanita yang sudah tidak berdaya di bawah kekuasaannya.


"Pergilah kau ke neraka, Nyonya Yura. Dunia ini tidak pantas untuk manusia kejam sepertimu!.


Ekor mata Yura melirik kearah suaminya. Dia pasrah dengan nasib hidupnya yang harus berakhir tragis akibat kesalahanpahaman yang terjadi. Dalam hatinya, Yura meminta maaf pada Bryan karena selama ini tidak berani jujur akan ancaman yang di berikan oleh Patricia. Di detik-detik terakhir, tepat ketika Gleen hendak menembakkan peluru ke mulut Yura, sebuah keajaiban datang tak terduga. Orang yang menjadi penyebab Yura di siksa seperti ini muncul di hadapan semua orang. Ya, Elea datang di saat yang tepat sambil meneriakkan kata yang membuat Yura terisak haru.


"JANGAN BUNUH IBUKU!!...


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGS......


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


__ADS_2