
Setelah puas menggambar bersama Levi, Elea bergegas masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Berjemur di taman cukup membuat tubuhnya bermandikan keringat. Tapi Elea tahu kalau itu merupakan kegiatan yang bisa menyehatkan badan. Jika bukan Levi yang tadi mengamuk karena terpapar sinar matahari, mungkin sampai sekarang Elea masih asik menggambar di sana.
"Nyonya, air hangatnya sudah siap" ucap Lusi.
"Oh iya. Terima kasih Kak Lusi" sahut Elea sopan.
Lusi mengangguk sambil tersenyum. Hatinya menghangat melihat kesopanan majikannya ini. Tak ingin hanya berdiri menganggur, Lusi memutuskan untuk ikut masuk ke dalam kamar mandi. Dia berniat membantu nyonya kecilnya membersihkan badan.
"Lho, Kak Lusi kenapa ikut masuk? Ingin mandi juga ya?" tanya Elea bingung.
"Tidak Nyonya. Saya hanya ingin membantu Nyonya menggosok punggung" jawab Lusi kemudian duduk di pinggiran bathup.
"Oh, aku kira ingin ikut mandi bersamaku."
Elea sedikit membelakangi Lusi agar memudahkannya menggosok punggung. Dia tersenyum-senyum sendiri saat merasakan geli di bagian belakangnya.
"Ada apa Nyonya? Apa ini terasa tidak nyaman?" tanya Lusi khawatir.
"Hehe, tidak Kak. Hanya sedikit geli saja" jawab Elea.
Lusi terkekeh sambil menggelengkan kepala. Dia kembali menggosok punggung putih milik nyonya kecilnya.
"Kak Lusi, seandainya Kak Iel bisa menemukan keberadaan orangtua kandungku, apa yang harus aku lakukan? Kira-kira mereka akan menolakku tidak ya?."
Mungkin di depan suaminya Elea mengatakan kalau dia cukup melihat dari jauh jika kedua orangtuanya masih hidup, tapi di dalam hati kecilnya dia sebenarnya sangat ingin berkumpul dengan mereka. Namun Elea berusaha kuat menahan perasaan itu karena tak ingin membuat orang lain merasa tak nyaman, terlebih lagi kedua orangtuanya. Elea sadar betul kalau kehadirannya sangat tidak di inginkan oleh mereka.
"Kenapa Nyonya bertanya seperti itu?" tanya Lusi berusaha memahami perasaan nyonya nya.
"Karena, karena apa ya? Hehe" jawab Elea kembali menutupi perasaannya.
Lusi terenyuh. Tanpa di beritahu pun dia bisa merasakan kalau nyonya kecilnya tengah bersedih. Dia lalu memikirkan ucapan yang bisa membuat nyonya nya sedikit terhibur.
"Apa Nyonya merindukan mereka?" tanya Lusi sambil menyiramkan air.
Elea terdiam sejenak. Namun setelahnya dia mengangguk pelan. "Iya Kak, tapi aku tidak berani untuk mengaku."
"Kenapa?."
"Aku takut di tolak untuk yang kedua kali Kak" sahut Elea sedih. "Kedatanganku ke dunia ini saja sudah tak di inginkan, apa jadinya jika aku tiba-tiba datang dan mengacaukan kehidupan mereka. Aku takut sekali mereka akan menolakku Kak."
"Nyonya, pada dasarnya semua orangtua itu menyayangi darah dagingnya sendiri. Nyonya jangan takut, jika memang mereka masih hidup, datang dan tanyakan saja pada mereka alasan kenapa mereka meninggalkan Nyonya di panti asuhan. Saya yakin mereka pasti tidak sejahat itu. Pasti ada alasan kuat di baliknya" ucap Lusi bijak.
"Aku juga ingin seperti itu Kak. Tapi apa bisa?" tanya Elea ragu.
"Bisa, saya yakin Nyonya pasti bisa" jawab Lusi memberi semangat.
"Kalau begitu nanti Kak Lusi saja ya yang jadi juru bicaranya?."
__ADS_1
"Sa,saya Nyonya?" tanya Lusi kaget sambil menunjuk wajahnya sendiri.
Elea berbalik kemudian mengangguk. "Iya, kan Kak Lusi yang memberi saran seperti itu. Jadi ya harus Kakak lah yang bertanggung jawab menemaniku saat akan pergi menemui mereka."
'Ya Tuhan, ini sih namanya senjata makan tuan. Niat hati hanya ingin menghibur Nyonya Elea, kenapa sekarang malah aku yang harus menemui orangtuanya? Hiksss, aku lupa dengan siapa aku bicara tadi.'
Lusi tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengiyakan keinginan nyonya nya. Dia sudah pasrah pada keadaan. Lagipula dia sendiri yang berinisiatif memberi ide seperti itu. Ya sekarang mau tidak mau dia harus menanggung resikonya.
"Ekhmm, ishh isshh isshhh.... Dasar bocah, mandi saja masih harus di bantu. Yakin kalau kau itu seorang istri?."
Elea dan Lusi menoleh kearah pintu dimana seorang wanita bar-bar tengah berdiri sambil berkacak pinggang.
"Kak Levi sudah mandi?" tanya Elea. "Cepat sekali, padahal dakiku saja masih menempel. Jangan-jangan Kak Levi tidak mandi ya?."
Levi memutar bola matanya jengah. Dia lalu berjalan masuk menghampiri makhluk kecil yang sedang keenakan di gosok punggungnya oleh pelayan.
"Lusi, kau keluar saja. Biar aku yang akan merontokkan daki di tubuh bocah ini. Cih, sudah menikah tapi masih meminta orang lain membantunya mandi. Dasar pemalas!" sindir Levi cetus.
"Aku tidak pemalas kok" sahut Elea. "Kak Lusi saja yang terlalu baik padaku. Kak Levi iri ya?."
Mulut Levi berkomat-kamit mendengar tuduhan yang di lontarkan oleh Elea. Dia segera duduk di pinggiran bathup menggantikan Lusi untuk menggosok punggung Elea. Bibirnya tersenyum.
'Kenapa aku seperti sedang memandikan bayi besar ya? Hihihi, aku jadi ingin punya anak. Tapi aku kan tidak punya pasangan, masa iya aku hamil dengan jin..'
"Kak Levi tidak pulang ke rumah?" tanya Elea sambil menikmati pijatan di bahunya.
Tangan Levi bergerak lincah memberi pijatan di bahu mulus Elea. Jujur saja dia mengagumi kealamian tubuh makhluk kecil ini yang bisa begitu lembut meskipun hidup dalam kemiskinan selama belasan tahun lamanya. Sangat berbeda dengan tubuhnya yang putih mulus karena rajin perawatan.
"Kenapa? Rumah Kak Levi di jual ya?" tanya Elea penasaran.
"Ck, aku tidak semiskin itu sampai harus menjual rumah Elea" jawab Levi yang mulai naik tensi darahnya. "Suamimu yang memaksaku untuk tinggal di sini. Dia bilang butuh aku untuk menemanimu menghabiskan uangnya."
Kening Elea mengerut, dia merasa sedikit ambigu mendengar alasan Levi. Karena penasaran, Elea akhirnya berbalik kemudian menatap Levi penuh curiga. "Jangan-jangan Kak Levi mau jadi valakor ya?."
"Valakor? Benda apa itu?" tanya Levi heran.
"Itu bukan benda, Kak Levi. Tapi valakor itu manusia" jawab Elea dengan tampang yang sangat serius.
"Manusia?" beo Levi semakin heran.
"Iya manusia. Manusia yang suka mencuri suami orang, mereka di sebut valakor" jelas Elea.
Tiba-tiba saja syaraf di otak Levi berhenti bekerja. Ingin sekali dia meninju kepala makhluk kecil ini supaya tidak sembarangan bicara.
"Hei kau anak bau kencur, darimana kau dapatkan kata-kata tidak manusiawi itu hah?" tanya Levi dongkol.
"Aku mendengarnya dari teman-temanku saat mereka menonton televisi Kak. Kenapa memangnya?" jawab Elea bingung.
__ADS_1
"Haishhh, di mana-mana wanita yang merebut suami orang itu namanya pelakor Elea, bukan valakor. Kalau valakor itu nama hantu, hantu biarawati yang mati di bunuh. Astaga, sudah berotak bodoh, punya telinga pun tuli. Untung kau ini temanku, jika bukan aku pasti sudah menenggelamkanmu di dalam bathup ini" ucap Levi frustasi.
Bukannya tersinggung, Elea malah mengangguk-anggukkan kepala. Sekarang dia sudah tahu kalau orang yang suka merebut suami orang lain itu di sebut pelakor, bukan valakor. "Oh begitu ya Kak. Berarti Kak Levi itu pelakor. Kan Kakak suka sekali meminta uang pada Kak Iel. Kata mereka pelakor itu hanya mengincar uang milik suami wanita lain, ya seperti yang selalu Kak Levi lakukan."
"Apa kau bilang? Aku pelakor? Aku Elea? Aku?" tanya Levi syok.
"Iya, Kak Levi pelakor" jawab Elea dengan santainya.
"Owh shitt, jantungku, astaga. Aaaaaa Elea, darimananya kau bisa menyebutku pelakor hah! Darimananya! Cepat jelaskan padaku!" amuk Levi sambil menyiramkan air ke kepala Elea.
Elea gelagapan saat air membasahi wajahnya. Hal itu terus berlangsung hingga membuat Elea hampir kehabisan nafas.
"Uhhh, jangan menyiram kepalaku begitu lama Kak. Kalau aku mati bagaimana?" ucap Elea sambil menyeka air di wajahnya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Cepat katakan padaku bagian mana yang membuatmu bisa menganggapku seorang pelakor!" tanya Levi lagi sambil memelototkan mata.
Elea menelan ludah. Dia sadar kalau temannya ini benar-benar sedang marah. "Em itu, Kak Levi kan suka sekali meminta uang pada Kak Iel. Jadi ya itu alasannya, Kakak pelakor karena menyukai uang suamiku."
Levi terpaku.
"Hanya karena itu?."
Elea mengangguk. "Iya, hanya itu."
"Bukan karena takut aku merebut suamimu?" tanya Levi hampir menangis.
"Memangnya Kak Iel mau pada wanita galak seperti Kak Levi?" ucap Elea balik bertanya.
Skak mat. Levi langsung terdiam tanpa suara begitu Elea mengeluarkan kata-kata ajaibnya. Pertanyaan itu terdengar begitu menusuk ulu hati Levi yang kebetulan tidak ada satu priapun yang tertarik padanya selama ini. Harga dirinya anjlok seketika.
"Elea, apa kau mau menonton film valak bersamaku? Kau perlu tahu betapa mengerikannya hantu valakor itu jika sedang marah!" ajak Levi dengan gigi yang saling menggeretak.
"Baiklah Kak. Setelah ini kita menonton ya?" sahut Elea senang.
Bisa kalian bayangkan seperti apa kesalnya Levi sekarang? Tolong tulis di kolom komentar...
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...
__ADS_1