
"Selamat pagi, Nyonya Elea!" sapa Nun sambil menundukkan kepala.
"Selamat pagi juga, Pak Nun" sahut Elea ramah. "Kak Iel mana?.
"Tuan Muda sedang berenang, Nyonya. Beliau berpesan agar Nyonya sarapan terlebih dahulu sebelum menyusulnya kesana" jawab Nun sopan.
Elea diam. Tadi saat bangun dari tidur Elea sempat merasa kehilangan karena suaminya tidak ada di dalam kamar. Hari ini adalah hari libur, tidak biasanya suaminya itu pergi keluar tanpa mengajaknya. Tapi ternyata dugaannya salah, suaminya yang tampan itu rupanya sedang berenang. Hampir saja dia termakan hasutan iblis yang ingin membuatnya menaruh curiga yang bisa berimbas pada ketenangan rumah tangganya dan Gabrielle.
"Pak Nun, aku ingin sarapan di kolam renang saja. Aku takut Kak Iel hilang" ucap Elea dengan tatapan memohon.
Nun dan para pelayan terhenyak kaget. Mereka kembali mendapat syok terapi oleh nyonya kecil mereka setelah sekian lama libur. Sambil menahan tawa, salah seorang pelayan akhirnya mengambilkan sarapan untuk si nyonya kecil yang masih menanti dengan wajah memelasnya.
"Biar aku saja yang bawa sarapannya Kak" ucap Elea sambil menyodorkan tangan.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Biar kami saja yang membawanya kesana" tolak pelayan.
"Ya sudahlah!.
Dengan langkah penuh semangat Elea berjalan menuju kolam renang. Dia terperangah melihat deretan roti sobek milik suaminya yang berjejer dengan begitu indah.
'Pemandangan indah.'
Gabrielle tersenyum. Dia segera berbalik begitu mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh istrinya.
"Sayang, kau sudah bangun?.
"Kalau belum bangun tidak mungkin aku ada disini kan Kak?" sahut Elea yang membuat Nun dan para pelayan membelalakkan mata.
"Hehe, iya" ucap Gabrielle paham dengan keterkejutan para bawahannya. "Kau sudah sarapan belum?.
Elea menggeleng. Dia duduk di tepi kolam renang kemudian menepuk tangan sebanyak tiga kali. Seperti di awal dia datang ke rumah ini, Elea masih begitu menyukai sulap yang di lakukan oleh suaminya dulu. Setelah dia bertepuk tangan, air mancur langsung memancar keluar dari dalam kolam renang. Dia tersenyum, kemudian menatap dalam kearah suaminya.
"Kak Iel, rumah ini terlalu banyak keindahan. Aku suka sekali ada disini."
"Benarkah?" sahut Gabrielle kemudian berenang mendekat kearah istrinya.
Elea memekik kaget ketika Gabrielle memercikkan air ke tubuhnya. Dia tertawa kemudian membalas perlakuan suaminya. Para pelayan dan penjaga yang ada disana segera menyingkir, mereka tak ingin mengganggu kebersamaan tuan mereka.
__ADS_1
"Kak Iel, bajuku jadi basah kan?" teriak Elea saat suaminya tak berhenti memercikkan air.
"Biar saja. Kau belum mandi kan?" sahut Gabrielle.
"Belum sih, tapi kan dingin" rajuk Elea.
"Tenang saja, kan ada aku yang bisa menghangatkanmu, sayang" goda Gabrielle kemudian mengedipkan sebelah matanya.
Wajah Elea langsung memerah. Dia tentu saja tahu arti dari menghangatkan yang di maksud oleh suaminya barusan. Tak ingin kembali di goda, Elea mengalihkan perhatian dengan mengambil sarapan yang tertata diatas meja. Dia lalu membawanya ke pinggiran kolam renang.
"Kakak sudah sarapan belum?" tanya Elea.
"Sudah sayang" jawab Gabrielle sambil menatap penuh cinta kearah istrinya yang sedang meminum jus. "Tapi aku tidak menolak kalau kau mau menyuapiku. Berenang membuat perutku kembali terasa lapar!.
"Ya sudah kalau begitu kita berbagi sarapan saja ya Kak."
Gabrielle mengangguk. Dia membuka mulut saat Elea ingin menyuapkan sepotong roti untuknya. Perasaan Gabrielle begitu membuncah setiap kali Elea memberikan perhatian. Rasanya dia seperti terbang ke awang-awang. Saat Gabrielle tengah menikmati kebersamaan bersama istri kesayangannya, tiba-tiba terlintas satu wajah yang langsung membuatnya diam berfikir.
"Ada apa Kak? Makanannya tidak enak ya?" tanya Elea.
Elea menghela nafas.
"Harus sekali ya?.
"Tidak juga. Aku hanya tidak tega saat teringat raut wajah Grandma yang begitu sedih. Kemarin dia terlihat begitu kecewa saat tahu kalau aku datang seorang diri" jawab Gabrielle dengan lembut. "Tapi kalau kau merasa tidak nyaman sebaiknya jangan di paksa. Aku lebih tidak tega lagi jika harus melihatmu menahan perasaan!.
"Apakah Grandma benar-benar membawakan banyak hadiah untukku?" tanya Elea mencoba untuk mengalahkan ego.
"Iya, sangat banyak. Semua kado-kado itu tertata rapi di atas meja. Dan satu lagi sayang, ada sesuatu yang jauh lebih penting jika di bandingkan dengan kado yang di bawa oleh Grandma. Kau mau tahu tidak?.
Elea langsung mengangguk dengan cepat. Dia menunggu kelanjutan kata tersebut sambil terus menikmati sandwich di tangannya.
"Ares dan Cira, mereka diam-diam saling menyimpan rasa" bisik Gabrielle kemudian melirik kearah asistennya yang sedang duduk sembari menyelesaikan pekerjaan melalui laptop. "Kau setuju tidak kalau nanti kita membuat mereka semakin dekat? Dengan kita datang mengunjungi Grandma, mereka berdua jadi bisa mempunyai waktu untuk saling mengenal lebih jauh. Kau tahu kan kalau Ares tidak akan pergi kemanapun tanpa aku?.
"Ide bagus Kak Iel. Selain mendapat kado dari Grandma, aku bisa melakukan perbuatan baik dengan mencomblangkan kaum kesepian seperti Ares dengan wanita secantik Kak Cira. Mereka berdua pasti akan terlihat sangat serasi jika memakai gaun pengantin Kak" sahut Elea begitu semangat.
Gabrielle tersenyum. Dia kemudian mengelus pipi istrinya yang menggembung karena sedang mengunyah makanan. Gabrielle sangat beruntung karena Elea sangat mudah di bujuk, bahkan istrinya ini akan langsung berubah fikiran ketika di hadapkan dengan kepentingan orang lain yang berada di sekitarnya.
__ADS_1
"Berarti kau mau kan bertemu dengan Grandma?" tanya Gabrielle memastikan.
"Mau sekali, Kak. Aku penasaran akan seperti apa reaksi Ares dan Kak Cira saat bertemu nanti. Mereka pasti akan terlihat malu-malu kucing" jawab Elea membayangkan.
"Dasar jahil" ucap Gabrielle sembari menoel hidung mungil istrinya.
"Hehehe..."
Sarapan pagi itu terasa begitu indah bagi Gabrielle dan Elea. Mereka berdua menikmati kebahagiaan tersebut dengan penuh rasa syukur. Ares yang melihat kedua tuannya begitu asik bermesraan nampak tersenyum tipis. Dia kemudian teringat dengan wanita yang juga sedang di sukainya.
"Kenapa aku jadi merindukan Cira ya?" gumam Ares sambil menatap bingung kearah layar laptop. "Apa aku kirim pesan saja ya untuknya?.
Begitu selesai berargumen sendiri, Ares segera mengambil ponselnya. Dia kemudian mengetik sebuah pesan lalu mengirimnya pada Cira. Sambil menunggu pesannya di balas, Ares kembali memeriksa pekerjaan. Dia tersenyum senang ketika mendengar suara getaran ponsel.
"Cepat sekali dia membalasnya."
'Aku sedang menemani Nyonya Clarissa jalan-jalan di taman dekat hotel. Sejak semalam beliau terus saja bersedih karena Nona Elea tak kunjung datang untuk menemuinya. Maaf ya kalau nanti aku akan sedikit lama membalas pesanmu. Kemungkinan aku akan menghabiskan banyak waktu untuk menemani Nyonya Clarissa berbincang. Dia sedang butuh sandaran untuk saat ini!.
Sudut bibir Ares tertarik keatas setelah membaca pesan tersebut. Dia lalu kembali mengirim pesan, meletakkan ponsel diatas meja kemudian kembali melanjutkan pekerjaan. Ponsel itu kembali bergetar tak berapa lama setelah Ares mengirimkan pesan untuk gadis pujaannya.
"Iya aku tahu. Terima kasih sudah mau memberiku perhatian dan kepedulian, Ares. Kalau begitu sudah dulu ya, aku ingin menemani Nyonya Clarissa dulu. Bye, Ares!.
"Byee juga, Cira" ucap Ares tanpa membalas pesan. "Kira-kira kapan ya Tuan Muda akan kembali ke hotel untuk mengunjungi Nyonya Clarissa? Ah, aku benar-benar di buat merindu akut oleh Cira."
Ares menatap kearah kolam renang ketika mendengar suara gelak tawa dari arah sana. Dia menghela nafas saat mendapati kedua tuannya sedang asik berciuman di dalam kolam renang.
"Kapan aku bisa seperti Tuan Muda dan Nyonya Elea ya?? Nasibku kenapa menyedihkan sekali sih?" gumam Ares merasa iri dengan keromantisan tuannya.
πππππππππππππππππ
...π»VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...π» IG: emak_rifani...
...π» FB: Rifani...
__ADS_1