
Mata Elea mengerjap saat sinar matahari menembus jendela kamarnya. Dia mendesis pelan saat seluruh tubuhnya terasa sakit. Terlebih lagi bagian intimnya.
"Uuh, Kak Iel itu bagaimana sih. Aku kan sudah bilang kalau miliknya itu sangat besar, tetap saja dia tidak berhenti bergerak. Tapi semalam kenapa rasanya sangat enak ya?" gumam Elea bingung.
Lima belas menit lamanya Elea merenungkan kejadian semalam. Dia bingung, takut dan juga nikmat di saat yang bersamaan. Bingung kenapa suaminya tidak merasa jijik menyentuh barang bekas, takut karena masih terbayang wajah dokter itu, dan nikmat karena suaminya benar-benar membawanya terbang melayang.
"Kak Iel sudah tidak ada di sini, apa dia pergi meninggalkan aku?" tanya Elea pada dirinya sendiri.
"Tidak mungkin Elea. Kak Iel kan semalam bilang kalau dia akan menerimamu apa adanya. Dia pasti bukan meninggalkan aku, ya pasti bukan seperti itu. Oh, apa jangan-jangan Kak Iel sudah berangkat ke perusahaan? Memangnya sekarang jam berapa sih."
Tangan Elea menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Dia terbengang begitu melihat jarum jam yang menunjukkan pukul dua belas siang.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? Kenapa aku bangun sesiang ini di rumah mertuaku? Matilah Elea, kau akan segera menjadi upik abu setelah ini!" pekik Elea histeris.
Drrtttt,drrrttttt
Ponsel di atas meja bergetar. Elea yang sedang panik segera mengambil ponsel miliknya kemudian menjawab penggilan itu.
"Halo Kak Iel, bagaimana ini? Sepertinya aku akan binasa!" tanya Elea begitu panggilan tersambung.
"Sayang, aku tidak bisa melihat wajahmu. Kau arahkan kemana kamera ponselmu hm?."
Elea meringis pelan. Dia tadi langsung menjawab panggilan tanpa panggilan tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Tak ingin membuat suaminya menunggu, Elea segera mengalihkan panggilan menjadi mode video call.
"Kak Iel....."
Terdengar kekehan dari dalam ponsel saat Elea mendekatkan lubang hidungnya ke kamera.
"Hahahahha, sayang, mana wajahmu. Kenapa kau malah memperlihatkan lubang hidungmu yang kecil itu, hmm?."
Elea mengerucut kesal. Dia sedang dalam bahaya tapi suaminya malah menertawakannya. Entahlah, tiba-tiba saja Elea memiliki keinginan untuk melakban mulut suaminya yang suka mencium itu.
"Terus saja tertawa, Kak. Kakak tidak tahu ya kalau nasibku sedang di pertaruhkan!" ucap Elea.
"Kau ini bicara apa sayang. Nasib apa yang di pertaruhkan?."
Elea mendengus. Tanpa sadar arah kamera menyorot bagian dadanya yang tak tertutup apapun. Elea tidak tahu kalau sekarang wajah suaminya sudah memerah karena terbakar nafsu birahi.
"Kak Iel, aku baru saja bangun. Kalau Ibu Liona marah lalu mengusirku bagaimana? Aku takut sekali rasanya" adu Elea sedih.
Lama tak ada jawaban dari suaminya. Membuat Elea mengernyit bingung. Dia lalu melihat kearah layar ponsel dimana suaminya sedang terdiam dengan tatapan kosong kearah depan.
"AAAAAAAA KAK IELLL....!" pekik Elea kemudian langsung mematikan ponselnya.
Wajah Elea merah padam. Dia baru sadar ternyata sejak tadi kamera mengarah pada gunung kembarnya. Pantas saja suaminya hanya diam seperti orang kerasukan. Rupanya dia sedang menikmati salah satu keindahan yang ada di tubuhnya.
__ADS_1
"Isshhhh, Kak Iel ini mesum sekali sih. Sudah semalam merobek daging di kem*luanku, masih saja dia serakah diam-diam memandangi dadaku. Huh, nanti aku akan tanya Kak Levi apa yang harus aku lakukan untuk melindungi diri dari pria mesum seperti Kak Iel!" ucap Elea bersungut-sungut.
Setelah puas menggerutu, Elea akhirnya memutuskan untuk segera membersihkan diri. Dia jatuh tertelungkup di lantai dengan posisi menungging saat merasakan rasa perih yang luar biasa di bagian intimnya.
"Uhhhhh, hiksssss... Kak Levi tolong aku. Anuku perih sekali!" isak Elea sembari berusaha untuk duduk.
Karena tak bisa berjalan, akhirnya Elea merangkak saat menuju kamar mandi. Dia kebingungan melihat banyaknya tombol di tempat pemandian itu.
"Hikssss, tombol mana yang bisa mengeluarkan air? Kenapa susah sekali sih menjadi orang kaya, semuanya serba memakai kode. Aku kan jadi bingung!" keluh Elea begitu dirinya masuk ke dalam jazucci.
Karena sudah kedinginan, Elea akhirnya memencet sembarang tombol. Airnya memang keluar, tapi bukan air hangat seperti yang dia mau. Bibir Elea langsung membiru saat dari lubang-lubang itu menyemburkan air yang sangat dingin.
"Bbrrr, tidak apa-apa Elea. Tubuhmu tahan banting, kau tidak akan mati karena mandi air dingin!" ucap Elea lirih dengan tubuh yang menggigil.
Tok,tok,tok
"Elea, sayang, apa kau ada di dalam?."
Elea segera mengangguk dengan bibir bergetar. "I,iya Ibu Liona. Aku di dalam!".
Liona sedikit bingung mendengar suara lirih menantunya. Dia lalu teringat seperti apa rasanya dulu saat dia pertama kali melakukan hubungan badan dengan Greg.
'Astaga, Elea pasti sedang sangat kesakitan sekarang. Gabrielle, Gabrielle, kau seharusnya tidak pergi ke perusahaan setelah membuat istrimu seperti ini!.'
"Ibu Liona, tolong aku. Tubuhku sebentar lagi akan menjadi batu!" ucap Elea pasrah.
"Astaga Elea, kau kenapa sayang?" pekik Liona sambil berjalan cepat kearah menantunya.
"Aku hanya ingin mandi, Ibu Liona. Tapi sekarang aku malah jadi batu es" sahut Elea tak berdaya.
Sudah bagian intimnya sakit, sekarang tubuhnya membatu pula. Elea kali ini benar-benar merasa di uji. Untung saja ibu mertuanya datang, jadi Elea bisa selamat dari kebekuan.
"Ya Tuhan Elea, kenapa kau mandi dengan air sedingin ini, hem? Pantas saja kalau kau membeku, lihat suhu air yang kau tekan!? " ucap Liona sambil menunjuk tombol yang ada di samping jazucci.
"Terlalu banyak tombol di sini, Ibu Liona. Aku jadi bingung".
Liona menghela nafas panjang. Dia lupa kalau menantunya ini bukan berasal dari keluarga kaya. Wajarlah kalau menantunya tidak tahu cara memakai barang yang ada di dalam kamar mandi ini.
"Ibu Liona?" panggil Elea.
"Hemm.. " sahut Liona sambil mengganti air menjadi hangat. "Kenapa sayang?."
"Anuku sakit sekali. Tadi aku merangkak seperti anjing karena tidak bisa berjalan. Milik Kak Iel sangat besar, aku sudah memintanya untuk berhenti tapi dia tidak mau. Kira-kira Ibu Liona punya cara tidak agar aku bisa melarikan diri saat Kak Iel ingin melakukan itu lagi? Aku tidak mau merangkak seperti anjing lagi, Ibu Liona. Tadi aku juga terjatuh dari ranjang. Posisi jelek sekali!" adu Elea dengan polosnya.
Liona tercengang. Dia tidak percaya kalau menantunya akan bicara sejujur ini padanya. Kebanyakan orang akan merasa malu menceritakan malam pertamanya. Tapi ini, menantunya malah meminta saran agar bisa terhindar dari kegilaan putranya.
__ADS_1
"Ibu Liona kenapa diam? Ayah Greg seperti itu juga tidak?" tanya Elea saat ibu mertuanya hanya berdiri diam sambil menatapnya.
Mata Liona mengerjap. Dia berusaha memilih jawaban yang cukup bijak agar bisa di mengerti oleh menantunya yang polos ini.
"Elea, setiap wanita yang baru pertama kali melakukan hubungan badan mereka semua pasti merasa kesakitan sepertimu. Karena dulu Ibu juga begitu. Tapi lama-lama kau tidak akan merasa sakit lagi. Dan juga, berhubungan badan dengan suami merupakan kewajiban seorang istri. Dosa hukumnya jika kita berusaha mengelak dari tanggung jawab itu. Kau menyayangi suamimu tidak?."
"Sayang, Ibu Liona. Aku sangat menyayangi Kak Iel" jawab Elea.
"Sayang sebagai apa?"
"Sayang sebagai suami, sebagai kakak dan juga sebagai ATM berjalan!".
Wajah Liona pias. Dia tidak mengira kalau putranya di cintai sebagai ATM berjalan. Tak tahan dengan kepolosan menantunya, Liona akhirnya tertawa. Dengan sayang dia menggosok punggung terbuka Elea dimana banyak tertinggal bekas keunguan disana.
'Kau terlalu ganas, Gabrielle.'
Elea memejamkan mata saat punggungnya di pijat oleh ibu mertuanya. Dia sama sekali tidak merasa malu meski dalam kondisi tanpa busana.
"Ibu Liona..?"
"Ya sayang.. "
Liona kembali was-was. Takut kalau menantunya akan kembali mengeluarkan kata yang neyeleneh.
"Seandainya aku punya ibu, aku pasti akan di perlakukan seperti ini juga. Benar tidak?".
Terenyuh. Itu yang di rasakan oleh Liona begitu Elea menyinggung tentang kasih sayang seorang ibu
"Kau benar Elea. Sudah, jangan terlalu lama berendamnya. Ini sudah siang, kau belum makan apapun sejak pagi" jawab Liona mengalihkan pembicaraan.
"Baik Ibu Liona" sahut Elea patuh.
Dengan penuh perhatian, Liona mengambilkan baju handuk untuk menantunya. Dia sama sekali tidak merasa canggung saat membantu Elea mengeringkan tubuh. Liona sedih, sangat sedih saat membayangkan kepahitan hidup gadis kecil ini. Dari zaman Dinasti Ming hingga di zaman sekarang, tidak sekalipun Liona pernah menjalani kehidupan yang sulit. Jadi dia tidak tahu bagaimana rasanya hidup kekurangan.
"Terima kasih Ibu Liona!" ucap Elea sopan setelah ibu mertuanya membantu melilitkan handuk di rambutnya.
"Sama-sama sayang. Ayo, Ibu akan membantumu bersiap!" sahut Liona kemudian menggandeng tangan menantunya keluar dari dalam kamar mandi.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...