
"Bibi Liona, apa benar ada yang ingin mencelakai kakak ipar?.
Liona mengangguk sambil terus mengarahkan kamera ke wajahnya. Ya, saat ini dirinya tengah melakukan panggilan video bersama Kayo, keponakannya yang tinggal di Jepang.
"Iya, tapi kakak iparmu baik-baik saja. Pelakunya pun saat ini sedang menjalani hukuman."
"Kami semua besok akan datang berkunjung, Bi. Ibu bilang dia tidak bisa tenang sebelum bertemu dengan kakak ipar langsung. Tangannya terasa gatal ingin menguliti tubuh pelakunya."
"Datanglah. Bibi senang jika kita bisa berkumpul lagi" ucap Liona mempersilahkan. "Kalau mengenai keinginan Ibumu, katakan padanya tidak usah repot-repot menguliti si pelaku. Karena sekarang pelakunya ada di sini."
Liona kemudian mengarahkan kamera kearah Patricia palsu yang sedang berdiri di hadapannya. Dia tersenyum ketika keponakannya mengenal identitas si pelaku. Ya, saat ini Liona dan Greg memang sedang berada di apartemen milik Patricia. Mereka tengah membicarakan sesuatu yang cukup penting dengan mutan yang di tugaskan menunggu tempat ini.
"Astaga, bukankah itu Nona Patricia Young putri angkat ayahnya kakak ipar ya, Bi? Ibu, coba lihat penjahatnya. Tidak ku sangka wanita inilah yang ingin mencelakai kakak ipar. Sungguh tidak tahu diri."
Patricia palsu hanya diam saja ketika di maki oleh kerabat tuannya. Dia tentu saja tahu siapa dua wanita yang tengah menatapnya dari layar telepon.
"Selamat malam, Nyonya dan Nona Eiji. Saya mutan L01-AB yang telah di program untuk menggantikan posisi Nona Patricia untuk sementara waktu."
"Abigail, Kayo, ini adalah mutan yang di minta Gabrielle untuk menutupi hilangnya Patricia asli. Dia sengaja di datangkan untuk menghindari kepanikan Keluarga Young karena sekarang Patricia asli tengah berada di tangan seorang pria abnormal. Mutan ini hanya sementara saja karena Elea tidak ingin Patricia mati, jadi nanti dia akan di kembalikan ke laboratorium setelah Patricia asli di bebaskan" jelas Liona.
"Oh, pantas saja tidak ada raut ketakutan di wajahnya. Ternyata dia adalah seorang mutan... Tapi Bi, kenapa kakak ipar tidak ingin Patricia mati? Dan kenapa juga Kak Iel langsung menuruti permintaan Kakak Ipar Elea? Kalau Patricia tidak segera di singkirkan, aku khawatir dia akan kembali membuat ulah ke depannya nanti. Tidakkah Bibi berfikir kearah sana?.
__ADS_1
Mendengar kekhawatiran yang di sampaikan oleh keponakannya, Liona segera memberikan penjelasan. Tak lupa dia kembali mengarahkan kamera ke wajahnya dimana dia bisa melihat kalau Abigail juga ada di sana. Dia tersenyum, wajah wanita ini masih begitu dingin seperti dulu. Meskipun sekarang sudah menikah dan mempunyai dua orang anak, Abigail masih sama kejamnya seperti saat masih menjadi tangan kanannya Liona. Di Jepang Abigail di juluki sebagai dewi perang dalam Keluarga Besar Eiji. Kekejaman dan juga kecerdikannya sempat membuat Tetua Keluarga Eiji pingsan hingga di larikan ke rumah sakit ketika Abigail membunuh dengan sangat sadis orang-orang yang ingin berbuat jahat pada salah satu anggota keluarga mereka. Sungguh, didikan keras dari Liona begitu mendarah daging di tubuh istrinya Mattheo Eiji ini.
"Kakak iparmu terlalu baik, sayang. Dia tetap memaafkan kesalahan orang yang sudah berniat ingin membunuhnya. Hal itu dia lakukan karena tidak mau ada kesedihan pada diri Nyonya Yura, juga karena kakak iparmu ingin mempunyai seorang saudara. Entahlah, Bibi juga tidak paham kenapa kakak iparmu bisa sebaik ini pada Patricia. Dan mengenai kenapa Gabrielle menyetujui keinginan kakak iparmu adalah karena dia yang begitu teramat mencintainya. Kau tahu sendiri bukan bagaimana pria dingin itu sangat tergila-gila pada istrinya?.
"Iya Bi, aku pernah melihat sendiri betapa sayangnya Kak Iel pada kakak ipar. Ya sudahlah, karena Bibi sudah berkata seperti ini aku dan Ibu bisa merasa lebih tenang. Bi, sudah dulu ya, dua pria sok tampan itu terus berteriak meminta Ibu untuk segera datang ke bawah. Sepertinya mereka sudah kembali dari kantor."
Liona mengangguk. Dia tersenyum ketika Abigail tersenyum kearahnya sebelum panggilan terputus.
"Mereka mau datang?" tanya Greg yang tadi memilih untuk tidak ikut berbicara di telepon.
"Iya. Abigail sangat mengkhawatirkan menantu kita" jawab Liona kemudian menatap datar kearah mutan yang masih setia berdiri di hadapannya. "Cukup kerjakan semua urusan Group Young dari apartemen saja. Selebihnya nanti ada Hansen yang akan membantumu mengurus semua itu. Aku tidak mau kalau sampai Tuan Bryan dan Nyonya Yura menyadari identitasmu yang sebenarnya."
"Baik, Nyonya Besar, saya paham" jawab mutan Patricia patuh. "Oh iya Nyonya Besar, kemarin malam ada yang bertandang ke rumah ini."
"Nona Levi yang datang kemari, Nyonya. Dan saya yakin saat itu dia belum tahu kalau yang tinggal di apartemen ini adalah seorang mutan. Tapi sekarang Nona Levi pasti sudah tahu kebenarannya dari dokter Reinhard. Nona Levi datang mengamuk setelah tahu kalau Patricia ingin mencelakai Nona Elea. Dia datang bersama Nyonya Lolita" jelas Hansen yang paham arti dari lirikan mata nyonyanya.
Liona diam. Selain Reinhard, Levi adalah satu-satunya orang luar yang bisa mengetahui banyak hal tentang keluarganya. Tapi karena Liona tahu kalau mantan model itu tak pernah mempunyai niat jahat, maka dia membiarkannya. Di tambah lagi Levi adalah sahabat karib menantunya, sudah pasti dia juga akan memberikan perlindungan extra untuk mantan model tersebut.
"Ada apa Hon? Apa posisi Levi membuatmu merasa khawatir?" tanya Greg penasaran melihat kebungkaman di diri istrinya.
"Tidak sama sekali, Greg. Aku hanya sedang berfikir saja apakah akan ada kemungkinan lain jika seandainya Patricia di lepas. Ucapan Kayo sedikit mengganggu pikiranku, aku khawatir kalau-kalau hal itu benar terjadi" jawab Liona menyampaikan apa yang tengah dia pikirkan.
__ADS_1
Greg menghela nafas.
"Aku rasa wanita itu tidak akan pulang dalam kondisi utuh setelah menjadi tawanannya Junio, Hon. Pria penuh obsesi itu pasti sudah melakukan sesuatu padanya. Jadi seharusnya Patricia sudah merasa jera untuk melakukan kejahatan lagi pada menantu kita."
"Semoga saja memang seperti itu, Greg. Kita ini hanya manusia biasa, segala kemungkinan bisa saja terjadi jika Tuhan sudah berkehendak" sahut Liona kemudian bangkit berdiri. "Ayo pulang. Malam sudah semakin larut."
Tanpa membuang waktu lagi Greg segera ikut berdiri kemudian memeluk pinggang ramping istrinya yang masih seperti gadis remaja. Waktunya untuk berkuasa sudah tiba.
"Dasar" omel Liona saat mendengar pikiran mesum suaminya yang sudah melanglang buana.
"Salahkan saja tubuhmu yang selalu menggoda, Hon. Seperti katamu tadi kalau kita hanyalah manusia biasa, maka hidupku di tentukan oleh seberapa banyak pasokan vitamin yang kau berikan pada si junior. Ini bukan tentang Kuasa Tuhan, tapi ini tentang keberlangsungan masa depan anak didikku, Hon. Hehe.."
Hansen yang mendengar pembicaraan absurd tuannya hanya bisa menggelengkan kepala. Sudah bukan hal baru lagi kalau tuannya ini selalu bicara vulgar meski dirinya sedang ada bersama mereka. Tuan Greg begitu mencintai Nyonya Liona, itu sebuah fakta nyata yang hampir semua orang di negara ini mengetahuinya. Sungguh beruntung Hansen bisa menjadi saksi penyatuan keduanya sejak di awal pertemuan. Sayangnya Hansen tak bisa menikmati waktu-waktu bahagia ini bersama Niel, asisten Tuan Greg yang memilih mengundurkan diri demi wanita yang di cintainya. Sebenarnya Hansen bukan tak ingin mempunyai rumah tangga sendiri, hanya saja dia sadar kalau dirinya tak lagi sempurna. Keserakahan akan kemilau harta membuat keluarga Hansen tega menghancurkan masa depannya dan juga masa depan Kaylee, adik kesayangannya yang kini sudah hidup bahagia bersama dengan Tuan Joysean dan juga kedua anaknya, Darius dan Miranda Liu.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Rifani...