
Junio terbangun sedikit lebih siang di bandingkan hari biasanya. Sekarang adalah hari libur, jadi dia ingin sedikit bermalas-malasan di rumah. Sambil menggeliat, dia melirik kearah samping ranjang. Kosong. Rupanya Patricia sudah bangun dari tadi karena bagian kasur yang di tidurinya sudah lumayan dingin saat Junio merabanya.
"Pergi kemana dia pagi-pagi begini? Tidak mungkin kabur kan?" gumam Junio.
Sambil berjalan sempoyongan Junio bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Dia mencuci wajahnya kemudian menggosok gigi. Sambil bersenandung, Junio mengambil kaos dari dalam lemari pakaian sebelum akhirnya melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar.
"Heemm, wangi sekali. Siapa yang sedang memasak ya?.
Aroma masakan seefood tampak memenuhi seluruh sudut rumah. Junio ingat, sebelumnya para pelayan tidak akan berani memasak makanan beraroma menyengat seperti ini jika dia sedang ada di rumah. Bukannya apa, kadang mood Junio bisa memburuk jika tercium aroma masakan. Dia jadi terkenang dengan almarhum ibunya yang sangat suka menciptakan menu-menu masakan baru di setiap harinya. Yang mana hal itu akan membuat hati Junio menjadi tidak nyaman dan gelisah.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?.
Patricia yang sedang mengaduk masakan berjengit kaget saat mendengar suara Junio. Dia kemudian berbalik, tersenyum aneh melihat penampilan berantakan si pria gila ini.
"Untuk apa kau memakai kaos kalau kau sendiri lupa untuk memakai celana, Jun?" ejek Patricia sambil menggelengkan kepala. Dia kemudian melanjutkan acara memasaknya.
Junio menunduk. Benar, dia tidak memakai celana. Untung saja kaos yang dia pakai sedikit panjang, jadi para pelayan tidak harus melihat burungnya yang bergelantungan dengan bebas.
"Kau sedang apa?" ulang Junio.
"Memangnya kau tidak bisa lihat aku sedang apa?" sahut Patricia balik bertanya.
"Memasak!.
"Nah, itu tahu."
Junio berdecak. Dia kemudian berjalan mendekat kearah Patricia lalu melongok sekilas.
"Aku kira masakan seefood. Rupanya yang kau masak adalah makanan kambing" ucap Junio ketika melihat para pasukan hijau tengah menari-nari di dalam kuali.
Patricia mendengus. Masih pagi begini dia sudah di buat kesal oleh Junio.
"Sayuran itu bagus untuk tubuh asal kau tahu. Masakan seefood terlalu berat untuk di makan pagi-pagi begini. Malam saja ya, nanti aku akan memasakannya untukmu."
"Memangnya kau bisa masak?" tanya Junio sarkas.
"Junio, kau sudah pernah masuk ke dalam penggorengan belum? Kalau belum, silahkan bergabung dengan pasukan hijau ini. Aku tidak keberatan untuk menjadikanmu sarapan pagi bersama makanan kambing ini!" jawab Patricia jengkel.
Junio terkekeh. Bisa bicara dengan normal bersama Patricia entah kenapa membuat dunia Junio terasa sedikit baru. Dia seperti menemukan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya.
__ADS_1
"Aku mau kopi" ucap Junio sambil terus memperhatikan Patricia yang terlihat begitu lihai saat mengaduk-aduk masakan.
"Baik tuan, saya akan...
"Aku tidak mau kau yang membuatnya!" cegah Junio. "Yakk Patricia, cepat buatkan kopi untukku. Layani aku sekarang!.
"Aku sedang sibuk, Jun. Biar pelayan saja yang membuatkannya untukmu."
"Tidak mau. Harus kau, titik!.
Patricia menarik nafas dalam-dalam kemudian menoleh. Dia menatap tajam kearah Junio yang sedang duduk sambil berpangku dagu.
"Kau benar-benar sangat merepotkan!.
"Cepat buatkan, setelah makan aku akan mengajakmu pergi menemui ibumu."
Patricia terpaku, matanya berkaca-kaca. Sambil menahan sesak, dia mengecilkan api kompor kemudian bergegas membuatkan kopi untuk Junio. Tangan Patricia terus gemetaran saat dia ingin mengambil gula, yang mana hal itu malah membuat gulanya berjatuhan ke lantai.
"Kalau tidak bisa mintalah tolong padaku. Jangan melakukan sendiri, jadi berantakan kan sekarang!" tegur Junio lembut sembari membantu Patricia menyendok gula dari arah belakang tubuhnya.
Para pelayan segera menyingkir jauh ketika melihat keintiman bos mereka. Sedangkan Junio, dia terus memeluk Patricia sambil terus membantunya menyeduh kopi.
"Hei, kenapa tanganmu dingin sekali? Aku itu ingin membawamu bertemu dengan Nyonya Yura, bukan ingin membawamu masuk ke penjara!.
Junio tersenyum. Dia melepaskan pelukannya kemudian memutar tubuh Patricia. Mereka kini berdiri saling berhadapan.
"Apa yang akan kau lakukan nanti setelah sampai di sana?" tanya Junio seraya menyeka airmatanya Patricia.
"A-aku hanya ingin meminta maaf. Ak-aku sangat menyesal, hiksss!.
"Hanya itu saja?.
Patricia mengangguk.
"Tidak ingin kembali ke rumahmu?" tanya Junio lagi.
Patricia menengadahkan wajahnya keatas. Dia begitu berat saat ingin menjawab pertanyaan Junio. Jika di tanya dengan sebenar-benarnya, Patricia sangat ingin pulang dan kembali berkumpul bersama dengan ayah dan kakeknya. Tapi apa yang sudah dia lakukan pada ibunya membuat Patricia merasa tidak pantas. Dia tidak pantas untuk menginjakkan kaki di rumah Keluarga Young lagi. Dia adalah iblis, dan tempat yang paling cocok untuknya adalah di sini. Tempat dimana ada seorang iblis gila berada.
"Kepulanganku hanya akan menambah luka di hati mereka, Jun. Jadi biarlah aku tetap di sini saja sampai malaikat maut datang menjemput. Biarlah aku hidup terasing dari mereka" ucap Patricia lirih.
__ADS_1
"Jika keadaan tidak seperti yang kau bayangkan? Misalnya Ibumu masih hidup mungkin?.
Pertanyaan Junio menjebak. Dia ingin tahu apakah wanita ini benar-benar mempercayai omongannya yang menyebut kalau Nyonya Yura sudah meninggal dalam tragedi ledakan yang di tujukan untuk Elea atau tidak.
Sambil tersenyum getir Patricia kembali menjawab pertanyaan dari Junio. Dia bicara sambil menahan tangis.
"Kalau seandainya benar Ibu masih hidup, maka aku bersumpah akan mendengarkan semua yang dia katakan. Aku akan patuh dan tidak melawan lagi. Tapi semua itu mustahil Jun, Ibuku sudah meninggal. Dan apa yang aku katakan tadi tidak akan pernah terwujud. Aku sudah kehilangan wanita yang benar-benar tulus menyanyangiku. Aku kehilangan dia karena keserakahanku sendiri, aku bodoh!.
Junio segera menahan tangan Patricia yang sedang memukuli dadanya sendiri. Dia lalu memeluknya dengan erat.
"Percuma kau menyakiti diri sendiri seperti ini, Patricia. Itu tidak akan merubah keadaan. Tidak apa-apa melakukan sedikit kesalahan, tapi kau harus bisa belajar dari kesalahan tersebut. Lagipula tidak semua keadaan seburuk yang kau pikirkan. Bisa saja kan kalau Tuhan memiliki kehendak lain untuk Ibumu?' ucap Junio merasa tak tega begitu mendengar isak tangis Patricia yang terdengar sangat memilukan.
Patricia diam tak menyahut. Dadanya begitu sesak, selalu seperti ini setiap kali teringat dengan sang ibu yang sudah berada di alam baka.
"Menangislah, keluarkan semua airmatamu di pundakku. Tapi setelah ini kau harus berjanji padaku tidak akan ada lagi kesedihan. Kau tahu kan aku sangat benci melihat wanita menangis?" tanya Junio mencoba untuk menghibur.
Patricia masih diam tak menyahut. Lama mereka berada dalam posisi saling memeluk, hingga keduanya di kagetkan oleh bau gosong yang cukup menyengat.
"Astaga, masakanku!" teriak Patricia panik kemudian segera melepaskan diri dari pelukan Junio. "Aahh sialan! Sayurku gosong!.
Junio terpingkal-pingkal saat Patricia menunjukkan brokoli dimana kepalanya sudah tak hijau lagi, melainkan sudah berganti warna menjadi warna hitam. Dan tawa Junio menjadi semakin kencang saat tahu kalau itu adalah stok terakhir dari sayuran yang ada di dalam kulkas.
"Hidupmu benar-benar sangat sial, Patricia. Bahkan sayuran pun enggan untuk masuk ke dalam perutmu. Hahahahha!.
"Sialan kau, Junio!.
"Hahahhaha!.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: rifani_nini...
...🌻 FB: Rifani...
__ADS_1