Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Kasih Yang Hangat


__ADS_3

Elea tersenyum kearah ibu mertuanya yang sedang berjalan mendekat. Tangannya bergerak menyeka keringat yang menetes di pipinya.


"Sayang, kenapa kau berkeringat seperti ini?" tanya Liona bingung.


"Aku baru saja berolahraga, Ibu Liona."


'Olahraga?.'


Liona memperhatikan penampilan menantunya dari atas hingga bagian bawahnya. Dia merasa aneh, sejak kapan orang berolahraga dengan menggunakan gaun?.


"Elea, kau berolahraga di ruangan mana? Tempat gym kan ada di lantai bawah, sedangkan kau baru saja datang."


"Aku berlari menuruni anak tangga, Ibu Liona. Bukankah itu sama saja dengan berolahraga ya?" sahut Elea kemudian balik bertanya.


".................... "


Mata Elea mengerjap saat ibu mertuanya terbengang menatapnya. Dia bingung sendiri karena tak merasa kalau perkataannya ada yang salah.


"Ibu Liona kenapa menatapku seperti sedang melihat hantu sih? Itu terlihat aneh" tanya Elea polos.


Liona berdehem pelan. Dia yang biasanya selalu membuat orang lain tidak berani berkata-kata, sekarang di tangan menantunya sendiri dia di buat seperti orang bodoh. Kepolosan menantunya mampu membuat seorang jendral besar sepertinya diam tak berkutik.


"Nak, kenapa kau harus berlarian di tangga? Di rumah ini kan ada lift" tanya Liona dengan suara yang sangat lembut.


Was-was. Itu yang Liona rasakan saat menantunya tersenyum malu-malu sembari menyelipkan rambut ke belakang telinga. Liona khawatir kalau menantunya akan kembali memberi jawaban polos yang akan membuat lidahnya membeku.


"Aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan lift, Ibu Liona. Terlalu banyak tombol di sana" jawab Elea dengan polosnya.


Benar kan apa yang Liona khawatirkan? Jawaban polos menantunya ini benar-benar membuatnya tidak tahu lagi harus berkata apa. Di zaman modern seperti ini kenapa masih ada orang yang tidak bisa menggunakan lift? Hanya Tuhan lah yang tahu.


"Emm Elea, ini sudah siang. Kau belum makan kan?" tanya Liona mengalihkan pembicaraan.


Elea mengangguk. Dia patuh saat ibu mertua menarik tangannya menuju ruang makan. "Ibu Liona tahu tidak kenapa Kak Iel tidak membangunkan aku tadi pagi?."


"Suamimu bilang pada Ibu katanya dia tidak tega untuk membangunkanmu. Kau tertidur dengan sangat pulas" jawab Liona.


"Begitu ya? Memang benar sih kalau semalam aku nyenyak sekali tidurnya. Tubuhku sakit semua Ibu Liona, tulang-tulangku seperti remuk gara-gara Kak Iel" sahut Elea sembari duduk di kursi.


Satu orang pelayan segera maju untuk mengambilkan makanan untuk nyonya-nya. Namun tindakannya itu di cegah oleh Elea.

__ADS_1


"Ibu Liona, boleh tidak kalau aku makan siang di kantor Kak Iel saja? Tiba-tiba aku ingin melihatnya" ucap Elea tersipu.


Liona tersenyum. Dia bisa melihat kalau sebenarnya ada cinta di mata menantunya polos ini. Hanya saja pemikirannya yang masih sangat murni membuat Elea belum bisa menyadari perasaannya sendiri.


"Tentu saja boleh, sayang. Bersiaplah, Ibu akan meminta beberapa pengawal untuk menemanimu pergi ke sana."


"Kenapa harus di kawal Ibu Liona? Aku kan bukan ingin berangkat berperang" sahut Elea heran.


Para pelayan tercengang kaget mendengar perkataan Elea. Mereka tak habis fikir dengan ketidaktahuan Elea tentang keamanan di rumah ini. Sementara Liona, dia hanya bisa diam sambil terus menarik nafas dalam-dalam. Dia yang hanya ingin mengatur keamanan demi melindungi keselamatan menantunya, malah di salah artikan sedang mengatur pengawalan untuk berperang. Kecerdasannya seperti tidak berguna di hadapan menantunya yang sekarang tengah menatapnya polos.


"Di kawal bukan berarti berangkat perang, sayang" ucap Liona sabar menjelaskan. "Tapi, sebagai istri dari seorang pengusaha besar, sudah seharusnya menerima pengawalan dengan sangat ketat. Itu di lakukan agar terhindar dari serangan musuh yang bisa datang tiba-tiba. Apa kau mau membuat suamimu khawatir hm? Gabrielle bisa menggila jika sampai terjadi sesuatu padamu."


Elea menyimak dengan seksama penjelasan ibu mertuanya. Sebenarnya bukan hanya di sini saja, di rumah suaminya pun begitu. Dia ingat saat ingin bermain ke rumahnya Levi, belasan pengawal ikut menemaninya datang ke sana. Meskipun risih, tapi Elea tidak berani melakukan protes pada suaminya. Jawabannya akan sama dengan apa yang di katakan oleh ibu mertuanya barusan.


"Aku akan menurut saja, Ibu Liona. Aku tidak mau membuat Kak Iel khawatir."


Liona mengangguk lega. Meskipun sering membuat orang lain jantungan, menantunya ini ternyata adalah seorang gadis yang sangat patuh. Sudah sulit di temukan di zaman sekarang wanita yang masih mau menurut pada perintah orangtua. Karena Liona sendiri memiliki anak gadis yang suka bersikap seenaknya. Tapi itu dulu, sekarang anak gadisnya sudah berubah.


"Ibu Liona kenapa murung? Aku salah bicara ya?" tanya Elea merasa tak enak.


"Tidak sayang, Ibu hanya teringat dengan Grizelle. Dia terus bersedih karena bibinya belum tersadar dari koma" jawab Liona seraya tersenyum tipis.


Liona mengangguk. Dia lalu menggenggam tangan mungil Elea yang sedang mengelus bahunya. Keningnya mengernyit.


"Elea, kau terluka?."


"Hanya sedikit melepuh saja, Ibu Liona. Tidak parah kok" jawab Elea sambil mengacungkan kedua jarinya yang terbungkus perban. "Kemarin sore aku berniat memasak udang, tapi karena aku bodoh jadi aku memasak tanganku sendiri, Ibu Liona. Hehe.. "


Para pelayan yang masih ada di sana rasanya seperti ingin mati saat nyonya pemilik rumah menatap dingin kearah mereka. Mereka sangat takut akan di persalahkan atas apa yang menimpa nyonya kecil ini.


"Apa sekarang kalian sudah berubah menjadi pemalas, iya? Bagaimana bisa kalian membiarkan menantuku terluka seperti ini!" sentak Liona marah.


"Ma,maafkan kami Ny,Nyonya. Kemarin kami, kami..


"Ibu Liona kenapa memarahi kakak-kakak ini? Mereka tidak salah lho. Jariku jadi gendut begini karena aku tidak tahu bagaimana cara memasak yang benar. Aku itu sangat bodoh, Ibu Liona. Iya kan Kak?" tanya Elea menyela perkataan para pelayan.


Kaku. Itu yang sekarang terjadi di tubuh para pelayan. Yang benar saja, masa iya mereka harus mengakui di hadapan nyonya pemilik rumah kalau menantunya itu bodoh? Bukankah itu sama artinya dengan berhasil selamat dari goa harimau tetapi masuk ke mulut singa? Benar-benar.


Liona menghela nafas pelan. Dia lalu memijit keningnya yang mendadak berdenyut nyeri.

__ADS_1


'Gabrielle, sepertinya tekanan darah Ibu naik karena kepolosan istrimu. Sebenarnya dari mana kau memungut gadis kecil ini? Rasanya Ibu ingin menyerah saja.'


"Ambilkan kotak obat" perintah Liona pada pelayan. "Elea, duduklah. Ibu akan mengganti perban di tanganmu yang gendut ini."


Satu pelayan segera menarik kursi untuk nyonya kecil mereka. Dengan patuh Elea segera duduk di sana lalu memperhatikan tangan ibu mertuanya yang mulai membuka bungkus perban.


"Tanganmu sangat langsing seperti lidi, di bagian mananya yang kau sebut gendut, hem?" tanya Liona lembut.


"Jariku menggendut karena di bungkus perban, Ibu Liona" jawab Elea enteng.


"Oh, begitu ya?" sahut Liona dengan tampang menderita.


Elea mengangguk. Dia mendesis pelan saat merasakan perih di bagian kulit jarinya yang melepuh.


"Ambilkan air hangat. Tahan sebentar Elea, lukanya jadi menempel karena terlambat membukanya" ucap Liona cemas sambil meniupi luka di jari menantunya.


Kedua sudut bibir Elea tertarik keatas membentuk satu senyuman. Senyum yang memperlihatkan betapa dia merasa nyaman mendapat kasih yang begitu hangat dari ibu mertuanya. Matanya berkaca-kaca, terharu karena keluarga suaminya mau menerima kehadirannya tanpa memandang status.


"Astaga Elea, kenapa kau menangis? Apa lukanya sakit sekali?" tanya Liona kaget melihat mata menantunya berkaca-kaca.


"Aku belum menangis, Ibu Liona. Airmataku masih menyangkut di sini" jawab Elea sambil menunjuk kelopak matanya sendiri.


Liona tergelak. Tak ingin terlihat bodoh, dia kembali fokus pada luka di jari menantunya. Begitu pelayan datang, dengan telaten Liona mengobati luka tersebut. Sesekali dia juga meniupnya saat mendengar desisan lirih Elea yang sedang menahan perih.


"Nah sudah selesai. Hati-hati saat mandi, jangan biarkan lukanya terkena air dulu."


Elea mengangguk. Dia lalu tersenyum manis sambil menatap perban di jarinya. "Jadi seperti ini ya jika mendapat perhatian dari seorang Ibu? Rasanya hangat, benar-benar sangat hangat."


Hati Liona bergetar mendengar perkataan Elea. Tak mau terbawa perasaan, dia lalu meminta pelayan untuk segera menyiapkan bekal makan siang yang akan di bawa menantunya ke perusahaan. Lalu setelah itu Liona meminta Hansen untuk mengatur beberapa pengawal yang akan ikut pergi bersama menantunya ke Group Ma.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2