Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Mengurangi Dosa


__ADS_3

"Gleen, sebelum pulang boleh tidak kalau aku mengunjungi Elea dulu? Aku takut dia marah kalau aku tidak berpamitan padanya."


Hari ini Lusi sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Dan sekarang dia sedang duduk di ranjang sambil memperhatikan calon suaminya yang sedang membereskan semua barang miliknya.


"Tentu saja boleh. Tunggu setelah aku selesai mengemas barang-barang ini dulu ya" jawab Gleen mengiyakan.


"Iya" sahut Lusi. "Terima kasih banyak, Gleen. Kau sudah mau repot-repot melakukan semua ini untukku."


Gleen segera berbalik ke arah Lusi begitu mendengar ucapannya. Dia tersenyum, tapi sedetik kemudian memperlihatkan raut masam di wajahnya.


"Bukankah aku sudah bilang jangan mengatakan yang tidak-tidak kepadaku, Sweety. Apa kau lupa, hm? Perlu aku untuk mengingatkannya tidak?" tanya Gleen gemas.


Lusi terkekeh. Dia turun dari ranjang kemudian berjalan menghampiri Gleen. Setelah itu Lusi masuk ke dalam pelukannya, membaui aroma maskulin yang menguar jelas dari tubuh pria yang sudah menjadi calon suaminya.


"Kapan kita akan menikah?.


Bola mata Gleen hampir melompat keluar begitu mendengar pertanyaan Lusi. Sungguh, dia tidak menyangka kalau Lusi akan menanyakan hal ini. Saking kagetnya, Gleen sampai tidak bisa bicara Dia hanya bisa memeluk tubuh Lusi dengan sangat erat sambil menciumi puncak kepalanya berulang kali.


"Gleen?.


"Secepatnya, Sweety. Bahkan kalau bisa setelah ini aku akan langsung mengajakmu ke kantor catatan sipil. Kita menikah hari ini juga" jawab Gleen dengan penuh semangat.


Lusi sengaja menanyakan hal ini karena dia pikir sudah waktunya untuk membalas budi atas apa yang telah diberikan oleh Gleen terhadapnya, juga pada keluarganya. Lusi merasa hanya dengan menjadi istrinya dia baru bisa membuat Gleen merasa bahagia. Lusi ingat kata-kata ayahnya kalau tidak baik menunda sesuatu yang baik. Pun antara Lusi dan Gleen, mereka sama-sama saling mencintai. Jadi tidak ada yang salah kalau mereka berdua segera menikah dan tinggal bersama. Hiung-hitung untuk mengurangi dosa juga, begitu pikirnya.


"Baiklah,"


"Kau ingin pesta pernikahan seperti apa, hm?" tanya Gleen. Hatinya begitu membuncah.


"Yang sederhana saja, Gleen. Tidak perlu yang mewah-mewah" jawab Lusi khas dengan kesederhanaannya.


"Oho, tidak bisa Sweety. Aku bisa di bunuh Junio kalau tidak memberimu pesta pernikahan yang mewah. Dia bahkan sudah mewanti-wanti hal ini sejak jauh hari. Jangan menolak ya?.


Lusi menengadahkan wajahnya menatap wajah Gleen. Dia kemudian mengangguk.


"Apapun itu aku ikut saja, Gleen. Aku tidak tahu menahu tentang hal seperti itu."


Gleen terpana. Tatapan mata Lusi membuat jantungnya berdebar kuat.


"Baiklah, serahkan masalah ini padaku. Aku jamin moment pernikahan kita tidak akan bisa kau lupakan seumur hidup. Aku janji!.


Setelah itu Gleen buru-buru mengemasi semua barang kemudian membawanya ke dalam mobil. Dia lalu kembali ke kamar lagi untuk mengantarkan Lusi pergi menemui Elea.


"Apa Gabrielle dan Elea ada di dalam?" tanya Gleen pada seorang penjaga yang berdiri di depan pintu kamar rawat Elea.

__ADS_1


"Iya, tuan. Mereka ada di dalam."


"Kalau begitu biarkan kami masuk!.


Si penjaga mengangguk. Setelah itu dia membuka pintu kamar lalu mempersilahkan Gleen dan Lusi untuk masuk ke dalam.


Elea yang saat itu sedang bermanja di pelukan suaminya langsung berteriak senang melihat kedatangan Lusi. Dia bahkan sampai tidak sadar mendorong tubuh suaminya ke samping. Satu kebiasaan yang akan selalu dilakukannya yang mana membuat sang suami merutuk kesal.


Selalu saja seperti ini jika sudah bertemu dengan orang lain. Elea-Elea, kau ini ya.


"Kak Lusi, punggungmu sudah tidak patah lagi ya?.


Gleen mendengus. Lagi-lagi istrinya Gabrielle mengeluarkan kata ajaibnya.


"Iya Elea, aku sudah sembuh" jawab Lusi ramah. "Selamat siang, Tuan Muda."


"Jangan memanggilku seperti itu lagi. Kau kan bukan bawahanku sekarang" jawab Gabrielle menolak panggilan tersebut.


"Lalu saya harus memanggil apa?" tanya Lusi bingung. Dia tentu saja merasa canggung jika harus memanggil nama.


"Panggil Kak Iel saja, Kak" sahut Elea. "Boleh kan kak?.


Gabrielle mengangguk.


"Em, apa tidak apa-apa aku memanggil seperti itu?" tanya Lusi tak enak hati.


"Kak Lusi, Paman Gleen, sepertinya kalian berdua sedang bahagia. Ada apa? Apa kalian baru saja memenangkan lotre?" tanya Elea penasaran.


Gleen dan Lusi saling berpandangan. Meskipun cara bertanya Elea terkesan aneh, tapi hal itu tidak menutupi kebahagiaan di wajah keduanya. Lusi kemudian memberitahu pada Elea tentang keputusannya yang ingin segera menikah dengan Gleen.


"Elea, Kak Iel, em aku dan Gleen memutuskan untuk langsung menikah setelah ini. Bukannya bagaimana, aku hanya tidak mau kedekatan kami menjadi bahan gunjingan orang. Aku ingin memiliki hubungan yang sehat seperti kalian."


Elea langsung bertepuk tangan dengan gembira begitu di beritahu kalau Lusi akan menikah. Seketika jiwa Sultannya langsung menguar saat memikirkan jenis gaun dan juga hadiah yang akan dia bawa nanti.


"Kak Lusi, kau ingin meminta hadiah apa dariku? Biar nanti Kak Iel yang akan menyiapkannya untukmu" tanya Elea tak sabar.


Gleen dan Lusi langsung menelan ludah. Mereka kemudian melirik ke arah Gabrielle yang tetap terlihat tenang meski baru saja menjadi korban kepolosan istrinya.


"Katakan saja, jangan sungkan" ucap Gabrielle yang menyadari kecanggungan di diri pasangan calon pengantin ini.


"Em itu, aku tidak menginginkan apa-apa. Cukup do'akan agar hubungan kami bisa bertahan sampai maut memisahkan" sahut Lusi terharu.


Ya Tuhan, Elea dan Kak Iel begitu baik padaku. Bagaimana caraku untuk membalas kebaikan mereka berdua?.

__ADS_1


"Mana bisa seperti itu, kak. Oh begini saja. Grandma Clarissa adalah seorang designer, nanti aku akan memintanya membuat gaun pengantin untuk kalian berdua. Bagaimana?.


Tanpa menunggu jawaban dari Lusi, Elea meminta Gabrielle untuk mengambil ponselnya. Dia lalu menghubungi Grandma Clarissa dengan raut wajah penuh kebahagiaan.


"Halo Grandma, Grandma sedang apa sekarang?" tanya Elea begitu panggilan tersambung.


"Grandma sedang makan siang dengan Cira. Ada apa sayang? Apa terjadi sesuatu padamu?.


Mendengar nada khawatir di dalam suara Grandma-nya, Elea bergegas memberi penjelasan.


"Tidak Grandma, tidak terjadi apapun padaku" jawab Elea. "Grandma, aku boleh meminta sesuatu padamu, tidak? Grandma tahu Kak Lusi dan Paman Gleen kan? Mereka akan segera menikah dan aku ingin meminta tolong pada Grandma untuk membuatkan baju pengantinnya. Bisa tidak?.


Gabrielle mengelus rambut Elea penuh sayang sambil mendengarkan percakapannya dengan Grandma Clarissa. Sungguh, siapa yang ingin menikah, siapa juga yang sibuk membahas tentang baju pengantin.


"Gabrielle, apa tidak apa-apa merepotkan Nyonya Clarissa? Aku jadi merasa tidak enak" bisik Gleen.


"Tenang saja, tidak ada orang yang sanggup menolak keinginan istriku. Lagipula kau kan tahu kalau Elea begitu menyayangi calon istrimu. Jadi ya sudah, terima saja hadiah darinya" sahut Gabrielle. "Oh ya, kalau kau membutuhkan bantuan untuk acara resepsinya, kau katakan saja pada Ares. Dia akan langsung mengurusnya untukmu."


"Sepertinya tidak" tolak Gleen sopan. "Tapi terima kasih banyak untuk niat baikmu."


Gabrielle mengangguk. Dia melirik ke arah Elea yang masih sibuk membahas tentang gaun pengantin yang akan dikenakan oleh Gleen dan juga Lusi.


"Oh ya Gleen, setelah menikah bagaimana kalau kita double date? Aku berencana menyiapkan satu acara di atas kapal pesiar begitu Elea di izinkan keluar dari rumah sakit. Dan aku ingin mengajak kalian berdua pergi bersama kami. Bagaimana, mau tidak?.


Sebelum menjawab, Gleen terlebih dahulu menanyakan hal itu pada Lusi.


"Bagaimana?.


"Tidak baik menolak kebaikan dari orang lain, Gleen" sahut Lusi kian merasa terharu.


Dia yang dulunya hanya seorang pelayan tiba-tiba saja bisa merasakan sesuatu yang biasanya hanya dilakukan oleh orang-orang kaya saja. Sungguh beruntunglah nasibnya saat ini.


"Aku setuju, Gab" ucap Gleen senang.


"Baguslah. Nanti kau tinggal menunggu kabar saja dariku. Dan selamat untuk pernikahan kalian berdua. Aku turut bahagia mendengarnya."


"Terima kasih banyak" sahut Gleen dan Lusi kompak menjawab.


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


...🌻VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻IG: rifani_nini...


...🌻FB: Rifani...


__ADS_2