
Gabrielle dengan telaten membantu Elea mengeringkan rambut. Sebenarnya Gabrielle sangat ingin menyentuh istrinya, tapi dia sedikit tidak tega setelah Elea mengadu jika dirinya sampai harus merangkak seperti anjing karena kesulitan berjalan. Mengingat pembicaraan mereka tadi membuat Gabrielle tersenyum lucu. Dia tidak sadar kalau Elea tengah melihatnya dengan penuh keheranan.
"Kak Iel, kau baik-baik saja kan?."
Mata Gabrielle mengerjap saat dia mendengar pertanyaan istrinya. Dia lalu menatap Elea melalui cermin rias kamar mereka.
"Aku baik-baik saja, sayang. Kenapa bertanya seperti itu?" sahut Gabrielle balik bertanya.
"Tadi aku lihat Kak Iel tersenyum sendiri. Aku pikir Kakak sudah tidak waras."
Perkataan jujur Elea sukses membuat mulut Gabrielle terkunci rapat. Dia langsung mati kutu saat Elea menyebutnya seperti orang gila.
"Oh ya Kak Iel, malam ini kita pulang ke rumah tidak? Semalam aku sudah melewatkan les privatku, kalau malam ini aku absen lagi nanti kau bisa rugi" tanya Elea dengan mimik wajah yang sangat serius.
"Rugi?."
Gabrielle sudah siap jika seandainya Elea akan mengeluarkan kata-kata ajaibnya. Biasanya hal ini akan berhubungan dengan kebangkrutan yang akan membuatnya jatuh miskin.
"Iya rugi. Kakak bisa rugi karena sudah mengeluarkan uang banyak untuk membiayai lesku tapi aku sendiri jarang mengikuti pelajarannya. Bukankah itu sama artinya kalau Kak Safira makan gaji buta yang merugikan Kakak?."
Gabrielle mengulum senyum. Kali ini masih mending karena Elea tidak menganggapnya sebagai pria kaya yang tak terlihat.
"Dia tidak akan berani melakukan hal itu, sayang. Kau jangan khawatir, meski kalian tidak belajar bersama dia akan tetap sibuk mencarikan materi yang cocok untukmu" jawab Gabrielle.
'Sayang, kau jangan mengkhawatirkan masalah pembayaran Safira. Dia tidak sedang bersantai seperti yang kau pikirkan. Mungkin sekarang dia malah frustasi sendiri mengumpulkan materi apa yang akan kalian bahas nanti mengingat kemampuanmu yang bisa menyelesaikan semua tugas tanpa ada yang salah. Hidupnya jauh lebih sulit dari apa yang kau bayangkan."
"Oh, jadi begitu ya Kak?" beo Elea.
Gabrielle mengangguk. Setelah selesai mengeringkan rambut istrinya, Gabrielle kemudian mengajaknya turun ke bawah untuk makan malam. Saat mereka berada di dalam lift, Gabrielle menggunakan kesempatan itu untuk terus menciumi bibir istrinya. Sungguh sangat beruntung Gabrielle bisa menikahi seorang wanita seperti Elea. Istrinya ini sangat patuh meksipun Elea belum memahami perasaannya. Tidak pernah sekalipun dia menolak Gabrielle saat ingin mencium ataupun menyentuhnya. Terkecuali tadi, Elea menolak mungkin karena memang benar-benar merasa tidak nyaman. Wajarlah, semalam adalah yang pertama untuknya. Dan Gabrielle pun mengakui kalau dirinya sempat hilang kendali begitu mereguk kenikmatan yang dia dambakan selama ini.
"Eugg Kak Iel" lenguh Elea saat Gabrielle mulai menjamah bukit kembarnya. "Kakak ini kenapa suka sekali sih bermain-main di dadaku? Seperti bayi saja."
Gabrielle yang mulai terbakar nafsu tergelak mendengar perkataan istrinya. Dia tertawa kemudian segera menjauhkan wajahnya dari leher Elea saat pintu lift terbuka.
"Ayo, aku akan menemanimu makan malam" ajak Gabrielle lalu menggandeng tangan Elea keluar.
"Memangnya Kak Iel tidak ikut makan ya?" tanya Elea.
Gabrielle terdiam. Ini belum saatnya dia untuk bicara jujur kalau sebentar lagi dia akan mengunjungi Keluarga Young. Masih banyak informasi penting yang belum dia dapatkan. Gabrielle takut kalau keluarga itu akan kembali menyakiti istrinya jika mereka tahu kalau Elea masih hidup. Jadi dia harus memastikan semuanya aman sebelum memberitahukan pada Elea siapa keluarga kandungnya.
__ADS_1
"Kak Iel marah ya? Maaf" ucap Elea merasa tidak enak.
"Aku bukan marah sayang. Tiba-tiba saja tadi aku teringat dengan pekerjaan di kantor. Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan di luar, tapi kelihatannya kau masih kelelahan. Tidak apa-apa kan kalau aku pergi makan malam bersama rekan kerjaku? Jangan khawatir, ada Ares yang menemaniku kesana" sahut Gabrielle menjelaskan.
"Tidak apa-apa, Kak. Yang penting Kakak jangan lupa untuk makan malam."
Hati Gabrielle menghangat. Meski hanya perhatian kecil, hal itu sudah membuatnya merasa bahagia. Di tambah lagi Elea sama sekali tidak menaruh rasa curiga mengenai siapa orang yang akan makan malam dengannya.
"Duduklah" ucap Gabrielle seraya menarik kursi untuk istrinya duduk.
"Terima kasih Kak" sahut Elea sopan.
Gabrielle dengan cekatan mengambil nasi dan beberapa lauk untuk Elea. Tanpa dia sadari, Ares dan para pelayan tercengang kaget. Selama ini Gabrielle selalu di layani oleh orang-orang pilihan. Tapi sekarang, dunia seolah berbalik karena seorang Gabrielle Ma dengan begitu luwes melayani istrinya yang sejak tadi terus menatapnya sambil tersenyum.
"Ingin aku suapi tidak?" tanya Gabrielle setelah duduk bersebelahan dengan istrinya.
"Ingin, tapi kan Kakak sudah mau pergi. Sepertinya akan memakan banyak waktu karena nasi dan lauk yang Kakak ambil cukup banyak. Kasihan Ares, bagaimana kalau di kakinya tumbuh akar karena terlalu lama menunggu Kakak yang sedang menyuapiku" jawab Elea merasa tak enak pada Ares.
Bulu kuduk Ares meremang saat namanya kembali di sebut. Dia berusaha untuk tetap tenang saat menyadari kalau banteng pencemburu itu tengah menatapnya tajam.
"Sayang, kenapa kau begitu perhatian pada Ares? Bukankah sudah aku bilang jangan menyebut nama pria lain jika sedang bersamaku!" protes Gabrielle dongkol.
"Itu bukan perhatian Kak Iel, tapi aku hanya kasihan. Kalau Kakak tidak suka aku memanggil Ares, ganti saja namanya supaya terlihat mirip dengan nama seorang wanita. Dengan begitu kan Kakak tidak akan marah lagi padaku."
Ares menatap marah kearah para pelayan yang sedang tertawa setelah mendengar perkataan konyol nyonya mereka. Entahlah, setiap kali nyonya dan Tuan Muda-nya bersama, selalu saja dia yang menjadi korban. Jika bukan menjadi korban kecemburuan Tuan Muda-nya, pasti dia akan menjadi korban dari kepolosan nyonya kecilnya.
"Ide bagus. Apa kau bisa merekomendasikan sebuah nama yang bagus untuk Ares?" tanya Gabrielle iseng.
Elea diam berfikir. Dia kemudian teringat dengan satu nama wanita yang pernah menolongnya.
"Aku punya, Kak" jawab Elea semringah.
"Siapa?."
"Rosalin."
Sebelah alis mata Gabrielle terangkat keatas. Dia cukup penasaran darimana Elea mendapatkan nama tersebut.
"Rosalin.. Apa kau mengenalnya?" tanya Gabrielle curiga.
__ADS_1
Elea mengangguk. Dia menelan makanan yang ada di dalam mulutnya sebelum memberikan jawaban.
"Rosalin adalah nama temanku. Dia seorang gelandangan yang pernah menolongku saat sedang kelaparan. Hatinya sangat baik seperti malaikat meskipun wajahnya sudah keriput. Kakak pasti tidak akan menyesal jika menggunakan nama itu untuk Ares."
Semua orang diam membatu. Tidak menyangka kalau gadis kecil ini akan menyarankan nama dari seorang gelandangan.
'Nyonya Elea, apakah sudah tidak ada nama manusia yang jauh lebih baik lagi daripada nama yang anda sebutkan tadi? Ya Tuhan, Rosalin, seorang gelandangan, apa aku seburuk itu di mata Nyonya Elea sampai beliau menghukumku seperti ini?.'
Gabrielle hampir tidak kuat menahan tawa saat mendengar keluhan yang di rasakan oleh Ares. Sungguh, istrinya ini sangat pandai membuat orang lain merasa frustasi. Seorang Ares yang di kenal dingin sama sepertinya, menjadi tidak berdaya jika Elea sudah membuka mulutnya.
"Bagaimana Kak, namanya bagus bukan?" tanya Elea antusias.
"Bagus. Tapi coba kau tanyakan pada Ares dulu dia bersedia atau tidak berganti nama menjadi Rosalin!" jawab Gabrielle sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut istrinya.
Elea mengangguk. Dia lalu menoleh kearah Ares yang sedang menunduk.
"Ares, bagaimana menurutmu? Kau suka tidak memakai nama Rosalin?."
'Tamatlah riwayatmu, Ares. Rasakan, itu akibatnya karena kau sudah membuat istriku terus-terusan menyebut namamu. Membuatku cemburu saja!'
"Ekhm Nyonya, boleh saya memberi saran?" tanya Ares dengan mimik wajah yang sangat menyedihkan.
"Boleh, silahkan katakan apa saranmu" jawab Elea.
"Bagaimana kalau anda memberikan referensi nama yang berasal dari kaum adam saja? Rasanya aneh jika saya memakai nama wanita!."
"Itu sama saja, Ares. Tadi kan Kak Iel bilang kalau dia tidak suka aku memanggilmu karena kau seorang pria. Emm, kalau kau tidak suka nama Rosalin, biarkan aku memikirkan nama lain untukmu. Bagaimana dengan Salwa? Oh tidak tidak, nama Salwa terlalu manis, tidak cocok untukmu yang berwajah galak. Kalau Veren, ah itu juga sangat imut. Kau nanti terlihat seperti b*nci jika memakai nama itu. Siapa ya kira-kira yang cocok untukmu?."
Semua orang hanya diam mendengarkan celotehan Elea yang sedang sibuk mencari nama. Sementara Ares, dia sudah sangat ingin menangis saat nyonya nya tidak berhenti menyebutkan deretan nama wanita yang sengaja di pilihkan untuknya. Seandainya dia memiliki kemampuan untuk menghilang, saat itu juga Ares akan langsung melenyapkan diri dari situasi yang membuatnya tidak bisa berkutik sama sekali.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1
...🌻 WA: 0857-5844-6308...