
Clarissa hanya bisa terisak sambil mendekap erat tubuh kecil Sandara yang juga sedang menangis ketakutan. Saat ini dirinya tengah duduk berlutut di lantai, berharap kalau ayahnya akan membiarkan Sandara tetap tinggal bersamanya. Tidak apa meskipun harus tinggal di rumah petak, asalkan tidak terpisah dengan putrinya itu sudah lebih dari cukup bagi Clarissa.
"Pa, aku mohon biarkan Sandara tetap tinggal bersamaku. Aku yang berdosa, tolong jangan libatkan dia dalam masalah ini" ucap Clarissa menghiba. "Sandara juga cucu Papa, bermurah hatilah untuknya sedikit Pa!."
Plaaaakkkk
"Mamaa...!" teriak Sandara kaget melihat ibunya jatuh tersungkur setelah mendapat pukulan dari kakeknya.
"Cucu kau bilang? Clarissa, apa kau sudah gila meminta Papa untuk menerima kehadiran anak harammu di rumah ini? Dunia pasti akan mencemooh keluarga kita jika mereka tahu kalau pewaris Keluarga Bangsawan Wu memiliki anak di luar pernikahan. Mau taruh dimana muka Papa, Clarissa!" bentak Frederick murka.
"Grandpa tolong jangan marah pada Mama. Kasihan" ucap Sandara lirih. Di usianya yang menginjak sepuluh tahun, Sandara sudah bisa memahami permasalahan orang yang lebih dewasa darinya. Dia juga sudah mengerti arti dari kata anak haram yang sering di lontarkan kakeknya selama ini.
"Diam kau anak sial. Semua ini gara-gara kau, tahu tidak. Hah!" teriak Frederick memaki cucunya sendiri tanpa belas kasih.
"Pa, tolong jangan memperlakukan Sandara seperti ini. Dia cucu Papa, darah daging Papa juga!" sahut Clarissa membela putrinya yang tertegun setelah di maki oleh ayahnya.
"Cuiihhh, tak sudi Papa mengakui anak haram ini sebagai cucu. Keluarga Bangsawan Wu akan merasa sangat terhina jika menerimanya!."
Sophia tersenyum sinis melihat bagaimana anak tirinya di rendahkan oleh suaminya. Dengan berpura-pura merasa prihatin, Sophia menghasut Frederick agar dia memaksa Clarissa untuk membuang anaknya. Dia berniat menggunakan kesempatan ini untuk merusak hubungan ayah dan anak tirinya supaya kepewarisan Keluarga Wu jatuh ke tangan putri kandungnya, Kimmy Wu.
"Sayang, sudahlah. Kasihan Clarissa dan Sandara, tidak seharusnya kau mempermalukan mereka seperti ini. Biar bagaimana pun mereka adalah anggota keluarga kita, malu pun kita harus menanggungnya bersama-sama" ucap Sophia lembut.
Tangan Clarissa terkepal kuat. Dia sudah bisa membaca niat buruk yang sedang di rencanakan oleh ibu tirinya. Sambil meringis menahan perih di bibirnya, Clarissa segera membawa Sandara masuk ke pelukannya. Dia sangat takut kalau nenek sihir itu akan menyasar pada keselamatan putrinya ini.
"Kau ini bagaimana Sophia. Clarissa sudah melemparkan kotoran ke wajah kita. Bagaimana mungkin kau memintaku untuk membiarkan mereka tetap berada di sini!" sergah Frederick tak habis fikir.
"Lalu kita harus bagaimana lagi, sayang? Tidak mungkin kita meminta Clarissa untuk membuang anaknya" sahut Sophia sambil melirik kearah gadis kecil yang berada di pelukan anak tirinya. "Aku menyukai cucu kita. Mengalahlah, semua pasti baik-baik saja jika kita bisa berdamai dengan keadaan. Biar saja kalau orang lain ingin merendahkan keluarga kita, toh kita semua juga tidak bisa lari dari kenyataan kalau Sandara memanglah anak di luar pernikahan. Sayang, biarkan Sandara tetap bersama kita ya, aku mohon.."
"Tidak!" tolak Frederick kemudian menarik tangan kecil cucunya.
"Aaa sakit Grandpa" cicit Sandara.
"Jangan memanggilku Grandpa, aku tidak sudi menganggapmu sebagai cucuku!."
"Pa, tolong jangan sakiti anakku Pa. Aku mohon" jerit Clarissa panik saat putrinya di tarik menjauh. "Tolong kembalikan Sandara padaku, aku mohon jangan seperti ini pada kami Pa!."
Frederick tidak peduli. Dengan kejam dia menarik tangan kecil cucunya kemudian membawanya menuju kolam renang. Sedangkan Sandara, gadis kecil itu terlihat sangat ketakutan menyadari apa yang akan di lakukan oleh kakeknya. Tanpa sepengetahuan ibunya, sebenarnya Sandara memiliki kemampuan untuk melihat masa depannya sendiri. Dan kejadian hari inipun dia sudah mengetahuinya sejak beberapa hari lalu. Hanya saja Sandara tidak berani memberitahukan hal ini pada ibunya. Dia tidak ingin membuat ibunya panik.
__ADS_1
Dengan susah payah Clarissa berusaha bangkit berdiri untuk mengejar ayahnya yang membawa pergi putrinya. Namun langkahnya itu harus terhenti saat lengannya di tarik oleh Sophia, wanita kejam yang menginginkan kehancuran hidupnya.
"Lepas!" geram Clarissa.
"Ckckckck, jangan galak-galak sayangku. Biarkan saja anak haram itu mati di siksa oleh Papa-mu. Lagipula untuk apa sih kau mempertahankan keberadaannya, memangnya kau tidak sayang dengan status kebangsawananmu, hem?" tanya Sophia penuh ejek.
"Jaga mulutmu Sophia. Aku diam bukan berarti aku tidak berani untuk melawanmu. Jangan kau coba-coba memprovokasiku dengan mengadu dombakan kami dengan Papa. Aku tahu Sophia, aku tahu apa yang sedang kau rencanakan dengan berpura-pura menerima putriku di rumah ini. Kau hanya ingin menyiksaku saja kan! Kau ingin memperkeruh hubunganku dengan Papa supaya tahta kebangsawanan ini berganti menjadi miliknya Kimmy. Aku...
"Mama.....!."
Terdengar jeritan kencang dari arah kolam renang. Clarissa yang tahu kalau itu adalah suara putrinya segera menghempaskan tangan Sophia kemudian berlari cepat kearah sana. Sesampainya di dekat kolam renang, Clarissa hampir mati berdiri menyaksikan putrinya yang sedang di gantung terbalik oleh salah satu bodyguard ayahnya. Hanya berjarak beberapa centi saja maka kepala putrinya akan langsung masuk ke dalam air kolam renang.
"Mama, kepalaku pusing" rengek Sandara.
"Papa....." isak Clarissa kemudian jatuh terduduk di lantai. "Ampuni putriku Pa, tolong jangan siksa dia seperti ini. Aku yang salah, aku yang seharusnya di hukum. Tolong lepaskan Sandara, Pa. Aku mohon!."
Frederick berdecih. Dia lalu berjalan mendekat kearah putrinya yang sedang menangis pilu. Tanpa merasa kasihan sama sekali Frederick mencengkeram rambut putrinya hingga wajahnya tertengadah keatas.
"Kau ingin putrimu terbebas dari hukuman Papa, iya?."
"Aku akan melakukan apapun yang Papa minta asalkan Sandara tidak di hukum."
"Apapun?" tanya Frederick sembari menyeringai lebar.
"Iya, apapun" jawab Clarissa tanpa merasa curiga sedikitpun.
"Baiklah kalau begitu" ucap Frederick kemudian melepaskan cengkeraman tangannya. "Lepaskan anak haram itu!."
Clarissa akhirnya bisa bernafas lega melihat bodyguard ayahnya memindahkan putrinya. Namun setelahnya, Clarissa di buat tidak bernafas dengan permintaan gila ayahnya.
"Buang anak haram itu sejauh mungkin!."
"Pa...
"Papa bilang buang anak haram itu!."
"Tidak akan" sahut Clarissa syok. "Dia putriku Pa, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah membuangnya. Sekalipun Papa membunuhku!."
__ADS_1
"Oh, jadi kau mencoba berkhianat pada Papa, iya?" hardik Frederick kemudian menatap marah kearah gadis kecil yang masih berada di tangan bodyguardnya. "Gantung dan langsung tenggelamkan anak haram itu. Sekarang!."
"Tidak, Papa jangan Pa!" jerit Clarissa kemudian berlari hendak menyelamatkan putrinya yang akan kembali di gantung. "Jangan sakiti putriku. Aku mohon lepaskan dia, putriku masih kecil!."
"Cepat tenggelamkan!" teriak Frederick kemudian mengejar putrinya yang hampir sampai di tempat penghukuman. "Pukul anak kurang ajar itu. Beraninya dia melawan perintahku!."
Bugghhhh
Lagi-lagi Clarissa jatuh tersungkur saat perutnya di tendang oleh salah seorang bodyguard atas perintah ayahnya. Nafasnya langsung sesak karena menahan sakit, juga karena menyaksikan kepala putrinya yang perlahan-lahan mulai masuk ke dalam air. Lidah Clarissa kelu dengan airmata yang semakin deras menetes menyaksikan tubuh putrinya yang berguncang meminta agar segera di selamatkan.
"Bagaimana? Clarissa, kau ini keras kepala sekali. Apa susahnya membuang anak haram itu dari kehidupanmu hah. Kau itu masih muda, kau masih bisa memiliki anak yang jauh lebih bermutu di bandingkan dengan anak haram itu. Dengan syarat harus anak yang berasal dari pernikahan resmi, bukan hasil dari pergaulan bebas yang kau lakukan dengan pria bajingan itu!" ucap Frederick puas melihat putrinya diam tak berdaya.
Setelah hampir tiga menit bodyguard itu menenggelamkan kepala Sandara, dengan sedikit mengkhianati kekejaman majikannya dia menarik tubuh gadis cilik itu keluar dari dalam air. Clarissa yang melihat hal itu bisa sedikit bernafas lega meskipun hatinya sangat sakit melihat nafas putrinya yang tersengal-sengal.
"Apa dengan membuangnya Papa tidak akan menyakiti putriku lagi?" tanya Clarissa lirih setelah menimang keputusan yang sangat berat.
"Tentu saja. Papa tidak peduli dengan hidupnya, tapi akan benar-benar membuatnya menghilang dari kehidupan ini kalau kau berani memilihnya" jawab Frederick dengan senyum penuh kemenangan.
Dengan hati yang sangat hancur Clarissa meminta satu syarat pada ayahnya sambil menatap pilu kearah putrinya. "Baiklah, aku turuti kemauan Papa. Tapi Papa harus berjanji untuk tidak menyentuh Sandara lagi, dan juga biarkan aku sendiri yang mengantarkannya ke tempat putriku akan tinggal. Jangan ada yang mengikutiku!."
"Terserah kau saja, Papa tidak peduli!."
Tangis Clarissa pecah setelah ayahnya berlalu dari sana. Jantungnya seakan di rajam melihat putrinya yang terus tersenyum dari seberang kolam renang.
"Maafkan Mama Nak, Mama terpaksa melakukan ini semua demi keselamatanmu. Tolong ampuni Mama-mu yang tidak berdaya ini sayang. Ampuni Mama, Sandara....!."
🤧
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1