Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Pembunuh Karakter


__ADS_3

Setelah urusan di rumah sakit selesai, Gabrielle segera mengajak Elea pulang ke rumah. Namun, saat mereka baru akan menuju pintu keluar rumah sakit, mereka tidak sengaja melihat seorang gadis cantik yang sedikit mirip dengan Lusi. Gabrielle yang ingat kalau Gleen telah memboyong semua keluarga Lusi ke tempat ini segera memberitahukan kabar tersebut pada Elea. Gabrielle sebenarnya belum pernah bertemu dengan keluarganya Lusi secara langsung, hanya Ayah dan Ibunya saja yang pernah menyambanginya ke desa. Akan tetapi karena wajah gadis itu terlihat sedikit mirip dengan Lusi jadi dia merasa yakin kalau gadis itu benar adiknya. Dan Gabrielle pun sedikit berharap kalau pertemuan ini bisa sedikit menenangkan istrinya yang sedang ketakutan karena diminta untuk menjalani operasi ginjal.


"Sayang, sepertinya gadis itu adiknya Lusi. Karena tadi siang Gleen datang ke desa untuk memboyong orangtua dan kedua adiknya."


"Jadi keluarganya Kak Lusi di boyong kemari kak?" tanya Elea dengan sorot mata berbinar. "Waahhh, dia pasti senang sekali. Ayo kita pergi ke sana Kak. Aku ingin berkenalan dengan keluarganya juga."


"Ayo,"


Gabrielle kemudian menggandeng tangan Elea untuk menghampiri adiknya Lusi yang sedang berdiri sambil memandangi interior rumah sakit. Begitu sampai di dekat gadis tersebut, Elea langsung melepaskan pegangan tangan suaminya yang mana membuat suaminya menghela nafas panjang.


'Huh, selalu saja seperti ini. Apa kau tidak bisa terus menggandengku jika bertemu dengan orang lain, Elea?.


"Hai..!.


Nania terperanjat kaget saat ada seseorang yang menyapanya. Dia kemudian berbalik, menatap heran kearah seorang gadis cantik yang sedang tersenyum sambil melambaikan tangan.


"Hai" sapa Elea lagi.


"Namaku Nania, bukan hai,"


Langkah Gabrielle langsung terhenti. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak. Gabrielle seperti melihat sosok polos Elea di diri gadis tersebut yang dia jumpai ketika mereka baru pertama kali bertemu di restoran.


"Hehe, maaf ya aku sudah tidak sopan padamu. Kalau begitu ayo kita kenalan!" ucap Elea sambil mengulurkan tangan. "Namaku Elea,"


"Aku Nania" sahut Nania menyambut uluran tangan tersebut.


"Apa kau adiknya Kak Lusi?.


"Menurutmu?" sahut Nania balik bertanya. "Apa aku terlihat mirip dengan Kak Lusi?.


"Iya,"


Jawaban polos Elea membuat Gabrielle dan Ares tak kuasa menahan senyum. Mereka berdua yakin sekali kalau Elea-lah yang lebih unggul dalam menunjukkan kepolosannya ketimbang Nania.


"Lalu kenapa kau masih bertanya kalau sudah tahu?.


"Karena aku punya mulut. Ada pepatah yang bilang Malu bertanya sesat di jalan. Jadi daripada aku mati penasaran lebih baik aku bertanya saja untuk memastikan. Aku tidak salah kan?.


Nania tiba-tiba langsung tersenyum ramah kearah Elea. Dia merasa kalau pemikiran gadis ini berada dalam satu frekuensi yang sama dengannya.


"Elea, apa keluargamu ada yang sakit? Kenapa malam-malam begini kau masih keluyuran di tempat seperti ini. Tidak baik gadis kecil sepertimu berada di luar sendirian, itu bisa mengundang memedi berkepala hitam datang" tanya Nania penasaran.


Gabrielle dan Ares mengerjapkan mata saat Elea di anggap sebagai gadis kecil oleh gadis yang jauh lebih muda darinya. Kini kekhawatiran mereka semakin nyata, Nania adalah gadis beracun yang sepertinya jauh lebih berbisa jika di bandingkan dengan mulut Elea.

__ADS_1


"Aku yang sakit, Nania" jawab Elea sedih. "Dan aku itu bukan gadis kecil lagi."


"Maksudnya kau janda?.


Bola mata Gabrielle hampir melompat keluar. Yang benar saja gadis ini menyebut istrinya janda. Sungguh kurang ajar.


"Aku belum janda kok. Suamiku ada di sini, di belakangku" jawab Elea sambil terkikik lucu karena Nania menganggapnya sebagai seorang janda.


Ekor mata Nania segera bergerak menatap kearah dua orang pria tampan yang berdiri di belakang Elea. Seketika matanya langsung membelalak lebar begitu mengenali salah satu dari kedua pria tersebut.


"Astaga, Tuan Muda Gabrielle!" pekik Nania kaget.


"Iya ini aku" sahut Gabrielle kemudian memeluk pinggang Elea. "Apa kabar Nania? Di mana orangtua dan kakakmu? Kenapa kau sendirian di sini?.


Nania merasa sedikit sungkan begitu tahu kalau Elea ternyata istri dari majikan kakaknya.


"Em itu Tuan Muda, Ayah, Ibu, dan Kak Luri ada di dalam ruang rawatnya Kak Lusi. Tadi aku juga berada di sana dengan mereka, tapi Kak Gleen mengusirku."


"Paman Gleen mengusirmu?" tanya Elea kaget.


"Iya,"


"Kenapa dia melakukan itu padamu? Jahat sekali."


Saat Nania hendak berbicara, tiba-tiba saja Gleen datang dengan tergesa. Terlihat jelas kalau pria itu sedang mengkhawatirkan sesuatu.


"Iya" jawab Gabrielle singkat.


Bibir Nania nampak mengerucut. Dia seperti sedang berkomat-kamit menggumamkan sesuatu.


"Paman Gleen, Nania bilang kau mengusirnya. Benarkah?" tanya Elea.


"A-apa???? Mengusirnya?.


Gleen sangat kaget mendengar pertanyaan Elea. Dia kemudian menatap kearah adik iparnya, menghela nafas karena gadis ini suka sekali menuduhnya sembarangan.


"Nania, kau bilang apa pada Elea? Memangnya kapan aku pernah mengusirmu? Kau jangan mengada-ada ya, ini namanya pembunuhan karakter!" tegur Gleen mencoba sabar menghadapi saudara kembar istrinya Gabrielle.


"Tapi itu memang benar kan? Tadi Kak Gleen yang menyuruhku untuk menunggu di dekat pintu yang ada tulisan Out-nya. Karena aku bingung itu artinya apa jadi aku bertanya pada seorang wanita bergincu merah. Lalu dia bilang orang miskin sepertiku di larang ada di sana. Dia memberitahuku kalau Kak Gleen itu ingin aku pergi, bukan malah berdiri seperti orang yang sedang open B.O!" sahut Nania jujur. "Tapi Kak Gleen, open B.O itu apa? Apa itu sesuatu yang enak?.


Gleen, Gabrielle, dan Ares sama-sama menelan ludah. Entah jin bergincu merah mana yang berani mencekoki pemikiran polos Nania dengan hal-hal dewasa seperti itu. Elea yang tahu maksud dari pertanyaan Nania pun hanya diam saja. Dia tidak mungkin mengaku di hadapan semua orang kalau dirinya mengatahui apa itu open B.O.


"Ekhmm Nania, mungkin induk jin yang kau temui itu tidak waras. Makanya dia memberitahumu hal yang tidak-tidak. Lain kali tolong jangan sembarangan bicara dengan orang asing ya. Ini kota, orang-orang di sini tidak sebaik dan tidak seramah orang-orang yang tinggal di desamu. Jadi kau harus segera menghindar jika ada orang asing yang ingin mendekatimu. Paham?" ucap Gleen sembari menepuk pelan puncak kepala adik iparnya.

__ADS_1


"Jadi semua orang yang tinggal di kota itu jahat ya Kak? Apa dulunya Kak Gleen juga seorang penjahat?" cecar Nania penuh curiga.


Pertanyaan Nania langsung menohok hatinya Gleen. Benar jika dulunya dia adalah orang jahat, tapi sekarang orang jahat itu sudah bertobat setelah bertemu dengan seorang gadis sederhana yang bernama Lusi.


"Tidak semua jahat, Nania. Buktinya Kak Iel adalah salah satu orang baik yang aku temui di tempat ini. Paman Gleen juga, dia adalah orang yang baik meski pun sedikit kasar. Kau tahu tidak Nania, dia pernah membentakku di depan Kak Lusi. Setelah itu Kak Lusi marah dan ingin meninggalkan Paman Gleen. Lalu Paman Gleen datang ke rumah untuk meminta maaf pada semua orang dan akhirnya di hajar oleh Kak Iel karena dia sudah berani membentakku. Lihat saja, luka-luka di wajahnya masih belum menghilang. Itu semua Kak Iel yang melakukannya. Iya kan?.


Dengan lancarnya Elea kembali membongkar keburukan Gleen di hadapan Nania. Yang mana hal itu membuat Gleen mengeluarkan keringat dingin.


"Gabrielle, apakah kau masih belum ingin pulang? Aku mohon tolong bawa pergi istrimu dari sini. Sudah cukup syok terapi yang dia berikan padaku malam ini. Aku mohon pulanglah sebelum semuanya menjadi kacau!" bisik Gleen dengan wajah memelas.


Gabrielle dan Ares terkekeh lucu. Dalam menjatuhkan orang lain, Elea memang tidak ada duanya. Tak tega melihat Gleen yang sudah tidak berdaya, Gabrielle akhirnya memaksa Elea untuk segera pulang ke rumah.


"Nania, aku pulang dulu ya. Besok aku akan datang lagi untuk berkenalan dengan keluargamu yang lain!" pamit Elea sambil melambaikan tangan.


"Baiklah, aku tidak sabar ingin kembali bergosip denganmu, Elea. Hati-hati!" sahut Nania sambil tertawa lebar.


Tinggallah Gleen yang kini tengah memijit pelipisnya. Dia sungguh tak menyangka kalau Elea akan membongkar keburukannya di hadapan Nania, si adik ipar bermulut granat ini.


"Kak Gleen, ayo kita kembali ke kamar. Aku harus segera melaporkan hal ini pada Ayah dan Ibu!" ajak Nania dengan wajah datar.


'Haisshh, sepertinya aku harus menyogok gadis ini dulu sebelum kembali ke sana. Bisa gawat jika Ayah dan Ibu sampai mendengar aduannya.'


"Nania?.


Tak ada sahutan.


"Besok kau mau ikut pergi berbelanja denganku tidak? Kau bebas memilih apa pun yang kau mau asalkan kau tidak mengadu pada Ayah dan Ibu tentang apa yang di katakan oleh Elea tadi. Bagaimana? Mau tidak?.


Gleen menarik nafas lega ketika melihat mata adik iparnya berbinar. Dia selamat.


"Aku ingin membeli tas dan sepatu baru, Kak. Apa boleh?" tanya Nania kesenangan.


"Tentu saja boleh,"


Setelah itu Gleen segera mengajak Nania kembali ke ruangan Lusi sambil mendiskusikan barang apa saja yang akan mereka beli besok. Untung saja gadis ini mata duitan. Kalau tidak, malam ini Gleen akan berada dalam kesulitan. Sungguh, Elea dan Nania adalah gadis polos yang sangat mengerikan.


🤣🤣🤣🤣🤣🤣


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: nini_lupss...


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2