
Karim diam terpaku, pikirannya melayang jauh. Di tangannya ada beberapa surat kecil yang dia dapatkan dari brankas yang di sembunyikan oleh mendiang istrinya. Karim tidak menyangka kalau selama ini istrinya ternyata sudah mengetahui keberadaan Sandara, putri kandungnya. Dan yang lebih mencengangkan lagi, di dalam brankas tersebut ada sebuah flashdisk yang menyimpan rekaman CCTV dimana Clarissa datang ke rumah ini bersama putri mereka beberapa tahun silam. Dari gerak tubuh mereka sepertinya Clarissa datang untuk menyerahkan Sandara kepadanya namun di tolak oleh ibunya Bryan. Jantung Karim seperti di remas saat teringat dengan wajah menyedihkan Sandara saat dia dan ibunya Bryan menghinanya dengan sangat tidak manusiawi. Karim benar-benar seperti berada dalam lautan api yang perlahan-lahan membakar jiwa, terbayang dimana putrinya yang terus tersenyum meskipun dia selalu memberinya luka, bukan cinta.
"Sandara, maafkan Ayah Nak. Ayah tidak tahu kalau itu kau, Ayah menyesal sayang, Ayah sangat menyesal" ratap Karim lirih dengan wajah yang bersimbah airmata.
Di balik pintu, Bryan dan Yura tengah memperhatikan apa yang sedang di lakukan oleh ayah mereka. Setelah beberapa hari sempat drop di rumah sakit, ayah mereka memaksa untuk pulang ke rumah. Meksipun Bryan sudah tahu kalau mereka tak memiliki hubungan darah, Bryan bertekad akan tetap merawat pria yang sudah membesarkannya. Dia tidak mau di cap sebagai anak yang tidak tahu diri setelah apa yang di perbuat oleh ibunya dulu.
"Bryan, apa tidak sebaiknya kita carikan seorang psikiater saja? Aku khawatir masalah ini akan membawa tekanan yang sangat besar pada Ayah!" tanya Yura yang cemas melihat kondisi ayah mertuanya.
"Entahlah Yura, aku bingung bagaimana harus mengambil sikap. Kau tahu bukan kalau aku ini bukan anak kandung Ayah, jadi aku tidak bisa sembarangan mengambil keputusan" jawab Bryan. "Seandainya Eleanor ada di sini, aku pasti tidak akan merasa serba salah seperti sekarang. Ayah pasti akan mendengarkan apa yang dia katakan."
"Tapi meskipun begitu kita tidak boleh tinggal diam, Bry. Ayah pasti sangat tertekan setelah tahu kalau, kalau Sandara adalah putri kandungnya. Perasaannya pasti sangat hancur" ucap Yura sedikit tersendat saat menyebutkan nama wanita yang menjadi istri pertama suaminya.
Bryan menghela nafas, dia diam memikirkan ucapan Yura. Sebenarnya tidak hanya perasaan ayahnya saja yang hancur, perasaan Bryan juga hancur. Dia seperti di paksa menerima kenyataan kalau dia adalah anak hasil dari perselingkuhan ibunya, juga harus menerima kenyataan kalau ibunya telah melakukan sesuatu yang sangat tidak manusiawi pada Eleanor dan juga almarhum Sandara. Sebelum ayahnya menemukan brankas itu, Bryan dan Yura sudah lebih dulu mengetahuinya. Salah satu rekaman di dalam flashdisk yang tersimpan di dalam brankas mengingatkan Bryan pada sesosok gadis kecil yang pernah bertemu dengannya saat usia mereka baru sepuluh tahun. Dan Bryan tidak menyangka kalau dia akan benar-benar menikahi gadis tersebut. Takdir sungguh kejam, mereka seakan di permainkan oleh sebuah ikatan yang membuat keduanya mengalami kepedihan yang cukup panjang.
"Bryan, ayo kita masuk ke dalam. Lihatlah, Ayah berubah seperti mayat hidup setelah melihat rekaman-rekaman itu!" ajak Yura sambil mengguncang lengan suaminya yang sedang melamun.
Bryan mengangguk. Dia dan Yura kemudian masuk ke dalam kamar, menghampiri ayahnya yang sedang terdiam dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Ayah, Ayah baik-baik saja?" tanya Bryan pelan.
Tak ada jawaban. Sebenarnya Karim mendengar dengan sangat jelas saat putranya bertanya, tapi dia enggan untuk membuka mulut. Seluruh tubuhnya sangat sakit, sakit seperti dia akan segera mati. Karim saat ini tengah mengenang perlakuan jahat yang sering dia lakukan pada Sandara saat sedang mengandung Eleanor. Dia yang memukulinya, menghina dengan menyebutnya sebagai anak p*lacur, juga menyumpah-serapahi janin yang saat itu sedang di kandungnya. Semua kenangan buruk itu membuat tulang-tulang di tubuh Karim seperti di lepas paksa. Rasanya sangat luar biasa sakit, tapi tak berdarah.
"Ayah, tolong jangan diam saja. Kami sangat mengkhawatirkan keadaan Ayah!" bujuk Yura yang sedih melihat keadaan ayah mertuanya.
Setelah sekian lama terdiam akhirnya Karim membuka mulut juga. Dia mengangkat kertas kecil yang ada di tangannya kemudian menunjukkan hal itu pada Bryan dan Yura. Sambil tersenyum kecut Karim mengungkapkan betapa bodohnya dia yang tidak menyadari kebohongan istrinya di masa lalu.
"Tidak hanya menjadi manusia yang gagal, Ayah juga menjadi orangtua yang sangat bodoh bukan? Sandara selalu mengirimkan surat ini kemari, mengungkapkan betapa dia sangat ingin bertemu dan berkumpul dengan kita semua di sini. Tapi apa, kenapa Ibumu tega melakukan ini semua. Dia tidak seharusnya menutupi kehadiran Sandara dari Ayah. Sedangkan Ayah, Ayah dengan bodohnya mengikuti semua fitnah yang dia layangkan untuk Sandara. Ayah dengan tega mengatai darah daging Ayah sendiri sebagai anak yang terlahir dari rahim wanita hina, wanita yang menjajakan tubuhnya pada semua laki-laki. Betapa berdosanya pria tua ini, Tuhan pun pasti enggan untuk memaafkan semua kesalahan yang sudah Ayah perbuat!."
Yura melirik kearah suaminya yang menundukkan kepala. Dia tidak tahu harus membela siapa, karena posisi kedua orang ini sama. Suami dan ayah mertuanya sama-sama di khianati oleh ibu mertuanya. Entahlah, Yura pusing membayangkannya.
"Yura, bagaimana nanti kalau Eleanor tidak mau memaafkan Ayah? Bagaimana, bagaimana...
"Ayah, sudah!" ucap Yura lagi. "Kita bicarakan hal ini nanti saja setelah hati dan pikiran Ayah tenang. Ingat Ayah, kita semua masih harus menjaga perasaan seorang gadis yang menjadi korban atas apa yang sudah Ayah dan Ibu perbuat dulu. Kasihan Eleanor Ayah, tolong jangan membebaninya lagi dengan kesedihan lain. Entah nanti Eleanor akan memaafkan kesalahan Ayah atau tidak, Ayah tidak boleh memperlihatkan kesakitan di hadapannya. Ayah harus kuat karena ini semua adalah hasil dari apa yang sudah Ayah tuai..."
Karim tergugu. Ucapan menantunya seakan memberi tamparan yang sangat keras di wajahnya. Benar, dia tidak boleh lemah. Sandara dan Eleanor menderita karena ulahnya. Setidaknya dia nanti harus memperlihatkan wajah yang tegar di hadapan cucunya. Karim perlahan-lahan sadar kalau semua ini memang sudah semestinya dia terima. Kebencian Sandara dan Eleanor, juga Clarissa. Mantan kekasihnya itu pasti akan sangat kecewa jika tahu kalau buah cinta mereka telah mati di tangannya. Membayangkannya saja langsung membuat dada Karim terasa menyempit, sakit dan juga sesak.
__ADS_1
"Ayah, sekarang istirahat lah. Jangan khawatir, aku tidak akan sembunyi tangan dari masalah ini karena bagaimana pun almarhum Ibulah yang membuat semuanya menjadi keruh. Lagipula aku juga hanya orang lain di rumah ini, sama sekali tidak ada hak untuk tetap tinggal!" ucap Bryan setelah menimang keputusan yang cukup berat. Bryan siap jika Eleanor akan membencinya setelah semua rahasia ini di bongkar. Meski tidak rela Bryan harus tetap mengangkat kepala, harus tetap tegar menerima segala konsekuensinya. Mungkin ini sudah menjadi takdirnya harus menjalani karma atas apa yang telah di perbuat oleh ibunya semasa hidup.
"Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi putra Ayah, terlepas pria mana yang menjadi ayah kandungmu. Bagi Ayah kau tetap lah Bryan Young, karena sampai mati kau hanya boleh menyandang gelar itu di belakang namamu!" sahut Karim kemudian berbaring menyamping membelakangi anak dan menantunya.
Yura menahan lengan Bryan saat melihatnya ingin kembali bicara. Dia menggelengkan kepala kemudian berbicara dengan sangat pelan.
"Cukup sampai di sini, Bryan. Jangan menekan Ayah lagi, keadaannya bisa-bisa memburuk kalau kau terus mencecarnya dengan hubungan kalian yang bukan sekandung. Ayah tidak mempedulikan siapa kau sebenarnya, jadi aku harap kau juga jangan memperkeruh keadaan. Tegar lah, kita hadapi semua ini bersama-sama!."
"Ini semua sangat tidak mudah, Yura" sahut Bryan lirih.
"Aku tahu. Tapi kita tidak akan pernah mengetahui hasil akhirnya jika kita runtuh di awal masalah. Bryan, kau dan Ayah harus sama-sama kuat untuk menghadapi kekecewaan Eleanor nanti. Dan juga masih ada aku, aku tidak akan pernah pergi meninggalkan kalian. Aku mencintamu, susahmu akan menjadi susahku juga!" bujuk Yura kemudian menggandeng tangan suaminya untuk pergi keluar. Meninggalkan ayah mertuanya yang sedang terisak dalam diam.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...